
Nathan yang penasaran, akhirnya mencari tahu obat yang diminum oleh istrinya. Nathan sebenarnya sedih, istrinya yang terlihat sehat justru harus ketergantungan oleh obat. Tanpa membrowsingnya Nathan tahu jika satu obat yang diminum oleh Sharen adalah obat penenang. Itu artinya, Sharen memang saat ini sedang sakit mental, dan itu karena ulahnya. Setalah mencari tahu, obat yang satu lagi, adalah obat untuk meredakan sakit kepala. Dan yang terakhir, membuat Nathan membulatkan matanya.
.........adalah suplemen multivitamin dan mineral untuk ibu hamil. Suplemen ini mengandung berbagai nutrisi yang bermanfaat dalam mendukung perkembangan janin di dalam perut.
Nathan langsung melihat ke arah istrinya yang sedang tidur. Nathan jelas bingung sekaligus kaget. Kenapa Sharen meminum vitamin untuk ibu hamil?
"Kamu hamil Sha...?", ucapnya lirih. Nathan terkejut tentu saja.
Pantas saja, saat di dalam taksi tadi Sharen menutup perutnya dengan sweater yang dipakainya. Tapi, tidak pernah terbesit dalam pikirannya, Sharen melakukannya untuk menutupi perutnya yang membuncit.
"Kenapa lagi-lagi kamu nutupin dari Mas Sha..? kenapa Sha....?", tanyanya lagi.
Nathan akan menanyakan nanti pada Sharen nanti setelah istrinya bangun. Untuk membunuh waktunya, Nathan mandi untuk menyegarkan badannya.
Lima belas menit kemudian, Nathan keluar dari kamar mandi masih mengenakan baju yang sama, hanya saja penampilannya nampak segar.
Sharen masih tidur, dan Nathan tidak ingin menganggu.
"Tam.., Sharen hamil? kenapa nggak ada yang bilang sama gue..?",
Nathan memutuskan untuk bertanya pada sahabatnya.
"Gue nggak tau Nath, tanya aja sama Sharen. Tapi, awas.., jangan sampe dia nangis lagi...",
Jawaban Tama ambigu, dan ini membuat Nathan semakin yakin, jika dugaannya benar. Untuk membuang rasa penasarannya, satu-satunya jalan adalah dengan bertanya pada Sharen.
Nathan terus-terusanmemandangi istrinya yang tidur dengan nyenyak. Pandangan Nathan terpusat pada perut Sharen. Memang belum terlihat besar, tapi ukurannya terlihat lebih besar dari sebelumnya.
Waktu yang Nathan tunggu akhirnya tiba. Sharen akhirnya bangun dari tidurnya.
"Udah bangun..?",
Sharen mengangguk, dia duduk dipinggir ranjang, dengan kakinya yang berada di bawah. Kedua tangannya berpegangan pada ranjang untuk menopang tubuhnya.
Nathan menghampiri istrinya, dengan posisi Nathan yang bersimpuh, menggunakan kedua lututnya sebagai tumpuan.
"Sha....", ucap Nathan dengan lembut. Nathan meletakkan tangannya pada kedua pinggang istrinya. Ia menatap Sharen intens,
Sharen membalas tatapan Nathan, namun mulutnya tidak mengucapkan satu kata pun.
"Mas mau tanya, boleh..?",
Sharen mengangguk.
"Kamu hamil....?",tanyanya tanpa basa-basi.
Kali ini, Sharen yang terlihat terkejut. Sharen berhenti menatap wajah suaminya. Sharen tertunduk.
"Nggak usah kaget mas tau dari mana..
Kamu jawab jujur aja, kamu hamil kan..?",
Sharen menggeleng.
__ADS_1
"Sha..., jujur....",
Sharen menggeleng kembali.
"Mas tau kamu hamil Sha...
berapa usianya..?", tanya Nathan lagi.
Cukup lama Nathan menunggu jawaban dari istrinya dan akhirnya Sharen menjawabnya.
"Kenapa kamu tanya gitu..? mau hitung usia janin dalam perut aku sama terakhir kali kita berhubungan kan..? Kamu jahat Nath....", Sharen memukul kedua pundak Nathan.
"Iya aku hamil..., ini bukan anak kamu Nath...!!!!!!, kamu pergi lagi aja..nggak usah kembali Nath....", ucapnya histeris. Sharen tidak menangis, dia justru terlihat sangat marah.
"Iya..aku tau bayi itu bukan anakku Sha.., mas tau itu..",
"Pergi kamu Nath.., pergi..., nggak usah nunjukin muka kamu di depan aku....",
Nathan berdiri, bukannya pergi. Tapi, Nathan menatap istrinya, lalu memegang kedua pundak Sharen. Nathan menuntun Sharen untuk berbaring di atas tempat tidur, Sharen meronta namun Nathan justru menindih tubuh istrinya dengan ikut berbaring namun tidak sejajar.
"Kamu mau apa..?Nath..jangan kurang ajar..",
"Mas suami kamu Sha....",
Nathan menyibak piyama yang Sharen kenakan. Wajah Nathan tepat berada di atas perut putih Sharen.
"Sayang.., kamu udah ada di perut Mama..? Ini Papa sayang.., bilang ke Mama, kenapa harus sembunyiin kamu dari Papa..???", ucap Nathan. Dia mencium dan mengecup perut Sharen berkali-kali.
"Ini memang bukan anak mas Sha.., ini juga bukan anak kamu.., ini anak kita sayang......", ucap Nathan yang lalu membuat Sharen menangis.
Mendengar istrinya menangis, Nathan beringsut mundur. Dia merubah posisinya sejajar dengan Sharen. Tangannya dia gunakan untuk menuntun Sharen untuk berhadapan dengannya.
"Jadi, kamu nyembunyiin kehamilan kamu karena kamu takut mas nggak ngakuin anak yang kamu kandung sebagai anak mas? karena mas nggak bisa buat kamu hamil? gitu Sha..? bisa aja hasil tes itu salah, atau memang tuhan udah mengabulkan doa kita, nggak ada yang nggak mungkin kan..? ",
Sharen menutup wajahnya dengan tangannya. Sharen masih menangis.
"Mas memang pengecut sayang.., tapi mas nggak sekejam itu. Mas akui, mas salah. Tapi itu karena mas shock aja...
Mas percaya kalo itu darah daging mas Sha..,
mas tau itu...",
"Kamu jahattt Nath...
kamu boleh nyakitin aku.., tapi nggak sama anak ini.., dia nggak bersalah..",
"Mas nggak akan jahat sama kalian. Kamu istri mas.., janin yang kamu kandung itu darah dagingnya mas Sha.., anak kita..,
mulai sekarang, kamu nggak boleh pergi tanpa mas lagi.., mas nggak akan ninggalin kamu sayang..., sama-sama besarin anak anak kita..", Nathan mendekap erat Sharen dalam pelukannya.
"Mas sayang banget sama kamu, mas sayang kalian...",
"Kamu jahat Nath..kamu jahat..",
__ADS_1
"Sssst..., maafin mas sayang..., maaf...", ucapnya dengan mencium kepala istrinya.
Javas dan Kinara masuk kembali ke dalam kamar setelah mereka pergi untuk sarapan.
"Kak Sha..mana?", tanya Daddy.
"Pengen balik hotel Dad..",
"Sama Nathan..? kamu biarin Nathan sama kak Sharen? kalo kakak kamu histeris lagi gimana?",
"Mbak Sharen keliatan tenang kok mom.., jangan khawatir...',
"Kalo Nathan nyakitin kakak kalian lagi gimana? kalo Nathan tiba-tiba ngilang lagi gimana? kalo mereka berantem, kakak kamu sakit lagi, gimana coba..?",
"Mom.., nggak usah khawatir gitu..
Mbak Sharen kan perginya sama suaminya, bukan sama orang lain..",
"Iya Na.., tapi Mommy khawatir.., takut Sharen kenapa-napa.., apalagi dia lagi hamil..",
"Vas.., susul Kakak kamu..
bawa dia kesini..",
"Dad.., Mom...
Mbak Sharen lagi hamil muda, dia pasti butuh suaminya. Mommy tau kan? gimana rasanya hamil tapi nggak ada suami yang nemenin? mommy pernah ngerasain itu kan?
Daddy juga tau kan? gimana rasanya tau kalo istri lagi hamil, tapi Daddy nggak bisa nemenin? Iya kan Dad..?
Mas Javas...., perlu diingetin lagi..?", ucap Kinara .
"Iya sayang..iya udah..mas udah kesiksa waktu kamu hamil Zee. Udah ya sayang nggak usah dibahas..,
Dad..mom..udah ya. Kinara bener.., kak Sha juga lagi sama suaminya, kita bisa apa..?",
Mommy dan Daddy terdiam.
"Jangan buat mbak Sharen tertekan Dad..Mom..
biar dia buat keputusan..., kalo memang mau baikan sama Mas Nathan, ya kita dukung. Toh, kesalahannya mas Nathan bukan karena orang ketiga kayak mas Javas dulu...",
"Yah.., kena lagi deh aku..", ucap Javas sangat lirih..,sangattttt...lirih hingga tidak mampu terdengar oleh istrinya.
"Mommy cuma takut kalo Sharen stress Na.., itu aja..",
"Tenang Mom.., nanti Kina bantu ngobrol sama mbak Sharen ya..",
"Iya Na..
kita konsen dulu sama Jaz sama Zee ya..",
"Iya Mom...",
__ADS_1