Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )

Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )
Janji Nathan


__ADS_3

Menjenguk mommynya merupakan hal yang wajib bagi Javas. Jika dibandingkan dengan Daddy atau kakaknya Sharen, Javaslah yang paling rajin datang ke rumah sakit untuk melihat keadaan Aira, yang meskipun hingga saat ini belum ada sedikitpun kemajuan. Javas tidak gentar, dia yakin suatu hari nanti mommy nya akan membuka mata. Entah kapan waktunya.


"Mom.., Javas kesini untuk kesekian ribu hari. Tapi, Mommy masih aja tidur, nggak capek ya mom..?


Mommy kapan bangunnya? bentar lagi ya mom..?


Javas sekarang udah punya usaha sendiri, mommy pengen dibeliin apa? Javas turutin mom..


Mommy emang mungkin masih pengen tidur ya. Oke mom.., nggak apa-apa. Mungkin mom masih capek.


Javas pergi dulu ya mom..", pamitnya dengan mencium tangan mommynya lalu beralih mencium kening Aira.


Mata Javas tertuju pada segerombol dokter muda yang sedang memeriksa berkas yang berada ditangannya masing-masing. Mereka adalah mahasiswa yang diceritakan Tante Vina tempo hari. Sayangnya, tidak ada wajah gadis yang Javas cari. Memperhatikan dengan seksama satu persatu, dan ternyata penglihatan Javas tidak salah. Tidak ada wajah cantik Kinara yang sempat membuatnya terpesona.


Masuk ke dalam lift untuk menuju lantai dasar. Saat pintu hhendak tertutup, dia melihat gadis itu lagi. Kinara yang cantik sedang bercanda bersama temannya yang tempo hari Javas tabrak.


"Cantik..", gumamnya.


Secara kebetulan, Kinara melihat ke arah Javas sebelum lift tertutup. Mata mereka beradu, diiringi dengan anggukkan serta senyum manis yang Kinara tujukan kepada Javas.


Mata Javas sempat terhipnotis sebelum akhirnya dia tersadar. Sudah ada Yasmine di dalam hatinya. Kepalanya bisa dipenggal om Aldo dan Nathan jika Javas sampai bermain api dengan gadis lain.


"Astagfirulloh Vas..", ucapnya dengan mengucek-ngucek matanya.


Jaz masih melihat foto yang menyita perhatiannya. Otaknya terus saja berpikir tentang perempuan yang digandeng oleh Daddy nya. Eljaz baru pertama kali melihatnya. Dan itu semakin membuatnya penasaran.


"Assalamualaikum, ganteng...", ucap sus Sri yang langsung masuk ke dalam ruangan Sharen.


"Sus....", ucap Jaz yang langsung berlari memeluk baby sitternya.


"Jaz disini sendirian ya? Moma baru meeting ya.., kasian. Jaz udah makan belum..?",


"Belum sus..",


"Laper nggak..?",


"Itu nugget ya sus.., asyik mau..",


"Laper banget ya.., ayo sus suapin ya. Hapenya di taruh dulu..",


"Sus..sus.., sini deh..",


"Apa Jaz?",


"Sus liat ini..",


Sus Sri melihat dengan seksama foto yang ditunjukkan oleh Jaz.


"Ini kak Javas, ini Moma Sharen.., ini Dad Rendra.., terus ini siapa sus?",


Sus Sri mengerutkan dahinya. Itu dilakukan untuk menutupi rasa terkejutnya. Sus Sri sudah tahu siapa yang dimaksud oleh Jaz. Meskipun belum bertemu secara langsung, tapi Sus Sri pernah melihat foto Aira yang ditunjukkan oleh Maid di rumah. Foto cantik Aira yang kini memang hanya disimpan di ruang kerja Rendra. Semua sudut rumah hanya dipenuhi oleh hiasan dinding atau lukisan abstrak. Tidak ada satupun foto keluarga yang dipajang. Bukan melupakan atau menganggapnya tidak ada. Hanya saja, setiap melihat foto Aira. Hawa kesedihan langsung menyeruak.


"Sus nggak tau.., itu kan foto lama. Itu kayaknya waktu Moma ulang tahun.., tuh wajahnya aja beda sama yang sekarang..",


"Bohong.., sus pasti tau. Kenapa dia gandengan sama Daddy..?",


"Ya nggak apa-apa.., mungkin disuruh sama fotografernya..",


"Jaz kok nggak pernah ketemu Sus?",


"Kan Jaz sekolah.., habis itu pulang. Makan, tidur siang, les renang, les berhitung, les bahasa Inggris, jadi waktu dia ke rumah. Javas nggak liat..",


"Ini namanya siapa sus?",


"Nggak tau juga..

__ADS_1


Cantik ya Jaz?",


"Iya.., cantik..",


"Mau makan sekarang..?",


"Hmm.., nanti Jaz tanya sama Moma ya Sus..",


"Iya.., sekarang Jaz makan dulu ya ganteng..",


Jaz sepertinya masih penasaran. Bukan kapasitas Sus Sri untuk berbicara terus terang kepada Jaz. Biarlah Jaz bertanya nanti kepada Sharen langsung.


"Loh.., udah ada mbak sus ya..",


"Iya mas..",


"Permisi, aku mau ambil berkas Sharen ya mbak..",


"Silahkan mas..",


"Wah.., Jaz makan ya.., pasti enak tuh..",


"Enak dong..


Kak.., ini siapa?", tanyanya pada Nathan.


Nathan mendekati Eljaz. Nathan tidak sengaja menjatuhkan berkas yang dipegangnya. Bukti jika dia kaget melihat foto yang diperlihatkan oleh Jaz. Tidak kurang akal, Nathan menjawabnya namun tidak serius.


"Itu kan Moma..",


"Bukan itu.., yang ini?", tunjuk Jaz.


"Kak Javas.., yang suka galak sama Jaz..",


"Bukan dia.., ini nih..",


"Bukan juga.., yang ini nih...",


"Kak Nathan keluar dulu ya, ditungguin sama Moma.., nanti Moma marah..", jawabnya lalu keluar dari ruangan.


Eljaz kesal karena pertanyaannya tidak dijawab oleh dua orang dewasa yang dia yakin. Keduanya sebenarnya tahu, tapi pura-pura tidak tahu. Buntutnya, Jaz merajuk dengan tidak mau makan siang. Padahal, sebelumnya dia sangat bersemangat.


"Ayo makan ya ganteng..",


"Nggak mau..",


"Jaz ngambek.., kenapa?",


"Jaz mau ketemu sama Tante itu..",


"Tante yang mana?",


"Yang ada difoto tadi..",


"Jaz ayo makan.., nanti sus dimarahin sama Moma kalo Jaz nggak mau makan..",


"Nggak!! Mau..!!!",


Gagal membujuk Jaz, dan baby sitter itu pun hanya bisa pasrah.


"Permisi lagi ya.., kak Nathan mau ambil flashdisknya Moma Sharen...",


"Jaz nggak mau makan mas..", adu sus Sri kepada Nathan.


"Jaz.., kenapa?", tanyanya pada balita yang sedang menungging, kepalanya di tenggelamkan pada bantal.

__ADS_1


"Nggak mau..!!!",


"Jaz mau apa? biar kak Nathan beliin...",


"Nggak mau..!!!",


"Jaz pengen ketemu sama....",ucap sus Sri tertahan.


"Oh....", jawab Nathan mengerti meskipun sus Sri belum menyebutkan nama.


"Jaz pengen ketemu Tante yang digandeng sama Dad Rendra ? kalo gitu makan dulu..",


"Nggak mau.., kak Nathan pasti bohong..",


"Nggak dong, kakak janji..",


"Beneran?", Jaz memperbaiki posisinya dari menungging lalu duduk.


"Bener.., janji..", ucapnya dengan menaikkan jari kelingkingnya.


"Kapan..?",


"Kak Nathan cari waktu dulu.., tapi ada syaratnya..",


"Apa?",


"Jaz nggak usah cerita sama Moma ya, kalo kak Nathan janji sama Jaz..?",


"Oke..",


"Kalo Jaz bilang sama Moma, pasti Moma nanti marah sama kak Nathan..",


"Kenapa Moma marah?",


"Moma takut ada perempuan lain yang lebih cantik dari Moma.., Tante itu cantik kan?",


"Iya.., cantik..",


"Nah.., tau kan? jadi.., Javas nggak usah bilang sama Moma.., oke..?",


"Oke..",


"Deal.., kalo gitu.., Jaz makan. Kak Nathan lanjut kerja lagi..",


Bukan hanya bualan, tapi Nathan memang bersungguh - sungguh akan mempertemukan Jaz dengan Aira. Tentunya, tanpa sepengetahuan Sharen, Javas, Rendra bahkan yang lainnya. Jaz berhak tau siapa mommy nya yang sebenarnya. Walaupun apa yang dilakukan Nathan nanti sangat beresiko terhadap pekerjaannya, namun dia sudah siap. Niat tulusnya hanya bertujuan untuk menjawab rasa penasaran Jaz. Anak itu perlu tahu kebenaran.


"Sus, bisa bicara sebntar?", ucapnya.


"Jaz, makan sendiri dulu ya..",


Mereka berdua agak menjauh dari posisi Jaz yang sedang menikmati nugget kesukaannya.


"Sus, minta nomor hapenya ya..",


"Buat apa mas?",


"Aku mau cari waktu yang tepat buat nemuin Jaz sama Tante Aira. Aku minta bantuan sus..",


"Tapi, mas..",


"Ini memang beresiko sama pekerjaan kita.., aku juga nggak mau maksa. Sebenarnya, bukan aku.., tapi Jaz yang perlu bantuan.., sampai kapan Jaz menganggap Sharen itu mamanya? sus tega?",


Nampak berpikir, dan akhirnya sus Sri setuju untuk membantu Jaz. Dia memberikan nomor ponselnya pada Nathan.


"Aku cari waktu yang tepat dulu sus.., nanti kalo semuanya udah siap, kapan waktunya.., aku hubungi sus..",

__ADS_1


"Iya mas..",


"Makasih kerja samanya. Aku balik ke ruang meeting.., jaga Jaz ya..", pamit Nathan.


__ADS_2