
Pergi untuk menyapa sang mentari, duduk terdiam bersama dengan sang kekasih, dan mata menatap indah senyumnya di sisi lain, yang di mana sisi itu akan selalu tertuju kepada dirinya.
Hari itu merupakan sebuah hari, yang di mana canda, tawa, mesra kembali mereka bangun, kembali mereka tuliskan, kembali mereka adili, dan kembali mereka ukir dengan sesingkat mungkin, dikarenakan kisah itu selalu berjalan disetiap harinya, tanpa berhenti, dan akan terus berlanjut hingga mana mimpi, serta keinginan untuk memilikinya seutuhnya itu terpenuhi.
Tempat itu memang sangat ramai bilamana mata menatapnya kembali, namun akan tetapi sebuah kehangatan rasa yang mereka miliki itu, takan pernah hilang dengan sesaat mungkin, dan terlebih disetiap pertemuan itu, pasti akan ada yang namanya kesulitan hati untuk kembali berpisah dengannya.
"Gue engga mau lama-lama diam di sini Re, dan kamu engga usah bilang kenapa, karena gue akan membawamu pergi ke sebuah tempat, yang di mana tempat itu akan selalu membuatmu semakin betah, bilamana kamu menginjakan kakimu itu di sana nantinya," ucap Sultan sembari memandangi Rere di sana.
"Gue malu ah Tan! kalau kapan-kapan boleh kan Be? dan masalah yang sebenarnya bukan itu sih Be, gue cuma lagi pusing aja sedikit."
"Entar kita berobat ke dokter hewan Re," ucap Sultan sambil menarik tangan Rere.
"Ihh, tapi aku masih ada tugas sekolah yang harus aku kerjain di rumah Tan."
"Biar nanti gue yang ngerjain semuanya Re."
"Tapi kalau salah semua gimana Be?".
"Gue engga sebodoh yang elu pikirkan Re."
"Ohh, iya Tan, gue mau nanya dulu sama elu."
__ADS_1
"Nanyanya sambil jalan aja Re."
Berapa banyak alasan yang akan dia buat kembali itu, dan itu semua takan pernah menghilangkan tekad Sultan begitu saja, dikarenakan alasan Rere itu hanya semata-mata ingin membuat Sultan merasa kasihan saja kepada dirinya itu di sana.
Itu lah Sultan, seorang pria yang sering dipanggil rese dan bolot itu oleh Rere di sana, dia merupakan sosok pria yang mungkin bisa dibilang cukup agak aneh, ataupun bisa dibilang romantis pun bisa jadi, dikarenakan sikap manis yang ia miliki itu, semuanya hanya Tuhan dan Rere saja yang mengetahuinya.
Bila dibilang dia itu adalah pria yang cukup menyebalkan! ya ... dia memang menyebalkan, dan bahkan sangat menyebalkan, semua orang pasti sudah mengetahui sikap anehnya itu, dan terlebih dia hanya mengikuti apa kata yang hatinya itu bisik kan kepadanya di dalam sana.
Dan semua orang bisa lihat, dan bahkan orang-orang yang berada di jalan sana pun melihat Sultan, ketika mana ia menarik tangan Rere sembari memasang wajah yang begitu menjengkelkan! dan tentunya ia hanya tersenyum lebar, ketika mana Rere memohon belas kasihan kepadanya di sana.
Menyakitinya? Sultan tidak menyakitinya, melainkan Sultan hanya membawanya pergi dari tempat yang sangat membosankan itu di sana, dan Sultan pun di sana hanya menggenggam tangan Rere saja, bukan melainkan menarik tangannya itu di sana, dan terlebih Sultan memegang tangan Rere dengan begitu lembutnya, sehingga mana tangan Rere pun masih nampak baik-baik saja seperti biasa, dan bahkan genggaman tangannya itu pun tak nampak berbekas ditangan Rere tersebut.
"Kamu engga akan lupa kan Re?".
"Yap, pintar juga ya, ternyata pacar gue ini," ucap Sultan sembari mencubit pipi Rere.
....
Setelah sekian lamanya Sultan membujuk Rere, dan hingga pada akhirnya Rere pun mulai luluh, dia pun mulai mau mengikuti apa kemauan yang Sultan inginkan itu sekarang kepadanya, dan hingga sampai mana, Rere pun juga mulai bisa membiasakan dirinya itu terhadap sikap manja yang Sultan berikan itu di sana kepadanya.
Tak perlu menunggu waktu lama, Rere dan juga Sultan pun lalu menaiki angkutan umum untuk menuju ke rumah Sultan itu di sana, dan tentunya apa yang Rere ucapkan itu memang benar, angkot hitam adalah angkot yang harus mereka naiki di pasar sana.
__ADS_1
Angkot berwarna hitam memiliki dua tujuan dan dua jurusan, yakni diantaranya ada yang mengantarkan penumpang ke jalan Baros, dan juga ke jalan Cikeong, dan tentunya angkot itu akan mengambil jalan yang berbeda juga, namun tujuannya sama, yaitu sama-sama berhenti di sebuah pasar, dan juga kedua angkot itu sama berwarna hitam, namun berbeda pangkalan, agar supaya semua orang tidak salah dan keliru dalam membedakan dan memilih jurusan angkutan umum yang akan mereka naiki itu.
Seketika itu, jantung berdetak kencang, raut wajahnya berubah-ubah, antara senang, ataupun cemas, yang di mana itu adalah sikap Rere sekarang. Dan tentunya Sultan akan selalu membuat hati Rere kembali tenang karena seorang Sultan, takan pernah membiarkan hati seorang Rere menjadi bimbang seperti itu.
"Sedih gue melihat elu kayak begitu Re, kali-kali senyum kenapa Re, engga ada yang harus kamu takuti lagi Re, karena takut itu untuk apa? kamu orangnya berani, dan kamu itu adalah wanita satu-satunya yang gue bawa masuk ke dalam rumah gue."
"Kagak kok, gue kagak takut Tan, dan lagian mamahmu engga akan makan gue ini kan?".
"Psikopat elu Re! dan lagian engga akan ada yang berani berbicara seperti itu sama gue."
"Ihh, pikiran gue sama elu engga sama Tan, dan jadi kamu jangan anggap aku seperti itu karena pacarmu ini baik loh Tan," ucap Rere sembari meledek Sultan dengan mengeluarkan lidahnya itu.
"Apa Re ... baik? engga salah dengar gue Re, kalau emang benar kamu itu pacar yang baik, kamu engga akan mungkin bisa memiliki hobby seaneh itu Re."
"Hobby apa Tan? gue kagak paham."
"Hobbynya nampar gue!".
"Emang benar ya, kekerasan itu sakitnya akan selalu di ingat-ingat, dan bahkan pacar gue pun masih mengingatnya sampai sekarang, tapi masa sih dia seperti itu! bilamana emang pemikiran Sultan seperti itu, itu tandanya dia merasa risih sama gue ya, semoga saja dia tulus menerima segala kekurangan pacarnya ini, panjang umur ya, Tan, aku sayang kamu," ucap Rere dalam hati sembari memandangi wajah Sultan di dalam angkot itu.
Tatapannya itu, mungkin masih bisa ia lihat, namun apa yang dia sedang ucapkan di dalam hatinya itu, mungkin takan pernah bisa Sultan dengar, melainkan ia hanya bisa merasakannya saja, bahwa Rere tengah membicarakannya di sana.
__ADS_1
"Aku sayang kamu Re, mungkin aku bukan pembaca isi hati seseorang, namun aku di sini bisa merasakan kehadirannya itu datang, yang di mana rasa ini akan selalu aku rasakan, dan bahkan aku akan selalu mengetahuinya, bahwa hati kecilmu itu selalu menyebut namaku dengan pangilan sayang," ucap Sultan di dalam hati juga waktu itu.