Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 153 : Pilihan lain


__ADS_3

Dalam posisi mengantuk pun Sultan masih bisa membuat sang kekasih tertawa, apalagi disaat dia bertemu dengannya langsung di sana, mungkin Rere akan terus dibuat nyaman olehnya.


Bilamana Rere terus-menerus mendengar lelucon dari Sultan, apakah dia sanggup untuk tertidur kembali? bisa saja, asalkan Sultan bersikap lebih manis sedikit kepadanya.


Pagi itu Sultan sering menguap karena ini bukan jadwal untuk dirinya terbangun dari tidurnya. Pekerjaannya yang kemarin itu sungguh sangat melelahkan bagi dirinya.


Dengan tenangnya Rere berbincang dengan Sultan tanpa sedikit pun dia menyuruh Sultan untuk tertidur sebelum wanitanya yang tertidur lebih dulu.


Sultan tak bisa menjauh, ataupun menutup nada suara panggilan dari Rere tersebut, dan memang dia pun merasa tidak enak bila meninggalkannya sendiri di sana.


"Kapan kamu bisa tidur kalau terus mendengarkan candaan dari gue ini Re? emangnya elu engga cape apa? lebih baik sekarang kamu tidur sana Re," tanya Sultan sembari menyuruh Rere untuk tertidur.


"Gimana gue bisa tidur Tan, sementara elu masih saja membuat gue tertawa seperti ini," ucap Rere yang tak mau Sultan menutup panggilannya itu disaat dia masih merasa takut dengan apa mimpi yang telah menemaninya tadi itu.


Mungkin di sinilah Sultan akan memberikan kedua pilihan tersebut kepada Rere. Dan memang waktu ini telah tepat bagi Sultan untuk melontarkan kata-kata tersebut kepadanya.


"Gue mau ngasih dua pilihan buat elu Re, elu harus menjawabnya dengan jujur."


"Apa itu Tan?" tanya Rere penasaran.


"Elu mau pilih sikap yang mana? antara gue bersikap manis, atau bersikap seperti ini saja Re?" tanya Sultan, yang di mana kedua pilihan itu membuat Rere bingung dalam menentukannya.


Disuatu sisi dia ingin kembali tertidur, namun disuatu sisi dia juga masih merasa takut akan mimpi yang tadi menghantui alam pikirannya.


Rere membuat pilihan yang lain, bagaimana kalau Sultan bersikap lucu seperti ini saja, tetapi ia juga ingin meminta Sultan agar dia bisa membantu dirinya untuk tertidur dengan cara yang sederhana saja.


Tak perlu berpikir panjang, dan tak perlu berpikir lama, hingga pada akhirnya Sultan pun dapat memahami perkataan dari Rere itu dengan sangat tak terduga.

__ADS_1


Sultan lalu bangkit dari tidurnya, ia pun pergi ke depan ruangan pertama untuk mengambil suatu benda dari dalam tasnya, dan benda itu tidak lebih adalah buku novel penghantar tidur miliknya.


"Kalau aku menyuruhmu untuk membaca buku dongeng, ataupun membaca buku yang lain, sampai kapan pun kamu engga akan pernah mau membacanya, maka dari itu biar aku yang membacakannya untukmu saja Re."


Sultan menyandarkan bahunya di depan ruangan kosan yang pertama sembari membacakan kisah novel tersebut untuk wanitanya dengarkan.


Dia mendengarkan cerita novel tersebut sampai matanya mulai sedikit bereaksi. Disetiap menit waktu berjalan, matanya semakin lelah menahan rasa ngantuknya itu.


Dalam hitungan menit saja, sekiranya ada 10 menitan, yang di mana Rere mulai bisa terlelap, bahkan disaat Sultan memberhentikan laju bacaannya itu pun, suara dari Rere sudah tak terdengar lagi.


"Ternyata membuatmu terlelap dalam tidurmu itu engga sesulit yang gue kira sebelumnya ya, Be. Yaudah kalau begitu, selamat malam pacar bolot gue, tidur senyenyak mungkin dan tidur senyenyak yang kamu bisa lakukan di sana ya," ucap Sultan seorang diri tanpa Rere membalas ucapan manisnya itu di sana.


....


Dan sekarang malah Sultan yang tidak bisa tertidur, hingga pada akhirnya ia pun lebih memilih untuk duduk di luar ruangan kosan seorang diri.


Ia melanjutkan bacaannya sembari menikmati segelas air susu hangat dan juga beberapa batang rokok yang sengaja ia bakar untuk ia hisap, serta untuk ia hembuskan juga.


Waktu terus berjalan, hingga pada akhirnya suara azan pun telah dikumandangkan oleh salah satu warga yang sebelumnya melintas di hadapannya dan mengajak Sultan untuk melaksanakan salat subuh berjamaah dengannya di dalam mesjid.


"Ikut bapak salat subuh berjamaah yu," ajak bapak itu kepada Sultan.


"Ayo Pak, kebetulan saya juga mau pergi ke sana," jawab Sultan dengan sopannya menerima ajakan dari beliau.


Sultan pun lalu masuk ke dalam kosan untuk mengambil air wudu lebih awal di dalam sana. Dan setelah itu, ia pun menggunakan baju muslim serta sarung agar terlihat lebih sopan pada saat dia mengunjungi tempat suci tersebut itu.


Sebelumnya Sultan sempat memasukan handphonenya ke dalam tas miliknya, namun ia tidak mematikan panggilan suara dari Rere dengan harapan Rere masih tertidur sebelum dia sendiri yang membangunkannya.

__ADS_1


Lantunan ayat-ayat suci telah diucapkan, dan ternyata bapak yang sebelumnya mengajak Sultan untuk melaksanakan salat subuh berjamaah di dalam mesjid itu adalah seorang imam di sana.


Sultan merasa sangat bangga bisa mengenal beliau, apalagi sampai beliau memperkenalkan anak wanitanya itu kepadanya, dan itu mungkin akan menjadi suatu kebanggaan tersendiri untuk dirinya.


Kenapa Sultan bisa mengetahui kalau beliau memiliki anak wanita yang sangat cantik di sana? dikarenakan beliau sempat menyebutkan nama anaknya dan mendeskripsikan kecantikan raut wajah dari anak wanitanya itu.


Untung saja Sultan pulang bersama dengan beliau, dan jadi ia pun memiliki banyak waktu untuk berbincang bersama dengannya di jalan menuju pulang kembali ke tempat persinggahannya itu.


"Saya kira bukan hanya suara azan bapak saja yang merdu, dan ternyata setelah saya mendengarkannya, suara lantunan ayat suci al-quran yang bapak baca itu pun tak kalah merdunya juga," ucap Sultan dengan rendah hati.


"Alhamdulillah, ternyata masih ada pemuda yang sangat suka mendengarkan ayat tersebut itu," ucap beliau tak kalah rendah hatinya dengan Sultan.


"Bapak asli orang sini?" tanya Sultan penasaran sembari menatap raut wajah beliau juga.


"Sebenarnya bapak bukan asli orang sini, bapak aslinya adalah orang sunda, namun karena bapak menikah dengan asli orang dari sini dan jadi bapak lebih memilih untuk tinggal menetap di sini saja bersama dengan istri bapak."


"Selain bapak tinggal bersama dengan istri bapak, bapak tinggal dengan siapa lagi?".


"Bapak tinggal bersama dengan kedua anak bapak di sini, dan nama anak gadis pertama bapak, Adelia Cahyani."


"Kalau yang kedua siapa Pak?".


"Adam, dia adalah anak bungsu bapak, dan dia baru saja masuk sekolah dasar pertamanya."


Siapa sangka perbincangan ini akan berjalan dengan sangat lama, sampai-sampai beliau duduk di depan teras kosan bersama dengan Sultan.


Dan hal itu membuat anak gadisnya gelisah, sehingga anak gadisnya menghampiri ayahnya ke mesjid, namun ternyata ayahnya sekarang tengah berbincang bersama dengan Sultan.

__ADS_1


__ADS_2