Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )

Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )
Bye..


__ADS_3

Jika Nathan, Sharen dan Tama sudah selesai mengisi perutnya, lain halnya dengan Luna yang baru saja memasukkan sendok ke dalam mulutnya. Entah apa yang dia lakukan di kamar Gladys tadi, sampai lupa untuk mengisi perutnya yang kosong.


"Kak Nathan ngerokok...?",


"Hmmmm...",


"Kak.., kan Luna udah pernah bilang, jangan ngerokok.., nggak bagus buat kesehatan. Ini juga Luna kan baru makan, kak Nathan malah ngerokok..",


"Ya udah, makan makan aja Lun..",


"Kak..,tapi asapnya kemana-mana..",


"Kenapa sih? Sharen aja yang daritadi disini nggak masalah kok.., kamu protes.."


"Nggak protes, tapi ngingetin..",


Sharen dan Tama saling pandang. Rasanya tidak enak duduk ditengah perdebatan sepasang kekasih itu.


"Sha.., kayaknya kita pindah meja aja deh. Daripada denger orang lagi berantem..", ucap Tama.


Belum sempat Sharen mengeluarkan jawabannya, Nathan langsung bersuara.


"Nggak usah.., kalian disini aja. Luna udah biasa kayak gini.., ngomel kerjaannya..",


"Nggak ngomel kak.., cuma ngingetin..",


"Sama aja Luna..", ucap Nathan. Meskipun dia kesal dengan kekasihnya, namun Nathan masih menunjukkan sikap lembutnya.


"Kakak abis makan kan? terus mau ngerokok.., kalo diganti permen aja, gimana? nih Luna udah siapin..",


Dengan menghela nafas dalamnya, Nathan langsung mematikan rokoknya. Bukan, mengambil permen yang diberikan Luna untuknya. Dia malah merogoh ponselnya dari dalam saku.


"Kamu keganggu ya kalo ada yang ngerokok..? perlu aku matiin?"


"Nggak usah kak.., khusus buat kak Nathan aja, kalo kakak sih terserah mau ngerokok atau nggak..", ucap Luna.


"Ya sudah deh, aku minggir dulu aja. Kasian kalo kamu keganggu sama asepnya..", ucap Tama yang langsung berdiri, hendak menjauh dari mereka.


"Mau kemana?", tanya Nathan.


"Ngerokok.., kasian cewek lu..",


"Ya udah, aku ikut..",


"Kak Nathan mau ngelanjutin ngerokok lagi..",


"Hmmm.., kamu lanjutin aja makannya..",


Nathan dan Tama akhirnya menjauh, dia meninggalkan Sharen dan Luna di meja tersebut.


Nathan menyalakan rokoknya kembali, melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda tadi.


"Kesel..?", tanya Tama.


"Iya.., Luna selalu ngatur-ngatur.., dia nggak bisa bedain ngasih perhatian sama ngelarang didepan orang banyak..",


"Buat kebaikan lu Nath..",


"Kebaikan apa? aku selalu denger kok apa yang dia bilang..",


"Denger doang, tapi nggak dilakuin? itu sama aja bohong..",


Nathan diam, dia menghisap rokoknya.


"Perkara rokok, cuma hal sepele, nggak usah dibesar-besarin Tam..",


"Ambil positifnya aja Nath.., dia kayak gitu karena dia sayang sama lu..",


"Tapi, aku nggak suka caranya.."


"Itu karena di hati kamu emang nggak pernah ada Luna. Itu anak orang hey..., bukan boneka. Kalo lu emang nggak ada rasa, mending bilang..",


"Aku ada rasa..",


"Tapi....",


"Udah, biar aku aja yang tau.., kamu nggak perlu..",


"Sebenarnya niat kamu pacaran sama Luna, tuh apa?",


"Nggak usah bahas..",


"Nath..Nath.., bilang cinta ke Sharen aja susah..",


"Kamu nggak tau rasanya jadi aku Tam, jadi kamu bisa bilang gitu..",


"Ya udah deh, terserah lu aja.., yang penting nggak rusak anak orang..",


"Enak aja.., masih 100% asli tuh, nggak pernah diapa-apain...",


"Bagus deh kalo gitu..., gua juga nggak rela kalo nantinya lu berhasil dapetin Sharen, tapi lu bekas orang...",


"Enak aja..",


Ponsel Tama tiba-tiba berbunyi.

__ADS_1


"Halo.., iya Pi..",


".....................",


"Lagi di acara temen Pi, gimana? mau Tama susul aja..?"


".....................",


"Nggak apa-apa, acaranya udah selesai Pi.., Tama susul sekarang. Shar loc ya Pi..",


"Bokap?", tanya Nathan setelah Tama mengakhiri panggilan tersebut.


"Iya.., mobilnya tiba-tiba mogok.., aku mau susulin.."


"Ya udah, bilang Sharen gih...."


Setelah mendapatkan izin dari Sharen, Tama undur diri untuk pulang terlebih dahulu.


"Ya udah nggak apa-apa Tam..",


"Terus nanti kamu pulangnya, gimana Sha?",


"Gampang bisa bareng Daddy nanti..",


"Oke.., aku duluan ya Sha..",


Bersamaan dengan Tama yang pamit, Sharen juga akhirnya meninggalkan Luna dan Nathan.


"Aku permisi dulu ya..",


"Mau kemana kak? udah disini aja..",


"Mau ke dalam aja deh Lun, makin malem rasanya kok makin dingin..",


"Kamu sakit Sha..?", tanya Nathan.


"Nggak sih, tapi berasa dingin aja Nath aku masuk aja..",


Sebenarnya memang hanya alasan semata. Setelah tahu isi hati Nathan, Sharen memang sedikit memberikan jarak.


Tidak semata-mata bohong, tapi Sharen memang tiba-tiba merasakan pusing kepala.


"Mommy.., pulang kapan?",


"Acaranya kan belum selesai Sha..",


"Sha pusing..",


"Kamu mau pulang?"


"Mommy nggak enak kalo pulang duluan, nanti dikiranya kenapa-napa. Sama Javas aja gimana?",


"Bentar, Sha telepon dulu ya mom..",


Sharen menelepon Javas tapi sayang, adiknya itu ternyata sudah pulang.


"Javas udah pulang kak, udah pamit sama Budhe tadi.., ini udah mau sampe rumah..",


"Oh.., ya udah.., kakak sama mamang aja deh.."


"Gimana sayang?",


"Javas udah pulang mommy..",


"Mommy teleponin mamang kalo gitu ya..",


"Lama dong mom sampe kesininya..",


"Yah, terus gimana?"


"Tante.., Vano dimana?", tanyanya ketika kebetulan Tante Vina lewat di depannya.


"Vano kayaknya di depan Sha, ada apa kak?",


"Oh ya udah, Sharen ke depan aja kalo gitu..,


Mommy, Sharen pulang duluan ya mom..",


"Iya sayang, hati-hati..",


Sharen berdiri di teras rumah, sambil mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan Vano. Adik sepupunya tidak bisa dihubungi alias tidak bisa ditelepon. Sepertinya baterai hapenya habis.


"Sha.., ngapain disini?",


"Cari Vano, Nath..


Tapi, belum ketemu..",


"Mau apa?",


"Aku mau pulang..",


"Ya udah, kamu sama aku aja pulangnya. Aku anterin Sha..",


"Nggak usah Nath, makasih...",

__ADS_1


"Terus kamu pulangnya gimana?"


"Aku bisa minta tolong sopirnya kak Gladys.."


"Udah, aku anterin aja..",


"Terus, Luna gimana?",


"Gampang, dia kan sama keluarganya..",


"Nggak usah Nath.., makasih..",


"Kamu kenapa sih? kan biasanya juga kemana-mana sama aku..",


"Nggak apa-apa..",


"Aku anterin aja..., pasti pengen istirahat kan? kamu tunggu disini..",


Nathan meninggalkan Sharen yang masih berdiri diteras rumah. Nathan mengambik mobilnya untuk mengantarkan pulang Sharen.


"Ayo pulang..", ucap Nathan.


"Nath tapi..",


"Udah, ayo..", Nathan menggandeng Sharen untuk mendekat ke mobilnya. Nathan membukakan pintu untuk Sharen.


"Masuk Sha..." ucapnya dengan melindungi kepala Sharen menggunakan tangannya, agar tidak kepentok oleh atap mobil.


Sharen akhirnya pulang, dengan diantar oleh Nathan. Memang tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Mungkin ini memang sudah jalannya.


"Nath.., kamu tadi nggak izin ke Luna kalo mau nganterin aku..?"


"Aku udah chat ke dia, kalo aku pulang duluan..",


"Tapi, nggak bilang kalo kamu nganterin aku pulang?"


"Buat apa? diizinin atau nggak, aku tetep nganterin kamu kok.."


"Jangan gitu Nath.."


"Aku lebih dulu kenal sama kamu, dibanding dia. Lagian, kita juga udah biasa pergi berdua kan? Luna nggak masalah..",


Bener juga sih. Aku juga harusnya bersikap biasa aja, seperti kata Tama. Tapi, rasanya masih aneh aja.


"Aku kan jadi nggak enak Nath..",


"Nggak apa-apa..


Mau langsung pulang, atau mampir kemana?",


"Pulang aja deh, aku mau istirahat..",


"Kamu sakit ya?", tanyanya dengan menempelkan punggung tangannya pada kening Sharen.


"Sha, kok panas..?",


"Hmmm..pusing Nath..",


"Mampir apotek mau?"


"Nggak perlu, tadi aku udah dibeliin obat sama Kinara..",


"Apa mau ke rumah sakit aja Sha..?",


"Cuma butuh istirahat aja kok.."


"Kamu pusing, karena mikirin Bian yang udah lamaran sama Gladys..? Bentar lagi mereka nikah.."


Aku pusing, karena bingung sama sikap kamu. Aku harus gimana sih Nath?


"Nggak kok.., aku cuma nggak enak badan aja. Tekanan darahnya rendah Nath.."


"Itu karena kamu stress.., mikir apa sih..?"


"Nggak apa-apa.."


Keduanya akhirnya sampai di rumah Sharen. Nathan, membukakan pintu mobil untuk Sharen.


"Pelan-pelan Sha...",


"Nath, makasih ya udah dianterin pulang..",


"Sama-sama, cepet sembuh ya..", usapnya lembut pada rambut Sharen. Belasan bahkan puluhan tahun bersahabat, baru pertama kali ini Nathan melakukannya. Sudah ada kemajuan dari sikap Nathan yang menunjukkan rasanya pada Sharen.


"Makasih Nath..",


"Aku balik dulu.."


Nathan kembali masuk ke dalam mobilnya. Namun, Sharen belum beranjak pergi.


Tin..tin..


Bye.....


Sharen melambaikan tangannya dan Nathan tersenyum ganteng dengan membalas melakukan hal yang sama.

__ADS_1


__ADS_2