
"Pamit dulu sama mommy..",ucap Rendra yang menggendong Jaz, lalu mendekatkan putranya pada sang istri.
"Jaz sekolah dulu mom..",
"Iya sayang.., sekolah yang pinter..",
"Oke mom..,
ini pertama kalinya Dad nganterin Jaz ke sekolah..",
"Loh.., iya?",
"Huum.., biasanya dianter sama Moma Sharen, atau kalo nggak dianter mbak sus sama sopir. Kak Javas juga nggak pernah nganter Jaz ke sekolah..",lihatnya pada Javas yang sedang duduk di sisi kanan mommynya.
"Kalo mommy udah sembuh, mommy antar Jaz ke sekolah, mommy tungguin juga ya? mau?",
"Asyik.., janji ya mommy..?", ucapnya dengan menyodorkan jari kelingkingnya.
"Iya sayang janji..", Aira menautkan jari kelingkingnya.
"Mas pergi dulu sayang..", pamit Rendra pada sang istri. Rendra menyematkan ciuman pada kening Aira sebagai tanda perpisahan sementara.
"Hati-hati..",
"Jagain mommy Vas..", ucap Rendra.
"Iya..", Javas menjawab, namun penglihatannya masih fokus pada ponselnya.
Satu persatu kejangalan, Aira rasakan. Termasuk, tidak adanya interaksi yang berarti antara Rendra dan putra keduanya.
"Vas.., mommy boleh tanya?",
"Iya mom..", Javas segera melepas pandangannya pada layar ponsel, lalu beralih memusatkan matanya pada mommy Aira.
"Kamu marahan sama Dad?",
"Hah? apa mom?",
"Kalian marahan?",
"Nggak.., biasa aja..
Mommy butuh sesuatu?", jawabnya mengalihkan pembicaraan.
"Iya..",
"Mommy butuh apa?",
"Ada hubungan apa Dad sama Tante Erna?", tanyanya pada Javas.
"Mom..., mommy udah tau?",
"Jadi bener? Dad sama Erna ada hubungan? sejauh apa?",
"Calm down mom.., oke.., tenang..",
Aira merasa perlu menggali informasi kepada Javas. Putranya tidak mungkin berbohong.
"Cerita sama mommy..",
"Tiap kali Javas pulang, pasti liat perempuan yang katanya sahabat mommy itu ada di rumah. Mereka ngobrol bareng, Dad dibawain makanan, Jaz dibawain mainan.. .",
"Tiap hari dia ketemu sama Dad?",
"Nggak tau..",
"Nggak tau? kamu liat nggak?",
"Selama mommy sakit, Javas tinggal di Apartement..",
"Karena kamu marah sama Dad?",
"Javas nggak suka ada perempuan lain yang lancang deketin Dad selagi mommy sakit..., dan Dad nggak berusaha untuk menolak.."
"Menurut kamu, Dad masih cinta nggak sama mommy..? ",
__ADS_1
"Javas nggak tau.., mungkin masih.
Jangan khawatir mom, kalo Dad memang udah nggak cinta sama mommy. Kita bisa pergi, tinggal berdua. Javas udah bisa menghidupi mommy, semua jerih payah Javas bukan berasal dari Prime. Mungkin nggak semewah kehidupan mommy sama Dad, tapi Javas akan kerja keras lagi..",
"Dad masih cinta sama mommy..",
"Darimana mommy tau?",
"Dari matanya..,Dad masih seperti yang dulu..,
mom hanya perlu mendengar penjelasan dari Dad..",
"Kalo ternyata cinta Dad udah kebagi?",
"Mommy rebut lagi..",
"Cinta mommy sebesar itu?"
"Bukan karena mommy kecintaan sama Dad, tapi Mommy mau mempertahankan pernikahan kami.., demi kalian mommy rela bertahan Vas.., khususnya buat Jaz. Anak bungsu mommy, masih kecil. Kasian, dari bayi dia udah terbebani. Nggak dapet ASI, kasih sayang dari mommy, kamu jauhin, Daddy cuekin. Mommy nggak mau buat Jaz menderita lagi Vas. Semua kesedihan dia, cukup sampe disini..",
"Iya mom, Javas minta maaf karena selama ini nggak ikut jagain Jaz. Javas selalu inget sama mommy, tiap kali liat wajah Jaz.., dia yang punya wajah mirip banget sama mommy..",
"Dia kan anak mommy..",
"Tapi, Javas juga anak mommy kan? kenapa wajahnya nggak mirip.."
"Mirip.., tapi wajah kamu perpaduan mommy sama Dad. Waktu kamu lahir, wajah kamu juga mirip banget sama mommy, tapi lama-lama keliatan miripnya sama Dad.."
"Gitu ya.., tapi Javas lebih ganteng dari Dad.."
"Kamu pikir? mommy mau sama Dad, karena apa? ya karena Dad itu ganteng.."
"Iya-iya.., yang udah bucin..",
"Jadi, kamu marah sama Dad, karena Erna?",
"Kalo Javas jadi suami, Javas punya istri nanti. Javas akan menjunjung tinggi janji pernikahan. Karena itu janji bukan hanya manusia untuk manusia. Tapi, itu janji manusia kepada Yang Maha Kuasa. Javas nggak akan biarin orang lain merusak ikatan suci pernikahan.."
"Javas udah siap nikah? udah minta restu sama om Aldo?",
"Ngomongnya serius bener..",
"Javas kan emang nggak pernah main-main mom..",
"Iya sayang..",
Satu jam meninggalkan Aira bersama putranya, Rendra kembali. Tidak dengan tangan kosong, melainkan membawa satu buah tas yang entah apa isinya.
"Javas pamit dulu mom.., ada urusan..",
"Nanti kesini lagi?",
"Iya.., mommy mau apa?",
"Tolong jemput Jaz ya? bisa kan?",
"Kan ada Dad..",
"Dad ada urusan sama mommy..,
Bisa jemput adik kamu kan?",
"Iya.., nanti Javas antar kesini, atau kerumah?",
"Kamu tanya aja sama Jaz, dia maunya gimana?",
"Iya mom..
Javas pergi dulu..", Javas mencium tangan mommynya.
"Javas pergi dulu Dad..
Jaga mommy baik-baik..",
"Pasti..
__ADS_1
Hati-hati Son..",jawabnya.
Aira memperhatikan suaminya yang mengeluarkan sesuatu yang dibawanya. Satu buah iPad yang lalu diberikan untuknya.
"Ini apa mas..?",
"Yang kamu minta..",
"Apa..?",
"Di dalamnya ada semua bukti, yang menunjukkan kalo selama ini mas memang nggak ada hubungan apa-apa sama Erna..ada juga di dalam sini..",tunjuknya pada Flashdisk yang dia bawa.
"Bukti apa?",
"Kegiatan mas sehari-hari selama beberapa tahun ini. Nggak ada satu pun hari yang terlewatkan..., mas simpan semuanya disitu..kalo mas nggak ada di rumah, berarti mas lagi di rumah sakit, jenguk kamu. Video mas di rumah sakit juga ada. Kamu bisa sinkron-in waktunya sama rekaman CCTV rumah..",
Sebuah rekaman CCTV yang Rendra simpan dan dia rangkai sebagai aktivitas hariannya. Semua sudut rumah memang sengaja Rendra pasang CCTV, termasuk kamar Rendra dan Aira.
Selama ini Rendra memang menyimpannya untuk dia tunjukkan kepada Aira suatu hari nanti. Bukan sebagai bukti untuk membantah dugaan Aira yang menyebutnya mempunyai hubungan dengan Erna. Tapi, sebagai dokumentasi betapa kosongnya hari Rendra, tanpa Aira disisinya.
Aira tidak mungkin membuka video itu satu persatu. Karena akan membutuhkan waktu bertahun-tahun. Rendra tidak merangkumnya. Dalam satu video benar-benar menunjukkan kegiatannya dalam dua puluh empat jam, sehari.
"Tanpa rekayasa sayang, kalo ragu. Kamu bisa tanya sama pakar telematika..",
Aira diam. Dia terus memperhatikan video yang ditontonnya. Yang tidak sengaja, dia membuka video yang di hari itu menunjukkan Erna sedang berkunjung ke rumahnya bertemu dengan Rendra.
Dapat Aira lihat gerak-gerik Erna yang juga terlihat sangat aktif berbicara. Sedangkan Rendra hanya meresponnya biasa saja.
Aira memilih membuka video itu dengan random.
"Tgl 17 Mei, mas dimana? ini kok nggak keliatan di rumah..",
"Mas nganterin mamah ke Spore.., kontrol...",
"Buktinya apa?",
"Kamu buka tgl 16 Mei, disitu ada Mamah sama Revan yang jemput Mas ke rumah. Kalo itu masih belum cukup, mas ada foto-foto waktu di Spore..",
Aira diam setelahnya. Nampak melakukan apa yang Rendra katakan.
"Mas selalu ada di rumah, nggak ke kantor?",
"Selama kamu nggak ada, kerjaan mas cuma di rumah, sama jenguk kamu ke rumah sakit. Prime udah diurus sama Sharen..",
"Kenapa?",
"Mas udah nggak bisa mikir.., hidup kamu itu hidup mas juga. Kamu koma.., berarti mas juga diantara hidup sama mati..",
"Mas....",
"Kenapa kamu masih ragu sama mas Ra?
kita bersama bukan hanya satu atau dua tahun...",
"Aira takut mas berubah..",
"Nggak akan pernah sayang.., mas yang takut kamu ninggalin mas lagi..",
"Hiks..hiks..hiks..,
Maafin Aira karena udah buat mas sama anak-anak kita menderita. Aira udah bikin keadaan kacau..",
"Nggak sayang.., kamu nggak salah..", peluknya pada sang istri.
"Maaf mas..maaf..",
"Jangan pernah tinggalin mas sama anak-anak lagi Ra.., kami butuh kamu..",
"Makasih atas kesetiaan mas selama ini. Maaf, udah membuat mas lama menunggu..", bisiknya pada sang suami.."
"Cause I love you.., sayang..",
"I love you too..,
more than you know..", balasnya.
__ADS_1