
Sharen memegang pundak adiknya yang bergetar karena menangis. Javas yang menciumi tangan mommynya, berharap mukjizat datang dengan cepat.
"Vas...",
"Kenapa jadi kayak gini kak?",
"Hiks hiks kakak juga nggak tau..",
"Kapan mommy bangun kak?",
"Kakak nggak tau.., mungkin besok atau lusa..",
"Andai aja Javas nggak ikut ke Bali.., mommy pasti nggak akan kayak gini..",
"Maafin kakak..",
Aira diapit oleh kedua putra putrinya. Sharen yang terus menggenggam tangan Aira, dan Javas yang selalu berbicara dengan menciumi tangan Aira.
"Mom.., Javas janji.., kalo mom buka mata nanti, Javas sama kak Sha nggak akan berantem lagi. Javas sama kak Sha pasti kompak.., buka mata ya mom..
"Kita ke salon yuk mom..., kita sekalian ajak Oma sama bunda Fafa biar rame.., mom mau apa? cat rambut? mani pedi? atau massage mom..? ayo mom.., Sharen yang bayarin..",
"Mommy masih ngantuk? mau tidur mom? oke..nggak apa-apa.., Javas tungguin diluar sampe mommy bangun..",
"Mom boleh istirahat.., tapi jangan terlalu lama. Sha udah kangen sama mommy..",
Lebih dari dua jam keduanya berada di dalam. Mengajak ngobrol, Javas dan Sharen saling bercerita. Namun, sama sekali tidak ada respon dari Aira. Mommynya ternyata belum mau membuka matanya.
Javas masih bertahan di depan kamar tempat mommynya di rawat. Javas enggan meninggalkan mommynya. Dia bahkan rela tidur di kursi, demi menemani mommynya yang sedang berjuang di dalam sana.
"Dad..",sapa Sharen.
"Sha.., Dad mungkin suami terburuk di dunia. Tapi, Dad juga nggak pengen semuanya terjadi..",
"Itu adik Sharen, Dad..?",
"Iya.., dia mirip banget sama mommy...",
"Ganteng dad..",
"Wajahnya mirip sama Javas, waktu dia lahir..",
"Dad.., jangan ambil hari kata-kata Javas.., dia cuma frustasi karena keadaan mommy..",
"Dad memang salah Sha..",
__ADS_1
"Ini semua musibah..,semua udah kehendak yang di Atas..",
"Dunia dad, udah hilang sekarang.., dia berhenti berotasi..",
"Dad.., mom pasti sembuh. Kita cari dokter terbaik yang bisa mengobat Mommy..",
"Gimana sama dia Sha? ",
"Don't worry, Sharen yang akan merawatnya..",
"Kamu bisa..?",
"Harus bisa dan pasti bisa..",
"Kuliah kamu? karir kamu..?",
"Nanti bisa diatur Dad..",
Percayalah, kata motivasi yang diberikan Sharen untuk Daddnya adalah sebuah kata yang sebenarnya berat dia katakan dari mulutnya. Sharen juga terpukul, dia juga hancur. Namun, melihat kondisi saat ini, sepertinya bukan waktu untuk meratapi nasib. Ada Daddynya yang harus selalu diberikan semangat.
Dan, ada Javas yang harus diberikan pengertian jika semua yang terjadi dengan Mommynya adalah takdir dan musibah yang harus mereka jalani dan hadapi. Yang paling penting bagi Sharen sekarang adalah adik bayi nya yang belum diberikan nama oleh Daddy nya.
Kondisi Aira yang 90% hidupnya bergantung pada alat kesehatan, tidak memungkinkan dibawa untuk berobat dan menjalani perawatan di luar negeri. Hal yang rentan dilakukan, karena perjalanan panjang yang harus ditempuh. Indonesia - Jerman.
Satu koridor rumah sakit, beralih fungsi menjadi tempat singgah bagi keluarga yang ingin mengunjungi Aira. Secara khusus sengaja mengosongkan kamar untuk dijadikan kamar layaknya kamar hotel. Hanya keluarga Perdana dan Keluarga Wijaya yang bisa memasuki koridor tersebut.
Eljaz, begitu nama yang diberikan oleh Rendra kepada putra bungsunya. Nama yang sudah jauh-jauh hari Aira dan Rendra persiapkan. Hari ini bayi itu diperbolehkan untuk pulang ke rumah.
"Sha.., nanti ganti popok adeknya tiap 2 jam sekali.., jangan sampe popoknya penuh.., nanti Jaz nggak nyaman..",
"Iya bunda..",
"Bunda tiap hari kesini.., nanti bunda yang bantu..",
"Makasih Bun..",
"Kenapa Sha.., hiks hiks kenapa?",
"Bun.., kok nangis..?",
"Bunda nggak tega sama adik kamu.., seharusnya mommy kamu ada disini. Bunda lebih nggak tega sama kamu Sha..., huuuu..huuu.., kamu masih muda. Tapi, beban kamu udah berat kak..",
"Bun.., jangan nangis.., Sha bisa..oke..",
"Biar Eljaz di rumah Bunda aja ya.., biar Bunda yang ngerawat adik kamu.., Om Revan udah setuju.., Kai sama Rai juga seneng punya adik bayi...",
__ADS_1
"Nggak Bun.., Sha udah janji sama mommy, Sha yang akan ngerawat Eljaz.., bunda nggak usah khawatir.., disini banyak maid yang bantuin Sha..",
"Ngerawat bayi itu berat Sha.., nggak semudah yang kamu bayangin, apalagi kamu belum punya pengalaman sama sekali, biar sama Bunda aja ya?",
"Makasih Bun.., tapi Sharen bisa...",
"Kalo kamu butuh bantuan, kamu butuh sesuatu.., kamu langsung hubungi Bunda ya. Jangan sungkan..",
"Iya pasti..",
"Besok.., Tante Zara kesini, ngasih ASI buat Eljaz. Bunda udah bilang sama Daddy mu, dan dia setuju.., kasian kalo Jaz minum susu formula terus..",
"Iya Bun.., sekali lagi makasih..",
"Bunda pulang dulu..",
Terhitung selama tiga hari, Fafa dan Revan memang menginap di rumah Rendra untuk membantu Sharen mengasuh Jaz. Dan, sejauh ini memang Sharen terlihat telaten mengurus adiknya.
Sharen terpaksa mengambil cuti kuliah selama 2 semester demi mengasuh Eljaz. Dan, Javas sudah membatalkan kepergiannya ke UK untuk melanjutkan kuliahnya disana. Kedua anak Aira mengorbankan masa depannya, demi keluarganya.
Semenjak Aira dinyatakan koma, hubungan Javas dan Rendra memang menegang. Diawali, dengan Javas yang menganggap Daddynya tidak becus untuk melindungi Aira. Rendra pasrah, dia menerima apa yang dituduhkan putranya kepadanya.
Rendra berubah seperti orang linglung. Wajahnya kusut, badannya menyusut dan penampilannya sekarang acak-acakan. Dia hancur karena dunianya sudah terenggut. Hari-hari Rendra gelap.., karena langitnya selalu diselimuti kabut dan mendung. Rendra frustasi.
Waktu Javas banyak dia habiskan di rumah sakit untuk sekedar bermonolog dihadapan Aira. Mulutnya tak henti-hentinya berbicara, berharap Aira akan menyahut omongannya. Tapi, Mommy nya tetap saja diam seribu bahasa. Javas jarang pulang kerumah. Hampir setiap hari dia menginap di rumah sakit. Hal ini dia lakukan untuk mengobat kerinduannya terhadap sosok mommy nya tercinta.
"Jaz udah kenyang ya..,gumoh ya sayang..",
"Tante.., makasih ya..",
"Sama-sama Sha. Tante tiduran Eljaz dulu ya..",
"Iya Tante..",
Sharen mengamati Tante Zara menaruh Eljaz ke box bayinya.
"Nanti kalo mau ngasih Eljaz ASI, jangan lupa diangetin dulu ya Sha. Tante udah naruh beberapa stoknya di kulkas. Insya Allah, masih aman buat besok. Nah, besok pagi Tante kesini..buat nyusuin Jaz, sekalian Tante bawain stoknya lagi..",
"Sekali lagi, makasih Tante..",
"Iya.., kalo ada apa-apa.., bilang sama Tante..",
"Iya Tante..",
Sharen sudah seperti ibu muda yang merawat anaknya sendiri. Kondisi saat ini menuntutnya untuk menjadi dewasa, meskipun usianya baru menginjak 19 tahun. Namun, dihadapan mommynya Sharen sudah berjanji untuk merawat Eljaz dengan sebaik-baiknya. Sharen akan memberikan semua yang dia punya, apa yang dia bisa untuk Eljaz. Agar adiknya itu tidak kehilangan sosok seorang Ibu. Dan, Sharen akan mendidik Eljaz sebagaimana dia dididik oleh Mommy dan Daddynya.
__ADS_1
"Kamu bukan adik..tapi kamu anak kakak Jaz..",ucapnya menciumi pipi sang adik.
Bab selanjutnya masih Flashback, tapi mungkin akan membuat kalian gregetan. hihi..