
Javas akhirnya pulang setelah genap 7 hari dirawat di rumah sakit. Tidak ada penyakit yang serius, dia hanya demam biasa. Namun, Rendra dan Aira memang sepakat membiarkan putranya berada dalam pengawasan tenaga kesehatan.
"Mau istirahat dulu ya mom..",
"Makan malamnya mau dibawa ke kamar aja?",
"Nggak perlu, nanti Javas turun aja..",
"Iya sayang.., mau minta menu apa? Sandwich?", tanyanya iseng. Siapa tahu Javas menginginkannya lagi.
"Nggak mom..,
apa aja terserah mom..",
"Kak.., mau ikut.., Jaz temenin ya..",
"Tuyul.., pasti mau gangguin..",
"Nggak kak..",
"Iya..iya..ayo.., tapi nggak boleh berisik ya, nggak boleh berantakin kamarnya kak Javas..",
"Oke kak..",
Javas naik ke atas, ke kamarnya. Ditemani oleh adik tercintanya. Javas terhibur dengan kehadiran Jaz yang suka ngebanyol, walaupun sering kali adiknya itu malah membully-nya.
Ini adalah kali kedua Jaz masuk ke dalam kamar Javas. Jaz takjub dengan isi kamar Javas yang memajang berbagai miniatur motor hingga mobil. Jaz menyentuhnya dengan sangat hati-hati, takut rusak atau jatuh. Tapi, yang membuatnya salah fokus adalah foto Mine yang terpajang disana. Ada pula foto Mine dan Javas yang terlihat sangat mesra. Lagi-lagi Jaz usil.
"Kok masih ada fotonya kak Mimin disini? kata sus..Kak Javas sama Kak Mimin udah putus? putus itu gimana kak? kayak layangan kalo putus gitu? langsung hilang?",
"Mulai nih si tuyul..", gumam Javas.
"Kak Mimin cantik banget ya kak..,nggak pantes buat kak Javas yang wajahnya biasa aja..",
"Terus harusnya Mine sama siapa?",
"Sama Jaz lah..",
"Heh.., kamu tuh masih orok.., ngawur aja ya..",
"Jaz udah gede kak..",
"Dulu kamu tuh nggak banyak ngomong, sekarang kok cerewet gini, siapa yang ngajarin?",
"Hmmm, Jaz banyak ngomong karena kak Javas nggak marah-marah lagi. Jaz seneng banget mommy udah bisa bicara lagi, sering masakkin Jaz, nemenin Jaz.., jadi Jaz ya kayak gini..",
"Pinter banget ngomong..",
"Iya dong.., adek siapa dulu..",
"Adek kak Javas ya..",
"Bukan, adek kak Sharen..",
Tok..tok..tok..
Pintu kamar Javas diketuk oleh seseorang.
"Ya masuk.., nggak dikunci..", ucap Javas.
Dengan ragu-ragu, Dokter Kinara masuk ke dalam kamar Javas dengan membawa nampan kecil yang berisi obat untuk Javas.
"Maaf mas.., ini obat punya mas Javas..",
__ADS_1
"Taruh aja disitu..", tunjuknya pada Nakas.
"Ada obat yang diminum sebelum makan mas..,
Saya permisi dulu..", pamit Kinara yang memang cepat-cepat ingin keluar dari kamar Javas.
"Kalo saya salah minum, dokter ya yang tanggung jawab..", ucap Javas dengan nada ketus.
"Kok saya mas?"
"Kalo ngasih tau tuh jangan setengah-setengah. Mana obat yang diminum sebelum makan? mana yang setelah makan? kan saya nggak tau..",
"Mas.., tapi disitu udah ada tulisannya..",
"Mana saya ngerti.., tulisan dokter kan kayak sandi Morse.., mana saya paham..",
Padahal tulisanku bukan kayak dokter pada umumnya. Masih bisa dibaca kok.. Ini orang galak banget..
"Iya mas.., saya jelasin..",
Kinara menjelaskan satu persatu obat yang harus diminum oleh Javas. Total ada lima obat yang harus dia minum.
"Udah jelas kan mas?",
"Kamu kira saya orang bodoh?", jawab Javas lagi.
Andai aja kamu itu squishy.., udah aku bejek-bejek.., aku unyel-unyel. Ya Gusti, kenapa ada orang kayak dia.
"Saya permisi dulu..",
"Terima kasih..",
Sebuah kata yang sangat jarang dia dengar dari mulut Javas. Meskipun ketus, ternyata Javas masih mau mengucapkan terima kasih untuknya.
"Jaz..mas Javas.., dipanggil ibu untuk makan malam..",
"Jaz duluan aja, ini kakak ada telepon..",
Jaz akhirnya turun hanya berdua dengan Sus Sri.
Sepuluh menit ditunggu kehadirannya di ruang makan, akhirnya Javas muncul. Javas sudah terlihat lebih tenang, kesedihannya masih ada tapi wajahnya sudah segar dari sebelum dia sakit.
"Mom.., Dad..Visa Javas udah jadi..", ucapnya.
Aira melihat wajah suaminya ketika putranya memberitahu kepada mereka. Tidak seperti yang Aira kira. Ternyata jawaban Rendra membuatnya cukup lega.
"Mau ke Aussie? oke.., Dad izinkan... Selesaikan apa yang belum tuntas, cari tahu apa yang ingin kamu ketahui..",
"Makasih Dad..,
Javas pikir-pikir dulu Dad..",
Aira tidak memberikan pendapatnya. Bagaimanapun semua keputusan ada di putranya tentu saja harus mendapatkan persetujuan dari Daddynya. Aira masih mempercayai jika dari awal suaminya memang mengetahui segalanya. Hanya saja, tidak ingin diungkapkan. Pasti banyak pertimbangan, entah apa itu. Mungkin ini memang cara Rendra untuk melindungi putranya.
"Mas.., jadi ke rumah Ayah?",
"Jadi sayang.., besok lusa ya..",
"Mau berapa lama disana? 2 Minggu cukup?",
"Wah..lama banget mas.., tumben..",
"Jaz kan udah libur sekolahnya. Sekali-kali liburan ke desa, nggak di kota terus..",
__ADS_1
"Jadi maksud mas, Aira anak desa gitu? jahat banget..",
"Dad.., mommy lucu ya kalo lagi ngambek..", bisik Jaz kepada Daddynya tapi masih bisa didengar oleh yang lain.
"Iya.., tapi tambah cantik ya Jaz kalo kayak gitu..",
"Iya cantik, kayak princess dikartun itu ya Dad..",
"Siapa Frozen ya? ",
"Ihhh..mas.., jangan godain di depan anak-anak.., malu..",
Diantara kedua putranya, memang yang terlihat sangat mewarisi sifat Rendra adalah Jaz. Pandai merayu.
"Javas ikut ke rumah kakek ya mom..",
"Ikut..? nggak jadi ke Aussie?",
"Javas pengen nengokin kakek dulu..",
"Oke sayang.., kakek pasti seneng banget..
Oh ya.., dokter Kinara juga mau izin pulang dulu ya? bareng aja ya sama kita..",
"Maaf Bu, sebelumnya terima kasih. Tapi saya naik travel saja..",
"Loh kenapa? bareng sama kita aja.., lebih aman.., kan kita searah..,ya pokoknya bareng aja..",
"Emangnya kamu sama dokter Kinara, satu desa ya sayang..",
"Iya.., Aira sama dokter Kinara emang satu desa. Anak desa kita..", ucap Aira ketus.
"Mas kan cuma nanya..",
"Daritadi bilangnya desa-desa terus ngeledek ya..",
"Mas kan cuma tanya..",
"Nggak pak, kami beda desa. Tetangga kota saja..",sahut Dokter Kinara.
"Tuh.., udah dijelasin..",
Javas memaksa kedua orang tuanya untuk mengizinkan dirinya mengendarai mobil sendiri. Padahal, Aira sudah melarangnya. Tapi Javas masih bersikeras.
"Javas nyetir sendiri aja..",
"Kamu kan baru aja sembuh, jauh loh Vas.., udah kamu semobil sama Dad Mom aja..",
"Please mom.., pengen nyetir sendiri..",
"Dad sama mom cuma pake 2 mobil. Satu pake Alphardnya Jaz, itupun Daddy yang nyetir. Yang satunya mobil buat anter dokter Kinara..",
"Please dad..",
"Ya udah, drivernya biar nyetirin Alphard. Kalo kamu mau nyetir sendiri berarti kamu yang nganterin dokter Kinara, mau?", tanya Daddynya yang sudah pasti Javas akan menolaknya.
"Ya udah, nggak apa-apa deh. Javas pake mobil Javas aja.."
"Pake mobil Porsche? medannya nggak mendukung son..",
"Nggak.., pake Ma*zda aja..",
Dokter Kinara sudah pucat pasi saat mendengar dirinya akan diantar oleh Javas. Kalo tahu seperti ini, tentunya dia akan menolak mati-matian ajakkan Aira. Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Mau tidak mau, ya harus mau. Untuk tiga jam kedepan, dokter Kinara akan uji nyali. Duduk disamping Javas yang selalu galak padanya.
__ADS_1
"Tenang mbak, nggak apa-apa. Mas Javas kayaknya udah jinak..",ucap Sus Sri menenangkan Kinara.
Ingetin kalo typo yak, nanti Author perbaiki. Karena ini nulisnya sebelum berangkat kerja, jadi buru-buru. Hehehe