
"Mau makan apa?",
"Kina kok males mas..",
"Mas laper banget..,tadi malem kan banyak ngeluarin tenaga..",
"Gitu deh mulai...
Hmm.., makan bubur aja, mau mas..?",
"Mas nggak suka..",
"Kenapa?",
"Aneh aja.., tiap liat bubur langsung keinget sama kucing..",
"Hubungannya apa?",
Javas malah langsung mempraktekkan, dirinya yang seperti mau muntah.
"Ih..ih.. apaan sih mas nggak jelas..",
"Ya kayak gitu..",
"Iya iya ngerti..
terus mas mau makan apa?",
"Makan apa aja deh, yuk.."
Javas akhirnya membelokkan mobilnya ke warung makan Padang. Benar-benar , sepertinya memang Javas dalam mode ngiritnya. Makan saja memilih ke tempat sederhana non elite. Alasan Javas adalah warung makannya searah dengan apartemen miliknya.
"Mau pake apa?",
"Na pake rendang aja..
Sarapan makan berat kayak gini mas?",
"Ini udah jam 10 Na..",
__ADS_1
"Iya deh..",
Warung makan yang tidak terlalu banyak pengunjung juga salah satu yang membuat Javas menjatuhkan pilihannya. Tidak peduli mobil yang dibawanya terlalu mewah, yang paling penting perutnya bisa segera diisi.
"Mas makan pake kikil?",
"Iya Na.., pengen banget..",
"Kayak orang ngidam..",
"Emang bisa sayang? kan baru aja diproduksi, masa udah jadi?",
"Mas udah pengen punya baby?",
"Se-dikasihnya aja. Mau cepet Alhamdulillah, kalo belum dikasih, ya nggak apa-apa. Yang penting usaha terus.., jangan ditunda ya..",
"Iya mas..",
"Makan yang banyak, sayang..",
Dengan cekatan, Kinara mengelap keringat sang suami. Efek dari menu makanan pedas yang dimakan oleh Javas membuatnya mengeluarkan banyak keringat.
"Iya.., tapi enak..",
"Jangan keseringan makan pedas ya mas.., nggak baik..",
"Iya..sesekali aja...",
Javas membawa Kinara ke Apartement miliknya. Sebuah pilihan yang sebenarnya mempertaruhkan keharmonisan yang baru saja mereka rasakan. Tahu apa? Mari kita lihat.
"Ayo masuk sayang..", ucap Javas yang mempersilahkan istrinya untuk masuk terlebih dahulu.
Ini adalah kali pertama Kinara masuk ke apartemen milik Javas. Namanya juga pertama kali, tentu saja Kinara kepo dengan beberapa barang yang dipajang disana.
Javas langsung menuju ke kamar, sedangkan Kinara asyik melihat perabotan yang sudah tertata rapi disana. Ada sesuatu yang membuat hatinya sedikit kecewa, namun Kinara mencoba untuk mengabaikannya.
"Na.., sini sayang..",
Javas memanggil istrinya untuk masuk ke dalam kamar mereka. Berbeda dengan ruang tamu, kamar Javas lebih tepatnya kamar mereka. Tidak ada satupun pajangan yang menempel di dinding. Tapi, ada bentuk persegi panjang yang membekas, seperti bekas sebuah lukisan, ukurannya cukup besar. Rasa keingin tahuannya yang besar, membuat Kinara memberanikan diri untuk bertanya.
__ADS_1
"Ini bekas apa?",
Sebenarnya, Kinara sudah bisa menebak, namun dia hanya ingin tahu. Javas mau berkata jujur atau justru berbohong untuk menutupi sesuatu darinya.
"Bekas foto...",
"Fotonya siapa?", tanyanya lagi.
"Fotonya mas..",
"Sendiri? berdua? bertiga atau rame-rame..?", tanyanya mendesak.
"Berdua...",
"Sama siapa? kak Sharen, mommy, Jaz atau sama Daddy?"
Javas menggeleng.
"Nggak semuanya..",
"Terus, sama siapa?",
"Udah sayang.., nggak penting. Besok mas pasang foto kita disini ya?",
"Na nggak pengen..",
"Kamu pengen apa?",
"Mas jawab pertanyaan Na.., foto mas sama siapa?",
Cukup lama Javas diam, namun mau tidak mau dia harus menjawab pertanyaan istrinya. Percuma ingin mengalihkan topik pembicaraan, karena Kina pasti akan mendesaknya untuk menjawab.
"Itu foto mas.., sama mantan..", ucapnya jujur.
"Oh....., kenapa di kamar udah dilepas? di ruang tamu masih ada..", ucapnya. Kinara langsung keluar dari kamar meninggalkan Javas yang raut wajahnya menunjukkan rasa bersalahnya.
Foto Mine yang masih ada di meja Buffett.
__ADS_1