
"Sayang.., lepasin...",
"Kenapa sih? nggak mau dipeluk sama aku..?",
"Engap sayang..,
ini aku juga lagi masak loh...",
Sharen melepas pelukannya. Dia berdiri di samping Nathan, dan memperhatikan suaminya yang sedang memasak.
"Yank...,
nggak usah pulang..",
"Kamu nggak mau pulang..?",
"Nggak mau.., disini aja ya..?",
"Maksudnya kamu nggak mau nikah resmi, gitu?",
"Ih... ya nggak gitu...
tapi, kita nggak usah pulang..,
tetep disini aja, pulangnya pas acara...",
"Mommy sama Mamah udah nyiapin semua sayang...,
kenapa nggak mau pulang?",
"Kita LDMan dong..",
Nathan mematikan kompor, karena makanan yang dimasaknya sudah matang.
"Cuma beberapa hari doang sayang,
kamu kenapa sih sekarang jadi posesif kayak gini? Makin cinta loh aku sama kamu..", ucap Nathan. Dia mendekati Sharen, merengkuh tubuh Sharen dalam pelukannya.
"Kamu nggak mau jauh dari aku kan?", tanya Sharen dengan memandang suaminya
"Kita pulang ya..?",
"Berarti mau jauh dari aku..?",
"Bukan gitu sayang.., ini kan udah kesepakatan keluarga kita.
Kamu juga katanya pengen di rayain?",
"Sekarang nggak lagi..
mending kayak Javas sama Kina dulu, mereka sidang isbat nikah, udah deh dapet buku garudanya..",
"Udah ya..
nggak usah ngeyel lagi..
tuh mie rebusnya udah mateng, kita makan...,
abis itu pulang...",
"Suapin...",
"Iya cantik....",
Sharen benar-benar diperlakukan bak ratu. Merengek kepada suaminya memasak mie instant untuknya, dan Nathan langsung memenuhi keinginannya. Barusan juga meminta Nathan untuk menyuapinya dan Nathan langsung mengabulkan permintaannya. Sharen memang manja, tapi hanya dengan Nathan.
"Enak banget yank...",
"Suka..?",
"Huum suka banget...
masakan kamu emang enak..",
"Bilang aja males masak..",
"Nggak gitu yank,
tapi emang pengen makan masakan kamu..",
"Iya iya..
ayo buka lagi mulutnya...",
Makan semangkok berdua, sungguh romantis. Meskipun sederhana tapi membuat hati mereka bahagia.
"Udah packing belum..?",
__ADS_1
"Packing apa?
nggak ada pakaian yang aku bawa pulang. Biarin disini aja, kan kalo udah selesai acara kita juga balik ke sini lagi kan yank...?",
"Iya sayang...",
"Kamu bakalan kangen nggak sama aku yank..?", ucap Sharen menggoda Nathan dengan meraba dada suaminya.
"Nggak usah godain aku kayak gini deh..",
"Ye.., emangnya kenapa sih..?
salting..",
"Sayang...., stop it...", ucap Nathan meminta Sharen untuk menghentikan tangan nakalnya.
Sharen tertawa terbahak.
"Awas aja kamu...",
Sharen menjulurkan lidahnya, meledek suaminya.
Bel Apartement berbunyi.
"Kamu pesen sesuatu yank..?",
"Nggak sayang...",
"Hmmm, paling petugas kebersihan ya. Aku buka dulu deh..",
Sharen membuka pintu. Ternyata perkiraannya salah. Yang datang justru kedua mertuanya, Mama Farah serta Papa Aldo.
"Loh..Mah..Pah..", ucap Sharen yang langsung menyambut kedatangan kedua orang tua Nathan dengan mencium tangan.
"Untung kalian masih disini..",
"Ada apa Mah..?
masuk dulu Mah.., Pah...",
Sharen mempersilahkan kedua mertuanya masuk ke dalam.
"Papa Mama, ngapain kesini? ", tanya Nathan.
"Mama kan mau nengok kalian, nggak boleh..?",
"Justru itu, Mama sama Papa kesini. Mau jemput kalian.
Mama sama Papa mau nganter Sharen pulang ke rumah orang tuanya...",
"Nggak usah repot-repot Mah..", sahut Sharen.
"Papa sama Mama yang nggak enak kalo ngebiarin Nathan sendirian nganter kamu pulang Sha. Jadi, Papa Mama kesini.., mau nganterin kamu pulang..., ketemu sama Daddy Mommy kamu...",
"Iya Pah..", ucap Sharen.
"Sekarang Pah..?",
"Ya kalian udah siap belum....?"
"Udah...., tinggal nyuci mangkok aja..", sahut Nathan.
"Abis sarapan? makan apa?", tanya Mama Farah.
"Makan mie rebus..",
"Mie rebus..? emangnya nggak ada makanan lain yang bisa dimakan Nath..?",
"Sharen yang pengen Mah..", jawab Nathan.
"Mantu Mamah, ngidam..?", tanya Mama Farah antusias.
Namun, sayangnya langsung direspon Sharen dengan menggelengkan kepalanya.
"Belum mah, Sha lagi dapet...", jawab Sharen.
"Hmmm.., belum jadi ya..",
"Tenang Mah, abis Sharen selesai periodnya Nathan buatin lagi.. Nath sama Sha lembur biar jadi cucu buat Mama sama Papah..",
"Kamu itu, ada-ada aja..,
ayo cepetan kalian siap-siap..",
Ya, sebenarnya ada rasa kecewa ketika tamu bulanan Sharen datang. Itu artinya calon cucu untuk kedua orang tuanya tidak berhasil mereka datangkan. Tapi, tak apa. Masih banyak kesempatan bagi mereka.
"Maaf ya yank...",
__ADS_1
"Kenapa minta maaf? namanya anak kan rezeki sayang, kalo masih belum dikasih ya nggak apa-apa..., mungkin belum saatnya..",
"Tapi, Mamah tadi kayaknya kecewa...",
"Mama emang udah kepengen nimang cucu. Beliau kesepian.., tapi kan kita juga baru aja nikah. Pabrik baby nya juga baru aja aku buka.., jadi ya harap bersabar. Aku juga masih pengen pacaran dulu sama kamu..",
"Makasih yank..",
"Udah..nggak usah dipikirin..",
Keduanya lantas berciuman. Hanya sekedar melu*mat , memainkan lidah dan bertukar saliva. Kali ini mereka tidak bisa melanjutkan ke kegiatan yang lebih intim lantaran Sharen sedang kedatangan tamu bulanan.
Ciuman mereka berhenti ketika pintu kamar di ketuk oleh Mama Farah.
"Nath.., Sha....",
Nathan membuka pintu kamarnya. Dan sudah dia duga, akan mendapatkan pandangan sinis dari Mamanya.
"Lama banget sih..",
"Abis ciuman mah, kan bentar lagi pisah..",jujur Nathan.
"Astaga..,
kamu ini. Emangnya nggak bisa ditahan dulu apa Nath..?",
"Nggak bisa, udah kepengen.."
"Mama sama Papa tuh udah janjian sama Mertua kamu. Nggak enak kalo telat...",
"Iya-iya, ini udah siap kok..
Sayang.. cepetan ya..",
"Iya..ini udah kok..", ucap Sharen yang tiba-tiba sudah berada di belakang Nathan dengan menenteng tas mahalnya.
Kali ini Nathan yang menjadi juru kemudi. Dia membawa mobil yang dibawa oleh sang Papa. Sedangkan, mobil miliknya dikemudikan oleh driver yang tadi mengantar kedua orang tuanya ke Apartement.
"Nath.., kalo mama ngomong sama kamu sekarang, bisa nggak..?", tanya Mama Farah. Memang bukan waktu yang tepat, tapi Mama Farah sengaja, ingin mengetahui respon dari Nathan ketika ada istri dari putranya.
"Apa Mah..? Dewi lagi..?",
Sharen langsung memperbaiki posisinya ketika nama perempuan yang membuat hubungannya dengan Nathan menjauh.
"Bukan...",
Sharen menghela nafasnya panjang. Lega rasanya.
"Terus.. apa..?",
"Nath.., kemarin ada yang cari kamu.. ke rumah..",
"Siapa Mah..?",
"Ibu dari jurnalis yang kamu laporin ke polisi..,
dia minta laporan kepolisian mengenai anaknya dicabut..",
"Perkaranya masih di tahap penyelidikan Mah..",
"Kasian Nath, ibunya jauh-jauh dari Sumatra sana, kesini buat cari kamu..., mana ibunya juga udah tua.., Mama nggak tega..",
"Yang salah kan anaknya, bukan orang tuanya..."
"Iya, makanya dia minta laporannya dicabut, anaknya tulang punggung loh Nath..",
"Nathan bersedia kok Mah, gantiin uang gajinya..., tapi proses hukum masih berlanjut. Adil kan..?",
"Nath.., kamu pasti nanti tau rasanya kalo kamu jadi orang tua..",
Nathan sih terlihat santai menjawab pertanyaan Mamanya. Nathan juga masih berkonsentrasi mengemudi. Mobil yang dia kemudian dia jalankan dengan stabil.
"Pah.., misalkan ada yang ngelecehin Mamah, apa yang Papah lakuin?"
"Yang pasti Papa nggak tinggal diam, Papa nggak bakal bisa terima. Kalo orangnya di depan Papa ya reflek pasti Papa hajar orangnya..."
"Tuh kan mah.., udah denger jawaban Papa kan? Nathan ngelakuin hal yang sama Mah..",
Mama Farah lalu diam, sepertinya kehadiran Sharen tidak mampu meluluhkan hati Nathan.
"Yank....", ucap Sharen.
"Iya sayang..",
Tangan Mamah Farah langsung memegang lengan Sharen yang duduk disampingnya. Mama Farah mencegah Sharen untuk berbicara dengan putranya. Karena akan percuma menasehati Nathan yang sedang ingin memberikan pelajaran kepada seseorang yang menyakiti istrinya.
"Nggak usah Sha, lain kali aja..", ucap Mama Farah.
__ADS_1