Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )

Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )
Sama saja


__ADS_3

"Mau jalan-jalan kesana, atau mau balik ke dalam?",


"Balik aja Nath.."


Mereka berdua berbalik arah, berjalan ke arah resto.


"Masih pusing Sha?",


"Nggak sih, cuma agak lemes aja..",


"Ke rumah sakit aja ya, aku anterin..",


"Nggak perlu, aku baik-baik aja..",


"Ya udah..",


Mereka berdua menemui kedua orang tua Tama, yang sepertinya hendak pulang.


"Terima kasih ya om..",


"Sama-sama.., Om anterin Tante pulang dulu Nath, kasian biar istirahat di rumah..",


Papa Tama melihat ke arah Sharen dengan tersenyum. Sharen menganggukkan kepalanya ketika matanya beradu dengan mata papa Tama.


"Iya om, silahkan.."


"Tante balik ya Nath.., mbak Sharen.."


"Iya Tante.., hati-hati..",


Sharen sedikit membungkuk dan memeluk Mama Tama.


"Kamu Tam, mau balik juga..?",


"Iya lah, aku balik kerja..",


"Yah..ngapain buru-buru, kan udah aku izinin.."


"Iya makasih, tapi aku ke kantor bentar deh. Mau ngecek berkas yang tadi aku taruh di ruangannya Javas..",


"Oh.., oke kalo gitu..",


Sharen dan Nathan duduk di resto.


"Nggak apa-apa kan kalo kita disini dulu Sha..? aku mau ngecek kerjaan sebentar..",


"Oke nggak apa-apa..",


"Mau minum lagi? mau minum apa?",


"Apa aja.., yang penting hangat.."


"Oke.., aku bilang ke pelayannya. Tapi, nggak kopi ya.., kamu lagi kurang sehat..",


"Iya..apa aja terserah.."


Betapa bahagianya Nathan saat itu, kerja dengan ditemani oleh orang yang dia cintai selama ini. Sharen tidak banyak bicara, benar-benar definisi dari menemani. Sharen tahu jika Nathan sedang serius menerima pekerjaannya.


Justru, Nathan lah yang terlihat tidak bisa berkonsentrasi penuh dengan laptop dihadapannya. Matanya selalu mengarah pada Sharen yang berada di depannya. Padahal, tidak ada yang gadis itu lakukan.


"Bahkan diam pun, kamu terlihat sangat cantik Sha..",


"Nath..",


"Hmmmm...",


"Kabarnya Om sama Tante, gimana?",


"Baik Sha..",


"Mine..?",


"Hmmmmm..baik juga..",


"Mereka nggak ada niat pulang Nath?",


"Kayaknya belum Sha.., papa juga sekarang ngurus proyek Prime yang ada disana..",


"Hmmmm..gitu.."


"Kamu bosen nggak?


"Nggak.., kamu lanjutin kerjanya aja. Aku tunggu..",


Lama menunggu Nathan, Sharen ketiduran. Matanya terpejam, dengan posisi kepalanya yang dia letakkan di atas meja.


"Capek ya Sha..", lirih Nathan, dengan mengelus kepala Sharen dengan sapuan halus.


"Permisi pak, ini minumannya.."


"Shuuuut....


Udah taruh di meja situ aja mbak..",perintahnya kepada waitress untuk meletakkan minuman hangat di meja sebelah.


Nathan melepas pandangannya pada laptop. Dia mengamati wajah Sharen yang terlihat sangat polos ketika tidur. Tetap cantik.


"Gini aja aku seneng Sha, seharian ini kamu nemenin aku..", ucapnya dalam hati.


Muncul ide untuk mengabadikan moment tersebut menggunakan layar ponselnya.


Nathan buru-buru meletakkan ponselnya ketika melihat pergerakan dari Sharen. Gadis itu, membuka matanya.


"Nath..., aku ketiduran ya..",


"Huum.., mau bangunin tapi nggak tega. Pulang sekarang yuk.., takut kesorean..",


"Ayo.., tapi aku ke butik aja Nath..",


"Mau kerja lagi? kamu lagi nggak enak badan Sha.."


"Mau ngelanjutin bentar.., tadi aku belum sempet baca laporannya Nath.."


"Ya udah..,


kamu minum dulu gih.., abis itu kita pulang..",


Sharen menyeruput habis minuman jahe sereh hangat yang dipesan oleh Nathan. Rasanya, badannya ikut hangat seketika.


Sayangnya, ketika mereka hendak keluar menuju ke perkiran, hujan melanda. Tidak lebat, hanya saja jika nekat menerjangnya sudah pasti akan basah kuyup.


"Yah..hujan Sha..",


"Terus gimana Nath?"


"Aku minta payung dulu.. kamu tunggu sini ya.."


Nathan membawa satu buah payung yang dia minta dari salah satu pegawainya.


"Cuma ada satu Sha, yang lainnya dipake sama pengunjung.."


"Ya udah nggak apa-apa, satu buat berdua aja Nath. Yang penting nggak kehujanan.."


Nathan membuka payung, dan mereka berdiri berlindung dibawahnya.


Nathan merangkul Sharen ketika mereka berjalan di bawah guyuran hujan. Spontan, Sharen melihat tangan Nathan yang mendarat pada pundaknya. Nathan tidak meminta izin, Sharen pun sepertinya tidak protes dengan apa yang dilakukan oleh Nathan.

__ADS_1


Mereka berjalan berdampingan tanpa berjarak menuju ke parkiran mobil.


"Hati-hati Sha..", ucap Nathan ketika Sharen masuk ke dalam mobil miliknya.


"Haduh..basah.."


"Basah ya Nath..",


"Iya dikit doang Sha..",


"Tangan aku basah...", ucapnya dengan menyingkap lengan bajunya yang terlihat basah.


Nathan baru menyadari jika Sharen mengenakan gelang yang dia berikan.


"Kamu pake gelangnya?",


"Hehe iya.., lucu Nath..",


"Aku beliin gelang lagi, mau nggak? kita couple-an ya..",


"Hah..?


nggak ah, kayak anak pesantren nanti..",


"Hahah kamu bisa aja.., nggak ada yang ketinggalan kan Sha?"


"Nggak Nath..",


Mobil Nathan, melaju meninggalkan Queen Atria menuju butik milik Sharen.


"Nath, AC nya aku kecilin ya..,boleh?",


"Kenapa? dingin ya..",


"Iya..tiba-tiba dingin..",


"Mau pake jaket? tuh ada dibelakang Sha..",


"Nggak Nath, cukup dikecilin aja..",


"Kamu mau lanjutin tidur? nggak apa-apa, nanti aku bangunin kalo udah nyampe di butik..",


"Udah nggak ngantuk..",


Lancar saat berangkat, tapi berbeda dengan saat ini. Lalu lintas padat merayap, jalanan macet mungkin karena saat ini adalah jam pulang kerja. Sepertinya motor atau mobil tumpah dijalanan..",


"Yah, macet Nath..",


"Sabar ya..",


"Langsung pulang aja deh Nath..",


"Nggak jadi mampir dibutik..?"


"Nggak deh, nanti kemaleman.., kasian kamu juga..",


"Santai aja.., aku laki-laki Sha, mau jam berapapun pulang, aku bisa jaga diri.."


"Iya tau, tapi kamu pasti capek..",


"Nggak kok..",


Hampir dua jam menempuh perjalanan, dan akhirnya mereka tiba di rumah Sharen saat hari sudah petang.


"Nath, mau mampir dulu? solat magrib disini?",


"Aku turun aja, mau pamit sama om Rendra, abis itu langsung cabut..",


"Ya udah..yuk..",


"Assalamualaikum Dad.."


"Waalaikumsalam..."


"Maaf om, telat.. tadi jalanan macet.."


"Iya nggak apa-apa..,


gimana acaranya tadi Nath? lancar..?",


"Alhamdulillah lancar..


rame pengunjung om..",


"Alhamdulillah.., semoga berhasil.." tepuknya pada pundak Nathan.


"Nathan pamit pulang dulu ya om..",


"Iya hati-hati..jangan ngebut..",


"Beneran nggak mau solat disini aja?"


"Aku langsung aja Sha, masih keburu kok..",


"Ya udah kalo gitu..",


Tin...tin..


Nathan membunyikan klakson ketika mobilnya keluar dari halaman rumah.


Rasanya hari ini adalah salah satu moment terindah dalam hidupnya. Keinginannya untuk ditemani oleh Sharen saat pembukaan bisnisnya akhirnya terwujud.


Ekspresi wajah bahagia Nathan seketika berubah ketika layar ponselnya kembali berdering. Entah sudah panggilan keberapa, namun kali ini Nathan merespon dengan menjawab panggilan tersebut.


"Halo..",


"Akhirnya diangkat juga..,


Bisa kerumah kak?",


"Ada apa Lun?"


"Pengen ngobrol aja.., kakak seharian kemana aja sih?",


"Aku kerumah kamu sekarang...",


Nathan memutar balik, tujuannya sekarang ke rumah Luna. Sebenarnya sudah tahu maksud Luna memintanya ke rumah. Apalagi, kalo bukan untuk mengajaknya bertengkar. Pertanyaan yang ditanyakan kekasihnya barusan sudah sangat jelas.


Nathan sampai, dia menghampiri Luna yang duduk di bangku taman di depan rumahnya.


"Lun..",


"Udah sampe?


duduk kak..",


Nathan duduk disamping Luna.


Beberapa detik mereka diam, dan percakapan dimulai dari Luna yang langsung menanyakan hal yang dia sudah tanyakan tadi.


"Kakak seharian ini kemana? Chat, telepon, video call nggak ada satupun yang kakak respon..",


"Iya maaf ya..kakak sibuk...",


"Karena perempuan ini?", tanyanya. Luna menunjukkan potret laki-laki dan perempuan bak sepasang kekasih, berjalan di tengah hujan. Sepayung berdua, dan nampak jelas laki-laki itu memeluk si perempuan.

__ADS_1


Nathan diam, wajahnya tenang tanpa menunjukkan ekspresi kaget.


"Ini kakak kan? ini kalian kan?", tanyanya lagi.


Nathan mengangguk.


"Iya..itu kakak..


darimana kamu dapet?",


"Nggak penting.., kakak mau tau..


Luna nggak sengaja dapat ini dari IG story temen Luna. Kakak tau gimana caption-nya? Romantis..., sisakan cowok seperti ini, ya Allah...",


"Oh..",


"Sama kak Sharen?",


"Iya..",


"Seharian ini kalian pergi bareng..?",


"Iya..",


Nathan memang tidak membantah. Jawabannya juga terkesan pasrah, ah tidak. Cuek, tepatnya.


"Apa sih kurangnya Luna selama ini kak? Luna selalu nurut sama kak Nathan. Luna setia, nggak pernah macem-macem, selalu jadiin kak Nathan sebagai prioritas. Ini balasannya kak..?",


"Maaf Lun..",


"Kak Nathan berubah semenjak kak Nathan pergi ke Aussie, Luna kira kakak selingkuh disana, tapi ternyata kakak selingkuh sama kak Sharen..",


"Aku nggak selingkuh sama Sharen..?",


"Terus apa? udah ada buktinya kan? ",


"Sharen bukan perempuan seperti itu..",


"Queen Atria.., tempat itu punya kakak? bahkan nama tempatnya pun kakak tambahin nama depan kak Sharen. Seharusnya Luna tadi yang nemenin kakak, tapi..., kak Sharen yang ada disana. Sepenting apa? Seistimewa apa kak Sharen buat hidup kak Nathan..",


"Dia berharga Lun...",


Didepan kekasihnya, Nathan berani berkata seperti itu. Entah apa yang dipikirkan Nathan saat itu.


Luna mulai terisak. Nathan tidak tinggal diam, dia mencoba menenangkan, namun Luna menolaknya.


"Nggak usah sentuh...!!!", Luna berdiri dari duduknya.


"Lun...", Nathan beranjak dari duduknya.


"Kak Nathan brengsek.., Luna salah apa sama kakak? tega-teganya kakak ngelakuin ini. Selama ini Luna nggak masalah, kakak mau deket sama Kak Sharen, Luna nggak pernah protes. Karena Luna percaya sama kak Nathan. Luna sabar, bahkan Luna selalu ngalah kalo kakak lebih mentingin kak Sharen dibandingkan Luna. Ini kak balasannya? ",


"Kakak minta maaf..",


"Kayaknya, di hati kak Nathan, emang nggak pernah ada nama Luna. Sharen...Sharen...Sharen.... Luna muak denger nama itu...!!!!!!!!",


"Lun...!!!!!",


"Apa? bener kan? kak Nathan cuma mentingin dia aja... mau kejar dia? silahkan!!!!!",


"Kakak udah minta maaf ke kamu, jangan bawa orang lain di hubungan kita..",


"Siapa yang bawa orang lain? kakak kan yang mulai? Luna ini bukan prioritasnya kak Nathan..? Siapa? kak Sharen? dia prioritasnya? cantik, baik, pinter , kaya, populer, tapi sayang. Sukanya sama pacar orang..",


"Cukup Lun.., nggak usah bawa-bawa Sharen..",


"Kenapa? apa yang Luna omongin bener kan? kak Nathan nggak rela kalo Luna bilang kayak gitu?",


"Kakak minta maaf, udah...",


"Nggak semua masalah bisa diselesaiin dengan maaf..",


"Mau kamu apa?",


"Kita putus....!!!!",


"Oke...kalo itu mau kamu..",


"Luna minta putus pun, nggak ada usaha kakak buat cegah keinginan Luna. Emang ini kan kemauan kak Nathan? Ini semua gara-gara kak Sharen kan? Luna bilang gitu, tapi kakak nggak terima. Manipulatif...", ucapnya.


Plak...!!!


Luna menampar pipi Nathan.


"Kak Nathan brengsek...", Luna kembali meneteskan air matanya.


"Kak Nathan jahat...!!!",


Luna berlari meninggalkan Nathan yang hanya berdiri sambil memegangi pipinya yang merah.


Nathan, berjalan menuju ke mobilnya. Saat hendak membuka pintu mobilnya. Pundak Nathan ditepuk oleh seseorang. Saat berbalik badan.


"Awww.....",


Bian memukul Nathan dibagian perutnya.


"Itu balasan karena kamu udah buat Luna nangis..",


Tidak terima dengan perlakuan Bian, Nathan membalas dengan meninju Bian di daerah wajahnya.


Bugh.....


"Itu juga balasan, karena kamu udah buat Sharen nangis...",


Security yang di rumah Bian, menghampiri mereka berdua. Berusaha melerai, namun di cegah oleh Nathan.


"Ini urusan ku sama Bian, bapak nggak perlu ikut campur...",


Security itu akhirnya berdiri sedikit menjauh.


"Kamu apain Luna..?",


"Dia udah tau semuanya...",


"Brengsek kamu Nath..",


"Apa bedanya ? Kamu sama Gladys pun sahabat kan? tapi nyatanya? kalian tunangan, sebentar lagi nikah...",


"Kamu balas dendam Nath? ini tujuan kamu pacarin adikku?",


"Iya.., kamu pun udah tau dari awal kan? Kamu buat Sharen bahagia, aku pun akan melakukan hal yang sama ke Luna. Tapi, sayangnya kamu udah bikin Sharen sakit hati, dan aku pun sama. Luna sakit hati...",


"Keterlaluan kamu Nath..",


"Sama kayak kamu..,


Bertahun-tahun aku rela liat Sharen sama kamu, berharap kamu bisa buat bahagia. Tapi, ternyata nggak.., kamu malah selingkuh sama sepupunya sendiri, dibelakang dia. Perlu aku tunjukin buktinya ke dia? tapi kayaknya nggak perlu. Karena Sharen udah ikhlasin kamu buat kak Gladys..",


"Brengsek kamu Nath..",


"Udahlah Bi..kita tuh sama aja, nggak ada bedanya. Kita sama brengseknya.., ada yang perlu kamu omongin lagi? udah cukup segini aja berantemnya..?",


Bian menendang ban mobil milik Nathan, dan langsung meninggalkan Nathan.


"Brengsek...!!!",

__ADS_1


Nathan hanya tersenyum. Dia masuk ke dalam mobilnya lalu keluar dari halaman rumah.


__ADS_2