Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )

Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )
Terlalu Cinta.


__ADS_3

Lebih dari tengah malam, Nathan kembali ke Apartement. Sharen tertidur di sofa menunggu kepulangan suaminya. Dia terbangun ketika mendengar Nathan kembali pulang.


"Yank....", meskipun dia berucap dengan rasa takut.


Nathan diam, dia menuju ke kamar mereka. Sharen mengikuti Nathan.


Sharen melihat tangan suaminya sudah berbalut dengan perban. Entah dimana dan oleh siapa, suaminya mengobati lukanya.


"Yank..."


Sharen masih menyapa meskipun tidak mendapatkan respon dari Nathan.


Nathan justru terlihat memberesi barang-barangnya. Memasukkan bajunya ke dalam koper.


"Yank.., mau kemana sih? aku emang salah.., tapi jangan gini yank..." Sharen berucap dengan suaranya yang parau. Sharen menahan tangisnya.


"Mau pulang..."


"Yank..


kamu mau ninggalin aku sendirian disini...?",


"Kalo kamu mau ikut, cepatan packing. Besok pagi flightnya...",


"Kenapa mendadak pulang...?",


"Kamu masih tanya..? kamu nggak ngerasa ya Sha.., kita ini punya masalah.


Aku mau beresin masalah kita..",


"Beresin gimana sih yank..


Aku nggak mau pisah...",


Sharen memohon, tapi Nathan tidak menanggapi ucapan istrinya. Dia terus saja memasukkan barang-barangnya.


"Kalo kamu mau disini..silahkan.


Aku mau pulang..",


"Aku mau ikut..


tiketnya gimana?",


"Udah aku pesenin...",


"Yank....",


"Aku nggak mau berantem.., apalagi bentak kamu kayak tadi..,


jadi lebih baik kamu diem...",


Sharen lantas diam. Dia tidak ingin membuat Nathan murka seperti tadi. Dari, sorot mata Nathan, terlihat jelas jika suaminya masih menyimpan amarahnya. Namun, masih terlihat jelas juga cinta untuk Sharen.


Sharen akhirnya mempacking barang-barangnya dan esok pagi mereka akan kembali ke Indonesia.


"Udah semua..?", tanya Nathan.


"Udah..",


Sharen menyeret kopernya, begitu pula dengan Nathan. Sharen benar-benar tidak berani bersuara, kecuali Nathan yang bertanya atau memang Sharen perlu berbicara. Itupun hal yang penting.


Sepanjang perjalanan menuju ke Indonesia, Sharen memejamkan matanya. Tubuhnya meringkuk di seat bisnis class, tanpa berinteraksi dengan suaminya seperti biasa. Sharen berdoa, semoga ini adalah mimpi. Dan, apabila benar Sharen berjanji akan berterus terang mengenai hasil tes mereka.


Sharen terbangun ketika Nathan membangunkannya. Tidak ada kata sayang, Nathan menyapanya hanya dengan namanya saja.


"Kita udah mau mendarat Sha..",


Sharen mengangguk. Dia lantas bersiap.


Kemarahan Nathan sepertinya sudah mereda. Mungkin, hanya berbekas sedikit saja.


Tidak ada driver yang menjemput nereka. Nathan bahkan memesan taksi untuk pulang menuju ke Apartement mereka. Itu artinya, tidak ada yang tahu tentang kepulangan mereka, termasuk kedua keluarga besarnya.


Jika tadi Sharen mengira jika kemarahan suaminya sudah mereda, sepertinya dia salah. Malam harinya, bahkan Nathan memilih untuk tidur di kamar sebelah. Dan ini membuat hati Sharen teriris. Dia memang salah, tapi ini semua dia lakukan untuk menjaga perasaan Nathan, itu saja. Sharen tidak bermaksud apapun. Ini semua dia lakukan untuk Nathan, ya...hanya untuk Nathan. Sharen mengorbankan dirinya demi harga diri suaminya, itu saja. Sharen memang terlalu cinta dengan Nathan.


Sharen menangis di atas tempat tidurnya. Hanya bisa meratapi nasib rumah tangganya. Tidak ada yang bisa menjadi teman curhatnya. Sharen takut, jika salah satu pihak keluarga mengetahui hal ini, masalahnya justru akan semakin runyam. Dia bisa saja bercerita pada Kinara, namun rasanya tidak mungkin. Apalagi, adik iparnya baru saja keluar dari rumah sakit karena kehamilannya sedikit mengalami masalah. Sharen memilih untuk memendamnya.

__ADS_1


"Yank..sarapan dulu...", tawar Sharen ketika melihat suaminya keluar dari kamar.


"Iya nanti...", jawab Nathan dingin.


Hati Sharen kembali sakit. Nathan yang selalu lembut kepadanya, kini telah berubah. Ya, memang ini kesalahannya, lantas harus dengan cara apa Sharen menjelaskannya kepada Nathan? Semata hanya karena Sharen ingin menjaga perasaan Nathan, itu saja.


"Ganti baju ya, kita siap-siap...",


"Kemana yank..?",


"Kamu mau ikut apa nggak?",


"Iya.., kemana?",


"Kalo nggak mau, ya udah. Biar aku sendiri aja..",


Nathan mau mengajaknya kemana? ke pengadilan agama, untuk mendaftarkan perceraian mereka? atau ke rumah sakit untuk melakukan tes ulang? entahlah, Sharen tidak bisa lagi berpikir dengan jernih. Jika perpisahan adalah jalan terakhir yang Nathan ambil. Sharen bisa memastikan dirinya akan hancur.


Sharen hanya diam sepanjang perjalanan. Dia berdoa di dalam hatinya semoga apa yang dikhawatirkan tidak menjadi kenyataan.


"Ngapain kita ke restoran? kenapa ada mobil Dad sama Javas..?", tanya Sharen.


"Kita turun dulu...",


Mereka turun, dan saat turun dari mobilnya. Mereka bertemu dengan Mama Farah dan Papa Aldo.


"Kalian kapan pulang? kok nggak ngasih tau Mama? ",


"Kemarin mah...", jawab Nathan.


"Ini kenapa tiba-tiba kamu ngajak mamah papah kesini? ada yang mau kamu sampein? apa..?",


Deg...deg..deg..


Hati Sharen berdetak dengan kencang. Akankah Nathan mengumumkan perpisahan kepada kedua keluarganya? Jika benar, Sharen akan menggunakan cara terakhirnya yaitu, Daddy sebagai salah satu orang yang paling disegani oleh Nathan. Sharen akan meminta Daddy untuk membujuk Nathan untuk tidak berpisah dengannya. Sharen tidak ingin kehilangan Nathan, apalagi sampai mereka pisah.


Tapi, apakah sefatal itu kesalahan yang Sharen buat?


"Nathan jelasin di dalam ya..,


yuk masuk..udah ada Dad sama Mommy.." jawab Nathan kepada Mama Farah.


"Kalian kok tiba-tiba buat surprise..? kenapa nggak ngabarin?", tanya Mommy Aira ketika cipika cipiki dengan Sharen.


"Mendadak Mom...,


Dad....", sapa Sharen kepada Daddynya dengan tatapan mata seolah-olah berkata, "Dad, tolong Sharen..",


Daddy seperti tau apa maksud tatapan dari putri semata wayangnya.


"Semuanya akan baik-baik aja Queen...", bisik Daddy, meskipun beliau tidak yakin jika pernikahan putrinya sedang didera prahara.


"Dad.., Mom.., Mama, Papa.., Vas..,


Nathan minta kalian kesini, karena Nathan mau menjelaskan satu hal. Yang, mungkin akan membuat kaget..",


"Nath.., kalian baik-baik aja kan..?", tanya Mommy Aira dengan cemas.


"Nggak mom...",


Sharen menunduk, air matanya kembali pecah.


"Kenapa Sharen nangis? kalian kenapa? Ada salah satu diantara kalian yang selingkuh? Atau apa..?", tanya Mom Aira kembali.


"Sharen selama ini sudah bohong sama Nathan...",


"Maksud kamu apa Nath? Sharen selingkuh? nggak mungkin, Mommy nggak pernah mendidik dia kayak gitu..",


"Dengerin dulu sayang..", ucap Daddy Rendra.


"Sharen selama ini bohong...


kamu sulit untuk mempunyai keturunan, bukan karena Sharen yang bermasalah, tapi Nathan. Entah apa maksud Sharen, Nathan juga nggak tau kenapa dia bohong...",


"Astagfirullah..."


"Astaga....",

__ADS_1


"Sharen cuma mau menjaga perasaan Nathan aja Mom..mah, itu aja...", Sharen menitikkan air matanya.


"Iya..kamu pengen liat aku orang bodoh yang nggak tau apa-apa kan Sha..? apapun alasan kamu, tetap aja kamu bohong.., kamu bohong sama semua orang, terutama sama aku, suami kamu sendiri...",


"Bukan gitu yank...",


" Dad, Mom.., Mah..Pah.., Vas..,


terserah kalian mau menilai Nathan seperti apa. Istri yang seharusnya kasih support nyatanya malah menipu suaminya sendiri..",


"Nggak gitu yank..., aku cuma nggak pengen kamu terbebani, itu aja kok..", Sharen mewek. Mamah Farah lalu memeluk menantunya.


"Nggak mau aku terbebani, tapi kamu malah bohongin aku kan? aku merasa ditipu Sha..


Mom.., Dad.., Nathan udah pasrah.., Nathan....",


"Stop Nath.., nggak usah kamu lanjutin kata-kata yang malah nanti membuat pernikahan kalian berakhir. Sekarang, tenangin diri kamu dulu aja.., berpikir dengan jernih. Penjelasan apa yang tadi udah Sharen ungkapkan.., kamu renungkan..",


"Sha nggak mau pisah sama Nathan Dad ...", tangis Sharen dipelukan ibu mertuanya.


"Nathan izin pergi..",


Nathan pergi keluar dari ruangan.


"Nath.., brengsek kamu Nath...", ucap Javas yang hendak menyusul Nathan keluar, tapi di cegah oleh Daddynya.


"Biarin dia pergi Vas.., biar dia jernihin pikirannya..",


"Dad.., cegah Nathan pergi Dad...",


"Biar Sha.., biar dia berpikir dulu..",


"Sha nggak mau kehilangan dia Dad..",


"Kakak bego ya..,


suami yang susah punya anak, malah kakak yang ditinggalin. udah, pisah aja...", ucap Javas emosional. Dia tidak terima kakaknya diperlakukan semena-mena.


"Vas..., jaga mulut kamu..,


Ini masalah rumah tangga kakak kamu, jangan ikut campur...", peringat Daddy.


"Maafin kelakuan Nathan Ren.., Ra.., Vas..",kata Papa Aldo.


"Nathan butuh ketenangan...",


"Kali ini, Nathan bener-bener keterlaluan Ren...", ucap Mama Farah.


"Aku nggak membenarkan kemarahan Nathan, tapi aku paham kekecewaan dia. Butuh waktu untuk menerima semuanya..",


"Mas tanggung jawab ya nanti, kalo sampe pernikahan Sharen sama Nathan kenapa-napa.


Seharusnya tadi biar Javas ngejar Nathan...",


"Percuma..


emangnya kamu mau liat Nathan sama Javas berantem,jotos-jotosan gitu..?",


Sharen masih tetap memilih untuk tinggal di Apartement.


"Tinggal di rumah Mama Papa aja ya Sha..",


"Sharen disini aja Mah, nunggu mas Nathan nanti pulang..",


"Kalo pengen dijemput, bilang ya..",


"Iya Mah,


mas Nathan palingan nanti juga balik. pas kemarin di Aussie juga gitu...",


"Pulang ke rumah Mom sama Daddy aja ya Sha. Nanti biar bisa main sama Jaz, sama Zee. Biar kamu nggak sedih terus..",


"Nggak mom..


Sharen disini aja..",


Nathan pergi entah kemana. Hingga larut malam, dia belum juga kembali pulang ke Apartementnya.

__ADS_1


"Nath, kamu dimana sih? kenapa nggak bisa dihubungi sama sekali...", cemas Sharen.


__ADS_2