
Kinara selesai menyusui putranya. Kenyang, tapi tidak membuat Ze kembali tertidur. Ze justru mengajak Kinara untuk begadang. Tidak tahan, Kinara akhirnya terpaksa membangunkan suaminya.
"Mas..mas...", ucapnya sambil menggoyang-goyangkan tubuh Javas pelan.
Tidak perlu menunggu lama, karena Javas langsung merespon.
"Iya sayang..."
"Mas.., gantian dong, Ze udah selesai nyusu, tapi kayaknya nggak mau tidur lagi..."
"Hmmmm....,
taruh ditengah-tengah sini aja, jangan di box. Sini sayang, anak Papa...",
Kinara meletakkan bayi mereka diantara mereka berdua.
"Mas ajakin ngobrol Ze ya, Na tidur dulu...",
Tidak seperti biasanya memang, padahal istrinya itu selalu bersemangat untuk menjaga Ze, meskipun harus kehilangan waktu tidurnya.
"Kamu kenapa? Tumben-tumbenan..",
"Na capek...", ucapnya singkat. Kinara menjawab pertanyaan dengan memejamkan mata. Terlihat jelas memang raut wajah Kina yang lelah.
"Ya udah, bobok yang nyenyak ya..", Javas mengusap-ngusap kening istrinya, namun hawa panas langsung menyengat.
"Astaga sayang, kamu kok panas gini badannya..., kamu sakit..?",
"Na pusing mas...",
"Kenapa nggak bilang daritadi..?",
"Na butuh istirahat mas..",
"Ze mas kasih ke Surti dulu ya..."
"Nggak usah, Ze biar disini aja. Nanti kalo dia pengen nyusu, gimana?",
"Masih ada stok ASI kan?",
"Huum...",
Javas beranjak dari tidurnya. Dia langsung keluar, menuju ke kamar Ze. Surti memang tidur di kamar Ze, agar sewaktu-waktu saat Kina atau Javas membutuhkan, mereka tidak perlu repot-repot untuk pergi ke lantai dasar.
"Sur.., malam ini Ze sama kamu dulu ya..",
"Iya mas bos..., Ze rewel ya..?",
"Dia anteng, Mama nya lagi nggak enak badan..",
"Owalah, non Kina sakit..?",
"Kalo Ze haus, jangan lupa panasin ASI nya dulu ya. Udah tau caranya kayak gimana kan? awas aja nggak tau, saya pecat kamu sekarang juga..",
"Tau mas bos.., nggak usah khawatir.."
"Di kamar Ze ada CCTV, awas aja macem-macem.."
Padahal, sedari di kandungan, Ze juga sama saya mas bos, ucapnya dalam hati. Surti memang sekarang lebih berhati-hati berucap. Dia sudah diperingatkan oleh Maid yang lain bagaimana perangai Javas yang cenderung kejam jika perkataannya tidak dipatuhi.
Javas masuk ke dalam kamar, dan langsung kembali memeriksa keadaan istri tercintanya.
"Istri mas sakit..? Kenapa nggak bilang?", ucapnya mencium kening Kinara yang dibalas dengan sebuah pelukan hangat dari istrinya.
"Kina pusing mas..",
"Mas ambilin obat ya..?",
"Nggak usah, Na tadi udah minum..",
"Terus gimana..?",
"Ya udah, ayo tidur..", jawabnya. Kinara masih memeluk suaminya dengan erat.
Sepertinya, malam ini Kinara sedang ingin dimanja oleh Javas. Mungkin, marahnya sudah 100% hilang.
__ADS_1
"Kalo besok masih panas kayak gini, kita ke rumah sakit ya..",
"Dokternya aja yang kesini, boleh nggak mas..?",
"Iya.., besok dipanggilin dokter ya..",
"Na.., bisa minta tolong suhu AC nya dibesarin? Na kedinginan..."
"Iya sayang..., bentar.."
Menyetel suhu ruangan dari 18° menjadi 25°. Seketika Javas menjadi kegerahan, tapi demi istrinya, Javas rela.
"Tidur ya sayang.., atau mau diambilin sesuatu..?",
"Nggak usah, Na pengen tidur mas..",
"Dikompres, mau..?",
"Nggak usah,
Na maunya dipeluk aja..",
"Ya udah, malam ini tidurnya dipeluk sama Papanya Ze ya..",
Beberapa kali terbangun untuk mengecek suhu tubuh Kinara, tapi tidak ada yang berubah, masih panas. Javas khawatir, tapi positifnya Kinara masih bisa terlelap tidur.
Malam telah berganti pagi, Javas bangun dengan melepaskan tangan istrinya yang melingkar di tubuhnya.
"Kina sakit Vas..?", tanya mommy ketika melihat Javas keluar dari kamarnya.
"Badannya panas banget mom..",
"Mau ke rumah sakit..?",
"Javas panggilin dokter aja deh...",
"Boleh mommy masuk..?",
"Nanti aja ya, Kina masih tidur mom...",
"Ya udah,
"Bisa minta tolong Maid buatin bubur nasi nggak mom, buat Na? Javas mau ngecek Ze dulu..",
"Nggak usah kamu temenin Na aja, Ze baru aja tidur, di udah mandi..udah nyusu..",
"Syukur deh kalo gitu..",
"Mommy bilang ke Bibik dulu, biar dibuatin bubur, kalo udah nanti biar anter ke kamar. Kamu mau sekalian diambilin sarapan nggak?",
"Boleh mom, roti aja sama kopi susu.."
"Ya udah, dijagain yang bener istrinya..",
Kinara hanya mampu menghabiskan separuh dari porsi yang dibuatkan untuknya. Kina mengaku jika mulutnya terasa pahit, dan perutnya terasa mual. Tidak ingin memaksa, yang penting ada asupan yang masuk ke dalam tubuhnya.
"Sebentar lagi dokter dateng, sabar ya sayang..",
Kinara mengangguk. Tangannya sedari tadi menggenggam erat tangan Javas.
Dokter keluarga datang untuk memeriksa istrinya. Mommy, Dad, Sharen dan Jaz ikut masuk ke dalam kamar, untuk melihat keadaan Kinara.
"Gimana dok istri saya..?",
"Kemungkinan thypus, ini sudah saya ambil sample darahnya untuk memastikan.
Di opname saja, gimana mas Javas..?",
"Ya, udah nggak apa-apa kalo emang kayak gitu.
Mau ya Na..?",
"Infus di rumah aja mas..kasian Ze kalo Na tinggal..."
"Na.., jangan pikirin Ze, ada mommy, Daddy, kak Sha..Jaz, ada Surti, ada maid juga disini yang bisa jagain Ze. Opname aja ya...",
__ADS_1
"Infus aja mom...",
"Hei sayang, dengerin mas..
Semakin cepat kamu sembuh, semakin cepet kamu bisa ketemu Ze. Kalo kamu sakit kayak gini, mas juga larang Ze ketemu sama kamu, kasian dia...,
Mau ya..", ucap Javas yang membujuk istrinya untuk dirawat di rumah sakit.
"Ze gimana mas..?",
"Ze di rumah, dijagain sama mommy.., ada banyak orang disini. Kamu opname aja ya..?",
Kinara mengangguk setuju.
"Kalian langsung ke RS aja, keperluan kalian, nanti biar dianter Mamang ke sana..",
"Makasih mom..",
Javas membopong istrinya, masuk ke dalam mobil. Javas terlihat sangat siaga merawat dan menjaga Kinara yang lemah tidak berdaya.
"Nanti video call mommy atau orang rumah ya mas.., Kina pengen liat Ze..",
"Iya sayang.., kamu istirahat dulu..",
Hasil lab sudah keluar, dan benar dugaan dokter, jika Kinara memang sakit thypus.
Terhitung, sudah 2 hari Kinara dirawat di rumah sakit. Selama itu pula Javas setia mendampingi dan merawat istrinya dengan sangat telaten. Javas terlihat benar-benar khawatir dengan keadaan istrinya. Mau tahu perubahan Kinara selama sakit? Dia sangat manja terhadap suaminya.
Kinara memandangi suaminya yang duduk didekatnya, sambil memainkan ponsel. Bukan game, melainkan memeriksa laporan mengenai pekerjaannya. Sadar diperhatikan, Javas beralih mengalihkan pandangannya dari layar ponsel ke arah istrinya. Kini, sepasang mata mereka saling beradu.
"Kenapa? daritadi liatin mas terus. Kamu butuh sesuatu? mau dibeliin apa? pengen makan apa sayang? bilang aja..",
Kinara menggeleng.
Javas yang gemes, mencubit kecil pipi istrinya.
"Kenapa sih..?",
Bukan sebuah jawaban, justru sebuah genggaman erat dari tangan Kinara yang Javas terima.
"Kenapa sayang? jangan buat mas takut. Kamu baik-baik aja kan?",
"Kina minta maaf...", ucapnya. Sudut matanya mengeluarkan air, Kinara menangis.
"Loh, kenapa? Kamu merasa ngerepotin mas? nggak sama sekali sayang..., ini kan udah kewajiban mas buat rawat kamu...",
"Maaf karena sempat meninggalkan mas.., Kina udah berniat pergi dari hidup mas Javas..",
"Kenapa bahas itu lagi sih..? Udah ya, lupain aja. Mas yang salah...",
"Kina juga salah mas..",
"Kenapa tiba-tiba kamu kayak gini sih...?",
"Kina udah baca surat Mine, yang mas simpen..",
"Kamu baca...?",
Kinara mengangguk.
"Mungkin, waktu itu mas pengen ngomong sama dia, tapi mas nggak tega y? Tapi, sebenarnya Mine udah tau dan memilih pura-pura nggak tau. Mas Javas salah, Kina salah, tapi mbak Mine juga salah karena nggak bicara terus terang. Tapi, mbak Mine udah meninggal kan mas? biarkan dia tenang disana...",
"Kamu sudah tau semuanya? jadi, kamu udah maafin mas kan..?",
Kinara mengangguk. Dia membuka kedua tangannya lebar, dan Javas langsung memeluknya.
"Udah maafin mas kan?",
"Udah...",
"Ajarkan mas untuk jadi suami yang baik buat kamu, papa yang baik buat Ze, suami dan Papa yang bertanggung jawab buat kalian. Kamu cepet sembuh ya, biar kita bisa kumpul lagi sama Ze...",
Kinara mengangguk dalam pelukan suaminya.
"Iya mas...",
__ADS_1
"I love you, sayang..",
"I love you, too mas..."