
Ujian Kinara sebentar lagi akan dimulai. Dia kembali harus satu mobil dengan Javas. Jika tadi ada Tante Tia yang menjadi penolongnya. Kini, dia harus menghadapi Omelan Javas kembali. Entah tentang apalagi kali ini yang akan menjadi bahan Javas untuk meledek atau mengomelinya.
"Ini mobil siapa?",
"Mobil Tante mas..",
"Jangan bohong, tadi saya liat dirumahnya Tante juga ada mobil...Ini kan mobil yang ada di garasi rumah. Punya siapa? punya nenek?",
"Iya..punya saya..",
"Kenapa waktu itu bohong? bilangnya nggak bisa nyetir, ini kok bisa..?",
"Saya nggak bohong.."
"Waktu itu kan ditawarin kak Sharen pake mobilnya, kenapa alasan nggak bisa nyetir?",
"Saya nggak bohong mas.., kan mobilnya mbak Sharen matic, saya bisanya manual..",
"Kalo bisa manual, otomatis bisa pake matic..karena lebih mudah..",
"Tapi saya nggak biasa pake mobilnya orang lain.., takut bodynya keserempet sesuatu.., nanti jadi repot..",
"Oh jadi itu alasannya? kenapa nggak bilang?",
"Ini udah bilang mas...",
"Makanya mending jujur, kalo bilang gitu kan enak. Kemana-mana bisa pake mobil dirumah, jadi nggak usah pake driver..",
"Mas Javas kenapa sih ngomel ke saya terus. Padahal saya udah diem.., tetep aja salah..",
"Emang kamu salah kok..",
"Iya-iya saya emang salah. Besok kalo udah dirumahnya mas Javas saya nggak akan nolak lagi kalo mau dipinjemin mobil. Tapi, kalo mobilnya kenapa-napa saya jangan disalahin, jangan disuruh ganti, karena saya nggak punya banyak uang..",
Tumben dokter Kinara berani ngomong, biasanya iya-iya aja.
"Enak aja.., kalo ada apa-apa ya tetep ganti, tanggung jawab dong..",
"Makanya saya nggak mau dipinjemin.., enakan dianter mamang aja..",
Jaz hanya diam mendengarkan Javas dan Kinara yang sedang berdebat. Itu karena Jaz sibuk menghabiskan jajan yang diambilnya dari toko kakek. Kali ini, dia sedang menikmati jelly.
Seorang Aira yang notabene adalah istri dari Rendra Perdana, terlihat sedang menyapu halaman rumah ayahnya. Sedangkan suaminya, terlihat ikut membantu seorang tukang yang sedang membetulkan talang air di depan rumah. Kakek hanya menjadi pengawas saja.
Sebuah mobil Ja*zz berwarna putih masuk ke halaman rumah kakek. Aira langsung menghentikkan kegiatannya. Aira yang sedang memakai sebuah daster tersenyum ketika melihat putra bungsunya keluar dari pintu bagian belakang.
"Mommy....",
"Gantengnya mommy..., udah puas ya maennya?",
"Udah.., nih liat..",
"Banyak banget...
Yah.., nih liat cucu ayah.., abis ngerampok toko..", ucapnya pada sang Ayah.
Kakek Hendra tersenyum merekah. Jaz langsung menghampiri kakeknya memamerkan jajan hasil jarahannya.
"Nih kek.., banyak kan..ini stok jajan Jaz buat hari ini sama besok. Lusa kan habis, Jaz mau ambil lagi, boleh nggak kek?",
"Boleh dong..",
"Jaz masuk ya kek.
Terima kasih ya udah dikasih jajan banyak kek..",
"Sama-sama cu..",
__ADS_1
"Hei.., itu bukan dikasih tapi kamu ambil..", sahut Rendra yang merasa lucu melihat kelakuan putra bungsunya.
Javas memang sudah meminta izin kepada Aira untuk membawa Jaz bermain di rumah Kinara. Itulah sebabnya Aira tidak heran ketika ada mobil asing yang masuk ke halaman rumahnya.
"Dok.., makasih ya udah dianterin pulang. Ngerepotin ya tadi..",
"Nggak kok Bu.., Jaz pinter..",
"Masuk dulu yuk..",
"Sepertinya saya langsung saja Bu..",
"Lho kok buru-buru..",
"Iya Bu.., mau nganter nenek sama Tante, ke saudara, ada yang punya hajat.., Bu Aira",ucap Kinara yang menyodorkan satu buah kantong plastik.
"Loh ini apa dok?", tanya Aira.
"Ini kerupuk nasi bikinan nenek. Tadi Jaz suka banget, jadi saya bawain. Ini dari nasi yang masih bagus kok Bu bukan dari nasi sisa, memang sengaja dibikin kerupuk sama nenek.."
"Ya Allah kok ngerepotin..",
"Nggak sama sekali bu..",
Kinara tidak hanya pamit kepada Aira, namun kepada Rendra, terakhir kepada Kakek . Mereka pernah bertemu sebelumnya, ketika Aira masih sakit.
"Kek.., saya permisi dulu..",
"Makasih ya nduk..",
"Terima kasih kembali kek..",
"Mari...",
Di halaman rumah kakek yang sebenarnya cukup luas sudah ada mobil Alphar*d milik Jaz serta mobil milik Javas. Satu lagi mobil milik kakek. Tahu akan kesulitan memutar mobilnya, Javas berinisiatif mengeluarkan mobil Kinara tanpa diminta.
"Makasih ya mas..", ucap Kinara saat dia sudah duduk di bangku sopir.
"Iya mas..,
Saya permisi..",
"Ya udah hati-hati..",
Dari kejauhan diam-diam Aira memperhatikan putranya.
Tubuh Javas sudah segar, dia baru saja selesai mandi sore. Berada di rumah kakeknya, bukan berarti melupakan pekerjaannya. Jika sementara pekerjaan di Prime di pegang oleh Daddynya. Tapi, pekerjaan bengkelnya tetap menjadi tanggung jawabnya. Javas sedang berada di kamar, di depan laptop miliknya.
Tok..tok..tok..
"Masuk..", ucap Javas.
Seseorang yang mengetuk kamar Javas ternyata adalah mommynya.
"Kak.., lagi apa sayang?",
"Lagi periksa bengkel mom..",
"Sibuk banget ya..?", tanya Aira yang saat ini duduk dibibir ranjang.
"Nggak mom.., ada apa?",
"Mommy mau tanya sesuatu.., boleh?",
Mendengar ucapan mommynya yang terdengar serius, Javas langsung menutup laptopnya.
"Kok nggak dilanjutin..?",
__ADS_1
Javas malah justru mengangkat kursinya dan meletakkan didepan mommynya. Kini, posisi mereka dekat dan saling berhadapan.
"Ada yang serius? kenapa? Daddy nyakitin mommy?",
"Bukan.., mana pernah Dad nyakitin mommy..",
"Jangan bohong mom..",
"Nggak.., mom sama dad baik-baik aja..justru makin mesra..",
"Tapi, jangan punya adik lagi ya mom.., satu aja bikin pusing..",
"Nggak..",
"Mommy mau tanya apa?",
"Kakak sama dokter Kinara, punya hubungan apa?",
"Hubungan? apa?",
"Javas lagi deket sama dokter Kinara?",
"Tadi sih deket, sekarang nggak..dia udah pulang..",
"Bukan gitu maksudnya mommy..",
"Oh.., Javas tau maksudnya mom..
Nggak usah khawatir, disini..masih ada Mine mom..", ucapnya menunjuk dadanya.
"Kenapa mom tanya gitu?",
"Tadi mommy liat kamu perhatian sama dokter, bantuin ngeluarin mobil, terus ngobrol dikit.., kayak gimana gitu..",
"Mommy nggak suka misalkan memang bener Javas deket sama Kinara?",
"Mom sama Dad mendukung apapun yang menjadi keputusan kamu. Asal..., dia berasal dari keluarga baik-baik, perempuan yang santun, nggak neko-neko.., nggak perlu status sosial yang sama kayak kita. Yang paling penting dia sayang sama kamu.., itu udah cukup..",
"Javas sama Kinara cuma tadi kebetulan ketemu di tokonya kakek. Lah, si tuyul minta maen ke sana..",
"Iya mommy cuma khawatir aja..",
"Kenapa?",
"Mommy nggak mau kamu disakitin sama perempuan. Tapi, mommy juga nggak mau liat kamu nyakitin perempuan. Inget ya nak, kamu punya kakak perempuan. Jadi, kamu juga harus hati-hati. Berteman boleh, deket sah-sah aja. Tapi, jangan sesekali kamu mainin perasaan perempuan apalagi ngasih harapan palsu..",
"Emang keliatan Javas gitu ke dokter Kinara?",
"Nggak.., ini berlaku buat kamu ke perempuan manapun, nggak cuma ke dokter Kinara aja..",
"Iya mom.., nggak usah khawatir, Javas ngerti..",
"Masih belum dapat kabar dari Mine?",
"Belum mom..",
"Jadi ke Aussie?",
"Belum tau, Javas belum urus tiketnya..",
"Sabar ya sayang.."
"Iya mom..",
"Nanti abis magrib siap-siap ya. Kita makan di luar..",
"Oke mom..",
__ADS_1
Aira meninggalkan kamar Javas. Alih-alih melanjutkan pekerjaannya Javas malah melemparkan badannya di atas tempat tidur.
"Kinara..Mine..sama aja. Dua-duaya bikin aku gila..!!!",