Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )

Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )
Nath 2


__ADS_3

Ini flashback lagi ya..,


jadi percakapannya ini rangkuman ya, nggak terjadi dalam satu waktu..,


"Dia lagi apa?kegiatannya apa hari ini?",


"Lagi di ruangannya, hari ini gua minta tanda tangan setumpuk.., ntar ada meeting..",


"Kasian, pasti dia capek..,


nggak bisa kamu aja yang gantiin?",


"Nggak bisa.., harus ada Sharen..


"Jangan lupa ingetin minum vitamin Tam..",


"Iya.., nanti gua ingetin...",


"Ya udah, aku titip dia ya..",


"Siap...",


Begitu hari-hari yang Tama lalui. Selalu melaporkan keadaan Sharen kepada Nathan. Tiap waktu, tiam jam bahkan tiap menit. Semua tentang Sharen memang sudah terekam jelas di otak Nathan. Dan, Tama jadi tahu betapa besar rasa Nathan untuk Sharen, yang tidak pernah sekalipun dia ungkapkan.


"Hadiahnya udah di terima.., dia seneng banget kayaknya..",


"Oke, makasih Tam..",


"Hmmm..sama-sama..,


Tapi kayaknya dia pengen bunga yang bucketnya gede..."


"Dia bilang gitu?"


"Hmmm.., lagian kamu. Biasanya yang gede kenapa mendadak ngasih yang kecil?"


"Iya-iya.., besok deh dibeliin yang gede..."


Tama yang saat itu mendengar curhatan Sharen yang mengeluh karena tidak ada komunikasi lagi dengan Nathan, tanpa membutuhkan waktu lama, dia segera melaporkan.


"Gua heran, lu sebenarnya ada rasa nggak sama Sharen?",


"Kenapa bilang gitu? kamu pikir selama ini aku bohong sama kamu? Kalo aku nggak sayang sama dia, kenapa aku harus capek-capek ngelakuin ini semua buat dia?"


"Terus kenapa lu nggak ada hubungin dia?"


"Aku sibuk disini Tam, lagipula aku juga lega karena udah liat dia baik-baik aja. Video-video yang kamu ambil diem-diem, foto-foto dia yang kamu kirim ke aku, udah cukup ngobatin rasa rinduku buat dia. Semakin hari, kayaknya rasa buat dia semakin dalam. Aku takut nggak bisa ngendaliin perasaanku, tiap telepon atau video call sama Sha..",


"Nath Nath.., udah gua bilang berkali-kali. Lu pulang, ungkapin sama dia. Syukur diterima, kalo ditolak ya udah, lu balik aja ke Aussie, kalo perlu nggak usah pulang lagi..",


"Bentar lagi aku pulang..."


"Lama-lama gua embat juga nih si Sharennya.."


"Kamu minta langsung ke kuburan, atau mampir ke rumah sakit dulu Tam..?"

__ADS_1


"Widih..., sadis bener.


Gua tanya, kalo tiba-tiba ada laki-laki yang deketin dia, lu gimana?",


"Kalo Sha emang suka, ya nggak apa-apa, tapi sebelumnya aku juga bakalan cari tau dulu, siapa laki-laki itu. Sharen boleh dapet laki-laki lain, yang jelas harus lebih dari aku.."


"Berarti pacarnya yang kemarin, lebih dari lu..?",


"Bian sama aku sama-sama tampan, sama-sama kaya, sama-sama pengecut, menjalin komitmen sama perempuan yang salah. Tapi dia nggak lebih baik daripada aku. Buktinya dia brengsek..",


"Terus, kenapa kamu biarin dia pacaran sama Sha..?"


"Aku kenal baik keluarganya..",


"Terserah lu dah Nath.. gua kerja dulu...",


Tama bergegas menelpon Nathan, ketika tahu jika malam nanti Sharen berniat untuk pergi ke tempat hiburan malam.


"Hah? sama siapa?",


"Sama Vano, sama Rai.."


"Dalam rangka?",


"Diajakin sama Vano..",


"Ngapain sih pake kesana segala..",


"Udah gua larang, tapi Sharen tetap ngotot mau kesana...",


"Terus gimana Nath? masa iya gua nawarin diri buat ikut? kan gua nggak diajak.."


"Nggak mau tau, pokoknya kamu harus ikut. Bilang aja pengen jagain dia..",


"Iya-iya.., aku masuk ke ruangannya lagi.


Setelah masuk dan mendapatkan izin untuk ikut, Tama kembali menghubungi Nathan.


"Gimana?",


"Iya gua boleh ikut, nanti malam disuruh jemput Sharen di rumahnya..",


"Oke.., sip...",


Tama tentu saja tidak bisa duduk dengan tenang. Pasalnya, sedari tadi Nathan mengirimkan pesan bertubi-tubi kepadanya. Bukan masalah sebenarnya, tapi disampingnya ada Sharen. Tama takut jika tiba-tiba rahasianya terbongkar, dan dia akan kehilangan pekerjaannya. Mau dibayar pakai apa mobil yang di belinya beberapa bulan yang lalu.


"Dia ada disamping, kayaknya nggak nyaman.."


"Ajakin keluar aja Tam.."


"Nanti, nunggu Sharen mau sendiri aja..",


"Untungnya dia pake baju tertutup.."


"Foto yang gua kirim ke lu, jelas kan?"

__ADS_1


"Iya jelas..., makasih..",


"Eh Nath, bentar ini Sharen ngajakin ngobrol...",


Tama memang intens memberikan kabar pada Nathan, yang tampak khawatir dengan Sharen.


"Gua sama Sharen lagi ada di taman, dia seneng banget.."


"Sharen lagi apa?",


"Makan sosis bakar.."


"Jangan bolehin dia makan saos kebanyakan, nanti perutnya sakit.."


"Iya bos...",


Nathan menghubungi Tama ketika dia tahu dari pegawai cafenya, jika Sharen baru saja keluar.


"Halo..."


"Halo Tam.., kenapa nggak bilang kalo Sharen kesini..",


"Kesini? kemana emangnya?",


"Dia ada di Cafeku..",


"Dia nggak bilang Nath.., cuma bilang kalo ke Cafe, gitu aja.."


"Tau kesini, aku siapin hadiah buat dia..",


"Sumpah, gua nggak tau..",


"Apa dia sengaja menghindar? dia udah tau semuanya Tam?"


"Heh.., enggak..enggak..., kenapa lu tanya gitu?"


"Cuma tanya doang..",


"Lu udah sampe Indo?"


"Udah..ini lagi di Cafe..,Luna ada disini.."


"Brengsek lu, cintanya sama siapa, pacarannya sama siapa.."


"Udah deh, nggak usah cerewet. Kabari kalo Sharen udah balik kantor..",


"Iya-iya.., nanti gua hubungi lagi..",


"Oh ya, kiriman bunganya udah sampe belum?"


"Udah..barusan.."


"Oke.., aku tunggu laporan dari kamu.."


"oke bos..",

__ADS_1


__ADS_2