Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )

Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )
Akhirnya Nathan Tahu


__ADS_3

Sudah berada dua bulan di Aussie, tapi Sharen dan Nathan sepertinya masih betah untuk berada disana. Mereka sangat enjoy menikmati kehidupan mereka di negeri kanguru.


"Beneran nggak pengen di anterin..?", tanya Nathan.


"Nggak usah, kan deket. Mas katanya mau zoom kan..?Sha nggak mau ganggu..",


"Ya udah.., kamu ati-ati ya..",


Sharen izin pergi untuk bertemu dengan Icha, tunangan Vano. Sharen ingin mengambil barang dari Mommy Aira yang dititipkan kepada Icha. Kali ini, tanpa pengawalan dari Nathan karena suaminya ada urusan pekerjaan.


Nathan fokus dengan pekerjaannya. Hari ini, dia ikut menghadiri meeting Prime Grup, meskipun hanya melalui zoom.


Nathan mengikuti zoom dengan serius, mencatat satu persatu point penting selama meeting berlangsung. Memang, sedang ada permasalahan internal dengan management. Tapi, tidak serius hanya membutuhkan pembaruan.


Mengikuti Zoom selama dua jam, dan akhirnya selesai. Nathan berada di Apartement seorang diri. Belum ada tanda-tanda kepulangan istrinya.


"Istri kamu, punya masalah apa sih Nath..?",


Kata-kata Mama Farah saat itu tiba-tiba muncul dalam pikirannya. Semenjak divonis sulit memiliki anak, Nathan memang tidak pernah bertanya lebih detail dan jelas mengenai permasalahan reproduksi yang dialami oleh Sharen. Bukan tidak peduli, hanya saja Nathan ingin menjaga perasaan istrinya. Tidak ingin Sharen akan tertekan atau menyalahkan dirinya sendiri. Tapi, benar kata mama Farah. Sebagai suami, Nathan seharusnya lebih peka kepada istrinya. Masalah kesehatan yang dialami oleh Sharen harus segera di atasi.


Nathan, bukannya tidak pernah bertanya pada Sharen. Namun, hanya dijawab Sharen dengan tangisan dan itu membuat Nathan tidak ingin mendesaknya lebih jauh lagi.


Diam-diam Nathan mencari hasil tes mereka. Nathan mencarinya dilemari, namun tidak menemukannya. Mencoba mencari di laci meja, dan akhirnya dia mendapatkannya. Hasil lengkap tes mereka.


Nathan berinisiatif untuk membawa hasil tersebut ke rumah sakit. Nathan ingin mengetahui permasalahan yang dialami oleh istrinya. Nathan hanya ingin tahu. Dan, apapun keadaan istrinya Nathan akan tetap menerimanya.


Dengan sedikit tergesa, Nathan pergi dari Apartementnya sebelum Sharen kembali. Nathan menuju rumah sakit untuk bertemu dengan dokter yang bisa menjelaskan dan membacakan mengenai hasil tes reproduksi mereka.


Nathan menyerahkan hasil pada dokter yang ditemuinya. Dengan harap-harap cemas, Nathan menunggu penjelasan dari dokter.


"Tidak ada yang salah dengan hasil tes ini, semuanya normal...",


Nathan keheranan. Apakah dokter di Indo dan Aussie berbeda saat mendiagnosa seorang pasien? Kalo itu benar, ini berarti kabar baik untuk mereka berdua.


"Betul dok? tapi, istri saya divonis susah untuk mempunyai keturunan..",


"Saya yakin tidak ada yang salah....",


Perasaan Nathan mulai tidak enak.


"Kalo hasil tes saya.., gimana dok..?",


"Baik.., coba saya lihat...",


Dokter tersebut membacanya, dan mimik mukanya langsung berubah.


"Jadi, bukan istri anda yang bermasalah.


Tapi, anda sendiri pak...",


Bagaikan disambar petir di siang bolong. Ucapan tersebut hampir saja membuat pingsan.


"Gimana dok maksudnya..?",


"Dari hasil tes milik anda, bisa saya simpulkan anda mengalami asthenozoospermia...",


"Apa itu dok..?",

__ADS_1


"****** sulit untuk bergerak ke reproduksi wanita, sehingga sulit untuk membuahi sel telur...",


"Jadi, betul saya yang bermasalah dok..?",


"Saya nggak pernah macem-macem dok...",


"Faktornya banyak pak,


cedera, infeksi, keturunan juga bisa...",


"Saya bener-bener nggak bisa punya anak dok..?",


"Bisa..., tapi akan sulit mempunyai secara alami..., kecuali kita tangani dulu...",


"Caranya..?",


"Terapi hormon, operasi, suplemen.., gaya hidup sehat, olah raga teratur.., perlu observasi lebih lanjut..",


"Selain itu..?",


"Istri anda bisa hamil, tapi tidak secara alami.., bisa bayi tabung atau inseminasi..


Silahkan anda diskusikan dulu dengan istri anda...",


"Baik dok..


terima kasih penjelasannya...",


Nathan merasa bodoh, selama ini sudah dibohongi oleh Sharen. Kenapa istrinya itu tidak bercerita yang sebenarnya? Apa tujuan Sharen?


Hal pertama yang dilakukan Nathan adalah menenangkan dirinya sendiri. Nathan marah, tapi sebisa mungkin tetap berpikiran waras.


Ketiga, sesampainya di Apartement dia ingin mendengarkan penjelasan dari Sharen, istrinya.


Nathan disambut oleh sebuah pelukan. Pelukan hangat yang selalu membuat jiwanya tentram. Tapi, saat ini pelukan itu berasal dari orang yang sudah membohonginya selama dua bulan belakangan ini.


"Kemana aja yank..? kok nggak bilang dulu kalo mau pergi..",


Nathan melepas pelukan Sharen. Hal ini, membuat Sharen merasa jika ada sesuatu yang membuat Nathan bersikap demikian.


"Duduk..


kita harus bicara...",


Sharen duduk. Selama menjadi istri Nathan, baru pertama kali ini dia melihat suaminya dengan raut wajah murka.


"Apa yank..? aku punya salah..?",


Percayalah, Sharen bertanya dengan nada bergetar. Dia sangat takut dengan sorot mata tajam Nathan.


"Sebenarnya, kita sulit punya anak karena apa Sha..?",


"Ya..karena aku sulit punya anak...",


"Iya.., masalahnya dimana? rahim kamu yang bermasalah, atau kamu punya penyakit, atau gimana?",


"Sel telur aku yang kecil yank..",

__ADS_1


"Karena itu..?",


"Iya...",


Nathan yang sudah sedari tadi menahannya akhirnya tidak kuasa. Dia melempar keras hasil tes mereka ke atas meja.


"Bohong.....!!!!!!!!!!",


Baru pertama kali ini Sharen mendengar Nathan berbicara keras kepadanya. Dan, itu membuatnya mengeluarkan air matanya. Sharen menangis. Dia takut.


"Kamu bohong sama aku Sha.....",


"Nggak yank...,


huhuuuuuuuuuu....",


"Sebenarnya aku kan yang bermasalah?aku kan yang sulit buat punya anak..? aku kan Sha..? bukan kamu..?",


Sharen tidak menjawab, dia menangis.


"Kenapa kamu lakuin ini Sha..? kenapa? kamu udah bohong, aku kayak orang bodoh yang nggak tau apa-apa. Maksud kamu apa..?",


"Aku.....",


"Aku gagal jadi suami Sha.., aku gagal...",


"Yank...",


"Jawab...kenapa!!!!!??",


"Aku cuma nggak mau kamu nyalahin diri kamu sendiri, aku nggak bisa liat kamu sedih, apapun keadaan kamu, nggak akan buat aku berubah Nath.., aku cinta kamu....",


"Ini bukan masalah cinta atau nggak Sha..


Kenapa kamu nggak jujur dari awal..? Hah...? kamu kira aku bakal gimana? Bunuh diri, atau minta pisah sama kamu..?


Aku kecewa Sha.., aku kira kamu terbuka, tapi bisa-bisanya kamu ngerahasia-in hal sebesar ini...kenapa kamu korbanin diri kamu sendiri..? ",


"Yank.., maaf..aku nggak bermaksud kayak gitu..",


"Aku bener-bener kecewa sama kamu...",


Nathan memukul meja di depannya, dan praaaakkkkkkkkkkk....


"Yank....", hal ini membuat Sharen panik. Kaca itu pecah, mengenai punggung tangan Nathan.


Dia mendekati Nathan.


"Nggak usah deketin aku Sha....!!!",


"Yank.., tangan kamu berdarah...",


"Ini nggak ada apa-apanya dibandingkan dengan kebohongan yang kamu buat....",


Nathan memilih untuk keluar dari Apartement, dengan luka di tangannya yang masih belum diobati.


"Nath...mau kemana Nath...

__ADS_1


Maafin aku.........", Sharen menangisi kepergian Nathan.


__ADS_2