
Tidak memperbolehkan sembarangan orang. Dia bahkan menyerahkan daftar nama yang boleh menjenguk mommynya. Hanya diperuntukkan bagi keluarga Perdana dan keluarga Wijaya. Hanya Aldo ,Farah beserta putra-putrinya yang terhitung orang luar. Selain itu, dilarang keras untuk masuk ke dalam. Javas bahkan memperketat penjagaan di pintu lorong, menuju kamar Aira. Semuanya wajib diperiksa, sebelum diizinkan masuk. Tanpa terkecuali, bahkan dokter, perawat dan tenaga medis. Harus mengikuti prosedur yang diterapkan oleh Javas.
Javas merasa harus melakukan ini semua. Mencegah lebih baik daripada menyesal di kemudian hari. Bukan tidak mungkin, ada seseorang yang ingin mencelakai mommynya. Tidak ingin menyebutkan nama, orang disekitar Javas sudah tentu tahu siapa yang pemuda itu maksud.
Semenjak tidak sengaja bertemu saat menjenguk Aira , Rendra memang terlihat dekat dengan Erna. Hal itu, menimbulkan kekhawatiran dari keluarganya. Bagaimanapun keadaannya, Aira masih hidup. Dia masih bernyawa meskipun memang tidak bisa berbuat apa-apa. Jika suatu saat nanti Aira bangun dan membuka matanya, lalu apa yang harus mereka katakan?
Erna memang kerap kali berkunjung ke rumah. Masih berada di zona aman. Tidak pernah pergi berdua, hanya sekedar mengobrol di taman rumahnya. Hingga suatu saat, dengan mata kepalanya sendiri. Farah mengetahui jika Erna memberikan perhatian lebih kepada Rendra. Membawakan makanan kesukaan Rendra yang dia masak sendiri. Awalnya, Farah juga tidak percaya. Dia kira, itu hanya karangan Javas yang memang tidak suka terhadap Erna. Tapi, setelah mendapatkan buktinya. Farah jadi tergelitik untuk bertanya.
"Kamu disini juga Er..?",
"Iya.., baru aja nyampe. Kamu mau ketemu mas Rendra juga..?",
"Aku ada perlu sama Sharen.., dia dimana?",
"Kayaknya lagi gantiin baju Eljaz..",
"Sering kesini?",tanya Farah lagi.
"Nggak juga.., tapi lumayanlah..",
"Deket sama Rendra?", tanyanya lagi.
"Hmmmm.., ya gitu..",
"Er.., aku cuma mau ngingetin. Bagaimanapun juga, Rendra itu masih punya Aira, dia masih hidup..",
"Iya..aku tau..,Aira masih hidup. Aku cuma jadi teman ngobrolnya mas Rendra aja..",
"Kamu ada perasaan sama Rendra?",tanyanya lagi.
"Aku nyaman ngobrol sama Mas Rendra. Walaupun ngobrolnya ya, nggak jauh tentang Aira...",
"Hati-hati.., dari nyaman jadi love you man.., Aira itu sahabat kita..",
"Menurut kamu, mungkin nggak mas Rendra suka sama aku Far?",
"Hmmmm.., nggak..",jujurnya.
"Padahal, mas Rendra keliatan nyaman juga sama aku..",
"Jangan geer dulu..",
"Ya udah.., berarti aku cuma mengagumi aja, bukan memiliki.., itu lebih dari cukup..",
"Kalo misalnya Rendra suka.., kamu mau?",
"Kenapa nggak?"
Jawaban terakhir Erna yang sukses membuat Farah membungkam mulutnya. Dia tidak ingin berbicara lebih banyak lagi. Nanti tekanan darahnya bisa naik. Tidak ingin membenci, karena bagaimanapun juga, Erna adalah sahabatnya.
Bukan hanya Farah saja yang terlihat keberatan, Vina dan Fafa juga merasakan hal yang sama. Mereka bahkan sengaja membicarakan ini kepada Sharen. Bagaimanapun juga, Sharen adalah anak tertua. Berbeda dengan Javas yang selalu menggebu, Sharen bisa diajak bicara baik-baik.
"Sha.., menurut kamu Daddy gimana sekarang?",
"Ya nggak gimana-gimana bunda.., masih seperti biasa..",
"Masih suka nangis tiap liat foto mommy?",
"Nggak..",
"Kamu tau kalo Daddy sekarang deket sama Tante Erna?",
"Ya gimana nggak tau, kan Dad sering disamperin ke rumah..",
"Kamu nggak keberatan Sha?",tanya Vina.
"Keberatan aunty..,tapi bingung cara ngomongnya sama Dad..",
"Nggak usah khawatir Sha.., om jamin Daddy mu nggak ada perasaan apa-apa sama Erna..",
"Darimana tau..?", tanya Fafa dengan nada meninggi.
"Kak Rendra itu, cinta mati sama Aira By..,kalian kan juga tau perjalanan cintanya kayak apa.., nggak bisa semudah itu berpaling..",
"Kamu ngomong kayak gitu, karena kamu laki-laki.., Rendra juga kakak kamu, iya kan?",
"Bukan gitu.., aku bisa ngomong kayak gini. Karena aku pernah denger sendiri, waktu kak Rendra sama Erna lagi ngobrol. Ya, bahasnya Aira lagi.., Aira lagi. Aira terus topiknya. Sampe mukanya Erna itu bete..",
"Serius..?",
"Iya.., serius sayang..",
"Mungkin ini, salah kita semua..", ucap Zein kali ini.
"Salah gimana Pi..?",
"Kak Rendra selama ini, butuh teman bicara. Tapi, kita malah seolah-olah pengen kak Rendra itu lupain Aira. Setiap kak Rendra nyinggung kak Aira, siapapun yang diajak ngobrol, pasti cuma diem. Kalo nggak..,ya kita ngalihin topik. Itu yang bikin kak Rendra merasa sendiri..",
__ADS_1
"Kak Rendra tiap hari minum obat Pi, buat ngobatin traumanya dia. Kita kasihan, cuma pengen kak Rendra sembuh.., udah itu aja tujuannya. Nggak bermaksud ngelupain kak Aira yang lagi sakit..",
"Tapi.., bukan itu caranya..",
"Terus harus gimana? membiarkan kak Rendra deket sama Erna?",
"Iya.., gimana lagi?",
Vina memukul pundak suaminya, yang spontan membuat Zein kaget.
"Apaan sih mi..",
"Kamu tuh ya.., malah dukung. Kak Aira itu kakak sepupu kamu lho.., bukannya ngebelain. Malah dukung kak Rendra..",
"Bukan perkara siapa dukung siapa, tapi mental kak Rendra juga perlu dipikirin. Kak Aira sakit, Javas juga marah. Belum lagi, Eljaz yang masih perlu perhatian. Kalo kak Rendra memang happy dekat sama Erna, ya udah. Kita nggak usah permasalahin. Aku percaya kak Rendra nggak ada perasaan lebih..",
"Kamu yakin ya Pi, ngomong gini? kamu nggak sakit kan?", sentuh Vina pada dahi sang suami.
"Nggak mi..",
"Kalo ternyata kak Rendra ada perasaan lebih.., gimana?",
"Nggak.., aku jamin..",sahut Revan.
"Nggak bakalan.., aku percaya itu..",jawab Zein.
"Oke.., Rendra nggak ada perasaan. Gimana sama Erna..?",tanya Fafa.
"Kalo Erna kan emang udah keliatan kalo dia ada perasaan..",
"Terus gimana?",
"Resiko ditanggung penumpang..",
Sharen menyimak obrolan Tante dan om-omnya. Sepertinya memang ada yang harus dirubah.
"Oke.., Sharen tau kok apa yang harus Sha lakuin..",
"Pokoknya bunda sama om Revan , Tante Vina sama Om Zein selalu ada buat kamu sayang. Sha yang kuat ya cantik..",
"Makasih bunda..",
Eljaz kecil, kini sudah mulai belajar berjalan. Sebentar lagi, dia akan merayakan ulang tahun pertamanya. Eljaz tumbuh normal seperti anak seusianya. Ini semua berkat Sharen yang merawat adik yang sudah dianggapnya sebagai anaknya sendiri.
Tidak ada persiapan ulang tahun pertama untuk Eljaz. Sharen dan keluarganya memang tidak ingin merayakan ulang tahun Jaz. Apalagi, keadaan mommynya yang belum juga mengalami peningkatan.
"Dad.., nih Eljaz udah ganteng.., mau gendong nggak?",
"Jaz udah mandi ya Sha..?",
"Udah dong.., ganteng kan kayak Daddy..",
"Andai aja mommy kamu ada disini..",
"Iya Dad.., mommy mandiin, dandanin Jaz, nyuapin makan, ngajak main..pasti Jaz seneng banget deh..",
"Maafin Dad ya Sha..",
"Suatu hari.., pasti mommy bangun kok. Jangan nyalahin diri sendiri. Dad harus sehat lagi..., nggak boleh sakit.., Dad harus kuat. Prime grup masih butuh Daddy.., jangan lama-lama istirahatnya..",
"Dad kembali.., tapi nanti setelah mommy buka matanya....",
"Daddy kangen sama mommy..?",
"Kangen banget..",
"Apa yang paling Daddy kangenin dari Mom?",
"Manjanya mommy..",
"Mommy manja banget ya sama Dad?",
"Setiap malam, sebelum tidur. Pasti minta dibikinin susu. Mommy pasti minta dielus-elus.., katanya punggungnya pegal karena di dalam perutnya ada bayi. Mom suka ngambek.., setiap kali marah. Dia pasti diemin Dad..,padahal Daddy udah minta maaf..",
"Pasti Dad sebel ya kalo mommy lagi ngambek..",
"Nggak..., yang ada dipikiran Dad cuma satu. Gimana caranya biar mommy kamu nggak ngambek lagi. Dad cinta banget sama mommy..",
"Apa yang membuat Dad, cinta sama mom?",
"Semuanya Sha.., semua yang ada dalam diri mommy..",
"Pasti mommy kangen juga sama Dad..",
"Dad nggak bisa hidup tanpa mommy, Sha..",
"Suatu saat nanti, Mom pasti buka mata...",
__ADS_1
"Semoga nak..",
"Dad.., mau gendong Jaz?",
"Boleh.., sini..",
Melihat Daddynya menggendong Eljaz merupakan moment yang sangat langka. Sama seperti Javas. Rendra juga seperti menjauh dari Eljaz. Setiap melihat Eljaz, selalu mengingatkan tragedi yang membuat Aira celaka. Bersyukurnya, sedikit demi sedikit Sharen bisa merubah Rendra. Daddynya sudah mau dekat dan ikut menjaga Eljaz. Meskipun bisa dihitung menggunakan jari.
"Dad.., Sharen masuk ke dalam mau mandi. Udah bau banget. Sekalian Sha ambilin obat buat Daddy.., nggak apa-apa kan Sharen tinggal?",
"Iya nggak apa-apa..",
"Dad bisa jaga Jaz?",
"Bisa...",
"Bener?",
"Iya.., udah cepetan sana mandi..",
"Oke.., Sha tinggal dulu ya..",
Sharen mencoba berubah. Dia menjadi pendengar serta teman bicara Rendra. Tidak menyela atau mengalihkan pembicaraan. Membiarkan Daddynya terus membicarakan mommynya jika itu yang justru membuat keadaan Rendra terus membaik. Apa yang dilakukan Sharen adalah salah satu usaha agar Daddynya itu nyaman berbicara dengannya. Jujur, Sharen juga tidak ingin Daddynya terlalu dekat dengan Erna.
Sharen sudah menyelesaikan kegiatan mandinya. Sudah berganti pakaian, menyisir rambut serta memakai make up seadanya. Sharen masuk ke dalam kamar Rendra untuk mengambil obat.
Keadaan kamar Rendra tidak berubah, masih sama seperti sebelum Aira sakit. Foto keluarga, foto pernikahan, foto Sharen, foto Javas masih terpampang apik disana. Sharen tersenyum, mengamati foto keluarganya. Tanpa Eljaz, yang saat itu masih berada di dalam perut Mommynya.
"Suatu saat nanti, kita bisa foto berlima. Sabar Dad.., mommy sedang berjuang. Sha yakin, mommy akan menang..",
Telinga Sha terganggu dengan suara ponsel Rendra yang sedari tadi berbunyi. Sharen mengambilnya di atas nakas, lalu membawanya keluar bersama obat yang dia bawa.
Sharen melihat Daddynya yang terlihat mengajak bermain Eljaz di taman belakang rumahnya. Eljaz nampak senang, terlihat dari wajahnya yang sedari tadi tertawa.
Sharen mendekati Daddynya.
Rendra mengambil hapenya dari tangan putrinya.
"Sini.., Jaz sama Moma ya..", ucapnya dengan mengambil Jaz dari gendongan Rendra.
"Kenapa nggak diangkat Dad..?",
"Udah mati..",
"Telepon balik aja.., dari tadi bunyi terus..",
"Nggak usah.., nggak penting juga..",
"Daddy belum jawab pertanyaan Sharen..",
"Apa Sha?",
"Dad punya rasa sama Tante Erna..?",
"Dad nggak usah jawab.., pasti Sha tau jawabannya..",
"Jadi bener Dad..?",
"Hati Dad cuma satu.., itupun sudah untuk mommy. Nggak ada tersisa sedikitpun ruang untuk perempuan lain.., termasuk Erna..",
"Tapi Dad selama ini dekat dengan dia..",
"Dad cuma menerima kebaikan dia.., nggak lebih..Daddy menghargai dia, karena bagaimanapun juga dia sahabat mommy...,ini semua karena mommy Sha..",
"Kalo dia ada rasa sama Dad?",
"Nggak masalah.., kita nggak bisa larang seseorang suka sama kita kan?",
"Dad.., jangan mainin perasaan perempuan..",
"Dad nggak pernah mempermainkan perasaan siapapun. Justru, perasaan Daddy yang sedang dipermainkan oleh takdir Sha..",
"Kalo tante Erna berharap lebih?",
"Dia tau.., Dad udah punya mommy..",
"Lidya juga tau Aris udah punya Kinan.., Mulan tau Dhani udah punya Maia..",
"Tapi Daddy ini Rendra..bukan Aris atau Dhani..", jawabnya tanpa berbelit-belit
Sedikit lega dengan penjelasan dari Daddynya. Apa yang dikatakan oleh Revan dan Zein sepertinya benar. Daddynya hanya perlu teman bicara.
"Dad masuk dulu ya..",ucapnya. Rendra malah meletakkan kembali ponselnya di atas meja.
Nggak tega kejam aku tuh.., takut disantet online sama reader ðŸ¤
__ADS_1