
Nathan, akhirnya membuka aplikasi hijau di ponselnya. Banyak sekali chat yang masuk, dari istri, orang tua, mertua serta para koleganya. Orang yang paling banyak mengiriminya pesan adalah Sharen, istrinya. Ribuan pesan Nathan terima. Nathan membacanya. Pesan yang banyak permintaan maaf dari Sharen, juga permohonan agar Nathan pulang.
Salah satu pesan yang membuat Nathan menyesal telah meninggalkan istrinya tanpa pesan.
"Nath, aku nggak tau lagi harus gimana. Aku putus asa, harus dengan cara apalagi untuk meyakinkan dan membuat kamu percaya? kalo apa yang aku lakukan semata untuk menjaga keutuhan rumah tangga kita.
Nath, aku istrimu dan kamu suamiku. Aku selalu menjadikan kamu prioritas, kamu duniaku, kamu nafasku Nath. Aku menempatkan kamu di tahta tertinggi dihidupku, setelah Tuhanku.
Nath aku ingin kita seperti dulu, aku lelah dengan keadaan ini, aku lelah sendiri, aku lelah menghadapi ini. Tapi, aku nggak pernah lelah untuk mencintai kamu..
Sayang, semoga kamu kembali, masih dengan perasaan yang sama. Semoga cintamu masih untukku Nath....
Aku menunggumu kembali, sayang.....",
Nathan hampir saja membanting ponsel miliknya. Nathan benar-benar bodoh. Dicintai dengan begitu besarnya, namun dia justru mengabaikannya. Nathan mencintai Sharen. Cintanya pun, tidak kalah besar. Hanya saja, Nathan sempat berpikir, dirinya tidak pantas untuk Sharen karena jika mereka tetap bersama. Itu artinya, Sharen akan sulit mempunyai anak dari rahimnya sendiri. Nathan, rendah diri. Dia pergi untuk mencari ketenangan dan jawaban, tapi sayang. Caranya bodoh.
"Daddy udah pernah bilang sama kamu, kembalikan Sharen ke Daddy, kalo kamu udah nggak cinta sama dia...,
jangan salahkan Daddy, kalo Sharen akan Daddy ambil kembali...",
Sebuah pesan singkat berupa ancaman, membuat Nathan semakin menyesal. Sudah bisa dipastikan, jika untuk kedepannya dia akan mendapatkan tentangan dari keluarga istrinya, terutama Daddy.
Ya, Nathan mengakui jika dirinya bodoh. Meninggalkan Sharen, hanya demi menuruti egonya.
"Anak Mama cuma Kamu aja Nath. Kenapa kamu tiba-tiba ngilang? Kasian istri kamu..., jangan buat malu Mama sama Papa Nath..",
Sebuah pesan singkat dari Mamanya yang menyiratkan jika beliau sudah pasrah. Putranya memang sudah dewasa, tapi mungkin hanya sebuah usia. Pikirannya tidak!!
"Dasar pengecut, kalo lu udah nggak mau sama kakak gue, ngomong..., jangan ditinggal gitu aja...., gob*ok, tol*l lu..",
Nathan memang pantas mendapatkan makian dari adik iparnya. Nathan bersalah, Nathan bodoh dan dia egois.
Nathan tidak ingin membuang waktunya. Dia masih berkeyakinan jika Sharen, istrinya pergi dari Apartement dan memilih untuk tinggal bersama kedua orang tuanya, Mama Farah dan Papa Aldo. Semoga saja begitu. Agar jalannya untuk bisa berbaikan dengan Sharen tidak menemui kendala.
Nathan memanasi mobil yang sudah lebih dari 10 hari dia tinggalkan. Beruntung, mobil mahalnya masih mau menyala.
Nathan pergi ke kediaman kedua orang tuanya untuk menjemput Sharen. Niatnya begitu.
"Sharen disini bik..?", tanyanya pada maid saat Nathan baru dibukakan pintu.
"Nggak ada mas..",
"Nggak disini..?
Mama sama Papa dimana..?",
"Di rumah sakit...",
"Siapa yang sakit? Sharen..?",
"Bukan , yang sakit nyonya..",
"Di rumah sakit mana?",
"Rumah sakit xxxxxxxxxxx",
"Oke..makasih..",
Nathan masih berharap jika saat ini istrinya berada di rumah sakit untuk menjaga Mamanya. Kalo tidak, Nathan benar-benar akan menemui hal sulit. Dia akan kesulitan untuk bertemu dengan Sharen.
Nathan segera menuju ke kamar Mamanya setelah bertanya pada resepsionist.
Tanpa memberi salam atau mengetuk pintu, Nathan langsung masuk. Papa dan Mamanya sedikit terperanjat karena kehadirannya yang tiba-tiba.
__ADS_1
"Nathan....",
"Mah...",
Nathan memeluk mamanya yang tergolek di atas tempat tidur.
"Mama sakit apa..?",
"Mikirin kamu, nggak balik-balik...",
"Nathan udah pulang mah..",
Namanya juga seorang ibu. Bagaimanapun juga dia akan luluh dengan anaknya, meskipun putranya itu membuat kesalahan.
"Kemana aja kamu? inget pulang..?", ucap Papa Aldo sinis.
"Nath, kamu sakit..? kok rambutnya botak gini..",
"Nathan abis pulang umroh..",
"Kamu abis umroh..?",
"Iya mah, nenangin diri di sana...
Sharen mana Mah..?",
"Masih inget kalo kamu punya istri ya Nath..",ucap Papanya.
"Sharen istri Nathan Pah..
dimana dia..?",
"Istri kamu udah diminta sama keluarganya lagi.., kasian. Udah hampir 2 Minggu ditinggal sama suaminya.., mungkin sebentar lagi juga bakalan dicariin suami baru..",
"Kamu kenapa baru sadar sekarang? semuanya udah terlambat Nath. Rendra udah minta anaknya kembali. Dan, papah juga nggak bisa cegah itu. Anak Papah udah terlalu menyakiti istrinya...",
"Nathan mau bawa dia kembali Pah...",
Hanya beberapa menit berada di rumah sakit untuk menjenguk mamanya. Kini, Nathan sudah bertolak, dia berada di dalam perjalanan menuju ke kediaman mertuanya.
".......Kamu duniaku, kamu nafasku Nath. Aku menempatkan kamu di tahta tertinggi dihidupku, setelah Tuhanku.."
Nathan terus terngiang dengan pesan yang dikirimkan oleh Sharen. Sedalam itu perasaan istrinya, dan Nathan sadar. Sedikit saja dia melukai Sharen, itu akan terasa menyakitkan. Apalagi, sampai meninggalkannya seperti ini? Nathan sudah pasti akan menghancurkan perasaan istrinya.
Nathan bukan seorang yang pengecut, dia gentle man. Dia pergi ke rumah keluarga Rendra Perdana untuk menjemput kembali istrinya dan memulai rumah tangganya kembali. Nathan akan meminta maaf, sekalipun harus bersujud kepada kedua orang tua Sharen. Nathan akan melakukan apa saja untuk membuat Sharen kembali kepadanya.
Tin...tin..tin...
Nathan membunyikan klakson mobilnya saat sampai. Jika biasanya security langsung sigap membukakan gerbang untuknya. Namun, kali ini berbeda. Security justru keluar untuk menemuinya.
"Malam mas..",
"Tolong bukain pintunya pak.., saya mau masuk..",
"Maaf mas..,
kami dilarang membukakan pintu untuk mas Nathan..",
"Sharen ada kan?",
"Bapak.. nggak mengizinkan mas Nathan untuk masuk...",
"Kenapa..?",
__ADS_1
"Saya nggak tau mas..
Cuma bentar aja pak.., tolong bilang sama Daddy..",
"Maaf mas nggak bisa.. tadi bapak sudah berpesan seperti itu..",
Nathan mendapatkan penolakan. Sebenarnya sudah dia duga dari awal. Tapi, Nathan kira dia masih diperbolehkan masuk dan akan dieksekusi dan diadili di dalam. Tidak sampai dilarang masuk ke halaman seperti ini.
"Daddy bilang apalagi..?",
"Mas Nathan bisa balik besok pagi..",
"Daddy bilang gitu..?",
"Iya mas..",
"Sharen ada di dalam kan pak..?",
"Maaf saya tidak tau..",
Security sepertinya sudah diberikan arahan oleh majikannya. Nathan tidak bisa berbuat apa-apa kecuali kembali besok pagi. Mungkin, dia ditolak karena Daddy butuh waktu untuk istirahat.
"Sayang..
Nathan udah balik..
dia di depan...",
"Kesini mas..?",
"Nih...", Daddy Rendra menunjukkan pantauan CCTV melalui layar ponselnya.
"Itu Nathan? kok rambutnya nggak ada mas..",
"Abis umroh kata Aldo..",
"Dia ngilang karena umroh? syukur deh..., seenggaknya dia nggak macem-macem..
terus gimana?",
"Mas udah nyuruh security usir dia..,
Sharen tetap ikut kita besok.., mas nggak mau anak kita ketemu suaminya..",
"Kenapa mas..?",
"Mas takut Sharen depresi lagi, biar dia tenang dulu..
kalo mau pisah juga nggak apa-apa.., biar anaknya kita yang urus.., Sharen biar kuliah, di London, US, atau mana gitu sesukanya dia..",
"Aira manut aja..
keputusan ada di Sharen mas..,
asalkan mas nggak paksa dia aja..",
"Iya..mas tau..
semuanya udah siap kan?",
"Udah mas..,
mudah-mudahan nggak ada yang kelupaan..",
__ADS_1