Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )

Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )
Boy or Girl?


__ADS_3

Semakin hari, perut Kinara semakin membesar. Bulan ini, usia nya sudah memasuki 7 bulan. Setiap kali periksa, dia selalu memberikan hasil foto USG nya kepada ibu mertuanya. Termasuk menberitahukan jenis kelamin anaknya. Apa itu? tunggu 1 bab lagi ya. Hehe.


Tidak pernah sekalipun dikunjungi oleh orang tua atau mertuanya. Mbak Surti juga tidak pernah melihat Kinara berkomunikasi dengan suaminya. Alhasil, membuat bertanya-tanya mbak Surti yang orangnya polos tapi sangat peduli terhadap majikannya.


"Mbak Kina.., kok nggak pernah ada yang kesini mbak? Orang tua, mertua atau saudara..?",


"Lah yang tiap hari kesini kan keluarga saya mbak.."


"Orang tua dimana?",


"Ibu saya udah meninggal...bapak sibuk sama istri barunya .",


"Mertua?"


"Ada...",


"Ibu mertua masih ada?",


"Ada..",


"Kok nggak pernah kesini..?",


"Ibu sama bapak mertua sibuk mbak.., jadi nggak sempet..",


"Jangan-jangan mbak Kina nikahnya nggak direstui?",


"Astagfirullah.., nggak dong mbak.., Alhamdulillah ibu sama bapak mertua baik banget. Meskipun saya nggak ada, tapi tetep ngadain acara pengajian 4 bulanan..",


"Kenapa mbak Kina nggak dateng?",


"Yang penting doanya kan mbak?"


"Saya kok nggak pernah liat mbak Kina lagi telponan atau video call sama suaminya?",


"Nggak ada sinyal mbak, susah..",


"Padahal saya penasaran sama suaminya mbak Kina loh..",


"Kenapa?",


"Pasti ganteng deh, mbak Kina aja cantik..",


Kina tersenyum. ART nya ini ternyata tidak sepolos yang dia kira.


"Mau liat foto suami saya mbak?",


"Mau mbak..",


"Bentar...",


Kina menscroll ponselnya untuk mencari foto Javas.



"Nih mbak..", ucapnya menunjukkan foto Javas.


"Masya Allah.., gantengnya mbak.., beneran ini? kok kayak artis mbak..",


"Bukan artis..",


"Wah, di luar dugaan saya loh mbak, kalo ini sih ganteng banget...",


Kina meringis.


"Kira-kira nanti kalo udah lahir, bayinya mirip mbak Kina atau suami mbak?",


"Mirip sama papa nya kayaknya mbak.., karena selama hamil saya benci sama suami saya..",


"Lho..nggak boleh gitu mbak..., dia kan papanya anak mbak Kina.., gimanapun juga kan itu suaminya mbak Kina kan?",


"Iya mbak, tapi saya benci...",


"Paling itu bawaan dedek bayi aja..",


"Nggak mbak, emang saya benci..",


"Mbak Kina nggak kangen sama suaminya?",


Kina terdiam.


"Kangen kan pasti..?",


"Kadang aja.., tapi kalo inget dia bikin salah, saya jadi benci lagi..",


"Jangan gitu mbak..",


"Ya habisnya dia juga jahat sama saya mbak...",


"Namanya juga suami istri mbak. Kalo deket berantem, kalo jauh kangen...",


"Mbak Surti bisa aja..",

__ADS_1


"Hari ini mau dimasakin apa mbak?",


"Terserah aja, yang penting ada kuahnya..",


"Oke.., saya ke pasar ya mbak..",


"Mbak.., mau nitip susu ya...",


"Iya mbak..saya siap-siap dulu...",


Kinara sendiri lagi, ketika mbak Surti pergi ke pasar untuk berbelanja kebutuhan rumah mereka. Kina duduk di balkon sambil memandangi pemandangan sekitar. Komplek perumahan yang dihuninya memang masih sepi, baru beberapa rumah yang berpenghuni. Tetangganya depan dan samping rumahnya pun pergi pagi, pulang petang.


"Papa gimana ya sekarang? pengen liat kamu nggak nak? Papa kangen nggak sama mama?", ucapnya sambil mengelus perutnya yang sudah buncit. Ucapannya ternyata direspon oleh bayinya dengan menendang-nendang perut Kinara.


"Kamu tendang Mama? kenapa? kamu pengen ketemu sama Papa?",


Bayinya meresponnya lagi. Kali ini tendangannya lebih kuat dari sebelumnya.


"Sayang..,


sabar..suatu saat nanti kamu pasti ketemu sama Papa, tapi nggak sekarang ya..", tidak ada tendangan lagi, sepertinya bayinya mengerti.


Hari ini weekend. Tidak ada yang Javas bisa lakukan. Mau pergi? kemana? tidak ada tujuan. Alhasil, dia memilih untuk keluar ke halaman rumahnya. Rupanya, ada Daddy yang terlihat memanasi mesin motor gedenya.


"Mau kemana Vas..?",


"Nggak kemana-mana Dad.., bosen aja di dalam..",


"Nggak mau pergi..?",


"Kemana?",


"Kemana gitu..",


"Tadinya mau cari istri Javas, tapi tiba-tiba kepala Javas sedikit pusing Dad. Udah minta tolong sama Tama buat nyebar orang...",


"Semoga berhasil ya..",


"Iya Dad...


Tumben sendirian. Mommy sama Jaz kemana?",


"Biasa, pergi belanja...",


"Mommy dapet surat dari Kina lagi dad? isinya apa?",


"Istri kamu bilang, katanya hamilnya udah 7 bulan.., bayinya sehat...",


"Nggak ada lagi, mommy cuma bilang gitu aja..",


"Dad nggak ditunjukkin suratnya? foto USG nya Dad..?",


"Mommy tau kalo Dad selalu kirim ke kamu foto USG sama suratnya Kina. Jadi, mommy simpan..., nggak ngebolehin Daddy buat liat. Mommy cuma cerita aja..",


"Sampe segitunya Dad..?",


"Ya gitu, kalo mommy kamu lagi marah. Ini udah di atas marah, tapi murka..,"


"Padahal Javas kan udah minta maaf Dad..",


"Kamu dimaafin, kalo Kina mau kembali ke sini. Gitu kata mommy..",


"Dad tau sendiri kan? gimana usahanya Javas..?",


"Iya..tau Son. Makanya, udah ngalah aja. Yang sabar..",


"Mau ngadain acara 7 bulanan, Dad..?",


"Nggak tau.., kamu tanya aja sama mommy..",


"Nggak ah, pasti salah lagi..,


Queen juga ikut sama mommy?",


"Nggak.., kakak kamu akhir-akhir ini memang sibuk. Ada kerjaan katanya..",


Anak dan bapak itu mengobrol panjang lebar di kursi teras rumahnya. Dari masalah pribadi, pekerjaan, otomotif hingga politik yang terjadi di negara ini. Lama berbincang, sebuah mobil Alph*ard milik si kecil Jaz memasuki halaman rumah.


Seorang anak kecil keluar, berlari sambil membawa sebuah paper bag berukuran besar.


"Daddy.......", ucap Jaz yang menghampiri Dad Rendra.


"Mainan lagi..?", tanya Daddy ketika Jaz membuka isi paper bag tersebut.


"Iya.., dibeliin mommy...",


"Padahal mainan kamu udah penuh Jaz..",


"Nggak apa-apa..., bagus nggak Dad..?",


"Bagus loh..keren...",

__ADS_1


Beberapa Maid keluar dari dalam rumah ketika mengetahui nyonya besarnya pulang. Mereka langsung pergi ke mobil, mengambil barang belanjaan dan membawanya ke dalam. Sepertinya, mommy berbelanja banyak hari ini.


"Sayang.., belanjaannya banyak banget..", tanya Daddy Rendra ketika melihat maid yang keluar masuk rumah dengan membawa barang belanjaan dari dalam mobil.


"Memang mas..",


"Dua mobil..?", tanya Daddy Rendra ketika melihat mobil Inn*ova yang baru saja berhenti di belakang mobil milik Jaz.


"Iya..dua mobil..",


"Belanja apa..?",


Mommy ikut duduk di kursi teras.


"Mas liat sendiri kan? tuh...",


Daddy Rendra dan Javas mengamati barang yang dibawa oleh Maid. Salah satunya, stoller bayi.


"Perlengkapan bayi..?",


"Iya..perlengkapan bayi. Lengkap.., ada baju, perlengkapan mandi, mainan, stroller, selimut, pokoknya lengkap. Ada keranjang bayi, tapi nggak kebawa. Nanti di kirim dari tokonya kesini..",


"Kenapa dibawa ke rumah kita? kenapa nggak langsung dikirim ke rumahnya Revan?",


"Kok ke rumahnya Revan..?",


"Ini buat anaknya Kai kan?",


"Bukan.., tapi Aira beli buat cucu kita..",


"Buat anaknya Javas..?",


"Iya.., buat bayi yang masih di perutnya Kinara..",


Lagi-lagi Javas tidak dianggap sebagai Papa jadi jabang bayi yang di kandung oleh Kinara. Kejamnya.


"Kamu udah ketemu sama Kinara?",


"Belum.., tapi Aira yakin, Kinara pasti bakalan pulang...",


Javas hanya menguping obrolan Mommy dan Daddynya. Percuma jika ikut mengobrol, keberadaanya saja tidak dianggap sama sekali.


"Semoga aja sayang..",


"Aira juga bakalan buat kamar bayi..,


Kamar tamu yang ada di lantai 2, bekas kamar Kina dulu, mau Aira dekor jadi kamar cucu kita ya mas. Aira udah pesen furniturenya..lemari, tempat tidur pokoknya Aira udah pesen, mungkin lusa udah mulai pasang..",


"Iya, terserah kamu aja.


Mau dekor kayak gimana?",


"Nanti deh Aira liatin gambarnya. Pokoknya ya nuansa biru.., biar cerah..,


Aira masuk dulu mas gerah..


Jaz.., ganti baju sama sus dulu, habis itu minum susu, baru lanjut main lagi ya.."


"Oke mommy..",


Hanya tinggal Javas dan Daddy yang berada di teras. Javas baru berani bersuara ketika memastikan mommy nya sudah masuk ke dalam.


"Dad.., anak Javas laki-laki..?",


"Nggak tau, Mommy nggak pernah cerita. Kenapa?",


"Itu, mommy bilang dekornya nuansa biru kan?",


"Lho..iya ya Vas, Daddy baru sadar..",


"Tanyain Mommy Dad...",


"Iya.., nanti Daddy tanyain ya..",


"Dad.., bilang ke mommy. Biar kamar Javas aja yang dijadiin kamar bayi.., biar Javas yang ngalah tidur di kamar tamu...",


"Kamar bayi kan sementara Son, kalo udah gede juga bakalan punya kamar sendiri. Nggak apa-apa kamar bayinya di kamar tamu Vas..."


"Ya udah Dad...",


"Daddy rayu mommy dulu..", ucap Daddy yanh kemudian masuk ke dalam rumah.


Javas girang, setelah mendapati informasi dari Daddy mengenai jenis kelamin anak pertamanya.


"Laki-laki atau perempuan Dad..?",


"Selamat Vas, anak kamu laki-laki.., cucu pertama Dad laki-laki Vas..", ucap Daddy yang terlihat sangat girang.


"Alhamdulillah, yang paling penting Kina sama anak Javas sehat Dad..",


Javas semakin bersemangat untuk terus mencari keberadaan istrinya.

__ADS_1


"Tunggu mas ya sayang, kita pasti bertemu kembali..",


__ADS_2