
Javas menggandeng Kina untuk menemui tuan rumah yang sedang berada di dalam. Niatnya, benar-benar mengajak Kina untuk pulang kembali kerumah.
"Bunda mana Mom?",
"Nggak tau..tadi sih ada disitu. Kenapa?",
"Javas sama Kina mau pamit pulang..",
" Ada apa? belum juga lama disini..",
"Besok kan kesini lagi..
Kina pengen pulang.., malu dia daritadi diledekin terus..",
Kinara menoleh, alisnya naik ke atas ketika Javas mengucapkan alasannya.
"Halah modus..., mommy tau maksud kamu..",
"Ya udah, mana bunda sama om Revan?",
"Kenapa son..?", tanya Rendra yang tiba-tiba muncul dengan mendorong kursi roda Oma Widya.
"Mau pulang dad..",
"Lho.., hari ini kita ada jamuan buat relasi..",
"Dimana?",
"Disini....
Makanannya udah siap, sayang..?",tanya Rendra pada Aira.
"Udah mas..",
"Kok dadakan, Dad??",
"Mumpung dia lagi di indo...",
"Terus gimana dad..? Javas cuma pakai pakaian santai kayak gini..",
"No problem, yang penting kamu ada..",
"Ckckck.., gagal..",gumamnya.
"Gagal apa?",
"Kayak nggak tau aja..",
"Masih banyak waktu.., masih banyak kesempatan..
Yuk.., om Revan, Kai sama Rai udah nungguin..",
Gagal sudah rencana yang sudah disusun oleh Javas, tapi apa mau dikata, ini menyangkut pekerjaan. Apalagi, ini permintaan dari Daddynya langsung, Javas segan untuk menolaknya.
"Oma.., biar sama Kina aja dad..",
Kinara mengambil alih, mendorong kursi roda Oma Widya menjauh dariJavas dan Daddy.
"Na kita fitting kebaya dulu, di atas..",ucap Mommy Aira.
"Fitting mom? kan Kina belum pernah di ukur..",
"Kak Sha katanya masih punya ukuran badan kamu. Tadi orang butik udah bawa bajunya ke atas. Kita fitting yuk. Mamah mau ikut liat? Apa Aira panggilin dokter Nisa..?",
"Mamah ikut aja..",
Menantu dan cucu menantu itu membawa Oma Widya naik ke lantai atas.
"Loh mbak, disini ya ternyata..", ucap Aira kepada Fafa ketika melihat iparnya ternyata sedang bersama Sharen dan timnya.
"Iya..kan fitting juga, kenapa?",
"Tadi Javas mau pamit..",
"Baru aja sampe, udah mau pulang aja...",
"Nggak jadi Tante..",
"Na.., nih cobain dl kebayanya...", ucap Sharen.
Kinara mencoba Kebaya yang akan dia kenakan pada acara pernikahan Kai. Kebaya yang dirancang langsung oleh Sharen.
"Gimana Na? enak nggak?",
"Enak mbak..",
"Cuma lengannya aja kayaknya yang kurang pas.., nanti biar rombak lagi ya..",
"Nggak usah mbak, gini aja nggak apa-apa..",
"Kalo badannya udah bagus Na.., tapi lengannya lebih keliatan bagus kalo dipas-in sama tangannya..",ucap Mommy Aira.
__ADS_1
"Iya.., kurang dikit ini mom. Nanti biar di permak lagi..",
"Makasih mbak.., jadi ngerepotin..",
"Nggak dong..
Kamu nggak mau kayak Sea? dibuatin gaun pengantin? Mau dirayain aja nggak Na, nikahnya? iya kan mom?",
"Mom sama Dad kan terserah sama Javas Kina, Sha..",
"Nggak usah mbak..",
"Kenapa? nggak pengen?",
"Nanti dulu aja mbak..",
Sharen sudah tahu alasan Kina, meskipun adik iparnya tidak berterus terang. Apa? tentu saja tentang masa lalu Javas.
Kinara memang sudah diterima dengan tangan terbuka oleh Keluarga Perdana. Meskipun pernikahan yang digelar dadakan, tapi inilah keputusan Javas. Kinara adalah perempuan pilihannya.
Menjelang petang, Javas masuk ke kamar tamu, tempat singgah untuknya dan Kinara. Bukan kamar tamu biasa, tapi ini memang kamar yang dikhususkan untuk keluarga jika ada yang bermalam atau berkunjung di rumah om Revan.
"Mas mau mandi?", ucap Kina.
"Nggak.., nggak bawa baju ganti..",
"Siapa bilang? Kina bawain kok tadi.., tuh udah kina taruh di kamar mandi..",
"Nggak.., pulang aja yuk..?"
"Pulang? mau azan magrib mas.., nanggung..., mandi aja dulu...",
"Mau mandiin?",
"Hah..???",
"Hah..? kenapa?",
"Nggak apa-apa..",
"Kamu udah mandi..?",
"Udah mas.., nggak liat Na udah ganti baju?",
"Udah mandi?", tanyanya lagi. Javas mendekati Kinara yang duduk di sofa.
Cupp.....
"Mandi dulu gih..",
"Nggak dibalas cium..",
"Nggak.., mas bau..",
"Makanya cium dulu.., nanti tau bau apa wangi?",
"Nggak.., mas cepatan mandi. Kata mommy kita jamaahan di mushola belakang, mumpung lagi pada ngumpul..",
"Iya.., aku mandi dulu..",
Cup...
Javas kembali mencium pipi Kinara sebelum dia masuk ke dalam kamar mandi, membuat pipi Kinara berubah menjadi merah merona.
Hubungan Kinara dan Javas memang semakin hari semakin mencair. Sudah tidak kaku seperti yang lalu. Hanya saja, memang masih membutuhkan waktu untuk membuat semuanya menyatu, termasuk hati mereka berdua.
"Na.., kita makan dulu ya, abis itu pulang..",
"Makan?",
"Kamu nggak laper..?",
"Iya laper, mas nggak kenyang emangnya?",
"Belum makan, gimana bisa kenyang.."
"Kan mas tadi sama tamu kan? nggak makan?",
"Nggak...", Javas menggeleng.
"Kenapa?",
"Maunya disiapin sama kamu, syukur-syukur disuapin..",
"Ya udah ayo, diambilin makan aja ya mas..",
Javas menggandeng tangan Kinara menuju ruang makan untuk makan malam bersama dengan anggota keluarga yang lain.
"Gandengan terus...", ucap Rai.
"Makanya cepetan..",jawab Javas.
__ADS_1
"Tenang bentar lagi kak, udah dapet lampu ijo dari bunda..",
"Rai udah punya pacar?" tanya Aira.
"Loh udah.., kamu nggak tau ya Ra?",jawab Fafa.
"Siapa mbak? kan belum pernah dikenalin sama Aira.., sama Daddy juga belum kan?",
"Udah..", jawab Rendra.
"Siapa mas? kan sama si Len..Len itu udah putus.., iya kan?",
"Emang udah budhe.., ini baru lagi..",
"Siapa? kok nggak dikenalin Rai.."
"Itu loh, temennya Kina..",
"Siapa?", tanya Aira penasaran.
"Nisa Budhe..",
"Loh.., dokter Nisa? beneran pacaran? wah..wah... nggak mau kalah sama Javas ya kamu..",
"Bentar lagi mantu lagi deh Ra..",
"Ya nggak apa-apa mbak.., jangan main-main lagi ya Rai..",nasehat Aira untuk Rai yang memang sudah terkenal dengan sifat playboynya. Persis, seperti Revan saat muda dulu.
Javas yang memang sudah sedari tadi ingin pulang, akhirnya memilih untuk kembali ke rumah terlebih dahulu. Sedangkan Daddy dan Mommynya masih asyik mengobrol dengan keluarga yang lain.
"Nggak pake driver ya mas?", tanya Kinara pada Javas.
"Nggak..,tadi Dad yang nyetir..",
"Kok nggak mas Javas aja?",
"Dad yang mau..,
Udah cepetan masuk. Nggak ada yang ketinggalan kan?",
"Nggak mas..",
Sudah bersiap untuk tidur, tapi entah kenapa sedari tadi perasaan Kinara tidak enak. Apalagi, Javas yang sepertinya sedang mengawasi segala gerak-geriknya. Tapi, Kinara mencoba untuk berpikiran positif. Kinara semakin takut ketika dia naik ke atas ranjang, dan Javas lagi-lagi memandangnya dengan tatapan yang tidak biasa.
"Na..", ucapnya.
"Iya..",
"Aku ada disini, bukan disitu..", protes Javas karena Kinara tidak memandang ke arahnya ketika menjawab pertanyaannya.
"Iya mas..", ucapnya menoleh ke samping, tempat Javas berbaring.
"Aku mau tanya ..", ucapnya memeluk Kinara yang membuat mereka kini saling berhadapan.
"Apa..?",
Jujur, Kinara dibuat salah tingkah oleh tatapan Javas. Terlihat teduh dan lembut.
"Kamu kalo liat mommy gimana?",
"Gimana apanya mas?",
"Ya.., menurut kamu mommy sosok istri yang kayak gimana?",
"Oh...",
"Apa?",
"Mommy lembut, tegas, tapi nggak pernah melampaui batasan sebagai seorang istri. Yang Kina tau, mommy selalu nurut apa yang dibilang sama Daddy..",
"Kamu nggak pengen kayak mommy..?",
"Pengen apa mas?",
"Nurut kata-kata suami..",
"Na.., selalu berusaha seperti itu mas..",
"Kalo gitu nurut kata aku ya..?",
"Iya mas..",
"Mulai dari sekarang.., janji..?",
"Janji...",
Mereka menautkan jari kelingking sebagai tanda dimulainya sebuah perjanjian.
"Na..",
"Selamat tidur mas..",
__ADS_1
"Aku mau kamu.., malam ini...", ucapnya. Tanpa persetujuan atau jawaban dari Kinara, Javas langsung mencumbu istrinya. Dia mulai dengan mendekatkan wajahnya lalu mencium bibir istrinya.