Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )

Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )
Kekecewaan Daddy


__ADS_3

"Mom..Dad...",


Sharen menghampiri kedua orang tua serta adiknya.


"Sha.., katanya mau agak sorean kesininya..?",


"Sha ngidam Mom...", ucapnya.


Dan akhirnya Mommy , Daddy dan Javas jadi tahu jika Sharen sudah tidak lagi menyembunyikan kehamilannya dari Nathan.


"Ngidam apa..?",


"Pengen makan es krim..",


"Udah keturutan..?",


"Udah.., dibeliin sama Nathan.., disuapin juga malahan..",


Mommy memberikan kode matanya pada Daddy dan Javas. Benar kan? Sharen akhirnya sudah berdamai dengan suaminya.


"Oke berarti kamu bisa kan, nemenin Daddy disini dulu. Mommy, Javas sama Kina mau balik ke hotel dulu..",


"Bisa Mom...",


Mereka semuanya masuk.


Bagaimana ekspresi Mommy dan Daddy ketika melihat menantunya..?Hmmmm, terlihat biasa saja. Sudah memaafkan atau mungkin justru sudah tidak menganggapnya ada..?


"Kak Sha...", sapa Jaz.


"Gimana keadaannya Jaz...?",


"Mau pulang aja Kak..",


"Sabar ya.., sebentar lagi juga sembuh..",


Jaz melirik kakak iparnya. Jaz ini memang masih kecil, tapi dia selalu peka dengan keadaan keluarganya. Termasuk dengan permasalahan rumah tangga Sharen dan Nathan.


"Jaz udah baikan..?", tanya Nathan.


"Udah..", ucapnya cuek. Tapi, Jaz ini juga yang paling dekat dengan Nathan, jadi meskipun mengecewakan, tapi Jaz tetap sayang dengan kakak iparnya.


Di seberang sana, Zee nampak sangat nyenyak dengan tidurnya. Bayi yang akan berusia satu tahun itu, tidak menghiraukan suara Ody, Omy,aunty dan unclenya.


"Mas.., Kina disini aja deh, kasian Zee baru tidur..",


"Kamu butuh istirahat Na.., inget anak kita yang masih di dalam perut juga..",


"Nanti kalo Zee nangis, gimana..?",


"Kan ada susternya, ada Jaz juga...., ada Dad...",

__ADS_1


Dengan berat hati akhirnya Kinara meninggalkan Zee dengan menitipkannya pada Sharen


"Mbak.., titip Zee ya mbak..


kalo dia nangis, tolong mbak Video call aja..",


"Iya Na..,


tenang aja...",


"Makasih ya mbak..",


Di dalam kamar rawat hanya tersisa Daddy, Nathan, Sharen, Jaz dan juga Zee. Suasana yerlihat sunyi, bahkan tidak ada percakapan antara Daddy dan Nathan.


Tapi, akhirnya Daddy membuka percakapannya.


"Daddy mau ngomong sama kamu Nath...",


Sharen kaget sekaligus panik. Apalagi, Daddy berucap dengan sangat datar dan itu artinya ada sesuatu.


"Mau apa Dad..?",


"Daddy kan mau ngajak ngobrol Nathan, bukan kamu Sha..",


"Ya mau ngobrolin apa?disini kan bisa Dad..",


"Mau Jaz denger percakapan Daddy sama suami kamu? biar Jaz bisa jadi laki-laki yang bertanggung jawab?", sarkas Daddy.


"Sayang.., mas sama Daddy keluar dulu ya..",


"Iya..


Daddy enggan menjawab, beliau langsung keluar dari kamar inap Jazz dan Zee.


Daddy mengajak Nathan ke coffe shop di dekat Rumah sakit. Nathan sudah tau resiko akan perbuatannya, dan mungkin ini saatnya dia menerimanya.


"Udah baikan sama Sharen..?",


"Iya Dad, meskipun Sharen juga belum sepenuhnya maafin Nathan..",


"Kamu sadar kamu salah..?",


"Sadar Dad, Nathan tau itu...",


"Kamu tau..?


sebelum nikah sama kamu, banyak anak dari temen Daddy yang mau kenalan sama Sharen. Mereka naksir sama Sharen.


Temen Daddy juga banyak yang mau jodohin anaknya sama Sharen.


Mereka bahkan lebih kaya dibandingkan kamu..",

__ADS_1


Daddy baru pertama kali mengeluarkan kata-kata seperti ini kepada Nathan.


"Kenapa Daddy akhirnya setuju dan terus-terusan mendukung kamu yang hanya anak bawahan Daddy?",


Sebuah kata terakhir yang menyakitkan untuk Nathan. Tapi, Nathan menerimanya. Memang jika dibandingkan dengan Sharen, Nathan berada jauh di bawahnya. Nathan kaya, tapi Sharen kaya raya, dia anak konglomerat.


Nathan hanya bisa menatap ayah mertuanya tanpa bisa berkata.


"Kamu tau kenapa Nath..?",


Nathan menggeleng.


"Cara kamu memperlakukan Sharen melindungi dia...Daddy percaya, kamu bisa jaga Sharen. Ada sesuatu dalam diri kamu yang sangat mirip dengan Daddy, waktu muda dulu...",


"Apa Dad..?",


"Kamu nggak akan nyerah sebelum mendapatkan gadis yang kamu mau. Meskipun, kamu menggunakan cara yang lebih halus dibandingkan dengan Daddy saat berusaha mendapatkan Mommy..",


Nathan tersenyum tipis. Ini bukan pujian, tapi ini baru pembuka.


"Tapi, Daddy sepertinya salah nilai kamu Nath..


kamu justru dengan mudah melepaskan apa yang selama ini mati-matian kamu perjuangkan..",


"Nathan cuma perlu waktu sendiri untuk berpikir Dad..",


"Dengan pergi tanpa ngasih tau istri kamu..?",


"Iya.., Nathan salah Dad..


tapi Nathan nggak ada maksud sedikitpun untuk melepas Sharen. Nathan hanya perlu waktu sendiri..",


"Kamu tau kan? karena perbuatan mu itu, Sharen sampe depresi..?",


"Tau Dad, sampe sekarang pun, trauma itu masih ada..",


"Meskipun Sharen sudah jadi istri dan tanggung jawab kamu, tapi dia tetap anak Daddy...",


"Nathan minta kesempatan sekali lagi Dad..",


"Hanya Sharen yang bisa kasih kesempatan.., Daddy cuma belum bisa kembali percaya sepenuhnya sama kamu..,


Daddy juga perlu waktu. Daddy sangat kecewa sama kamu, karena Dad terlalu percaya kamu bisa jaga anak Daddy, tapi nyatanya nggak...",


"Nathan salah Dad, Nathan khilaf...",


"Tapi satu kesalahan sangat fatal. Daddy bisa aja bawa Sharen pergi jauh, bahkan tanpa menghilangkan satu jejak pun. Daddy tau, Sharen sakit kalo sama kamu.., tapi dia lebih sakit dan menderita tanpa kamu. Apalagi, sekarang ada anak di perut Sharen yang membutuhkan kamu sebagai ayahnya..",


Nathan hanya bisa menyesali perbuatannya. Memang kata maaf tidak mampu menebusnya.


"Nathan minta maaf Dad...",

__ADS_1


"Jangan salahkan kalo Daddy lebih protective lagi sama Sharen.., karena Daddy nggak mau kecolongan lagi...",


Daddy meninggalkan Nathan. Entah apa maksud kata-kata Daddy. Namun, Nathan tetap bersyukur setidaknya tidak ada ucapan Daddy yang menyuruhnya untuk pisah dengan putrinya. Daddy kecewa, dan Nathan memang penyebabnya.


__ADS_2