Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 426 : Melindungimu adalah tugasku


__ADS_3

Hari itu adalah hari yang di mana mengingatkan Sultan dengan Rere betapa pentingnya menjaga rasa kepercayaan itu tetap ada, meskipun rasa kepercayaan itu sedang dilanda kesulitan dalam menanggapi sebuah hal yang dapat membuat hati merasa gundah, dilanda kesunyian yang tak berketepian.


Beberapa hari telah mereka lewati, namun sebelum itu, dan tepatnya di hari Sabtu, yang di mana Rere meminta izin Kepada Sultan untuk pergi bermain bersama Dini kesuatu tempat, yang di mana tempat itu berlokasi di sebuah kabupaten Cianjur.


Sultan pun tak melarang Rere untuk pergi, asalkan dia bisa menjaga hatinya itu, serta bisa menjaga dirinya sendiri dengan sebaik mungkin di sana nantinya. Dan tentunya pada malam Sabtu itu, Sultan pergi menjemput Rere ke rumahnya, namun sebelum itu Rere pun melarang Sultan untuk pergi menjemputnya di sana, akan tetapi Sultan tak bisa melihat ia keluyuran malam-malam tanpa ia temani terlebih dahulu.


Grungg, grungg, grungg ... motor tua kembali dinyalakan oleh Sultan kembali di sana.


Sebelum ia pergi dari rumahnya itu, ayah dan juga ibunya pun sempat bertanya kepada dirinya? bahwa anaknya itu akan pergi kemana malam-malam begini.


"Mau kemana kamu Tan?" ucap ibu Sultan.


"Mau ke rumah Rere Mah, besok dia bakalan pergi ke Cianjur sama temannya, dan maka dari itu Rere akan menginap di rumah temannya itu di sana."


"Hati-hati kamu Tan! banyak geng motor yang berkeliaran kalau malam begini mah," ucap ayahnya.


"Seru malahnya Pak, kalau ada mereka di jalanan, dan jadi jalanan engga akan kelihatan sepi kayak kota mati," ucap Sultan sembari tertawa.


"Jangan macem-macem kamu Tan! mamah engga mau melihat anak mamah sendiri terkena masalah."


"Takut! engga lah Mah, dan lagian rasa takut yang anak mamah ini miliki sudah hilang beberapa tahun yang lalu, jadi mamah engga usah khawatir karena mulai dari sekarang, Sultan yang akan melindungi kalian berdua di sini," ucap Sultan yang membuat kedua orang tuanya itu mempercayai dirinya seutuhnya, bahwa dia telah mejadi anak yang kuat.


Setelah perbincangan Sultan bersama dengan kedua orang tuanya itu di sana, Sultan pun lalu pergi berpamitan setelah mana ia mendapatkan izin dari mereka berdua, untuk pergi menjemput Rere di rumahnya itu di sana.


Sultan pun lalu mengendarai motor tuanya itu dengan melewati jalanan sepi, yang di mana jalanan itu adalah rute tercepat untuk dirinya, bilamana ia ingin segara tiba dan sampai di rumah Rere tersebut itu di sana.

__ADS_1


Jalan yang sepi tak berpenghuni itu masih berada di sekitaran Bumi Perkemahan, dan tepatnya malam itu adalah malam, yang di mana anak-anak Pramuka dari sekolah lain sedang bermalam, ataupun sedang berkemah di tempat tersebut, dan jadi Sultan pun tak perlu merasa takut kembali, akan ia melihat suatu hal yang aneh dan dapat membuat dirinya itu terkejut sendirian di jalanan sana.


Tak lama setelah ia menjalankan motornya itu di jalan sana, Rere pun lalu menelepon Sultan agar dia tetap berdiam diri di rumah saja, tanpa harus menjemputnya di sana. Dan lantas Sultan pun menolak Rere untuk pergi sendirian, ataupun harus menyusahkan ayahnya yang baru pulang kerja itu di sana.


Kringg, kringg, kringg ... suara telepon menyala.


"Astaghfirullah, kaget gue! gue kira apaan tadi? tahu-tahunya suara telepon gue nyala, ini pasti Rere nih, dasar cewe kagak sabaran!" ucap Sultan yang nampak terkejut malam itu.


"Apaan Re? gue lagi di jalan, bentar kenapa Re."


"Kamu serius mau jemput aku ke sini Tan?".


"Ini anak emang rese ya! padahal kan gue udah bilang dari awal bahwa gue bakalan jemput dia ke sana, kok, dia malah nanya balik lagi ya, kagak jelas emang elu Re," ucap Sultan dalam hati.


....


"Gue udah sampai di depan gang rumah elu ni Re."


"Masuk dulu sini Tan, gue udah buatin elu minuman hangat karena gue tahu, elu pasti engga pakai jaket kan?" ucap Rere.


"Kok, elu bisa tahu Re, kalau gue engga pakai jaket?".


"Makanya Tan, kalau elu mau ke sini jangan buru-buru, kamu itu orangnya pelupa! apa-apa harus selalu gue ingetin melulu biar elu nurut, yaudah sini cepet masuk."


Tutt, tutt ... suara telepon dimatikan oleh Sultan.

__ADS_1


Seketika itu, Sultan pun lalu masuk ke dalam rumah Rere, dikarenakan Rere memaksanya untuk ia masuk terlebih dahulu, dan bilamana Sultan menolaknya, ia akan tahu resikonya bahwa Sultan akan disuruh Rere untuk pulang kembali kerumahnya itu di sana.


Salam dan sapa kembali ia berikan kepada ibu Rere yang tengah menunggunya di dalam sana. Sultan pun kembali menduduki kursi sofa itu dengan nyamannya ditemani oleh Rere.


"Aku udah bilang kan Tan sama kamu dari awal, untuk jangan jemput aku ke sini, tapi kok, kamu malah ngeyel sih Tan! atau kamu sengaja ya, biar aku bisa nampar kamu lagi."


Seketika itu juga, Sultan pun lalu kembali menutupi pipinya itu dengan menggunakan kedua tangannya tersebut, dikarenakan malam itu sungguh sangat dingin di luar ruangan, dan bilamana nanti Rere menamparnya kembali di sana, maka Sultan akan merasakan kembali arti dari sakit yang tak dapat tertahankan.


"Hmm, udah peka ya, sekarang mah kamu Tan, kalau gue mau nampar elu, elu pasti udah berinisiatip buat nutupin pipi elu itu lebih duluan ya," ucap Rere sembari tertawa.


"Iya lah Re, kalau gue diemin! elu pasti bakalan ketagihan buat nampar gue terus-menerus. Bukannya gue takut, atau apa ya, Re, melainkan tamparan elu itu sakit! dan terlebih tamparan elu itu bisa membuat sekujur tubuh gue mati rasa."


"Kena tonjok sama guru aja elu masih bisa ketawa Tan, kok, sama tamparan gue nyali elu udah ciut duluan ya? heran dah gue sama elu Tan."


"Yaudah ayo Re, kalau gini terus kapan berangkatnya! yang ada elu malah bikin gue betah di sini sampai gue engga mau pulang dari rumah elu ini."


"Kenapa sih elu mau bela-belain datang ke sini Tan? ini kan udah malam, bahaya kalau kamu keluar malam-malam begini, dan apalagi elu itu kan banyak musuhnya di luaran sana."


"Musuh gue cuma ada satu di dunia ini Re, bilamana aku membiarkan kamu keluar sendirian di malam ini, tanpa adanya perlindungan dari gue, dan yang di mana hal itu akan membuat elu dalam bahaya, itu tandanya gue harus bersiap untuk ngemusuhin diri gue sendiri di sini tanpa ampun Re."


"Apaan sih Tan! kok, kamu jadi gombal lagi sama aku sih! inget ya, Tan, ini udah malam, gue paling susah nahan senyuman kalau udah malam gini, jadi percayalah, aku selalu sayang sama kamu, meskipun kamu itu adalah pacar yang sangat rese."


"Ini lagi! kagak nyambung sumpah Re, elu mah engga ada romantis-romantisnya sama pacar sendiri."


Plakk ... ! ucapan Sultan itu seketika membuat dirinya menjadi semakin terjerumus, dan yang di mana Rere kembali menamparnya lagi di sana, namun kali ini tamparannya berbeda, yang di mana malam itu Rere menampar mulut Sultan dengan sangat keras kembali.

__ADS_1


"Rasa sayang yang takan pernah menghilang akan selalu memelukmu di manapun engkau berada, rasa sayang itu takan pernah pergi, walaupun kamu yang meninggalkannya pergi lebih dulu, dan takan pernah menghilang rasa syahdu yang selalu dibayangi oleh rembulan malam itu, takan pernah memudar karena terangnya cahaya tersebut, selalu beriringan dengan kesenanganmu ... wahai kekasih hati satuku," ucap Sultan dalam hati.


__ADS_2