
Sharen dan Nathan benar-benar menghabiskan waktu mereka di dalam Apartement. Mengobrol, menonton film, memasak bersama, bercinta, begitu seterusnya. Dua hari lagi mereka terpaksa harus berpisah untuk sementara waktu. Melakukan ritual dan tradisi sebelum mereka melaksanakan pernikahan resmi.
"Nathan....geli....",
"Tapi enak kan...?"
"Hmmm...Nath...nakal...",
"Nurut aja.., nikmatin aja sayang...",
Tiada hari tanpa bercinta. Meskipun terdengar malu-malu, tapi Sharen tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri yang melayani suaminya.
Beberapa hari ini Nathan tidak pergi ke kantor atau menengok bisnis cafe miliknya. Dia benar-benar mengontrol dan menghandle pekerjaannya di Apartement. Semuanya dia lakukan demi Sharen, agar istrinya tidak merasa diabaikan.
Dengan rambut setengah basahnya karena baru saja mandi besar, Sharen menghampiri suaminya yang sedang sibuk di depan laptop.
"Sayang....", ucapnya lembut nan manja.
"Sayang...?
tumben kamu bilang gitu ke aku. Sumpah ya, baru pertama kali ini aku denger kamu bilang sayang...", ucap Nathan yang langsung menarik istrinya dan memangkunya.
"Nggak boleh bilang gitu..?",
"Boleh cinta, aku malah seneng banget.
Bisa nggak kamu manggil aku tuh sayang, atau cinta, papi, papa atau bebi..? terserah kamu..., asal jangan manggil sebut nama..",
"Kenapa?",
"Kita kan suami istri, bukan sahabatan lagi. Status kita udah berubah sayang...",
"Kenapa kamu ngomongnya baru sekarang..?",
"Takut kamu nggak nyaman.., aku juga nggak maksa. Nggak apa-apa, kalo kamu masih mau manggil aku Nath, tapi nanti kalo kita udah punya anak, panggilannya berubah ya..",
"Kenapa harus nunggu kita punya baby? mulai sekarang juga bisa..",
Nathan tersenyum sumringah.
"Jadi, kamu mau manggil aku apa?",
"Ayank..., sayang...",
"Adem banget dengernya Sha..",
"Sayang..",
"Kamu ngerayu? Pasti kamu mau minta sesuatu? Kamu pengen apa? pasti aku beliin...",
"Yank...
bisa nggak kalo kita having ***-nya di jadwal aja..?",
Nathan mengerutkan dahinya.
"HS itu bukan pelajaran, kenapa di jadwal segala? kalo aku lagi pengen terus nggak pas jadwalnya, gimana?",
"Ya dijadwal aja, ya yank.., seminggu 2 atau 3 kali..",
"Kenapa?",
"Kalo dijadwal kan aku bisa siap-siap.., pake wewangian, pake lingeri sexy biar kamu suka..",
"Kamu selalu wangi, nggak perlu pake lingerie juga udah Sexy dan aku selalu suka, selalu tergoda sama kamu..",
"Dijadwal aja ya yank...??",
"Oke-oke..,
Jumat siang, Sabtu malam, Minggu malam, Senin siang, Selasa sore, Rabu malam, Yang nggak boleh ketinggalan, Kamis malam jumat.., gimana ?"
__ADS_1
"Sama aja.., tiap hari..", ucapnya manyun.
"Cantik banget kalo lagi manyun kayak gini..",
"Yank...",
"Iya sayang..
kenapa sih? kamu capek kalo tiap hari kita bercinta?",
Sharen menggeleng.
"Itu kan udah kewajiban aku ngelayanin kamu..",
"Terus..? kenapa tiba-tiba nyuruh bikin jadwal..?",
Sharen menatap Nathan dengan mimik wajah serius.
"Kenapa sayang..?", tanya Nathan kepada istrinya.
"Aku takut kamu bosen..", ucapnya dengan menatap Nathan dengan begitu serius.
"Aku bosen karena kita ngelakuinnya tiap hari? aku bosen sama kamu?jadi ini penyebabnya..?",
Sharen mengangguk.
"Kamu dapat pikiran kayak gitu, darimana sih..?",
"Nggak dari mana-mana...",
"Aku suami kamu, jadi wajar kan kalo aku minta sama kamu?kalo minta ke istri orang lain, itu baru aneh..",
Sharen langsung mencubit pipi Nathan dengan kedua tangannya.
"Sakit sayang..",
"Abisnya kamu gitu..,
"Aku juga serius..
jangan negatif thinking terus sama aku, nggak baik sayang..",
"Nggak negatif thinking, tapi cuma antisipasi...aku nggak mau kehilangan kamu..",
"Yang mau pergi dari kamu itu siapa? perkara bercinta tiap hari aja kamu mikirnya nanti aku jadi bosen sama kamu.
Sayang, kamu tau nggak?semenjak kita pacaran terus nikah, kamu tuh berubah banget..",
"Berubah?",
"Iya..
kamu tuh jadi bucin sama aku..",
Sharen diam.
"Kamu juga posesif sama aku..",
"Kamu nggak suka kalo aku bucin? nggak suka kalo diposesifin sama istri sendiri..?",
"Seneng banget malahan..,
tapi kenapa kamu jadi kayak gini...",
Sharen menggeleng.
"Aku juga nggak tau..,
mungkin karena aku udah terlalu lama jual mahal sama kamu..",
"Bukan jual mahal, tapi karena kamu memang mahal..,
__ADS_1
mungkin karena aku juga nggak ngasih kode ya sama kamu, makanya kamu nggak nyadar kalo aku udah lama cinta sama kamu..?",
"Sejak kapan?",
"Nggak tau sejak kapan.., mungkin semenjak lahir..",
"Dih.., gombal banget..",
"Kamu tau nggak? kenapa aku tetep nunggu meskipun kamu udah sama yang lain?",
"Kenapa..?",
Nathan merapikan anak rambut yang berada di sekitar kening Sharen.
"Menikah itu satu kali seumur hidup.
Cuma kamu yang aku mau.., nggak ada yang lain. Seumur hidup itu lama, dan cuma kamu yang bisa mendampingi aku Sha..",
Sharen tersenyum.
"Kalo seumpama kemarin aku jadi sama Satria, gimana?",
"Kamu harus tau, kalo aku pergi ke Aussie diam-diam karena aku marah. Marah sama Papa Mama, karena nggak percaya kalo anak yang di perut Dewi itu bukan anak aku. Alasan terbesarku untuk pergi ke Aussie itu kamu. Aku marah, pasrah dan udah nyerah buat yakinin kamu kalo aku ini yang terbaik buat kamu. Aku pengen lupain kamu.., tapi nyatanya? kita ketemu disana.. dan takdir berkata lain. Kita bisa bersatu, bahkan nikah disana. Itu tandanya, kamu jodoh aku.., aku jodoh kamu...",
Nathan mencium kening Sharen saat selesai mengatakannya.
"Sayang..,
makasih ya udah sabar nunggu aku sadar, kalo aku ini juga punya perasaan yang sama kayak kamu..
jangan pernah lelah ngertiin aku ya..",
"Iya sayang..,
asal jangan negatif thinking terus sama aku..",
"Iya-iya..
Yank.., aku pengen..",
"Pengen?kan barusan udah.., rambut kamu aja masih basah gini..beneran mau?",
"Bukan itu..,
aku pengen BBQ-an..masak daging, enak kayaknya...",
"Makan daging..?", tanya Nathan yang matanya mengarah ke perut Sharen.
"Nggak ngidam yank..
pengen aja..", ucap Sharen yang tau maksud tatapan suaminya.
"Pengen makan di luar..?",
"Huum..",
"Kamu siap-siap..,
aku mau lanjutin kerjaan, 10 menit lagi, ya...",
"Aku ganti baju dulu kalo gitu..
makasih yank..", ucapnya dengan mengecup bibir suaminya.
"Cepetan ganti baju, sebelum aku berubah pikiran , buat kamu nggak pake baju lagi..",
"Ih mesum..", Sharen langsung berdiri dari pangkuan suaminya dan bergegas masuk kembali ke dalam kamar.
"Pake pakaian tertutup sayang..."
"Iya-iya..", teriak Sharen dari dalam kamar.
__ADS_1