
Javas sudah bersikap biasa kepada Kinara. Tidak acuh lagi, namun tidak juga hangat. Kinara yang memang membatasi diri dari awal, juga tidak ingin mempermasalahkannya. Bersikap baik dan tidak mengeluarkan kata-kata tajam, itu sudah lebih dari cukup baginya.
Kinara menyiapkan baju kerja untuk Javas. Selanjutnya, menyiapkan sarapan sebelum suaminya pergi ke kantor.
Kinara mengoleskan selai pada 2 lembar roti. Selesai, dia memberikannya pada Javas yang masih sibuk dengan ponselnya, meskipun saat ini mereka sedang berada di depan meja makan.
"Sarapannya mas..",
"Iya makasih..",
Kinara melakukan hal yang sama, roti yang sudah diolesi selai, lalu meletakkan piring yang berada di depannya.
"Terus kurang apa syaratnya?",
"...............",
"Oke..., nanti aku siapin..",
"................",
"Oke.., thank..",
Kinara hanya mendengarkan obrolan Javas, entah dengan siapa. Kinara benar-benar kapok bertanya atau kepo dengan urusan Javas. Tidak mau lagi, mengundang kemarahan Javas yang baru saja mereda.
"Na..",
"Iya mas..",
"Nanti siang bawain makan siang ke kantor..",
"Iya mas.., nanti biar dianterin mamang..",
"Aku nyuruh kamu, bukan mamang..",
"Iya nanti Kina anterin.., mau dibawain apa?",
"Apa aja..,aku nanti ada meeting nggak sempet keluar. Makanya, aku minta kamu bawain..",alasan Javas.
"Iya mas..",
"Aku pergi dulu..",
"Iya..hati-hati..",
Kinara lantas berdiri dari duduknya, lalu mengambil piring bekas makan mereka.
Javas masih berdiri dari posisinya. Mengamati Kinara yang berjalan ke dapur kotor.
"Ckckck.., dasar nggak peka. Basa-basi kek, dianterin ke depan, atau nggak salim gitu..", ucapnya menggelengkan kepalanya.
Menikah adalah keputusan yang diambil oleh Javas. Menutupi statusnya yang kini sudah berubah menjadi suami bukan kemauannya. Namun, Javas menghormati keputusan Kinara yang memang mempunyai alasan untuk menutupi identitasnya sebagai istri Javas.
"Lan.., nanti kalo ada dokter gizi ku yang mau nganter makan siang, tolong anterin ke atas ya. Suruh nunggu, aku ada meeting..",ucapnya pada Lani, resepsionist di kantornya.
"Yang dianterin makanannya apa sekalian dokternya pak..?",
"Dua-duanya..., dokter sama makanannya..",
"Oh..iya..iya..",
"Ngerti nggak? jangan iya-iya aja..",
"Ngerti pak..
nanti saya konfirmasi pak Javas dulu..?",
"Nggak perlu..", ucapnya sambil berjalan menuju lift khusus akses ke ruangannya.
Sementara itu, Kinara sibuk di dapur menyiapkan makan siang untuk Javas.
"Bik.., biasanya mas Javas makan siangnya apa?",
Bibik menggeleng.
"Nggak tau non.., mas Javas nggak pernah minta dibawain makan siang. Biasanya makan di kantor..",
"Oh gitu ya.., terus ini kina masakin apa bik?",
"Mas Javas minta apa non?",
"Terserah aja katanya..",
"Ya udah, terserah non Kina aja. Nanti Bibik bantu.., mau masak apa non?",
"Masakan rumahan aja ya bik..",
Kinara mengganti pakaiannya. Bersiap pergi ke kantor Javas untuk mengantarkan makanannya. Megenakan dress setengah betis dengan dibalut sweater untuk menutupi tangan putihnya.
Lagi-lagi kedatangan Kinara menimbulkan pertanyaan bagi karyawan yang bekerja di bagian depan kantor Prime, security dan resepsionist . Mobil yang dikendarai Kinara berhenti tepat di depan pintu utama. Dimana, hanya orang tertentu saja yang boleh melakukannya.
"Siang mbak..",
"Dokter Gizinya pak Javas ya..",
"Iya mbak.., saya nitip makan siang buat mas Javas..",
"Mari mbak saya antar..",
Kinara memberikan rantang kepada Lani, namun ditolak.
"Loh.., kok dikasih ke saya mbak?",
"Katanya mbak yang nganterin..?",
"Iya..saya yang nganterin dokter ke atas, disuruh nunggu. Pak Javas baru ada meeting..",
"Nggak bisa dititipin aja ya mbak?",
"Pak Javas tadi pesan disuruh nganterin ke atas dok.., mari..",
Kinara berjalan dibelakang, mengikuti resepsionist yang mengantarnya. Namun, Lani langsung memperlambat langkahnya agar Kinara bisa berjalan disampingnya.
"Dokter ini, siapanya pak Javas..?",
"Dokter Gizinya mbak..",
"Masa?",
"Iya..",
__ADS_1
"Nggak percaya saya dok..",
"Kenapa?",
"Dokter ini, pacar baru pak Javas?",
"Nggak..",
"Masa sih.., kok kalo kesini selalu pake sopir nya mas Javas, mobilnya juga..",
"Saya dijemput mbak..",
"Oh gitu..",
Kinara akhirnya sampai di ruang kerja Javas. Resepsionist itu lalu undur diri, kembali ke tempat kerjanya.
"Dokter tunggu disini.., saya bilang ke ruang meeting kalo dokter sudah sampai..",
"Makasih ya mbak..",
Kinara menunggu Javas hampir tiga puluh menit, hingga akhirnya Javas masuk ke ruang kerjanya.
"Na.., udah dari tadi ya?",
"Lumayan mas..,
Mau langsung makan sekarang?",
"Iya..",
Kinara membuka satu persatu kotak makanan yang dibawanya. Tak lupa menyiapkan minuman untuk Javas.
"Tadi resepsionistnya bilang, kina disuruh kesini. Kenapa mas..?",
"Nggak apa-apa.., kan seperti yang kamu bilang kemarin..",
"Kina nggak bilang apa-apa loh mas..",
"Kamu kan ngaku kalo dokter giziku kan? ya udah, apapun yang masuk dalam perutku, ya berarti itu tanggung jawab kamu..",
"Gitu ya.., berarti setiap hari harus nganterin makan siang?",
"Jelas..",
"Iya mas, besok dianterin lagi..",
"Siapa suruh ngaku jadi dokter gizi, coba aja kemarin bilang kalo kamu istri aku..", gumam Javas.
Kinara diam.
"Kenapa diem?",
"Nggak apa-apa. Makan gih..",
"Kamu udah?",
"Iya.., kina udah makan tadi di rumah..",
Javas melahap habis makanan yang dibawakan oleh Kina. Memang hanya sebuah masakan rumahan. Sup iga, perkedel serta tahu tempe sebagai pelengkapnya.
"Ya udah, kina pulang ya mas..",
"Mas Javas mau pulang sekarang? nggak ada kerjaan lagi, emangnya?"
"Nggak.., tuh masih banyak kerjaannya. Makanya pulangnya nanti..",
"Terus Kina ngapain disini? kalo mas Javas aja masih banyak kerjaannya.
Kamu temenin aku..
Tidak mungkin berucap demikian, Javas membuat alasan lain.
"Na..aku kan belum punya asisten.., kamu bantuin ya..",
"Bantuin apa mas?kina kan nggak ngerti bisnis..",
"Yang udah aku kasih tanda sama kasih catatan, tinggal ketik aja. Nggak mungkin kan kalo kamu nggak bisa?",
"Ya bisalah..,
kenapa nggak cari asisten aja?",
"Belum ada yang cocok. Pelamarnya kebanyakan perempuan dan aku nggak suka punya asisten perempuan..",
"Kenapa?",
"Takut baperan..",
"Oh iya.., mas Javas kan suka galak..",
"Emang iya..?",
"Huum..",
"Cepetan bantuinnya..",
"Kina duduk dimana mas?",
"Tuh di kursi aku..",
"Jangan mas.., disini aja..",
"Sebentar lagi ada Tama, mau masuk kesini..., biar dia yang duduk disini, kamu disana..",
Diusir secara halus oleh Javas, Kinara lalu duduk di kursi kebesaran Javas. Membantu pekerjaan Javas yang sebenarnya bisa dikerjakan oleh seorang Tama yang saat ini merangkap sebagai asistennya.
"Udah jadi Tam?",
"Udah.., nih resume hasil meeting tadi..",
"Oke makasih..",
"Asisten baru?", goda Tama yang melihat Kinara sibuk di depan laptop milik Javas.
"Bukan..",
"Terus siapa?",
"Temen..",
__ADS_1
"Temen.., kalo dia denger apa nggak sakit ati?",
"Temen tidur maksudnya..", ucap Javas berbisik.
"Ckckck ngerjain istri nggak tanggung-tanggung ya. Padahal, kerjaannya bisa aku yang ngerjain..",
"Aku kasian sama kamu, kerjaan kamu kan banyak. Biar dia aja yang ngerjain..",
"Alasan aja.., bilang aja kalo mau ditemenin..",
"Udah..? keluar sana..",
"Iya-iya.. yang mau berduaan aja. Ngerti kok..",
"Oh ya..,udah ngurus apa yang aku minta?",
"Udah.., tenang aja..",
"Oke.., kabari kalo udah..",
"Oke boss..",
Javas mengamati Kinara yang serius mengerjakan tugas darinya. Istrinya ini memang cantik, tapi sayang. Javas dan Kinara masih mempunyai jarak dalam hubungan mereka.
Javas dan Kinara menjadi pusat perhatian ketika mereka pulang bersama. Tidak bergandengan tangan layaknya pasangan suami istri pada umumnya. Namun, melihat Javas yang berhenti sejenak ketika Kinara yang berjalan kepayahan mengimbangi langkahnya, cukup membuat karyawan terbawa perasaan.
"Itu pacar barunya pak Javas ya?",
"Bukan.., itu dokter Gizinya..", ucap Lani.
"Dibohongin tuh sama pak Javas.., itu pacar barunya kali. Pak Javas kan udah putus sama anaknya pak Aldo..",
Tentunya, karyawan itu berucap sangat lirih, karena takut Javas akan mendengarnya.
Javas menurunkan Kinara di depan pintu rumah. Tidak seperti biasa, kali ini Javas memilih untuk memarkirkan sendiri kendaraannya di garasi.
Javas melihat ke arah security ketika dia berjalan menuju pintu rumahnya. Kebetulan ada seorang Abang ojek online yang ingin mengantarkan makanan.
Security berlari hendak memberikan makanan itu ke dalam, namun dicegat oleh Javas yang masih berdiri di teras rumah.
"Buat siapa pak..?",
Security itu berjalan cepat mendekati Javas.
"Non Kina mas..",
"Kina? dia pesan apa?",
"Bukan pesen.., tapi ada temennya yang ngirim..",
"Dari..?", tanya Javas.
"Dari Firman mas.."
"Coba siniin makanannya..",
Security memberikan satu buah goodie bag yang berisi roti serta minuman kopi kekinian untuk Kinara. Yang membuat Javas naik pitam adalah sebuah ucapan yang ditulis Firman untuk Kinara.
Sayang..,
Abang kirim makanan kesukaan Kinara. Tolong balas pesan Abang.., Abang kangen sama kamu..
cuma Abang yang punya kasih sayang dan cinta yang besar untuk kamu. Bukan Javas.
Javas meremas kertas saat dia selesai membacanya. Security yang berada dihadapannya sampai keringetan menahan takutnya. Wajah Javas merah padam saat itu.
"Pak.., ini buat bapak aja. Dan, satu lagi kalo ada kiriman buat non Kina, dari yang namanya Firman, langsung tolak dan jangan diterima. Kasih tau sama temen bapak yang lain..",
"Ba..baik mas..",
Javas masuk kedalam rumahnya dengan suasana hati yang bergemuruh. Dia kira ucapannya hari itu bisa membuat Firman sadar diri, tapi ternyata tidak.
Javas yang kesal, langsung membuka kemejanya, tubuh atasnya polos tanpa penghalang. Dadanya yang bidang dan ototnya yang kekar terekspose sempurna. Kinara yang baru saja menyiapkan baju untuknya, langsung mengalihkan pandangannya, memilih untuk keluar dari kamar.
"Na.., tunggu..",
Kina menghentikan langkahnya.
"Iya mas..",ucapnya menunduk tanpa memandang ke arah Javas.
"Kamu masih berhubungan sama Firman?",
Kinara menaikkan pandangannya, terpaksa melihat Javas yang sedang bertela*njang dada.
"Nggak mas..",
"Nggak boong kan?",
"Nggak mas..",
Javas tau Kinara berucap jujur, karena tadi dia sudah membaca pesan dari Firman yang meminta Kinara untuk membalas pesannya.
"Dia baru aja kirim makanan buat kamu..aku nggak suka Na.
Dulu Firman punya kesempatan emas, dan dia nggak memanfaatkan kesempatan itu. Sekarang dia nyesel..",
Javas cemburu? bisa jadi. Tapi apa iya? Sebenarnya Javas sudah menunjukkan perasaannya hanya saja, Kinara yang sulit untuk menerima sinyal dari Javas. Mungkin Kinara memang ingin membentengi dan membatasi diri.
"Iya mas..", ucapnya singkat lalu keluar dari kamar Javas.
Diam-diam, Kinara menelepon Firman untuk memperingati mantan kekasihnya.
"Halo sayang.., akhirnya kamu telepon Abang..udah terima makanannya? kamu suka kan?",
"Bang.., tolong ya jangan hubungi Kina lagi, apalagi barusan kirim makanan. Kina nggak suka..",
"Kenapa? kamu takut sama suami kamu?",
"Alhamdulillah bang Firman sadar kalo Kina emang udah punya suami. Udah ya bang, kita udah nggak ada hubungan apa-apa lagi..",
"Kamu udah nggak sayang lagi sama Abang..?",
"Sayang atau nggak, sekarang udah nggak penting. Kinara udah berstatus sebagai istri, dan Kina harus menjaga itu...",
Kina memutus teleponnya sepihak. Lalu, memblokir nomor Firman dari handphonenya.
Meskipun dilakukan kina diam-diam. Ternyata, diam-diam juga Javas menguping obrolan Kina melalui sambungan telepon yang dia lakukan di balkon ruang tengah. Javas mendengar jelas obrolan Kina dan Firman yang membuat hatinya lega.
"Good girl..", ucapnya lalu kembali masuk ke dalam kamarnya sebelum Kinara memergokinya.
__ADS_1