
"Bye..bye..",
Aira melambaikan tangannya, saat mobil yang ditumpangi putra kecil dan suaminya melaju. Aira melihat kesampingnya, menantunya berdiri tapi pandangannya seperti orang yang melamun.
"Na...",
Tidak menyahut.
"Na..., Kina..",
"Kinara...",
Baru pada panggilan keempat, Kinara menanggapi.
"Iya mom..",
"Kamu kenapa?",
"Nggak apa-apa..",
"Dad, Javas, Jaz emang suka gitu.. kalo lagi rukun. Javas yang selalu jadi bahan ledekan adik sama Daddynya..",
"Iya mom..",
"Kenapa? kamu malu dicium di depan Mom sama Dad?",
Kinara tersenyum dan mengangguk.
"Nggak apa-apa, mommy juga pernah muda kalian kan udah suami istri..",
"Iya mom..",
"Masuk yuk.., kamu hari ini ke rumah sakit kan?",
"Iya mom.., cuma ngurusin berkas aja..",
"Ya udah, kamu siap-siap. Dianterin sama sopir ?",
"Iya mom.., dianterin sama mamang..",
Meskipun keduanya sebelumnya sudah akrab, namun terlihat dari komunikasi mereka. Terlihat masih kaku. Aira sudah berusaha untuk mencairkan suasana, tapi Kinara sepertinya masih membatasi diri.
Kedua sahabat itu, berbincang di taman rumah sakit. Kina dan Nisa sudah bersahabat sejak lama. Saat mereka duduk dibangku SD, sempat berpisah saat Nisa harus mengikuti orang tuanya dinas. Tapi, mereka dipertemukan kembali di SMA yang sama.
"Mas Javas udah ngasih sinyal kayak gitu, tapi kamu nggak ngerti juga ya Na..?",
"Sinyal apa?",
"Dasar dodol. Kamu dokter tapi bodo ya ternyata..",
"Nggak usah ngata-ngatain deh..",
"Ya abisnya kamu gitu.., suami juga udah ngasih sinyal kuat, kamunya masih cuek-cuek aja..",
"Cuek gimana? aku juga tiap hari ngurusin mas Javas kok..",
"Bibik di rumahnya juga bisa.., nggak harus kamu..",
"Jadi, aku kayak Bibik di rumah, gitu ya Nis..",
"Tau ah.., ngomong sama kamu tuh susah.."
"Aku takut kecewa, gitu aja Nis. Bener kata kamu, lama kelamaan aku jadi baper. Mas Javas baik banget sama aku. Sekarang ngomongnya nggak pedes lagi..",
"Mungkin karena harga cabe lagi mahal kali..",
"Lawak lu...",
"Biarin, daripada stress ngomong sama kamu? dikasih masukkan juga nggak bisa..",
"Mas Javas masih belum selesai sama masa lalunya, tiba-tiba aku masuk.., terus aku harus gimana? mencoba bodo amat dengan semuanya? Kamu nggak tau betapa sayangnya mas Javas sama mbak Mine.., tiba-tiba mereka lost Contact.., aku harus percaya sama perhatian yang dikasih sama mas Javas? nggak semudah itu Nis..",
"Heh.., dodol..nih ya aku kasih contohnya. Mas Javas sama kamu Kinara.., nikahnya cuma pernikahan sirih. Kalo memang mas Javas punya niatan pisah sama kamu, harusnya pernikahan kalian nggak usah aja diresmiin. Lebih baik pernikahan sirih, lebih mudah buat dia ngatain cerai, udah selesai. Lu.., jadi janda kembang.., udah deh kelar..", ucapnya memberi nasehat, sekaligus meledek.
"Jahat banget mulutnya..",
"Nggak mau dikatain janda, tapi kamu nggak bisa menempatkan diri. Jadi orang jangan kaku-kaku amat...",
"Kalo aku sakit hati nanti, kamu mau tanggung jawab..?",
"Tenang.., aku hibur. Mau apa? permen, gulali, atau mau sekalian aku jadi badut?",
"Niatnya curhat malah kena semprot..
Kamu kenapa sih dari tadi liatin hape Mulu. Ngomel, tapi senyam senyum sendiri.., lagi chattingan sama siapa?",
"Ada deh.., hehehe..",
Kinara merebut paksa ponsel Nisa, lalu memeriksanya.
"Lagi chattingan sama Rai? kamu Deket sama dia?",
"Nggak Deket.., tapi lagi dideketin..?",
"Rai itu play boy.., jangan sampe kamu nanti kecewa..",
"Lu jual..gue beli..
__ADS_1
Dia macem-macem aku juga bisa. Rai ganteng, kaya, baik kok sama aku.., tapi ya gitu. Bukan tipeku sebenernya..",
"Jangan mainin anak orang..",
"Nggak kok.., cuma dijadiin temen main aja..",
"Nis.., jangan macem-macem..",
"Nggak Na.., cuma sekedar say hei..aja kok..",
"Udah yuk pulang..", ajaknya.
Sayangnya, mamang yang menjemput Kinara belum juga datang. Sudah mencoba menghubungi, tapi tidak bisa. Akhirnya, Nisa lebih memilih untuk pulang lebih dahulu, karena Oma harus segera di cek tensinya.
"Aku pulang dulu ya.., udah waktunya ngecek Oma..",
"Iya..hati-hati ya..",
Kinara memilih untuk menunggu di kursi tunggu yang berada di ruang resespsionit. Dia duduk diantara orang-orang yang sedang melakukan registrasi.
"Dokter disini ya nak..?",
"Iya Bu..",
"Kok duduk disini?",
"Nunggu pak sopir jemput Bu..,ibu disini mau berobat ya?",
"Iya.. nak..",
"Sakit apa Bu?",
"Bukan ibu..tapi bapak..", tunjuknya pada laki-laki yang duduk di atas kursi roda..",
"Bapak sakit apa Bu?",
"Jatuh dari atap.., waktu kerja periksa genteng bocor. Patah tulang..",
"Oh.., terus gimana? sudah ada perkembangannya?",
"Sudah.., tinggal teraphy saja.., biar bisa cepat jalan..",
"Aamiin.., semoga cepet sembuh..",
"Makasih nak..
Dokter cantik..,
Ibu juga punya anak laki-laki, seumuran dokter. Mau nggak sama anak ibu? kerjanya di tambang.., sudah mapan, anak saya juga tampan..",
Tiba-tiba Kinara mencium aroma seseorang yang sangat dia kenal. Seperti wangi Javas. Namun, sepertinya tidak mungkin karena suaminya sedang bekerja.
"Eheemmm...",
Kinara menoleh dan ternyata suaminya sudah berdiri dibelakangnya.
"Loh mas Javas.., kok disini?",
"Jemput kamu.., ayo pulang..",
"Oh iya..
Bu saya permisi dulu ya..",
"Pak sopirnya sudah datang ya..",
"Ehehh..ini....",
"Iya Bu.., saya sopir pribadinya. Mari..",
Javas berjalan, dengan langkah kaki lebar. Meninggalkan Kinara yang sedikit kepayahan ngimbangi Javas.
Brekkkk..
Javas masuk ke dalam mobil dengan setengah membanting pintu. Kinara sadar, ada sesuatu yang tidak beres sehingga suaminya bersikap demikian.
"Mas..",
"Hmmmmmm...",
"Kina tadi kan udah bawain makan siang, mamang yang nganterin..",
"Iya..terus kenapa?",
"Mas Javas terima kan?",
"Udah abis..",
Kina diam..
Terus kenapa marah-marah? aku salah apa?, batinnya.
"Enak..?", tanya Kina lagi.
"Enak.., masakkan mommy kan?",
"Kok tau?",
__ADS_1
"Udah hafal rasanya..",
"Mas Javas marah sama Kina karena nggak masak? tadi Kina udah di dapur, tapi cuma bantuin mommy aja..",
"Udah dua kali ya kamu bilang kalo aku ini sopir..", akhirnya Javas berterus terang tentang kekesalannya.
"Iya mas.., maaf.
Kina kan nggak tau kalo mas Javas yang jemput. Mamang nggak bisa ditelepon.., kina udah nunggu dari tadi..",
"Mamang nggak bisa jemput.., dipinjem sama Bunda..",
"Iya mas maaf..
Mas Javas kok tau Kina nunggu disitu..?",
"Tadi aku ketemu Nisa di depan, terus tanya katanya kamu nunggu diresepsionist.. pake acara mau di jodohin sama anaknya ibu tadi. Kamu emang nggak pernah nganggep aku ada ya Na..?",
Kinara melihat ke arah Javas yang terlihat sangat kesal.
"Kamu mau pernikahan kita dirahasiakan, tujuannya biar nggak ada orang yang tau, tapi kalo kayak gini kenyataannya sama aja kamu nggak nganggep aku, seharusnya aku nggak setuju waktu itu..",
"Mas...tapi....",
"Udah diem..nggak usah bantah.., kamu turun sekarang..", ucapnya ketika mereka sudah sampai di rumah.
Tidak ingin Javas bertambah marah, Kina lantas turun dari mobil tanpa membantah.
Bukannya memarkirkan mobil ke garasi, Javas justru putar balik kembali keluar rumah. Membuat Kinara spontan memanggil suaminya.
"Mas Javas.., mau kemana?", tanyanya dengan intonasi tinggi.
Percuma, Javas tetap melajukan kendaraannya.
Kinara akhirnya masuk ke dalam rumah. Hanya bisa pasrah semoga saat pulang Javas sudah tidak lagi marah padanya.
"Nyonya sama Jaz lagi ada di rumah Oma non..",ucap Maid saat Kinara baru saja masuk ke dalam rumah.
"Oh.., ada acara?",
"Nggak..cuma nengokin aja, bentar lagi juga pulang..",
"Iya bik..,
Kina naik ya..",
Kinara menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Makin lama, Kinara tidak habis pikir dengan sikap Javas. Sudah bersikap baik tapi kadang-kadang keluar garangnya, seperti apa yang baru saja terjadi.
Kinara masuk ke dalam kamar mandi, untuk membersihkan tubuhnya. Lima belas menit kemudian, Kinara keluar dengan handuk kimononya. Menuju walk in closet dan memakai pakaiannya disana.
Kinara keluar setelah memakai dress rumahan selututnya. Surprise, ternyata Javas sudah pulang. Suaminya duduk di sofa.
"Udah pulang mas..?", tanya Kinara lembut tapi, ada rasa takut saat mengucapkannya.
"Sini Na..", ucapnya menyuruh Kinara untuk mendekat padanya.
"Duduk..", ucapnya lagi setelah Kinara berdiri disampingnya.
Kinara duduk disamping Javas, dia pasrah. Menyiapkan kupingnya untuk mendengar kata-kata pedas yang akan suaminya keluarkan lagi.
"Ini buat kamu..",
Javas memberikan satu buah paper bag kecil kepadanya.
"Ini apa mas..?",
"Buka aja..",
Kinara mengambil sesuatu di dalam sana. Sebuah kotak kecil bewarna merah sudah berada ditangannya. Kinara lantas membukanya.
"Wah..., bagus banget..",
"Itu buat kamu..", ucap Javas.
Sebuah cincin berlian bermata satu, ada di depan matanya. Kinara yang masih takjub, dibuat kaget oleh Javas yang tiba-tiba memegang tangannya.
"Aku lupa, belum beliin cincin buat kamu..",
Javas memegang tangan Kinara lalu memasukkan di jari manisnya.
Kinara memperhatikan wajah Javas saat suaminya itu memasangkan cincin untuknya. Terlihat wajah tampan Javas yang serius.
Javas dan Kinara saling pandang.
"Makasih mas..",
"Sekarang udah nggak ada alasan lagi. Kalo ada ibu-ibu yang mau kamu jadinya mantunya atau laki-laki yang pengen jadiin istri. Tinggal tunjukkin cincin ini..", ucapnya.
Kinara mengangguk.
Dia melirik Javas yang dijarinya juga terpasang cincin seperti yang dia pakai, hanya saja polos.
"Siapin air Na.., aku mau mandi..nanti malam kita jemput kak Sha..",
Kinara berdiri dari duduknya, lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk menyiapkan keperluan mandi Javas.
maafkeun kalo ada yang typo, nanti diedit.
__ADS_1