
Kegalauan dan kesedihan Sharen sedikit terobati oleh hiburan Jaz. Pagi ini, adiknya sudah menghubunginya dengan mengajaknya video call. Jaz mengaku jika sangat rindu pada Sharen.
"Pulang dong kak..., Jaz pengen peluk kak Sha..",
"Nanti ya, tunggu kalo udah 3 bulan...",
"Kak Sha makan apa tadi..?",
"Makan sereal sama susu...",
"Kenyang..?",
"Kenyang dong...",
"Makanan kak Sha udah kayak bule dong..",
"Iya lah, kan tinggalnya disini...",
"Cepetan pulang dong..",
"Kamu aja yang kesini, gimana?",
"Belum boleh sama mommy.., kan Jaz sekolah..",
"Iya sih..,
Jaz udah dulu ya.., kakak mau sekolah dulu.., nanti disambung lagi ya..",
"Oke kak..hati-hati..",
Jangan pikir Sharen akan menyerah. Dia tetap menitipkan bekal untuk Dave, meskipun kemarin pemuda itu berkata jika masakannya tidak enak. Sharen menyiapkan bekal Sereal, potongan buah, serta 1 kotak jus kemasan.
"Titip buat Dave, bisa..?", ucapnya pada teman Dave.
"Dave..? hari ini dia libur..",
"Libur..?",
"Hmmm.., dia ada acara katanya..",
"Oh..gitu ya udah...",
Dengan berat hari, Sharen kembali membawa bekal yang sudah dia siapkan. Sharen memang sudah tidak pernah lagi mengirimkan pesan untuk Dave. Percuma, karena hanya dibaca tanpa dibalas.
Sama sekali tidak berkonsentrasi ketika gurunya menerangkan di depan. Sharen melihatnya, namun apa yang dibicarakan sama sekali tidak masuk dalam otaknya. Pikirannya dipenuhi oleh Dave, Dave dan Dave.
"Sharen...", bisik temannya.
"Sharen....",
"Sha...",
Sampai tiga kali memanggil dan Sharen baru menyadarinya.
"Apa..?",
"Kita clubbing yuk..",
"Hah..? clubbing..? nggak deh..",
"Kenapa sih..? dari kemarin nolak terus...",
"Ssssshuuutt.., dengerin missnya jelasin..",
Mana mungkin Sharen berani untuk pergi ke club' malam. Saat di Indonesia saja dia sampai harus di kawal kedua sepupu serta Tama. Sharen tidak akan pernah berani melanggar larangan Daddy nya.
Sharen kembali pulang. Hari ini tidak ada kesempatan lagi untuk bertemu dengan Dave. Rasa sakit hatinya kalah dengan rasa yang hatinya punyai.
"Icha..., ada apa ya..", lirihnya ketika ponselnya berdering dan ternyata dari calon istri Vano.
"Halo kak..",
__ADS_1
"Halo Cha..",
"Kak Sha masih sekolah..?",
"Iya.., ini baru aja jalan mau pulang..",
"Kak Sha nanti ada acara..?",
"Kapan..?",
"Nanti malem..",
"Nggak ada.., ada apa..?",
"Ikut barbeque-an yuk kak.., di kostan Icha. Rame loh disini.., anak-anak rantau dari Indo semua..",
"Ngrepotin nggak..?",
"Nggak lah.., mau?",
"Mau.., kakak nanti kesana..",
"Daripada kak Sharen pake mobil sendiri, mending Icha jemput aja. Kebetulan nanti sore, Icha belanja. Pulangnya naik taxi, sekalian mampir ke Apartement kak Sharen ya..",
"Terus, nanti aku pulangnya gimana Cha..?",
"Kan bisa naik Taxi, lebih aman. Nanti Icha pesenin deh kak..",
"Oke kalo gitu.., mau otw jam berapa?",
"Nggak tau sih kak, kan tergantung Icha belanjanya bentar atau nggak. Paling jam 5an sore Icha jemput ya..",
"Oke Cha, see you..",
Daripada ke clubbing, mending Sharen ikut acara Icha dan teman-temannya. Tapi, Sharen juga harus tetap izin pada Daddynya.
Sharen menenteng kotak bekal yang dia bawa kembali pulang. Melihatnya, menjadi teringat dengan Dave. Sharen sebenarnya sedih dan ingin mengakhiri semuanya. Biar dia dan Dave menjadi orang asing yang tak saling mengenal, tapi hatinya menolak keras.
"Kak.., Icha udah tunggu dibawah ya..",
Icha sudah menghubunginya. Meraih tas yang berisi dompet yang sudah disiapkannya tadi. Tak lupa, Sharen meraih jaket tebalnya.
Tidak sendiri, ternyata Icha bersama temannya yang duduk di samping sopir.
"Kak, ini temennya Icha..",
"Halo, Sharen...",
"Halo..., Kalela.., biasa dipanggil Lila..",
Keduanya saling melempar senyuman. Tidak jauh berbeda dengan penampilan Icha, Lila juga berhijab. Sepertinya half Indo-Arab, karena indentik dengan mata dan hidungnya yang mancung. Namanya, juga memang seperti keturunan Arab.
Kata Icha, mereka memang senang mengadakan acara seperti ini. Ya, sekedar menjalin silaturahmi dengan saudara sebangsa setanah air. Biar tidak merasa sendiri ketika berada di negara orang.
Acaranya diadakan di halaman belakang rumah yang ditinggali Icha dan teman-temannya. Oh.., rupanya tidak hanya perempuan. Tapi, sudah ada beberapa laki-laki yang sedang menyiapkan perlengkapan bakar membakar.
"Kak Sharen, mau ikut Icha ke kamar dulu..? Icha mau mandi..",
"Ya udah, boleh.., kakak kan nggak kenal mereka.., sekalian numpang Sholat ya Cha..",
"Iya kak, kita gabungnya abis sholat aja..",
Kamar Icha tidak terlalu besar, tapi ada kamar mandi dalam. Karena rapi jadi terlihat lumayan. Saat Icha sedang mandi, Sharen mengamati hiasan yang berada di kamar Icha. Pernak-pernik perempuan ada umunya. Tapi, mata Sharen tertuju pada foto yang memperlihatkan kedekatan Icha dan Vano. Meskipun Icha mungil, dan Vano yang memiliki postur tinggi, tapi mereka terlihat sangat serasi. Disampingnya, juga memperlihatkan keluarga Icha dan Vano yang berfoto bersama. Tampaknya, hubungan mereka memang sudah di tahap serius.
"Kak.., mau wudhu dulu..?",
"Iya..", ucapnya tidak melepaskan pandangannya pada foto yang dia lihat.
"Kenapa kak..?",
"Masih nggak nyangka aja, Vano bisa seserius ini sama perempuan..",
__ADS_1
"Oh...", senyum Icha.
Mereka menjalankan ibadah bersama. Setelah selesai, mereka menuju halaman belakang.
Ada sekitar 20 orang yang berkumpul disana. Meskipun jumlah laki-lakinya jika dihitung lebih dari jumlah perempuan.
"Cha.., siapa..?",
"Ini kakak ipar aku...", ucapnya saat ada teman laki-laki Icha, bertanya kepadanya.
Sharen hanya menganggukkan kepalanya. Dan dibalas dengan hal yang sama. Baguslah, hanya sekedar menyapa tanpa harus berkenalan.
Sharen yang sedang membantu menyiapkan minuman, merasa jika dirinya sedang diawasi oleh seseorang. Sepertinya memang bukan perasaanya saja, karena di pojok sana ada laki-laki yang sedang berdiri di dekat barbaque Gill, memandangnya dengan serius.
Namun, langsung membuang pandangan ketika Sharen melihat ke arahnya. Ya, dia Dave.
Sharen balik memandang Dave, namun pemuda itu enggan untuk melihatnya kembali.
"Liat apa sih kak...?", tanya Icha yang mengikuti arah pandangan mata Sharen.
"Oh..kak Dave sama Kak Lila...",
Dave memang sedang berdiri di dampingi Lila yang membantu mengolak-alik makanan.
"Mereka pacaran..?", tanya Sharen.
"Enggak.., kak Dave kan baru disini.., cuma Kak Lila emang naksir kak.., dia lagi usaha deketin kak Dave..",
"Dave ngasih respon..?",
"Iya.., mereka sering ngobrol bareng.., kak Dave kan tinggal di depan situ...
Kak Sharen, kenal sama kak Dave..?",
Sharen mengangguk.
"Dia pelayan di swalayan depan Apartementnya kakak..",
"Oh iya, Icha lupa..,
Tapi, kayaknya Kak Dave juga orang kaya kok kak.., nggak tau kenapa jauh-jauh ke Aussie tapi cuma jadi pelayan aja..",
Melihat Dave dan Lila yang mengobrol dengan sesekali tertawa bersama membuat Sharen cemburu. Beberapa kali dia mencuri pandangan ke arah Dave. Tapi, pemuda itu tampak bahagia dengan gadis di sampingnya.
Untung saja Icha baik, tak pernah sekalipun jauh dari Sharen. Saat makanpun dia berada di samping Sharen.
Bermain gitar hingga bernyanyi bersama. Mereka tampak senang menikmati malam yang semakin malam semakin dingin.
"Lho.., kak Sharen mana..", ucap Icha. Padahal, hanya ditinggal sebentar ke kamar untuk mengambil power bank, karena hapenya low bat. Vano sudah rewel ingin meneleponnya.
Icha buru-buru keluar rumah untuk mencari keberadaan Sharen. Sekilas melihat Icha panik, Dave meninggalkan tempat duduknya.
"Mau kemana kak..?",
"Bentar ke toilet..",
Dave menyusul Icha.
"Duh.., kak Sharen, kenapa pergi tapi nggak bilang-bilang sih.., mana hape aku lowbat...",
"Kenapa Cha..?",
"Kak Sharen tuh kak, pulang jalan kaki.., mana udah malem...",
Dave masih melihat Sha, meskipun sudah menjauh.
" Udah tau malem, tapi jalan sendirian, bikin orang khawatir aja.., dia nggak pamit? ",
"Nggak kak..",
"Ya udah, kamu balik aja ke dalam. Biar aku yang kejar dia...",
__ADS_1
"Makasih ya kak..",