
"Yank.., aku lupa minum vitamin buat baby...",
" Ya udah, minum sekarang, itu ada air mineral...",
"Tapi vitaminnya ada di kamar yank, di rumah...",
"Nggak dibawa?",
"Kan nggak tau kalo mau nginep yank..",
"Ya udah, mas balik ke rumah ambil vitaminnya, kamu mas anter dulu, nanggung udah mau sampe. Sekalian mau diambilin apalagi?",
"Nggak ada, kan bajunya masih banyak disini. Paling tas kerja kamu aja..",
"Iya sayang.."
Secara kebetulan, Daddy berada di teras rumah saat Sharen turun dari mobil. Nathan, langsung menancap gas nya lagi, tanpa menyapa ayah mertuanya.
"Dad, kok sendirian aja..?",
"Itu yang lainnya di dalam lagi ngumpul..
Kamu diantar Nathan? kok dia nggak turun? kalian berantem? kamu dipulangin? kok dia nggak ngomong sama Daddy...",
"Nggak dad.., Sha sama Nath baik-baik aja. Nathan cepet-cepet pulang karena mau ngambil vitaminnya Sharen, udah waktunya diminum Dad...,tadi nggak bawa.
Padahal Sharen mau nginep sini...",
"Nathan ikut nginep nanti?",
"Ikut..
mana bisa dia tidur tanpa peluk Sha..",
Daddy tersenyum. Nathan memang menantunya, tapi apa yang dia lakukan seperti kebiasaannya.
"Beneran baik-baik aja kan?",
"Hmmmm, sebenarnya nggak..",
"Berantem kenapa Sha..?",
"Bukan sama Nathan, tapi sama Mamah..",
"Farah? kamu barantem? kalo udah nggak betah tinggal disana, tinggal disini aja Nak..",
"Cuma sebel aja Dad...",
"Daddy boleh tau kenapa?",
"Daddy masih ingat sama Dewi..? yang dulu ngaku dihamilin Nathan?",
"Inget..., kenapa?",
"Ya..Sharen nggak suka aja dia maen ke rumah.., udah gitu akrab banget sama Mamah..",
"Kamu cemburu?",
"Bukan masalah cemburu Dad,
kayak.., ngapain sih ini orang? nggak ada sangkut pautnya sama sekali. Saudara bukan, kakak adek, keluarga juga nggak.
Mamah juga kayaknya udah lupa sama apa yang diperbuat Dewi. Sharen tuh cuma jaga-jaga aja Dad, nggak mau kalo ada yang sampe ganggu rumah tangga Sha sama Nath.., apalagi sekarang udah ada baby di perut Sharen..",
"Kamu yakin Nathan setia kan?",
"Yakin dong..
kan Sharen udah bilang, jaga-jaga Dad..",
"Anak Daddy pinter..
masuk dulu Sha, jangan sampe kamu sakit...",
"Iya Dad.. Sharen masuk dulu.
Daddy nggak sekalian?",
"Daddy disini dulu..",
"Oke...",
Nathan memacu mobilnya dengan kecepatan lebih tinggi dibandingkan saat tadi istrinya berada di sampingnya. Nathan lakukan, agar dirinya cepat sampai di rumah. Jadwal minum vitamin istrinya tidak boleh telat, apalagi sampai terlewat.
"Nath..., kamu kok sendiri. Mantu Mamah mana?",tanya Mamah Farah ketika melihat putranya pulang hanya seorang diri.
"Sharen minta nginep di rumah orang tuanya Mah..",
__ADS_1
"Dia marah sama mamah?",
"Kayaknya sih gitu.., Nathan ke atas dulu mah...",
Mamah Farah mengekor di belakang Nathan karena masih belum puas dengan jawaban putranya.
"Kok kamu malah pulang Nath? berantem ya gara-gara Mamah..?",
"Nggak.., ini Nath mau ambil vitamin Sharen..",
"Kapan pulang Nath..?",
"Belum tau Mah, terserah dia mau balik ke sini kapan..",
Mamah Farah sampai mengikuti Nathan masuk ke dalam kamarnya.
"Mana ya..?
oh ini apa..?", ucap Nathan pada dirinya sendiri ketika mencari vitamin kepunyaan istrinya. Setelahnya, dia meraih tas kerjanya untuk dia bawa.
"Kalian lama ya disana?",
"Nggak tau mah, tergantung Sharen maunya gimana. Mama ngertiin ya? istri Nathan lagi hamil Mah, biarin aja maunya kayak gimana. Biar dia enjoy mah, nggak stress. Biar istri Nathan happy, cucu Mamah sehat..",
"Iya Nath, tapi kan Mamah perlu bicara sama dia..",
"Iya Nathan tau, nanti aja Mah. Sharen tuh masih kesel sama Mamah. Nanti juga ilang kok keselnya.
udah dulu ya Mah.., Nathan buru-buru...."
Mamah Farah akhirnya hanya pasrah. Menantunya tidak pulang karena sebuah kesalahan yang sebenarnya tidak sengaja diperbuat.
Nathan tiba kembali di kediaman Rendra Perdana. Jika waktu normal membutuhkan 60 menit pulang pergi. Nathan hanya memerlukan 45 menit untuk kembali ke rumah mertuanya. Itu artinya Nathan memang memacu kendaraanya dengan kecepatan tinggi.
"Dad..", sapanya pada ayah mertuanya.
"Cepet banget Nath, kamu ngebut..?",
"Iya Dad..,
Udah waktunya Sharen buat minum vitamin..",
"Ya udah, kasihin dulu.
Habis itu balik kesini, Daddy mau ngobrol sama kamu..",
Nathan masuk ke dalam rumah. Setelahnya, dia kembali menuju ke teras menemui mertuanya. Nathan duduk mendampingi Daddy.
Nathan hanya mengangguk.
"Kamu tau kan Nath, dari awal Daddy udah percaya sekali sama kamu? bahkan saat Sharen masih berhubungan sama Bian, Daddy udah minta kamu buat deketin Sharen..",
"Iya Dad..",
"Sayangnya, kepercayaan Daddy sama kamu dua luntur saat kamu ninggalin Sharen tanpa kabar, walaupun kamu pergi bertujuan buat ibadah..",
Nathan mengangguk kembali.
"Daddy sedang membangun kepercayaan kembali, jadi jangan sampe kamu meruntuhkannya lagi..",
"Nggak akan Dad...",
"Kamu tau apa yang di lakukan Sharen saat ini buat melindungi Rumah tangga kalian kan?",
"Tau Dad...",
"Mungkin Mamah kamu nggak kepikiran ke arah sana, tapi sebagai sesama perempuan dan istri, seharusnya Mamah kamu paham..",
"Mamah memang salah Dad, Nathan tau itu..",
"Bagaimanapun kamu adalah anak laki-laki dan sampai kapanpun kamu tetap milik seorang ibu. Tapi, kamu juga harus tau kamu adalah seorang suami. Kamu itu Imam dan panutan untuk Sharen.
Daddy nggak akan mencampuri rumah tangga kalian. Daddy cuma mau ngasih masukan. Jangan sampai Farah merasa kamu lebih memprioritaskan Sharen, dan jangan sampai juga Sharen merasa kamu lebih membela Farah. Ingat Nath, adil bukan berarti sama rata. Tapi adil itu sesuai porsi dan kapasitas..., kamu paham maksud Daddy..?",
"Nathan tau Dad, tapi untuk saat ini Sharen memang prioritas Nathan.
Mamah adalah ibu yang melahirkan Nathan. Meskipun Mamah salah, Nathan juga nggak mau menghakimi Mamah. Nathan sudah minta Papah untuk menasehati Mamah..",
"Kamu sudah melibatkan Aldo..?",
"Sudah Dad..
kayaknya Papah juga udah ngasih tau Mamah..",
"Ya sudah kalo gitu..,
tolong minta Sharen untuk nggak cerita sama Mommy nya. Bisa jadi perang dunia nanti Nath...",
__ADS_1
"Iya Dad, nanti Nathan bilang ke Sharen...",
Daddy mengangguk.
"Udah malem Nath, waktunya istirahat. Kamu besok ke kantor kan?",
"Iya Dad..",
Keduanya bersiap untuk tidur, namun seperti malam-malam biasanya. Mereka selalu menyempatkan untuk mengobrol.
"Ngobrolin apa tadi sama Daddy..?",
"Biasa ngobrolin kerjaan...",
"Yank, kalo bisa nggak usah dinas dulu ya..",
"Kenapa..?",
"Ya kan, aku nggak bisa ikut..,
lagi hamil...",
"Javas aja lagi dinas.., istrinya juga lagi hamil...",
"Itu kan Kinara,
kalo aku nggak sanggup..",
"Kenapa? cinta banget sama suami kamu? nggak bisa jauh..?",
"Nggak..",
"Nggak cinta maksudnya?",
"Cinta banget, nggak bisa jauh-jauh..",
"Pasti aja dinas keluar kota sayang..
tapi nanti mas usahain, bisa pulang pergi. Berangkat pagi, pulang malam ya. Tergantung lokasi juga...",
"Ya kan bisa nyuruh Tama aja yang berangkat..",
"Iya..nanti liat keperluannya juga sayang. Untuk saat ini, belum keliatan jadwal dinas kok..",
"Syukur deh..",
"Kamu ngobrolin apa sama Mommy tadi?",
"Nggak sih, cuma maen sama Zee sama Jaz aja.., kenapa..?",
"Nggak usah bilang soal Dewi ya..?",
"Kenapa emangnya..?",
"Takut nanti Mommy sama Mamah berantem. Bisa panjang urusannya...",
"Hmmm gitu...",
"Bisa kan?",
"Iya..bisa...,
udah ya yank, nggak usah bahas Dewi. Males...",
"Mending tidur aja, kamu ngantuk kan? atau mau makan?",
"Udah kenyang tadi makan bebek goreng, meskipun ngutang...", ucapnya sambil terkekeh mengingat suaminya yang terpaksa meminta kembali uang yang sudah diberikan kepada pegawainya.
"Besok mas ganti sayang..",
"Lain kali tuh uang cashnya dibanyakin yank, paling nggak dua juta gitu..",
"Ribet sayang, enakan cashless...",
"Kalo nggak aku yang ngisi juga nggak ada isinya itu dompet..",
"Ya kamu kenapa ngisinya cuma lima ratus?",
"Hehe kehabisan cash juga yank..",
"Mas ngantuk..,tidur yuk..",
"Yank, mau kissing dulu nggak?", ucap Sharen.
Nathan tersenyum. Tidak perlu meminta, Sharen justru yang menawarinya.
"Mau.." jawabnya singkat. Nathan langsung menyambar bibir istrinya menggunakan bibirnya. Hanya ciuman biasa sebagai pengantar sebelum mereka istirahat malam. Nathan mengakhirinya dengan menyematkan satu ciuman di kening istrinya.
__ADS_1
"I love you sayang..",
" I love you too..",