Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 158 : Tanggung jawab


__ADS_3

Sultan duduk kembali di luar ruangan teras kosan, tapi sekarang dia ditemani oleh Dimas yang sama-sama ingin menelepon sekaligus memberitahukan bahwa dia akan pulang ke Sukabumi malam nanti.


Disaat Dimas akan duduk di samping Sultan, dengan seketika ia menyuruh temannya untuk kembali masuk ke dalam ruangan kosan.


Dimas terheran-heran, dikarenakan Sultan tak memperbolehkannya untuk duduk di sampingnya, dan sebenarnya Sultan hanya ingin dibuatkan minuman hangat olehnya sebab biasanya dia peka sendiri, misalnya disaat dia tengah duduk di depan sana, biasanya Dimas sering membuatkannya minuman hangat, tapi entah kenapa sekarang dia sepertinya lupa.


"Ehh ... tunggu-tunggu, ngapain elu duduk bolot!" ucap Sultan sembari menahan tubuh Dimas yang akan terduduk itu.


"Gue mau nyari angin segar di sini Tan, kenapa emangnya?" tanya Dimas yang tak jadi duduk di samping Sultan karena dia menahan tubuhnya.


"Bikinin gue susu jahe dulu sana, bukannya setiap gue duduk di sini elu suka bikin gue susu hangat ya."


"Tadinya mau Tan, tapi susu jahenya kagak ada."


"Banyak aja alasan lu dah! di dalam tas gue ada susu jahe, jangankan susu jahe, susu kuda yang elu inginkan pun ada," ucap Sultan sembari mendorong tubuh Dimas agar dia masuk kembali ke dalam ruangan kosan.


Dimas pun masuk ke dalam ruangan kosan kembali setelah Sultan memaksanya. Dan lalu ia di sana duduk seorang diri sambil menatap tajam kontak Whatsapp dari Rere.


Sultan menunggu status Whatsapp dari Rere online terlebih dahulu karena sebelumnya ia sendiri sempat menyuruh wanitanya untuk tidak menunggunya.


Yang Sultan takutkan itu sebenarnya bukan masalah apakah Rere akan marah kepadanya, melainkan yang ia takutkan itu hanyalah Rere akan benar-benar mematikan ponselnya dan beranggapan, mungkin lebih baik dia menunggu Sultan hingga pulang dari Perusahaan tempat dia sekarang tengah melaksanakan prakerinnya di sana.


Setelah lama menunggu, Dimas pun datang dengan dibawakannya dua gelas susu jahe seduhan tangan dia sendiri. Sultan menyeruput susu jahenya dengan nikmatnya sembari ditemaninya alunan suara gitar yang ia petik.

__ADS_1


Kringg, kringg, kringg ....


Suara handphone Sultan berbunyi. Dan sekarang ia menatap terlebih dahulu ponselnya untuk memastikan apakah panggilan itu benar-benar dari wanitanya yang bernama Rere.


Setelah Sultan melihat panggilan tersebut memang berasal dari wanitanya, kemudian ia pun menjawabnya dengan sapaan yang sangat merdu sekali.


"Hmm, lebih keras lagi dong Tan, engga kedengeran nih soalnya, perasaan kamu pelit amat dah sama pacar sendiri," ucap Rere menyambut sapaan hangat Sultan, yang di mana Sultan menyanyikan sebuah lagu untuk Rere dengar.


Sultan masih meneruskan alunan lagu yang belum ia selesaikan. Dan sebelumnya Rere belum pernah mendengar Sultan bernyanyi untuknya, bahkan suara merdu dari Rere pun tak dapat membuat Sultan bernyanyi seperti ini.


Tapi, entah kenapa sekarang ia berani bernyanyi untuk kekasihnya itu di sana, padahal dia sering kali merasa tidak nyaman dengan suaranya sendiri, apalagi yang mendengarkan dia bernyanyi itu adalah pacarnya sendiri.


Sultan mulai memberhentikan nada alunan gitar serta suara terakhir dia bernyanyi untuk Rere. Dan setelah itu ia pun memulai pembicaraannya bersama dengan Rere di sana.


"Yaudah Tan, engga apa-apa, tapi sebelumnya gue sempat merekam suara kamu ini loh," ucap Rere dengan manisnya sembari tersenyum-senyum sendiri di dalam kamarnya.


Lembutnya suara yang dia ke luarkan itu, cukup membuat Sultan tak sanggup untuk menyanyikan satu buah lagu lagi untuknya, dikarenakan pada saat ini yang hanya ia inginkan adalah mendengarkan suara dari wanitanya itu saja.


"Baguslah Be, berarti gue engga perlu lagi bernyanyi untukmu di sana, soalnya kan kamu udah merekam suara gue, jadi kalau kamu masih belum merasa puas, kamu bisa memutar kembali rekaman suara itu," ucap Sultan yang tak mau menyanyikan satu lagu apa pun lagi untuk Rere dengarkan.


....


Rere mengubah call sound menjadi video call, dikarenakan dia memang sengaja ingin menatap raut wajah Sultan pada saat dia sedang bernyanyi untuk dirinya.

__ADS_1


Rere menyuruh Sultan untuk menyanyikan satu lagu kesukaannya, namun dia sempat menolaknya. Tapi, tolakan itu bukan tentang dirinya yang tak mau bernyanyi untuknya kembali, melainkan Sultan sudah menyiapkan satu lagu ciptaannya sendiri untuk Rere nilai dan dia dengar.


"Apa yang kamu inginkan dari gue Re? kenapa juga kamu mengalihkan panggilan suara ke video call?" tanya Sultan hanya ingin mendengarkan alasan dari Rere.


"Nyanyiin lagu kesukaan gue, cepetan!" ucap Rere sembari menatap tajam raut wajah Sultan dengan harapan agar Sultan bisa kembali bernyanyi untuk dirinya.


"Gue punya satu lagu untuk kamu dengar, dan mungkin lagu ini akan menjadi sebuah lagu yang kamu sukai nantinya, soalnya ini lagu ciptaan gue sendiri."


Tanpa berlama-lama lagi, Sultan pun lalu menyanyikan sebuah lagu hasil dari ciptaannya itu sendiri kepada Rere. Wanitanya benar-benar meresapinya, dan itu sungguh membuat hati Rere tersentuh karenanya.


Wajah Rere terlihat datar pada saat Sultan menyanyikan lagunya. Dia tersenyum dengan lebarnya tanpa sedikit pun menutupi kebahagiaannya itu dari Sultan.


Sultan hanya terfokus ke arah gitarnya saja sambil sesekali menutup matanya. Dan itu ia lakukan karena ingin memastikan apakah suaranya sudah tepat dengan lirik lagu yang tengah ia nyanyikan itu.


Suara tepuk tangan diberikan oleh Rere kepada pria manisnya. Pagi ini dia benar-benar merasa sangat senang sekali sehingga semangatnya bisa kembali menyapanya.


"Pacar gue romantis banget dah, lagi pula suaramu engga seburuk yang gue kira kok, dan mungkin mulai dari sekarang kamu harus sering bersikap seperti ini sama gue ya, Tan, pokonya kamu harus janji sama gue," harapan Rere kepada Sultan untuk saat ini dan selamanya.


"Apa pun yang mau, aku akan selalu menurutinya Re, asalkan satu, jangan pernah meminta untuk aku melepaskanmu suatu hari nanti," Sultan mulai memainkan kata-katanya sehabis dia membuat Rere tersenyum.


Ucapannya itu tadi malah semakin membuat wanitanya tersenyum lebar, untung saja hati Rere tahan banting dengan gombalan Sultan ini.


Lagi pula Rere sudah biasa mendengar kata-kata yang berbeda dari prianya itu, dan jadi engga ada masalah rindu yang harus diucapkan lagi oleh Rere, soalnya pada saat dia mendengar Sultan bernyanyi pun rasanya rindu yang sering datang itu mungkin kali ini takan berkutik bila Rere sudah mendengarkan suara rekaman nyanyian dari Sultan itu kembali.

__ADS_1


__ADS_2