
"Mas nggak ngantor? jadi bantuin Javas nyari Kina..?",
"Jadi sayang..
kenapa? kamu kayaknya nggak suka kalo Mas bantuin putra kita..",
"Biar dia cari sendiri, dia kan yang berbuat. Biar dia juga yang menanggung akibatnya..",
"Kalo Kina nggak hamil, mungkin mas bakal ngebiarin Javas sendiri yang nyari istrinya. Tapi, Kina lagi bawa cucu kita, penerusnya mas sayang.., mana bisa mas tinggal diam? kalo Kina kenapa-napa gimana? gimana sama anaknya? kamu nggak khawatir sama cucu kita?",
"Ya khawatir, makanya Aira marah banget sama Javas. Aira juga takut mas, gimana sama Kina? mana lagi hamil muda...",
"Mau ikut nyari Kina?",
"Mau.., tapi kalo ada Javas, Aira males..",
"Kasian, Javas harusnya didukung, bukan dimusuhi kayak gini.., mentalnya dia juga lagi down..",
"Biar tau rasa...",
"Kamu tau rasanya jadi Javas sekarang? hancur, nyesel, bingung mau ngapain. Lagi seneng-senengnya tau kalo istrinya hamil, malah istrinya ngilang. Kayak mas dulu, seneng banget kamu hamil, tapi kamu malah kabur..",
"Iya itu kan salahnya mas..",
"Iya sayang, mas tau. Makanya, mas tau rasanya jadi Javas. Dia pasti nyesel, udah bingung cari istrinya . Tambah lagi diamuk sama mommy nya. Nyeseknya dobel..",
"Ya udah kalo gitu, hati-hati.
Kina bakal ketemu nggak mas..?",
"Yakin aja, ketemu..",
"Kalo nggak? gimana?",
"Usaha lagi sayang..",
"Iya mas.."
Aira baru saja tenang. Semalaman dia juga menangis memikirkan nasib menantunya yang kabur dalam keadaan hamil.
"Mom.., doain ya..
semoga Kina bisa ketemu...", ucap Javas kepada sang mommy. Namun, Aira sama sekali tidak mau menggubris ucapan Javas. Mommy Aira justru langsung masuk ke dalam rumahnya.
"Rasain.., kena murkanya mommy kan? Makanya kalo punya pikiran tuh dipake.., udah dikasih hati, minta jantung..", ucap Sharen yang ikut kesal kepada adiknya.
"Iya kak iya..Javas udah ngaku salah..udah...",
"Ngaku salah, tapi salahnya dilakuin terus. Sekarang orangnya udah pergi, baru nyesel. Kemana aja selama ini? nggak sadar? kamu pingsan selama ini..?",
"Javas terima, mau dibully mau dimaki kayak apa juga. Yang penting minta doanya biar Kina cepet ketemu..",
"Kasian Kina..padahal dia pasti lagi ngidam-ngidamnya. Pengen dibeliin ini itu, pengen makan ini itu, tapi dia malah sendirian. Seharusnya ada suami, malah suaminya pedulinya sama perempuan lain..",
Dada Javas semakin bergemuruh mendengarkan ucapan kakaknya. Rasa sesalnya muncul kembali. Benar apa yang dikatakan Sharen. Seharusnya saat ini Javas mendampingi Kina yang sedang hamil muda.
"Sha..udah ya. Kasian Javas.., bukannya kamu ngasih dukungan, tapi malah kamu ikut-ikutan kayak mommy...",
"Biarin aja Dad..
Kakak juga mau nyari.., tapi kalo ketemu. Jangan harap Sharen mau bilang. Sha umpetin aja udah, sekalian...",
"Kakak kenapa sih.., kayaknya dendam banget sama Javas..",
"Kamu lupa ya Vas..? kamu bilang sama kakak kalo nikahin Kina karena kakak. Karena kamu punya kakak perempuan, kamu bayangin kakak ini ada diposisi Kina. Kalo dulu kamu nikahin karena kasian, sekarang rasa kasian kamu udah ilang? gitu ?",
__ADS_1
"Iya udah ilang, karena Javas cinta sama dia kak..makanya kakak nikah, biar tau rasanya.., gimana kehilangan pasangan...",
"Kamu mau bilang kalo kakak ini perawan tua, gitu maksudnya..?"
"Astaga, salah ngomong..",
"Udah-udah..kenapa kalian malah berantem sih..? Vas, kamu niat nyari Kina nggak? kalo jadi, ayo..., sebelum Daddy berubah pikiran..",
"Iya Dad..ayo..",
Javas masih beruntung, Daddy nya saat ini berada dipihaknya. Bayangkan, jika Daddy ada dipihak Kina, apa tidak double hancur hidup Javas nantinya?
Berbanding terbalik dengan suaminya, Mommy justru berada di kubu Kina. Ikut dibelakangnya, ada Sharen dan juga si kecil Jaz. Mereka mendukung Kina, bukan berarti menginginkan Kina untuk hilang. Tapi, mereka sangat puas melihat Javas yang diberikan shock therapy oleh Kina seperti ini.
"Paspor Kina, masih apa dibawa?", tanya Daddy ketika mereka berada di dalam mobil.
"Ada di kamar Dad..",
"Berarti Istri kamu masih di Indonesia..",
"Iya dad...",
"Sebenarnya kamu enak punya istri kayak Kina Vas.., nggak kayak Daddy..",
"Enak? maksudnya Daddy..?", tanya Javas memicingkan matanya, karena merasa aneh dengan pernyataan Daddynya.
"Jangan mikir macem-macem. Daddy ini udah punya Mommy.., Kina itu menantu Dad.., anak Dad juga.."
"Itu Dad tadi bilangnya.., nggak kayak Daddy...",
"Maksudnya, Kina udah ngizinin kamu buat ketemu sama Mine, harusnya kamu nggak menyalahgunakan kesempatan yang dia kasih. Kamu keblabasan...,
Coba kalo istri kamu tipenya kayak Mommy.., nggak bakalan dia punya hati seluas Kina.., mommy pasti udah ngelarang keras Dad...
Harusnya kamu itu sadar diri..., bukan malah seenaknya sendiri...",
"Nomor Kina nggak bisa dihubungi..?",
"Nggak bisa...",
"Udah ganti nomor pasti...",
Seperti polisi, Daddy dan Javas langsung olah TKP saat mereka sampai di rumah Kinara. Sialnya, rumah tetangga Kina tidak ada yang dipasang CCTV, hanya kos-kosan milik kina yang dilengkapi dengan kamera CCTV. Itupun, tidak ada yang mengarah ke rumah Kina.
"Tante nggak inget sama sekali sama plat nomor mobil yang jemput Kina ya Tan?",
"Nggak mas..Tante nggak ingat sama sekali...",
"Huft...", Javas menarik nafasnya panjang.
"Terus gimana ini Dad? nggak ada petunjuk apa-apa..",
"Saudara, teman-teman Kina nggak ada yang tau, Bu..?",
"Nggak tau pak, saya sudah coba hubungi mereka semua..",
Javas semakin frustasi, satu pun tidak ada petunjuk untuk membuka jalan dimana sebenarnya istrinya berada.
"Kita ke makam...",
"Makam? ngapain Dad..?",
Rendra menggelengkan kepalanya. Javas ini sepertinya tidak seperti dirinya yang mempunyai seribu satu akal. Javas tidak bodoh, hanya saja mungkin pikirannya lagi kalut.
"Nenek Kina baru aja meninggal. Pasti istri kamu kesana..",
__ADS_1
"Dari mana Daddy tau?",
"Ini perkiraan Daddy aja.., kita buktiin.., bener nggak istri kamu ke sana..",
"Gitu ya Dad..",
Rendra kembali menggeleng. Ya, memang dalam situasi seperti ini Javas pasti tidak bisa berpikir dengan jernih.
"Dad.., dulu mommy juga kabur waktu hamil kak Sha..?",
"Iya.. mommy kabur jauh ke Kalimantan sana...",
Javas menelan ludahnya.
"Mommy nyaris keguguran waktu itu, untuk aja Tante Fafa cepet bawa mommy ke rumah sakit..",
Javas menegang.
"Dad.., gimana kalo Kina....",
"Mommy sama Kina itu beda.., Kina itu dokter.., dia juga pasti berpikir seribu kali kalo mau naik pesawat dalam keadaan hamil muda kayak gini. Hamilnya berapa Minggu?",
"Ya Javas nggak tau Dad.., kan Javas juga baru tau..",
"Pernah ditolak nggak? Kina halangan terakhirnya kapan?",
"Sebulan yang lalu kayaknya Dad..",
"Hmm..berarti mungkin baru 4 mingguan...",
Javas dan Daddy tiba di pemakaman. Javas mengikuti langkah Daddy di belakang.
"Pak.., kemarin ada perempuan muda, cantik.., yang ke makam? sekitar pagi mungkin sekitar jam 7..",
"Yang datang ke sini banyak pak..",
"Vas.., coba kamu tunjukin fotonya Kina..",
Javas memberikan ponsel yang menunjukkan potret istrinya.
"Oh..mbak Kina...",
"Bapak kenal..?",
"Baru kemarin kenalan mas.., kemarin dia kesini. Terus nitip makam ibu sama neneknya.., saya dikasih duit buat ngerawat malam, satu tahun kedepan..",
"Setahun..?",
"Iya katanya mbak Kina mau pergi..,
setahun lagi baru balik kesini..",
Javas sudah tidak mampu berkata-kata. Apa maksudnya satu tahun lagi? Kina pergi selama itu? Baru satu hari saja, Javas sudah seperti orang gila, dan ini setahun? Mati saja Vas.
"Menantu saya dianter siapa? Bapak tahu..?",
"Nggak tau pak, kebetulan saya baru bersih-bersih di dalam. Terus mbak Kina nyamperin..",
Tidak juga mendapatkan petunjuk, Javas dan Dad akhirnya kembali ke mobil sambil berpikir.
"Setahun Dad..coba Dad bayangin, Javas gimana?",
"Tenang son, tenang..ini kan kita lagi usaha nyari...",
"Kalo nggak ketemu gimana Dad? Javas harus ketemu dia setelah anak Javas lahir? Kina lahiran nggak ditemenin Javas gitu Dad..?",
__ADS_1
Sementara itu, perempuan cantik itu kini sedang menikmati sarapannya yang sedikit tertunda karena dia mengalami mual karena kehamilannya. Untung saja, Kina masih bisa menikmati makannya.
"Jangan rewel lagi ya sayang..? baik-baik di dalam sana...", ucapnya pada bayinya.