
Sharen nampak gelisah. Tahu dan merasakan jika suaminya sudah berada di Singapore, saat ini mereka berada di gedung yang sama. Sharen ingin sekali bertemu, tapi dia masih takut dengan kemarahan Nathan. Sharen trauma dengan Nathan yang tiba-tiba berubah dingin kepadanya.
"Sha kangen mas, tapi aku takut kamu marah-marah lagi..., kamu bahkan belum tau kalo aku lagi hamil, anak kamu...anak kita...",
Sharen memang labil, tapi mentalnya sudah perlahan kembali. Sharen tidak serapuh saat berada di Rumah sakit.
Nathan sampai di kamarnya. Tubuhnya rasanya tidak karuan. Padahal, sebelumnya dia merasa sehat. Tapi, saat turun dari pesawat kondisinya berbeda. Memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu, sambil memikirkan bagaimana cara untuk bertemu istrinya. Nathan sadar, bukan perkara mudah untuk mendapatkan maaf dari sang istri. Apalagi, mendapatkan kembali kepercayaan dari keluarga Sharen, terutama Daddy. Tapi, Nathan akan terus berusaha dan tidak akan pernah menyerah. Malam itu, Nathan memutuskan untuk tidur lebih cepat.
Nathan sudah menyiapkan mentalnya dari awal. Ini tidak mudah, apalagi kini dirinya dalam posisi berseberangan dengan Ayah mertuanya. Tapi, Nathan tidak akan pernah menyerah.
Pagi itu, Nathan bangun, namun drama kembali terjadi. Rasanya mual, isi di dalam perutnya minta segera untuk dikeluarkan. Nathan muntah, dan kembali membuat tubuhnya lemas. Nathan sepertinya memang mengalami morning sickness, dan ini membuatnya tersiksa sekaligus bingung karena dia memang belum tau tentang kehamilan istrinya.
"Kenapa badanku rasanya nggak karuan gini?", keluhnya.
Alih-alih berusaha untuk menemui istri dan keluarganya, Nathan justru harus direpotkan dengan keadaan tubuhnya. Rasanya lemas, dan hanya bisa tergolek lemah di atas tempat tidurnya. Dia sampai menikmati sarapan paginya hanya di dalam kamar. Dia mengurungkan niat untuk mencari keberadaan Sharen di hotel ini, menunggu keadaan badannya membaik.
"Dad.., aman kan..?", tanya Mommy saat mereka turun ke lantai bawah.
"Kita bukan buronan sayang, santai aja. Kalopun ketemu Nathan, ya udah..., mau diapain?"
"Mommy kesal sama dia..",
"Ya udah, lampiasin aja nanti kalo ketemu...",
"Kapan Sharen dijemput sama Javas..?",
"Habis dari airport, Javas langsung ke sini mas. Paling siang menjelang sore..",
"Langsung pindah..?",
"Iya..., lebih cepat lebih baik. Biar Sha juga lebih bebas..",
"Ya sebenarnya percuma, pindah hotel tapi jaraknya sekilo.., tapi gimana.., Sharen pengennya gitu..",
"Kalo jauh-jauh juga kasian mereka mas, Javas jadi jagain dua ibu hamil, satu batita..., repot dia..",
"Ada Tama sayang..",
"Ya mas Tama jagain Sharen.., ngerepotin. Lagian nggak pantes juga..",
"Ya maksudnya paling nggak Tama kan bisa bantuin...",
"Iya mas..",
Mommy dan Daddy memang sedang keluar dari kamar. Pagi itu, mereka hendak pergi, bertemu dengan kolega lama Prime grup yang kebetulan juga sedang berada di Singapore.
Namun apa yang terjadi? Tiba-tiba ada suara laki-laki yang memanggil mereka.
"Mom..., Dad...",
Suara menantu mereka dari kejauhan. Daddy dan Mommy saling berpandangan, dan kompak menoleh ke belakang secara bersamaan.
"Nathan Dad, ucap Mommy..",
Nathan mendekati mereka dengan sedikit berlari.
"Dad.., Mom...."
Tanpa basa-basi, Mommy langsung mengayunkan tangannya, menampar pipi Nathan dengan cukup keras.
"Mom....", ucap Nathan pasrah.
"Kenapa? sakit..? nggak ada apa-apanya dibandingkan dengan rasa sakit yang dirasain Sharen...",
"Nathan tau Mom..,
Nathan minta maaf..",
"Masih berani kamu menampakkan diri di hadapan kami?", ucap Daddy dingin.
"Maafin Nathan..., Dad....,
Nathan khilaf...",
"Saya sudah berulang kali bilang sama kamu.., kembaliin Sharen kalo kamu udah nggak cinta..., tapi apa yang kamu lakuin Nath..? kamu malah ninggalin putri kesayangan kami..",
__ADS_1
"Nathan nggak tau harus mengucapkan apa, selain kata maaf Dad.., Nathan salah.., Nathan minta maaf..",
"Sharen hampir gila..karena kamu Nath.., dia sampe harus didampingi sama psikiater..,
suami macam apa kamu..? tega-teganya ninggalin istri yang udah berkorban buat kamu..?",
"Maaf Mom..maaf..
Nathan nggak tau harus gimana lagi Mom..
Nathan pengen ketemu Sharen...",
"Ketemu kata kamu? jangan harap Nath, Sharen bahkan udah nggak mau liat muka kamu lagi..",
"Mommy sama Daddy boleh hukum Nathan, mau pukul.., terserah Mom.., Dad..
Tapi tolong, jangan minta Sharen buat pisah sama Nathan...",
"Kami nggak pernah minta itu..., semua tergantung sama Sharen..
tapi, saya dan istri saya nggak akan pernah larang atau menghalangi kalo Sharen ternyata mau pisah sama kamu..
Laki-laki yang satu-satunya menjaga Sharen, justru dia menjadi laki-laki yang menyakiti anak saya...",
Daddy memang tidak melakukan kontak fisik atau sampai memukul Nathan. Tapi, liat bahasa yang beliau gunakan. Tidak menyebut dirinya sebagai "Daddy", tapi menggunakan kata ganti "saya". Tau artinya? ya bisa jadi Daddy sudah menganggap Nathan sebagai orang lain, bukan menantunya lagi. Ini bentuk kekecewaan yang Daddy rasakan.
"Nathan pengen ketemu Sharen Mom..Dad.., izinkan Nathan ketemu.., kami perlu bicara..",
"Sharen lagi menenangkan diri.., Mommy sama Daddy nggak mau sampai Sharen jadi calon orang gila lagi setelah ketemu sama kamu..", ucap Mommy.
Daddy dan Mommy langsung masuk ke dalam mobil, meninggalkan Nathan yang raut wajahnya menunjukkan sebuah penyesalan dan kekecewaan.
"Tumben mas nggak bag bug bag bug...", tanya Aira setelah mereka masuk ke dalam mobil.
"Mas nggak mau cucu kita jadi anak yatim...",
"Astagfirullah sampe segitunya..",
"Kamu nggak liat tadi? wajahnya Nathan pucet gitu..?",
"Dia takut sama mas mungkin..",
"Kata Farah, Nathan yang ngidam...", jawab Aira.
"Bagus kalo gitu..",
"Kasian sebenarnya sama Nathan. Pasti dia bingung kenapa dia bisa mendadak sakit..",
Rendra hanya diam. Dia memang tidak menunjukkan kemurkaannya. Memang hanya ada dua kemungkinan. Pertama, karena bagaimanapun juga Nathan adalah menantu laki-laki satu-satunya sekaligus orang yang dia percaya. Kesalahannya memang fatal, tapi Nathan tetaplah murid yang selalu dia banggakan. Kedua, karena saat ini Sharen sedang mengandung. Rendra hanya Sharen kembali shock ketika mendengar jika Daddy nya memukul atau menyakiti Nathan. Jadilah, Daddy menahan sesuatu yang seharusnya dia lakukan.
Nathan menunggu kembali kepulangan Daddy dan Mommy di lobby hotel. Nathan tidak akan menyerah begitu saja. Dia tau Sharen ada di hotel yang sama dengannya.
"Gimana kak? ada yang ketinggalan..?", tanya Javas kepada kakaknya. Sore ini mereka bersiap-siap untuk pindah ke hotel.
"Udah Vas...",
"Oke..ayo..,
Tam.., tolong kopernya kak Sha ya...",
"Oke bos..",
"Kinara sama Zee, mana Vas..?",
"Udah di hotel kak, kasian mereka capek kayaknya. Apalagi, Kina....",
"Maaf ya Vas, kamu jadi repot harus jemput kakak kesini...",
"Apa sih? kok nggomong gitu...?
Javas kan adiknya kakak. Laki-laki yang bertanggung jawab atas keselamatan kakak, setelah Daddy. Meskipun kakak punya suami, tapi dia kan udah ninggalin kakak kan?",
Sharen mengangguk.
"Udah nggak apa-apa..,
__ADS_1
ada Javas, Daddy, ada tuyul juga. Tuh, ada di kucluk juga yang bakalan jagain kakak..", ucap Javas dengan menunjuk Tama yang berada di depan mereka.
"Makasih Vas..",
Sharen berjalan dengan dipeluk oleh Javas. Jika di lihat dari kacamata umum, mereka justru seperti sepasang kekasih. Apalagi, kedua tangan mereka yang saling memeluk erat pinggang. Seperti sejoli yang sedang di mabuk cinta.
Nathan melihat jelas, perempuan cantik yang tidak jauh dari posisinya berada. Perempuan itu adalah istrinya. Ingin sekali berlari dan memeluk Sharn. Tapi, Nathan hanya mampu memandangnya, namun Sharen dan Javas sepertinya belum menyadari keberadaan Nathan yang duduk di lobby hotel.
Nathan berdiri dari duduknya, berjalan di belakang Sharen dengan berjarak. Sharen berdiri, mengamati Javas dan Tama yang sedang memasukkan kopernya ke dalam mobil.
Nathan segera menghampiri Sharen yang berdiri sendiri, lalu memeluknya. Sharen yang kaget, hampir saja berteriak. Tapi, batal setelah tau seseorang itu. Aromanya, kehangatannya, rasanya, semuanya masih sama.
"Mas Kangen sayang...", ucap Nathan.
Sharen tidak membalas pelukan Javas, dia hanya terpaku. Ingin sekali membalas ucapan Nathan, jika dia juga merasakan hal yang sama. Tapi, lagi-lagi rasa takutnya kembali muncul.
"Heh..apa-apaan...", ucap Javas yang menyadari Sharen dipeluk oleh laki-laki yang sialnya itu adalah suaminya. Orang yang paling kakaknya hindari.
Javas melepas paksa pelukan Nathan.
"Nggak usah sentuh kakak gue...",
"Dia istri aku Vas..",
"Istri? mana ada istri ditinggal suaminya tanpa kabar..?",
Sharen memandang Nathan dengan tatapan kosong. Melihat penampilan Nathan yang berbeda dengan sebelumnya. Nathan juga terlihat sangat pucat.
"Sayang.., kita perlu bicara..",
"Nggak perlu...", jawab Javas yang justru menjawabnya.
Tama berada disamping Nathan, berjaga-jaga siapa tau Javas hendak memukul kakak iparnya, seperti apa yang diceritakan Nathan kepadanya.
"Sha.., mas mohon..
mas minta maaf sayang...",
Sharen masih diam tanpa berekspresi.
"Mas tau mas udah nyakitin kamu..
mas minta maaf Sha.., mas khilaf...",
"Alah.., baru sadar Lu..",
Sharen mengeluarkan suaranya, tapi bukan sebuah kata tapi Sharen menangis.
"Kak.., udah ya..", dengan sigap, Javas segera memeluk kakaknya. Tubuh Javas membelakangi Nathan, menjadi penghalang antara Nathan dan Sharen.
"Kakak nggak mau ketemu Vas, dia jahat.., dia ninggalin kakak sendirian....", Sharen menangis dalam pelukan adiknya.
"Kakak nggak mau ketemu? Iya udah yuk..pergi aja..", Javas menuntun kakaknya masuk ke dalam mobil.
"Sayang.....", ucap Nathan yang hendak mendekat kembali. Namun, dicegah oleh Tama.
"Jangan dipaksa Nath..",
"Aku perlu ngobrol sama dia Tam..",
"Iya tau, tapi Sharen nggak mau..
please, kasih dia waktu..",
"Kalian mau kemana..? balik Indo..?",
"Nggak.., cuma pindah hotel...",
"Ayo Tam...!!!",ajak Javas di balik kaca mobil.
"Gue cabut dulu Nath, nanti gue kabarin...",
"Tolong jagain Sharen.., buat gue Tam..",
"Iya..tenang aja..",
__ADS_1
Nathan hanya bisa pasrah. Sharen menolak kehadirannya. Dan, sayangnya Nathan juga tidak bisa berbuat apa-apa.