
" Halo sus..",
"Halo.., maaf dengan siapa..?",
"Ini aku.., Nathan..",
"Oh mas Nathan, gimana mas?",
"Jaz dimana?",
"Maen bola di depan mas.., mau saya panggilin?",
"Tolong sampein aja sama Jaz, hari ini aku nggak bisa kerumah ya. Mendadak aku harus ketemu klien..",
"Mas Nathan ada janji sama Jaz? mau nengokin nyonya Aira?",
"Bukan sus, katanya Jaz pengen naik motor.., aku tadi udah janji, sore ini mau kerumah..",
"Oh gitu.., oke mas. Nanti saya sampein ke Jaz...",
"Oh ya sus, mengenai rencana bawa Jaz buat ketemu sama Tante Aira, tolong rahasiain ya. Jangan sampe Sharen atau yang lainnya tahu..Aku masih cari waktu yang tepat..",
"Iya mas..",
"Sus beneran mau bantu kan?",
"Sebenarnya saya takut mas.., kalo mbak Sharen tau, pasti saya dipecat. Padahal, saya butuh banget sama pekerjaan ini..",
"Nggak usah khawatir, kalo sus di pecat, aku juga dipecat. Aku punya Cafe, sus bisa kerja disana kalo mau..",
"Beneran mas..?",
"Bener.., tapi aku sih berharap Sharen nggak sampe pecat Mbak sus.., biar Jaz ada temennya, jadi nggak kesepian kalo ditinggal Sharen kerja..",
"Pasti ketauan ya mas kalo ngajak Jaz kesana..?",
"Sekali dua kali sih nggak bakal sus, kalo terus-terusan udah pasti ketauan. Karena nggak sembarangan orang bisa masuk ke sana..Tapi, sekali ketemu sama Tante Aira, kayaknya Jaz ketagihan.
"Oh.., gitu..
Ya udah mas, saya mau kedepan dulu. Kasian, Jaz tadi minta diambilin minum..",
"Oke-oke sus.., tunggu kabar dari aku ya..",
"Baik mas..",
Sus Sri membawa satu botol berisi air putih untuk Jaz. Anak asuhnya itu sedang bermain bola ditemani oleh Maid.
"Jaz.., ini minumnya..",
Jaz berlari menghampiri sus Sri.
"Haus banget ya, lari-larian.
"Iya.., Jaz haus banget..",
"Bik.., nggak apa-apa kalo ditinggal. Biar Jaz sama saya aja..",
"Oke Sus..",
"Makasih ya Bik udah dibantuin jagain Jaz.."
Jaz meneguk habis minuman yang diberikan sus Sri untuknya.
Suara gahar knalpot terdengar, tampaklah seorang laki-laki gagah mengendari motor sport, memasuki halaman rumah. Jaz menyambutnya dengan sangat senang. Senyumnya mengembang. Berbeda dengan Sus Sri yang heran. Karena baru saja Nathan meneleponnya, jika dia berhalangan datang. Motor berhenti tepat dihadapan Jaz.
"Kak Nathan.., ayo Jaz udah nggak sabar naik motornya. Jaz di depan aja ya..",
Namun, wajah Jaz langsung cemberut. Ketika laki-laki itu membuka helmnya. Bukannya Nathan, melainkan Javas. Jaz langsung berbalik badan membelakangi Javas.
"Kamu mau naik motor sama Kak Nathan? mau kemana?",tanya Javas yang turun dari motornya.
Yang ditanya hanya diam, melipat kedua tangannya di depan dada.
"Ditanya kok diem aja.., Jaz.."
Jaz masih diam.
"Jaz.., ayo dijawab pertanyaan kak Javas..",ucap Sri. Ini pertama kalinya Javas mendengar suara baby sitter adiknya.
"Ya udah kalo nggak mau jawab. Ini.., buat kamu. Kemarin Jaz ulang tahun kan?", ucap Javas dengan memberikan sebuah kado yang ditaruhnya di dalam paper bag.
Jaz baru mau menoleh. Dia mendongak, melihat wajah Javas yang memang biasa dingin kepadanya.
"Buat Jaz?",
"Iya.., buat kamu. Isinya mainan..",
"Jaz udah punya banyak mainan..", jawabnya berlari masuk ke dalam rumahnya. Jaz menolak pemberian dari Javas.
"Jaz.., tunggu...",
Sus Sri yang kaget dengan spontan memberikan botol minum yang dipegangnya kepada Javas. Sus Sri langsung ikut berlari mengejar Jaz.
"Lho..lho.., ini botol minumnya kok malah dikasih ke aku..", gerutu Javas.
Sharen yang berdiri di belakang Javas, langsung bersuara.
"Tuh kan, Jaz jadi marah sama kamu..",
Javas menoleh.
"Kayak Kunti aja tiba-tiba dateng..",
"Kakak udah sejak tadi disini..",
"Oh..",
"Jaz marah sama kamu, karena kemarin liat kamu marah-marah di hari ulang tahunnya..",
"Javas bukan marah sama dia, tapi sama Daddy..",
"Tapi kamu merusak momentnya..",
__ADS_1
"Iya.., salah lagi..",
"Ada angin apa, kamu ngasih kado ke Jaz? kamu kesambet dimana?",
"Galak salah, dingin salah, ngasih perhatian salah.., Javas harus gimana?",
"Kakak kan cuma tanya, nggak ada yang nyalahin kamu ya..",
"Ya kemarin kan dia ulang tahun. Mau ngasih kado aja.., nggak boleh?",
"Iya boleh.., makasih udah ngasih kado buat Jaz. Mana kadonya? biar kakak aja yang ngasihin..",
"Nih..",
"Masuk yuk.., kita makan malam bareng. Jaz pasti seneng banget..",
"Ada Daddy?",
"Di dalam..",
"Ada ulet keket?",
"Siapa? Tante Erna?",
"Iya..siapa lagi..",
"Nggak..",
"Javas mau cabut.., mending pacaran aja..",
"Hmmm.., ya udah.., hati-hati ya sayang..",
"Javas geli dengernya..",
"Hahahaha..,
Hati-hati adek.., jangan ngebut ya..",
"Iya..",
"Pengen peluk..",ucap Sharen manja.
Mereka berpelukan. Sharen dan Javas memang kerap berselisih paham, dalam segala hal. Termasuk masalah tentang Daddynya. Namun, mereka pasti kembali akur. Sharen dan Jaz saling memahami meskipun seringkali Sharen yang harus mengalah.
"Beli bunga? buat apa?",
"Bukan beli.., ini dari secret Admirer..",jawab Sharen yang terlihat bahagia memperlihatkan setangkai bunga mawar merah yang dipegangnya.
"Iya deh, yang jadi artis..",
"Lah..emang iya...",
Jaz masih bersikukuh untuk menolak kado dari Javas. Meski sudah dibujuk berkali-kali oleh Sharen dan Sus Sri.
"Padahal Kak Javas udah capek-capek beliin Jaz kado, tapi malah ditolak. Nanti, kak Javas jadi sedih lho..",
"Biarin..",
"Nggak..",
"Ya udah, Moma taruh disini deh kadonya. Nanti dibuka Jaz sendiri aja. Kita makan malam yuk? katanya Jaz mau makan sama-sama?",
"Kak Nathan bohong, katanya mau kesini, ngajakin Jaz muter-muter. Kok nggak jadi?",
"Kak Nathan tadi ada tugas dari kantor.., jadi nggak bisa kesini. Maaf ya..",
"Tuh kan kak Nathan bohong. Berarti kak Nathan bohong juga, katanya mau nemuin Jaz sama.......", ucap Jaz tertahan. Hampir saja dia keceplosan. Jaz langsung melihat ke arah suster Sri yang meletakkan jari telunjuknya di depan bibir, bertanda jika Jaz harus diam.
"Nemuin Jaz sama siapa?",
"Hmmmm, sama temennya..",
"Temennya kak Nathan yang mana?",
"Yang suka naik motor..",
"Pembalap ya?",
"Iya mungkin..",
"Oke.., besok Moma minta Kak Nathan kesini ya? besok Jaz kan libur, kak Nathan juga nggak kerja...",
"Hore..., mau ajak kak Nathan keliling-keliling boleh ya? Jaz di depan ya Moma?"
"Boleh.., tapi harus pake helm, oke...",
"Oke Moma..",
Jam masih menunjukkan pukul 7 pagi. Namun, Jaz sudah berpakaian rapi. Ganteng, wangi serta sudah selesai menikmati sarapan pagi. Ternyata, dia sudah tidak sabar dengan kedatangan Nathan yang akan mengajaknya berkeliling dengan menggunakan motor sport. Sesuatu yang sangat dia inginkan sejak lama.
"Kak Nathan kan kesini jam 9, kok kamu udah rapi banget sih?",
"Jaz takut kak Nathan lama nunggu..",
"Masih lama sayang...",
"Jaz mau kemana?",tanya Rendra.
"Mau jalan-jalan naik motor sama kak Nathan..",
"Jaz pengen jadi pembalap juga kayak kak Javas?",
"Nggak.., Jaz nggak pengen kayak kak Javas, dia jahat..",
"Kenapa Sha..?",
"Karena kemarin Dad..", ucap Sharen yang menjelaskan singkat kepada Daddynya. Tidak perlu panjang lebar, Rendra sudah tau apa maksud putrinya.
"Jaz mau makan lagi? Dad suapin, mau..?",
"Jaz udah kenyang...",
Akhirnya yang ditunggu datang. Nathan tiba tepat pada pukul 9 pagi, seperti janjinya. Dia mengendarai motor sport Ducati. miliknya.
__ADS_1
"Ayo.., mau naik sekarang..?",
"Mau kak..mau...",
"Pakai helmnya dulu dong..", Sharen berjongkok memakaikan helm kecil sebagai pelindung kepala Jaz.
"Ini baru ya Moma..",
"Iya dong..,
Nah.., Jaz udah ganteng..",
Nathan menggendong Jaz lalu menaikkannya ke atas motor miliknya. Seperti keinginan Jaz, di depan tepatnya di atas tangki.
"Pegangan ya Jaz...",
"Moma ayo ikut..",
"Nggak ah.., Moma kan mau pergi Jaz..",
"Ayo Moma..ikut....", rengek Jaz.
Tidak kuasa menolak keinginan Jaz, akhirnya Sharen membonceng di belakang.
"Ini gimana sih Nath naiknya..",ucapnya dengan naik ke atas motor, dan bertumpu pada pundak Nathan.
"Pelan-pelan Sha..",
"Asyik Moma ikut...",
"Jaz.., mau foto dulu nggak?", ucap Nathan.
"Boleh..",
"Sus tolong fotoin ya...", ucapnya memberikan ponselnya kepada sus Sri.
Hanya berkeliling komplek, karena kebetulan Sharen tidak mengenakan helm. Meski begitu, sudah membuat Jaz bahagia. Keinginannya untuk duduk di atas tangki motor, sudah terpenuhi. Hehehe.
"Mau kemana Sha?"
"Aku ada janji sama Tante Zara sama bunda Fafa, mau ke butik. Mama kamu juga kayaknya ikut..",
"Arisan?",
"Nggak sih.., mau ada bisnis bareng..",
"Pasti lama deh..",
"Iya lama pastinya.., tapi sekarang aku nggak khawatir lagi ninggalin Jaz lama. Udah ada Suster, terus Daddy juga sekarang udah bisa dititipin Jaz..",
"Syukur deh kalo gitu...
Jaz mau kemana lagi habis ini?",
"Mau beli es krim..",
"Oke.., tapi kita pulang dulu ya..",
Jaz merengek ketika tahu jika Sharen akan pergi meninggalkannya. Dia keukeuh ingin ikut pergi. Tapi, dia terdiam ketika Nathan membisikkan sesuatu kepadanya.
"Sama kak Nathan dulu ya. Moma ada urusan.., oke..",
"Iya deh.., Jaz pergi sama kak Nathan aja, boleh?",
"Boleh dong.., katanya mau beli es krim kesukaan kamu kan?",
"Iya...",
"Sha.., boleh nggak aku pinjem mobil. Kasian kan kalo Jaz nanti kepanasan. Es krimnya nanti jadi meleleh..",
"Oke.., ambil aja di garasi Nath, kamu mau pake yang mana?",
"Biar nanti Jaz aja yang pilih..", jawab Nathan.
Jaz melambaikan tangan kepada Sharen yang pergi mengendarai mobil mini Cooper miliknya. Setelah mobil itu menjauh dari pandangannya, Jaz langsung menagih janji Nathan.
"Ayo kak sekarang...",
"Iya sabar..,sebentar ya..",
Nathan mengeluarkan ponsel dari sakunya lalu menelepon seseorang.
"Mine.., lagi dimana?",
"Lagi main golf, nemein Papa sama kak Javas, kenapa?",
"Abis ini, mau kemana?",
"Pulang kak.., udah dimasakin mama, disuruh makan siang di rumah..",
"Sama Javas juga?",
"Iya.., kenapa?",
"Cuma tanya doang.., ya udah kalo gitu. Have fun ya. Bye...",
Kata-kata yang diucapkan Nathan sepertinya memang mujarab hingga mampu membuat Jaz menurut.
"Jaz sama kak Nathan aja. Katanya mau ketemu sama Tante itu..?",
Bisikkan Nathan mampu meluluhkan hati Jaz sehingga dia mau untuk melepas kepergian Sharen. Ini sepertinya waktu yang tepat untuk membawa Jaz pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Aira. Memastikan Sharen dan Javas sedang melakukan aktivitas masing-masing sehingga tidak memungkinkan keduanya untuk pergi ke rumah sakit. Dan, untuk sementara waktu posisinya aman.
"Kita ketemu sama nyonya Aira, sekarang mas?",
"Iya.., sus tolong siapin keperluan Jaz dulu. Aku tunggu sini. Jangan ngomong apa-apa sama maid di rumah, apalagi sama Om Rendra. Kalo ada yang tanya, bilang aja perginya sama aku.."
"Oke mas..",
Aduh..deg-degan....,
Siapa yang ngga sabar Jaz ketemu sama mommynya? kira-kira gimana reaksinya Jaz?
Wait next bab,
__ADS_1