
Sepanjang perjalanan pulang dari Mall ke Rumah Sakit, Javas mengomel. Dia masih kesal dengan keusilan Jaz. Apalagi, ketika memanggilnya "Daddy", saat di depan Kinara tadi. Layaknya barang dagangan, sudah pasti harga jual Javas menurun drastis.
Jaz menanggapi santai, dia tidak terpengaruh dengan Omelan Javas. Jaz duduk dikursinya sembari memainkan robot baru yang sudah dia buka dari bungkusnya.
"Makasih kak Javas..",
"Kamu nggak ada rasa bersalah sama sekali ya..",
"Iya..", jawabnya singkat.
Setelah itu, tidak ada lagi suara mungil Jaz. Dia tertidur di dalam mobil. Padahal, sebentar lagi mereka akan sampai di Rumah Sakit.
"Tuyul..., malah tidur...",
Javas tersenyum ketika melihat adiknya yang tidur dengan mulut menganga. Wajahnya terlihat sangat polos. Seketika, rasa bersalah tiba-tiba muncul dalam diri Javas. Selama ini Javas bersikap acuh, dingin dan terkesan membenci adiknya yang sebenarnya tidak bersalah. Jaz bukan penyebab mommynya tidur bertahun-tahun. Sama dengan Javas, Jaz juga menjadi salah satu orang yang kehilangan atas kepergian sang mommy.
"Maafin kakak Jaz..", ucapnya mengusap rambut Jaz.
Tak tega membangunkan adiknya, Javas akhirnya memilih untuk menggendong Jaz masuk ke dalam. Tangan Jaz yang memegang erat mainannya, membuat Javas sedikit kesulitan. Bukan hanya itu, ini adalah kali pertama Javas menggendong seorang anak. Rasanya masih kaku.
Pegawai Rumah Sakit yang mengenali Javas, menundukkan kepala seraya memberikan salam sebagai basa-basi. Sebagai penghormatan kepada putra salah satu pemilik rumah sakit. Beberapa pegawai bahkan menawarkan diri untuk membantu Javas yang terlihat kesulitan membawa tas yang dipegang oleh Javas. Namun, Javas menolaknya secara halus.
"Assalamualaikum..", ucap Javas memberikan salam.
"Waalaikumsalam..",
Pemandangan bak fenomena gerhana bulan. Langka dan hanya terjadi beberapa tahun sekali.
"Loh..loh..., ada angin apa ini Vas..", ucap Sharen.
"Shuut..., nggak usah berisik.., nih tuyulnya nanti bangun..", ucap Javas yang dengan sehalus mungkin menidurkan adiknya di atas Sofa.
"Aduh.., kakak lupa rekam...",
"Rekam apa?",
"Yang tadi.., kamu gendong Jaz..",
"Lebay..",
"Biarin.., kenapa mukanya kusut gitu?", tanya Sharen yang melihat muka Javas terlihat berantakan.
"Tau ah..",
"Oh.., habis diporotin Jaz?",tanya Sharen.
"Kamu beliin mainan Jaz? maaf ya, jadi ngerepotin kamu. Nanti biar diganti sama Daddy ya Vas..", ucap mommy Aira.
"Hah? nggak..nggak mom.., nggak usah..",
"Habis berapa emangnya?",
"3 juta.., ternyata mainan anak-anak mahal juga..",
"Kamu baru tau? kakak sih udah biasa beliin Jaz mainan mahal..",
"Ya udah, nanti biar Daddy ganti ya nak..", ucap Aira lagi.
"Nggak mom.., ini bukan soal nominal..",
"Terus apa?", desak Sharen.
"Jaz tadi manggil aku.., Daddy.., di depan cewek. Sumpah, rasanya tengsin.., malu aku kak..",
"Hahahaha.., Jaz bilang gitu ya? rasain..",
__ADS_1
"Pas cewek itu pergi.., baru dia bilang. Pulang yuk kak..,sengaja banget kan kak?",
"Itu tandanya Jaz itu ngelindungi kamu biar nggak jelalatan liat cewek cantik. Niat Jaz itu baik..",
"Baik sih baik.., kenapa pake bilang aku Daddynya..",
"Iya juga sih.., Jaz emang kadang-kadang usil..",
Aira hanya tersenyum mendengarkan cerita Javas. Rasanya, seperti mimpi dirinya bisa bangun dan bisa berkumpul kembali bersama putra putrinya, terutama dengan suaminya.
"Udah makan siang Vas..?",tanya Aira .
"Belum mom..",
"Makan dulu.., itu udah dibawain sama kak Sharen.."
"Iya mom.., makasih..",
"Dokternya jadi visit Dad?",tanya Sharen kepada Rendra.
"Jadi.., bentar lagi..
Kalo mommy udah stabil, Minggu depan udah boleh pulang..",
"Beneran Dad..?",
"Iya.., kita denger aja nanti dokter yang menangani mommy..",
Setengah jam kemudian, seorang dokter senior masuk ke dalam ruangan Aira. Tidak sendiri, dokter tersebut masuk dengan dokter muda dan seorang suster.
Hati Javas berdegup kencang ketika lagi-lagi dia melihat perempuan cantik, saat bertemu di Toys shop tadi. Ya, Kinara adalah sosok dokter muda tersebut. Ini, kali pertamanya dia melihat Kinara ikut masuk ke dalam ruangan mommynya.
"Kondisi Ibu Aira sudah stabil pak.., Minggu depan sudah boleh pulang..",
"Alhamdulillah..",
"Selamat siang.., saya Kinara..", ucapnya memperkenalkan diri.
"Jadi.., dokter bisa untuk sementara waktu tinggal di rumah kami?",tanya Sharen.
"Bisa mbak..",
Javas terkejut. Dia memang baru pertama kali mendengarnya. Daddy dan kakaknya tidak pernah membicarakan ini sebelumnya.
"Harus tinggal di rumah mas?",
"Iya.., daripada bolak-balik? kamu masih dalam masa pemulihan, butuh pengawasan khusus..",
"Kan kasian dokternya.., tiap hari datang kerumah kan bisa?",
"Saya anak rantau Bu Aira, jadi tidak masalah..", jawab Kinara.
"Oh gitu..",
"Tuh kan.., nggak apa-apa sayang, demi kesembuhan kamu. Sebenarnya mas sama anak-anak juga pengen bawa kamu ke luar negeri. Tapi, kata dokter nggak perlu, karena keadaan kamu berangsur membaik..",
"Kalo begitu, saya pamit dulu..", ucap dokter senior yang menangani Aira.
"Silahkan dok, mari saya antar sampai depan..", ucap Rendra.
Meskipun baru beberapa menit berada di tengah mereka. Tapi, Kinara sudah bisa merasakan kehangatan keluarga Rendra Perdana. Dan, sepertinya dia akan betah menjalankan tugasnya.
Kinara melihat sekeliling, dan ketika melihat ke arah belakang, tepatnya Sofa yang ditiduri oleh Jaz serta Javas yang duduk disampingnya. Kinara sedikit terkejut karena bertemu kembali dengan anak dan "Daddynya".
"Jaz..", ucap Kinara.
__ADS_1
Sharen menoleh ke arah Jaz, dia kira adiknya bangun. Tapi, ternyata Jaz masih tidur nyenyak, masih lengkap mengenakan seragamnya.
"Dokter kenal sama Jaz?",
"Iya.., tadi kami ketemu di toko mainan. Saya kira Jaz sendiri, dia keliatan kesulitan mengambil mainan yang dia mau..",
"Oh.., jadi Bu dokter ya tadi yang ketemu sama Jaz?",
"Iya mbak..",
"Oh.., pantesan..",
"Kenapa mbak? Jaz putra anda ya?",
"Bukan.., oh ya kita belum kenalan..,
Perkenalkan saya Sharen.., ini Daddy Rendra sama Mommy Aira. Yang duduk disamping Jaz, namanya Javas..",
Kinara menganggukkan kepalanya sambil tersenyum kepada Javas, yang hanya dibalas dengan senyuman tipis.
"Javas itu adik saya..",
"Berarti Jaz keponakannya mbak Sharen ya?",
"Jaz itu putra bungsu kami dok..", ucap Aira.
"Putra bungsu? jadi ibu Aira mengalami koma setelah melahirkan Jaz? tapi tadi Jaz bilang.....", ucap Kinara menutup mulutnya karena merasa ditipu oleh Jaz.
"Jaz memang suka usil dok.., biasanya korbannya saya, tapi kali ini kayaknya dia mau ngerjain kakaknya yang paling ganteng..",
"Oh, begitu ya mbak.., hehe saya pikir tadi memang mas Javas itu Daddynya..",
"Halo.., iya sayang...", ucap Javas yang sedang menerima panggilan telepon. Dia keluar dari ruang rawat Aira.
Selang sepuluh menit kemudian, Javas kembali masuk. Dia langsung pamit kepada kedua orang tuanya, serta kepada Sharen. Disaksikan oleh Kinara yang masih berada di ruangan tersebut.
"Mom.., Javas mau pergi dulu..",
"Kemana?",
"Jemput Mine..",
"Pacaran terus..",celetuk Sharen.
"Biarin.., iri bilang..",
"Heleh.., ngapain iri..",
"Ya udah, hati-hati..", nasehat Aira setelah putranya mencium punggung tangannya.
"Pergi dulu ya Dad..", ucap Javas.
"Jangan balik malem-malem.., anak orang dijaga yang bener..",
"Iya...",
"Queen.., aku mau balik dulu..",
"Hmmm.., nanti bawain martabak ke sini ya Vas..",
"Iya kalo inget..",
Terakhir, Javas memberikan salam kepada Kinara sebelum dia pergi.
"Mari dok..",
__ADS_1
"Mari mas..", ucap Kinara ramah.