
Javas dan Rendra yang notabene bukan sembarangan, rela mencari Kinara dengan berjalan kaki, menyusuri jalan dan bertanya kepada orang-orang. Mereka tidak hanya berdua, tapi ditemani oleh beberapa orang ajudan. Tapi, tidak ada satupun orang yang melihat keberadaan Kinara atau bertemu dengan perempuan cantik itu.
Javas semakin putus asa. Sudah lebih dari 2 jam menyusuri jalan, tetapi tidak berhasil menemukan secuil petunjuk tentang keberadaan Kinara.
"Kita istirahat dulu Son..",
"Dad, kita lapor polisi aja..? udah 24 jam Kinara menghilang..",
"Terlalu beresiko Vas.., takutnya malah nanti dimanfaatin sama orang-orang. Justru bahayain Kinara sama bayi yang dikandungnya...",
"Terus gimana Dad..?",
"Usaha terus...",
"Ini juga udah usaha kan Dad? tapi apa? nggak ada petunjuk sama sekali..",
"Kita istirahat dulu.., udah waktunya makan siang. Kasian mereka juga pada capek..",
"Iya Dad..",
Rombongan Javas dan Daddy menuju ke sebuah resto untuk sejenak istirahat dan melakukan ibadah.
"Lagi apa, sayang..?",
"Pergi mas..",
"Kemana? jadi nyari Kina..?",
"Nyari..tapi nggak ketemu juga..ini Aira lagi belanja..",
Javas merengut. Bisa-bisanya dalam keadaan seperti ini, mommy nya malah belanja. Bukannya sedih dengan hilangnya Kinara.
Javas tidak tahu saja, semalaman Daddy kewalahan karena amukan Aira yang dipicu oleh hilangnya Kinara. Aira menyalahkan Daddy Rendra yang tidak cepat bertindak. Mommy Aira menangis setelah mengamuk suaminya. Setiap kali ingat Kinara hilang bersama calon cucunya, Aira menangis sesenggukan.
"Mas ketemu sama Kina..?",
"Belum sayang...",
"Ya Allah, terus gimana? mas sekarang masih nyari..?",
"Nggak..lagi istirahat.., mau makan siang dulu..",
"Mas pulang kan nanti?",
"Kenapa? kangen..?", tanya Rendra yang langsung mendapatkan lirikan sinis dari Javas. Bisa-bisa kedua orang tuanya malah terdengar sayang-sayangan, disaat nasibnya yang sedang malang.
"Kangen lah, sama suami..",
"Iya nanti mas pulang sayang, paling agak sorean..",
"Ya udah..hati-hati ya mas..",
"Iya.., kamu juga jangan lama-lama di mallnya..",
"Iya mas..",
Javas iri. Orang tuanya yang sudah menikah bertahun-tahun saja tetap akur dan harmonis seperti ini. Dia dan Kina? belum juga setahun tapi Javas sudah ditinggal pergi karena kebodohannya sendiri.
Javas merasakan keanehan. Tiba-tiba perutnya mual, ketika makanan yang dipesan oleh Daddynya di hidangkan ke atas meja. Rasanya ingin muntah.
"Dad.., pesen apa sih Dad..? Bau banget..., Javas jadi pengen muntah..",
"Daddy nggak pesen apa-apa, bukannya itu pesenan kamu ya?",
"Javas cuma pesen ikan goreng.., nggak macem-macem dad...",
"Nggak ada bau yang gimana-gimana Vas..",
"Itu tuh Dad yang paling nyengat..", tunjuknya pada sambal beserta petai.
Memastikan, Daddy Rendra sampai mencium bau sambal dan petainya. Dan, menurut Daddy ini adalah bau yang sangat normal.
"Dad Javas nggak bisa nyium bau itu Dad..singkirin...",
"Kamu tuh kenapa? yang pesen ikan goreng kan kamu, tuh Daddy cuma pesen sop iga aja..",
"Dad..singkirin pokoknya, Javas mau muntah..",
Javas berdiri, lalu berlari kecil menuju ke wastafel. Benar, Javas muntah.
"Kayaknya kamu yang ngerasain ngidam ya Vas..",
"Ngidam..? Javas nggak pengen apa-apa..",
"Itu tadi.., sampe muntah kayak gitu..",
__ADS_1
"Emang iya Dad..?",
"Iya.., dulu juga Dad sempat gitu, waktu mommy hamil Jaz...",
"Javas pusing Dad...",
"Ya baguslah, kamu yang ngidam, bukan istri kamu. Kasian juga kan, kalo dia yang ngerasain ngidamnya. Mual muntah, harusnya ada yang mijitin, tapi ini sendirian..",
"Daddy mau buat Javas semakin merasa bersalah Dad..?",
"Ya nggak gitu..emang faktanya. Ayo cepetan di makan, nanti kita lanjutin lagi nyarinya..",
Javas memuntahkan lebih dari setengah makanan yang masuk ke dalam mulutnya. Hanya secangkir white coffe yang berhasil dia cerna dengan baik. Alhasil, mereka terpaksa harus menghentikan pencarian karena keadaan Javas yang terlihat drop. Sempat menolak, tapi Daddy nya berjanji esok hari akan kembali membantu putranya untuk mencari Kinara.
"Kita pulang aja Son...",
"Javas lemes dad...",
"Ya udah, buat istirahat aja.
Kita pulang mang..", ucap Rendra kepada sopirnya.
Javas berulang kali mencoba menghubungi nomor istrinya, tapi tidak aktif. Semua media sosial Kinara juga sudah dinonaktifkan.
"Gimana caranya biar Javas bisa hubungi Kina Dad?",
"Transfer ke nomor rekeningnya..",
"Apa hubungannya sih Dad..?",
"Dikasih berita Vas...",
"Oh iya..Javas coba Dad..",
Javas mengikuti saran dari
m-Transfer
BERHASIL
10/12 13:13:30
Ke 1234xxxxxxxx
KINARA PRA
Rp. 10.000.000,-
Ref 77185**
M-Transfer
BERHASIL
10/12 13:14:05
Ke 1234xxxxxxxx
KINARA PRA
Rp. 10.000.000,-
Berita. Mas minta maaf
Ref 77198*
M-Transfer
BERHASIL
10/12 13:14:05
Ke 1234xxxxxxxx
KINARA PRA
Rp. 10.000.000,-
Berita. Km udah makan?
Ref 78794**
M-Transfer
BERHASIL
__ADS_1
10/12 13:15:34
Ke 1234xxxxxxxx
KINARA PRA
Rp. 10.000.000,-
Berita. Km dimana?
Ref 78734**
M-Transfer
BERHASIL
10/12 13:16:01
Ke 1234xxxxxxxx
KINARA PRA
Rp. 10.000.000,-
Berita. Syg, pulang ya
Ref 8995**
M-Transfer
BERHASIL
10/12 13:16:48
Ke 1234xxxxxxxx
KINARA PRA
Rp. 10.000.000,-
Berita. Mas kgn anak kita
Ref 77543*
M-Transfer
BERHASIL
10/12 13:17:10
Ke 1234xxxxxxxx
KINARA PRA
Rp. 10.000.000,-
Berita. Maafin mas, syg
Ref 77673*
Javas mencoba keberuntungannya. Berdoa semoga Kinara membaca notifikasi pada transaksi perbank-annya. Bersyukur, Daddy nya selalu mempunyai 1001 cara untuk menyelesaikan masalah.
Layaknya ibu hamil muda, Kina pun merasakannya. Hanya merasakan mual saat bangun tidur. Selebihnya, normal. Masih bisa makan dan minum seperti biasanya.
Harus terbiasa hidup tertutup seperti ini. Sengaja memilih tempat tinggal yang jauh dari orang yang bisa mengenalinya.
Ini adalah tempat tinggal keduanya setelah memutuskan pindah dari tempat tinggal pertama. Alasannya, disini keamanannya lebih terjamin. Sebuah komplek perumahan elite yang tidak sembarangan orang bisa masuk, kecuali orang yang memang sudah mempunyai akses keluar masuk.
Lebih aman, namun juga kesulitan untuk berinteraksi dengan dunia luar, karena Kina memang ingin menepi dan menyepi. Dia juga takut orang-orang akan mengenalinya.
Lalu, bagaimana dengan kebutuhannya nanti? Kinara tinggal memesannya dan akan ada orang yang mengantarkannya ke tempat tinggal barunya. Kinara hanya sedikit kebingungan, bagaimana dia akan memeriksa kan kandungannya nanti? Sedangkan, dia saja sengaja untuk menghilang. Beruntungnya, masih 3 Minggu lagi dia harus memeriksakan kandungannya, karena beberapa waktu yang lalu Kina sudah menyempatkan diri untuk mengecek perkembangan janinnya, tentunya tanpa sepengetahuan suaminya.
"Masih mual..?",
"Udah nggak..", jawab Kina.
Kinara memeriksa notifikasi di ponselnya. Dia membaca satu persatu transaksi yang masuk ke dalam rekeningnya.
Wajahnya, langsung sendu. Dia terlihat sangat sedih.
"Kamu kenapa?",
"Nggak apa-apa..",geleng Kinara.
Kinara lantas masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
"Kina juga kangen sama mas, tapi Kina juga sakit hati...", ucapnya menitikkan air mata sambil mengelus perutnya.
"Kamu sehat ya Nak.., Mama pasti akan selalu jaga kamu..",