
"Mas cuma di kantor selama 15 menit. Jadi, kurang dari satu jam, mas udah pulang lagi ke rumah. Nggak apa-apa kalo ditinggal sendiri?",
"Nggak apa-apa, kan ada maid yang nemenin mas..",
"Maaf ya.., mas pergi sekarang sayang..", katanya dengan mengecup kening Aira sebagai salam perpisahan sementara.
Rumah besarnya sudah terbiasa sepi, jika kedua putri dan putranya sedang tidak berada di rumah. Hanya aktivitas pekerja di rumahnya yang terdengar melakukan tugasnya masing-masing.
Besok sore, Aira dijadwalkan akan menjalani perawatan di Rumah Sakit sebagai persiapan kelahiran putranya melalui operasi Caesar. Jalan lahir yang dipilih karena usia Aira yang tidak lagi muda yang akan beresiko jika memilih kelahiran secara normal. Juga, karena riwayat kesehatannya yang beberapa bulan menurun karena kehamilannya. Namun, meski begitu, dokter yang menanganinya mengatakan jika bayi yang berada di dalam kandungannya dalam keadaan sehat.
"Gimana nyonya, ada yang kurang?",
"Nggak bik.., kayaknya semuanya udah lengkap..",
"Saya bawa ke bawah dulu ya non tasnya..",
"Berarti ada 3 ya Bik.., 2 koper sama tas kecil itu. Nanti langsung masukkan ke mobil aja ya..",
"Baik nyonya..",
"Nanti minta tolong maid yang lain buat pasang sprei buat kasurnya. Pake sprei yang itu ya..", tunjuknya pada sprei yang bergambar astoronot luar angkasa, yang sudah dia persiapkan.
"Baik nyonya..",
"Makasih ya Bik.., saya mau ke kamar sebelah dulu..",
"Iya nyonya..",
Aira masuk ke dalam kamar utamanya. Dia meraih ponselnya, mencoba menghubungi putra bungsunya untuk menanyakan keadaannya.
"Vas.., loh ada dipantai?",
"Iya mom.., pemotretannya di resort.., punya Dad..",
"Kak Sharen gimana? aman kan?",
"Dijagain dua body guard, dijamin aman..",
"Mana coba.., mom pengen liat Sharen..",
Javas mengarahkan ponselnya ke posisi Sharen berada. Kakaknya sedang berpose untuk mengambil gambar. Sharen sedang mengenakan pakaian casual salah satu produk lokal yang sedang digandrungi oleh anak muda sekarang.
"Alhamdulillah.., mom kira kakak kamu pakai bikini..",
"Nggak mungkin lah mom.., bisa-bisa diusir dari rumah sama Dad..",
"Takutnya menyalahi perjanjian Vas..",
"Nggak mom sayang...",
"Kak Bian mana?",
"Ke toilet mom..",
__ADS_1
"Pokoknya hati-hati ya.., tadi mom WhatsApp kak Sha, tapi belum dibaca. Mom khawatir, makanya langsung video call kamu..",
"Iya.., hape kak Sha dipegang sama Kak Bian.., kak Sha lagi pemotretan. Mom lagi di kamar? Dad mana?",
"Dad keluar sebentar, ada kerjaan di kantor. Sebentar lagi juga pulang..",
"Dad bohong, katanya mau jagain mom?",
"Dad udah jagain mom.., tapi memang ada kerjaan urgent.., butuh tanda tangan Dad, dan berkasnya nggak bisa dikirim ke rumah karena ini surat perjanjian sama klien. Dad yang harus datang langsung ke kantor. Dad udah perjalanan pulang kok..",
"Pokoknya kalo ada apa-apa, langsung kabari Javas ya Mom..",
"Iya sayang.., pasti..,
Udah dulu ya.., nanti mom video call lagi. Jangan lupa makan siang ya sayang.., ingetin kak Sha, kak Bian juga..",
"Iya mom.., i love you..",
"I love you too, jagoan mommy..",
Javas memang seperi Daddynya. Dia selalu memperlakukan Aira dengan sangat manis. Bagi Javas, Aira adalah cinta pertamanya. Tidak ada yang bisa menggantikan posisi mommy nya, sekalipun itu Yasmine. Keduanya tidak bisa digantikan, namun Javas bisa menyayangi mereka sesuai porsinya.
Merasa ada sesuatu yang kurang, Aira memutuskan untuk kembali masuk kedalam kamar bayi. Benar seperti feelingnya, ternyata Aira lupa untuk memasukkan selimut bayi yang beberapa hari lalu baru dia beli.
"Yah.., tasnya udah ditaruh dimobil semua...",
Aira hendak menggunakan lift untuk menuju lantai dasar.
"Oh iya.., liftnya lagi problem, ini kapan teknisinya dateng sih..", keluhnya.
Dengan sangat hati-hati, Aira menuruni satu persatu anak tangga. Berpegang erat pada pegangan.
"Loh kok ini ada nodanya sih, padahal kemarin udah di cuci..", ucapnya dengan mengusap-usap selimut yang dipegangnya.
Malang tidak dapat di tolak mujur tidak dapat di raih. Aira kehilangan keseimbangan, salah satu kakinya melesat saat hendak berpijak. Aira terjatuh. Kejadiaan naas itu disaksikan langsung oleh suaminya yang baru saja tiba di rumah bersama Vina.
"Sayaaaaaaaaaaaangggggggg!!!!",
"Ya Allah kak Aira..!!!",
Rendra lari sekuat tenaga untuk mencoba menolong istrinya. Namun, sayangnya tubuh Aira sudah lebih dahulu terjatuh. Aira langsung tidak sadarkan diri.
"Ra.., sayang...",
"Kak Rendra.., kak Aira..", ucap Vina lirih.
Tanpa berpikir panjang, Rendra langsung membopong istrinya keluar menuju ke dalam mobil. Aira dilarikan ke rumah sakit dalam keadaan dirinya yang mengalami pendarahan.
"Bertahan sayang....",
Rendra menciumi wajah sang istri yang terlibat pucat pasi.
"Pak.., cepet dikit nyetirnya..", ucap Vina pada sopir yang mengemudikan mobil.
__ADS_1
"Vin.., istri kakak Vin..",
"Tenang kak..,Kak Aira pasti baik-baik aja. Vina udah hubungin tim dokternya. Mereka udah siap-siap.., kita berdoa ya kak..",
Setibanya di Rumah Sakit, tim medis sudah menunggu kedatangan Aira. Mereka sudah menyiapkan brangkar, membawa Aira untuk segera ditangani oleh dokter.
"Pak Rendra tunggu di luar..",
"Dok..tapi itu istri saya..",
"Kami tau pak, tapi ini dalam keadaan darurat. Kami akan melakukan yang terbaik untuk istri dan juga anak dalam kandungannya..",
Melihat kondisi Aira, akhirnya operasi Caesar segera dilakukan untuk mengeluarkan bayi yang ada dalam kandungannya.
Rendra duduk dengan menekam kepalanya dengan menggunakan kedua tangannya. Kepalanya rasanya berat, diotaknya hanya ada Aira. Rendra memilih untuk menjadi Daddy terjahat di dunia. Dokter berkata jika kemungkinan besar bayinya tidak akan selamat dan Rendra mengiyakan.
"Lakukan cara apapun untuk menyelamatkan istri saya, meskipun anak saya yang akan menjadi taruhannya..",
Kata-kata yang tiga puluh menit yang lalu dia katakan kepada dokter sebagai bentuk rasa frustasinya. Yang ada dipikiran Rendra hanyalah nyawa istrinya. Anaknya, menjadi urusan belakang.
Vina sudah menghubungi seluruh keluarga Aira dan Rendra, termasuk kedua putra dan putrinya yang siang itu langsung terbang dari Bali.
"Vin.., istri kakak Vin..",
"Iya kita berdoa ya kak...",
"Kamu liat tadi kan? darah segitu banyaknya Vin keluar..., wajah istri kakak udah pucat. Kakak harus gimana? secepat ini kakak kehilangan Aira Vin..?",
"Kak Aira pasti kuat kak.., kak Aira perempuan hebat, Vina yakin...",
Dua jam berselang, akhirnya tim dokter yang menangani Aira keluar. Dokter tersebut membuka maskernya, mengelap peluhnya sebelum berbicara kepada Rendra.
"Gimana istri saya dok..?",
"Alhamdulillah anak anda selamat pak..",
"Alhamdulillah ya Allah..", jawab Rendra dengan mengusapkan kedua telapak tangannya ada wajahnya.
"Tapi.., ada hal yang harus saya sampaikan disini..",
"Istri saya selamat kan dok?",
"Ibu Aira mengalami pendarahan yang sangat hebat.. volume cairan di dalam tubuh sangat berkurang, Ibu Aira mengalami gagal ginjal yang diikuti dengan gangguan sirkulasi ke otak dan jantung. Suplai darah yang terganggu ke otak, mengakibatkan gangguan dan kerusakan saraf. Dengan berat hati kami sampaikan, istri anda mengalami koma..",
"Aira koma dok?",
"Iya pak.., ibu Aira akan segera kami pindah ke ruang ICU...",
Rendra hancur, dunianya seakan terhenti. Belahan hatinya kini sedang berjuang bertaruh nyawa untuk bertahan hidup. Rendra terpukul, dia kecewa pada dirinya sendiri yang tidak mampu menjaga istrinya.
"Kak.., bayinya belum di adzanin..",
Rendra tidak meresponnya, dia terus saja melihat dengan tatapan kosong .Kini, Aira 90% hidupnya kini ditopang oleh alat kesehatan.
__ADS_1
"Biar aku aja yang adzanin.., kamu temenin kak Rendra disini..", sahut Zein.
Sofia dan mama Widya menangis dengan saling berpelukan. Mereka tidak kuasa melihat Aira yang kini tidak berdaya. Menantu dan adiknya tercinta kini hanya diam. Hidup tapi mati, mati tetapi masih hidup.