
Satu jam berlalu, akhirnya Nathan dan Sharen sampai. Sharen, merasa familiar dengan mobil di depan yang juga terparkir. Bahkan, terhitung sudah dua kali Sharen nebeng di dalamnya.
"Nath, itu kok kayak mobil Tama?",
"Turun yuk...",
"Tama disini juga Nath..?",
"Iya.., turun yuk Sha..",
"Kalian udah janjian..?",
"Nggak juga sih..",
Nathan keluar dari mobilnya, langsung membukakan pintu untuk Sharen.
"Ayo turun dulu..",
Untung saja Sharen saat itu mengenakan dress bermotif bunga yang panjangnya semata kaki, berlengan panjang. Jadi tidak begitu merasa dingin karena tempat ini terletak di kaki gunung.
"Kok rame ya Nath..",
"Iya Rame..masuk yuk..",
Sharen dan Nathan berjalan berdampingan. Jarak tempat parkir dengan tempat makan membutuhkan waktu tiga menit dengan berjalan kaki.
Sharen mengerutkan keningnya, ketika papan bunga berjejer rapi disana.
"Ada apa ini?", ucapnya dalam hati.
"Queen Atria? namanya berubah ya..", lagi-lagi Sharen berucap dalam hatinya.
Cukup banyak papan bunga yang berjejer di sepanjang tempat parkir hingga menuju masuk ke dalam area.
Sharen dibuat salah fokus dengan papan nama yang tidak sengaja dia baca .
"Selamat dan sukses atas pembukaan "Queen Atria.."
Bukan itu yang membuatnya sedikit kaget. Namun, nama dari pengirim tersebut
"Keluarga Rendra Ezzar Perdana"
Itu nama Daddy nya kan?
"Nath...",
"Iya.., ada apa Sha..",
"Itu papan bunga dari Daddy ya?"
"Iya.., itu nama om Rendra..",
"Kok...Daddy bisa ngirim kesini? pake nama pribadi pula, bukan dari Prime. Emang siapa yang punya ini?",
Nathan tersenyum.
"Masuk yuk...",
Bukannya menjawab Nathan malah sedikit memperlebar langkahnya, meninggalkan Sharen yang masih kebingungan.
"Selamat siang pak..",
"Siang..",
"Sudah ditunggu sama yang lain pak..",
"Oke..
Ayo Sha..",
"Siang mbak..",
Sharen tersenyum canggung. Bukan dipaksakan tapi dia bingung. Nathan di tunggu? Siapa?
"Nah akhirnya.., sampe juga..", ucap Tama yang menyambut kedatangan Nathan. Disana memang sudah ada banyak orang, jika dihitung mungkin belasan bahkan mungkin puluhan. Tampak pegawai yang mengenakan seragam serta beberapa orang dengan pakaian rapi. Bahkan, Sharen juga sangat mengenal salah satu orang tersebut.
Sharen ikut mendekat, mengikuti Nathan yang bergabung dengan kumpulan orang tersebut yang berdiri setengah lingkaran, berpusat pada meja yang diatasnya sudah ada nasi gunungan bewarna kuning lengkap dengan lauk pauknya.
"Tempat ini, punya Nathan?", tanya Sharen dalam hatinya.
__ADS_1
Rupanya mereka memang sedang menunggu Nathan untuk segera memulai acara peresmian tempat tersebut. Dan, seperti dugaan Sharen, ternyata tempat ini memang milik Nathan.
Tepuk tangan meriah menggema ketika Nathan memotong nasi sebagai simbol dibukanya tempat makan yang sekarang bisa disebut sebagai tempat wisata. Potongan tersebut, Nathan berikan kepada laki-laki disampingnya yang umurnya mungkin seusia dengan Daddy Rendra.
Mereka berdua berjabat tangan, dan disambut oleh tepuk tangan yang bergemuruh. Sharen ikut berbahagia dengan pencapaian Nathan saat ini.
Tidak ingin mengganggu Nathan yang sedang berbincang-bincang dengan koleganya, Sharen memilih untuk duduk di tempat yang sudah disediakan.
Tidak lama kemudian, dia dihampiri oleh laki-laki muda yang mendorong kursi roda dengan perempuan paruh baya yang duduk diatasnya.
"Sha...", sapa Tama.
"Tam...,
Tante..", sapanya pada perempuan itu, Sharen langsung menyalaminya.
"Ini mbak Sharen..?",
"Iya Tante..",
"Saya Mama Tama mbak..",
"Oh Tante ibunya Tama ya,
kita baru pertama kali ketemu ya Tante..",
"Mbak Sharen cantik sekali.., pantesan mas Nathan suka.." ucapnya.
"Hehe..Tante bisa aja..makasih Tante.."
"Terima kasih, sudah mau menerima Tama untuk kerja..",
"Sama-sama Tante.. saya juga seneng punya asisten kayak Tama, dia rajin.., yang paling penting dia mau direpotin sama saya Tante.."
"Kan memang sudah tugasnya dia mbak.."
Tam.., mamah sama suster aja.., mau keliling-keliling..",
"Iya.., mbak sus..nih..Mama mau jalan-jalan katanya..",
"Baik mas..",
"Iya..mari Tante..",
Tama dan Sharen duduk berdua.
"Tam.., tempat ini punya Nathan..?",
"Iya.., dia beli dari bokap?",
"Hah.., sebelumnya ini punya keluarga kamu..?",
"Heemmmm.., kan aku udah pernah cerita sama kamu. Nyokap sakit, bokap kebingungan cari duit..,untung ketemu sama Nathan yang mau bantu..",
"Tante sakit apa Tam..?",
"Mama sakit gagal ginjal, bolak-balik ke rumah sakit buat cuci darah, butuh biaya banyak..",
"Gitu ya..",
"Bokap masih tetep kelola tempat ini, tapi pemiliknya aja yang ganti...",
"Tadi yang sama Nathan itu, papa kamu?",
"Hehe iya.., ganteng kan?",
"Hmmmm.. ganteng..",
"Setelah Nathan beli tempat ini, perluasan lahan, dibikin tempat wisata juga. Dibelakang nanti ada kebun, terus ada wahana mainan anak-anak, pokoknya lengkap Sha..",
"Nathan banyak duit juga ya Tam..",
"Ada investornya juga Sha.., nggak murni duitnya dia..",
"Kenapa nama tempatnya diubah? Queen Atria. Queen bukan nama aku kan Tam..?",
"Tempat ini punya Nathan, dan dia sengaja tambahin nama Queen di depannya. Masa iya kamu masih tanya kayak gitu ke aku? emangnya belum jelas Sha..?",
Sharen tersenyum kecut.
__ADS_1
"Sampe segitunya Tam? sampe nama tempat usaha dia pun, ada namaku?",
"Karena kamu segalanya buat Nathan. Moment penting hari ini aja, kamu yang nemenin dia, bukan Luna...",
Sharen kembali terdiam. Seketika ingat ketika tadi telepon Luna diabaikan oleh Nathan, dan dia lebih memilih untuk meneruskan perjalanannya dengan Sharen.
"Kenapa harus kayak gini sih Tam?",
"Ya udah jalannya kayak gini.. Aku cuma mau kalo kamu tuh sadar, rasa Nathan buat kamu udah sedalam ini...",
"Tapi, dia bukan milikku..",
"Kalo dia untuk kamu, gimana?",
Sharen menggeleng.
"Aku nggak tau, semuanya udah ada yang ngatur. Yang jelas, aku nggak mau seperti pagar makan tanaman. Aku nggak mau merusak rumput milik tetangga Tam..",
"Nanti pasti ada waktunya kok Sha, pasti kamu diperjuangin sama Nathan. Ya, meskipun sebenarnya saat ini juga dia lagi berjuang, tapi nggak secara terang-terangan.. tapi aku tau semuanya butuh proses. Tujuan dia, cuma buat kamu bahagia..",
Sharen sepertinya bimbang, tapi dia tidak mau goyah dengan pendiriannya. Hubungan yang dimulai dengan merebut milik orang lain tidak akan berjalan mulus, lurus dan lancar.
Nathan, menghampiri Sharen dan Tama yang sedang berbincang.
"Sha makan dulu ya..",
"Sebelah mana Nath..?",
"Nggak usah, disini aja. Bentar lagi juga dianterin kok. Tadi aku udah bilang sama mbaknya..",
Mengerti apa yang harusnya dia perbuat. Tama yang selalu sadar diri langsung meninggalkan mereka berdua.
"Aku cari Mama dulu deh Nath..., Sha..",
Tidak ada yang bersuara ketika mereka berdua menikmati makan siang. Baru, setelah melahap habis, Sharen membuka percakapan.
"Enak..", ucapnya dengan membersihkan bibirnya menggunakan tissue.
"Kamu suka makanan disini?",
"Iya..suka.."
"Mau jalan-jalan nggak Sha..?",
"Hmmm boleh..yuk..",
Mereka berdua berkeliling, menikmati suasana yang kala itu memang ramai.
"Rame ya Nath..",
"Iya..namanya grand opening, lagi ada diskonnya juga sih Sha..",
"Kenapa tiba-tiba, kepikiran buka tempat wisata kayak gini. Lengkap pula, ada tempat oleh-olehnya.."
"Ya, kayaknya emang disekitar sini belum ada tempat wisata keluarga yang kayak gini. Tongkrongan anak muda yang tempatnya juga asyik..",
"Kenapa namanya diganti Nath..?",
"Pengennya di rubah sih, cuma kayaknya nama Atria itu udah biasa ditelinga orang-orang. Jadi, ditambahin aja Queen, kayak nama kamu. Aku pinjem namanya ya Sha..",
"Harus bayar royalty tuh.."
"Mau berapa?"
"Kenapa harus Queen?", tanya Sharen mengalihkan pembicaraan.
"Aku suka nama itu..",
Dan, aku sayang sama orangnya. Kamu, orang spesial dalam hidupku, Sha.
"Kenapa nggak nama yang lain, Luna atau Farah, atau Yasmine..",
"Queen artinya ratu, tahta tertinggi. Jadi, ya filosofinya semoga tempat yang letaknya di atas ini, selalu jadi tujuan wisata paling utama..",
Sharen tersenyum sambil mengangguk. Dia kembali mengedarkan matanya melihat pemandangan hijau nan asri.
Nathan melihat ke arah sampingnya. Perempuan yang selama ini dia kagumi, namun sayang belum bisa dia miliki.
Kamu cantik, Sha..
__ADS_1
Bab ini seharusnya sampai di Nathan yang nganterin Queen pulang. Tapi, besok aja disambung. Authornya ngantuk.