Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )

Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )
Sejahat itu


__ADS_3

Percaya kan? ikatan batin antara Ayah dan anak perempuan itu kuat. Seperti halnya Daddy. Beliau tiba-tiba menelepon Sharen, saat putrinya itu baru saja sampai Apartement.


"Daddy telpon..", ucapnya.


Sharen membuka pintu, dan segera menyeka air matanya sebelum masuk ke dalam. Dia tidak ingin terlihat menangis saat Daddynya melihat CCTV .


"Halo Dad...",


"Halo sayang.., kamu baik-baik aja..?",


"Iya.., Sharen baik-baik aja kok Dad...",


"Coba lambein tangan ke kamera...",


Tuh kan benar, Daddynya memang selalu memantau CCTV.


"Mau video call aja Dad..?",


"Nggak sayang, Daddy masih di kantor. Nanti aja ya kalo Daddy sampe rumah. Jaz udah request buat Video call..",


"Iya Dad.., Daddy jangan capek-capek ya. Javas nggak ngantor Dad? ",


"Udah..udah ngantor kok..


Sha sehat kan? kamu abis darimana?",


"Sha sehat Dad, Sha abis makan sama temen..",


"Kamu udah punya temen disana?",


Sharen keceplosan. Dia tidak mungkin bercerita, karena takut dengan respon Daddynya.


"Iya.., tetangga Apartement Dad, kebetulan tadi ketemu dibawah..",


"Jaga diri baik-baik ya sayang...,


Daddy tadi tiba-tiba kepikiran sama kamu, jadinya Daddy telepon..",


"Iya.., Sha disini jaga diri kok Dad...


Daddy jaga kesehatan ya Dad..",


"Iya sayang..",


Sharen menarik kesimpulan, jika Daddynya tidak menyuruh orang untuk mengawasinya. Sharen lega.


Padahal, setengah jam lalu waktu Indonesia, seseorang menghubungi Daddy untuk melaporkan keadaan Sharen. Daddy tetap memantau putrinya meskipun tinggal jauh darinya. Mana mungkin, Daddy begitu saja melepaskan putri kesayangannya. Tetap ada orangnya yang mengawasi Sharen dari jarak jauh.


"Nona Sharen bertemu dengan seorang pemuda pak.., mereka makan bersama..",


"Oh ya..? bisa kamu kirimkan foto mereka..? Saya ingin melihatnya..",


Daddy Rendra tersenyum dengan menggelengkan kepala ketika melihat foto putrinya.


"Mau dipisahkan seperti apapun, kalian pasti akan bertemu kembali..


Daddy nggak akan ikut campur lagi sayang..., kali ini Daddy ikut kemauan kamu..",


Daddy memang sudah tidak ingin memaksakan hubungan mereka berdua. Biarlah semuanya mengalir seperti air. Namun, jika boleh berharap. Daddy tetap ingin keduanya bersatu, tapi tanpa campur tangannya.


Malam hari, sambil menyantap makan malamnya. Sharen kembali mengadu pada Tama.


"Hiks hiks...", Sharen langsung menangis ketika Tama sudah mengangkat teleponnya.


"Kenapa nangis? jangan jadi drama Queen...",


"Dingin banget Tam..., dia berubah...",


"Andai aja aku disana, atau dia ada disini. Udah aku tonjok tuh mukanya....", ucap Tama.


"Dia bilang, mau lupain semuanya. Aku jadi salah satu orang yang pengen dia lupain...",


"Bertaun-taun dia berkorban buat kamu. Disaat kamu udah nggak sama siapa-siapa, kamu malah nyuekin dia. Mungkin, dia memang capek Sha.., karena semua usahanya selama ini nggak membuahkan hasil..",


"Kamu bela aku apa dia..?",


"Nggak ada, 2-2nya sahabat aku..",


"Pengen nyerah aku..",


"Masa gitu aja nyerah...?? sikapnya sama kamu, nggak ada apa-apanya dibanding sikap kamu selama ini ke dia..",


"Tapi, aku nggak pernah secuek itu sama dia..",


"Tapi kamu nggak jaga pernah jaga perasaannya..",

__ADS_1


"Tam.., aku nyerah...",


"Kamu mau kehilangan dia..? lagi..?",


"Nggak mau..",


"Usaha Sha.., usaha..,


mau aku bantu? sini kirimin nomor barunya, biar aku yang ngomong ke dia..",


"Nggak usah Tam.., aku mau usaha sendiri..",


"Ya udah..,


kalo butuh bantuan, bilang aja ya..",


"Hmmmm..",


"Tidur gih, disana udah malem kan?besok kamu sekolah ?"


"Iya, hari pertama..",


"Oke..,


aku akan selalu denga cerita kamu..",


"Makasih Tam..",


Bangun lebih pagi dari biasanya. Hari ini Sha akan pergi ke sekolahnya. Sharen menyiapkan makan paginya, kali ini dia memasak menu spaghetti dengan omelet telur. Simple karena memang dia tidak pandai memasak.


Meletakkan hasil masakannya sebagain di atas piring. Sisanya dia masukkan ke dalam kotak bekal. Menunggu makanya dingin, Sharen bergegas mandi.


Sharen sarapan, rasa masakannya tidak terlalu mengecewakan, tapi dia masih harus belajar banyak.


Sharen membawa kotak bekal, juga satu buah termos minum yang berisi white coffe. Sharen memasukkannya ke sebuah tas kecil.


Masih ada waktu satu jam, sebelum kelasnya dimulai. Sharen mampir ke swalayan. Untuk apa? coba simak.


"Permisi...",


"Ya, mau cari apa..?",


"Hmmmm..nggak, cuma mau tanya.


Nath..., oh maaf maksud saya Dave, dia sudah masuk..?",


"Hmmm.., gitu ya. Saya bisa minta tolong nggak..?",


"Ya..?",


"Saya mau titip bekal makan buat Dave.., bisa..?",


"Oh bisa.., ini dari siapa..?",


"Bilang dari Vanya, Belvanya...",


"Oke.., nanti saya sampaikan...",


" Baik mas, terima kasih..",


Sharen juga tidak tahu respon apa yang diterimanya nanti. Yang penting, buat Sharen baik dan tulus.


10 menit berjalan kaki, akhirnya Sharen sampai di sekolahnya. Dia bergegas masuk kelas, yang ternyata sudah banyak murid yang hadir disana. Kebanyakan warga lokal Aussie, tapi ada juga yang berasal dari luar negeri.


Hari pertama sekolah, terasa menyenangkan. Sharen berkenalan dengan teman-teman barunya, meskipun hany "say hello". Belum ada interaksi yang terlalu intens.


"Sha.., mau ikut gabung hang out nanti malam..?", tanya temannya.


"Hmmm.., maaf. Sepertinya, belum bisa. Aku belum izin sama Daddy..",


"Oh, its oke. Semoga lain waktu kita bisa pergi keluar bersama-sama...",


"Mudah-mudahan...,


kalo gitu aku permisi pulang dulu..",


"Oke..bye...",


Menolak secara halus ajakan temannya. Bukan sombong, tapi Sharen memang belum izin ke Daddynya. Sebelumnya, dia sudah diwanti-wanti untuk tidak mengenal dunia malam, apalagi di luar negeri yang jauh dari keluarga.


Sharen beberapa kali memeriksa ponselnya. Siapa tahu, ada pesan dari Dave yang mengucapkan terima kasih kepadanya. Tapi tidak ada sama sekali. Atau jangan-jangan, titipannya belum diterima oleh Dave..?


Memastikan, akhirnya Sharen memutuskan mampir ke Swalayan. Tidak hanya ingin bertanya pada teman Dave, tapi stok gula dan teh di Apartementnya habis.


Sharen mengambil barang yang dia perlukan. Kebetulan, ada Dave yang terlihat sibuk melayani pembeli. Sharen sengaja mendekat, dia menunggu Dave selesai melayani pembeli.

__ADS_1


"Hai...", sapanya.


Dave hanya melihat ke arahnya.


"Dave..",


"Hmmmm...", jawabnya singkat sambil merapikan kotak freezer di hadapannya.


"Kamu udah terima..?",


"Udah...,


tunggu....",


Dave menyuruhnya menunggu dan akhirnya dia datang membawa tas milik Sharen tadi.


"Nih...., udah aku makan tapi nggak abis. Kopinya juga masih setengah.. Ini untuk yang pertama dan terakhir kalinya kamu ngasih aku bekal...",


"Kenapa? rasanya nggak enak ya..?",


"Salah satunya itu, tapi aku lebih suka jajan daripada makan masakan rumahan..",


Rasanya saat itu juga Sharen ingin menjerit. Padahal, dia sudah berniat baik.


"Kamu kenapa sih Dave, niat aku baik lho. Biar kamu tuh nggak usah keluar cari makan.., bukannya terima kasih tapi ngomong kayak gitu. Jahat..tau nggak..!!!", ucap Sharen. Suaranya yang keras membuat beberapa pengunjung menoleh ke arah mereka.


"Husssst... kamu bisa nggak pelanin suaranya? nanti dikiranya aku ngapa-ngapain kamu.. , apalagi barusan kamu pake bahasa Indonesia, mereka nggak ngerti..",


"Iya maaf...", ucap Sharen dengan menunduk.


"Aku pulang jam 8 malam, tunggu aku di depan sini. Kita ngobrol sebentar..",


"Iya..aku tunggu..",


Sharen tidak bisa marah, dia ingat tentang usahanya untuk meluluhkan hati Dave. Sharen mengakui kesalahannya, tapi haruskah dia mendapatkan perlakuan seperti ini. Dave sangat dingin baginya.


Jam masih menunjukkan pukul 7 malam, tapi. Sharen sudah duduk di bangku depan Swalayan. Dia menunggu Dave pulang bekerja. Melihat orang-orang lalu lalang masuk keluar swalayan.


Akhirnya, setelah menunggu 1 jam lamanya, Dave keluar dari swalayan. Sharen menyambutnya dengan senyuman manisnya.


"Halo...",


"Kita ke kedai...", ucapnya. Lagi-lagi dia meninggalkan Sharen yang berjalan di belakangnya.


Sharen duduk, berhadapan dengan Dave.


"Kita bayar sendiri-sendiri lagi..?",


"Aku yang traktir, tapi cuma minum. Sebagai ganti karena kamu udah ngasih aku makan tadi..",


"Aku ngasih kamu minum sama makan, tapi kenapa balasannya cuma minum?",


"Kamu nggak ikhlas..",


"Ikhlas kok..",


"Ya udah..",


"Kamu ngajakin aku kesini, cuma buat ngajakin aku berantem..?",


"Apa mau kamu..?", tanya Dave.


"Maksudnya..?",


"Apa mau kamu sebenarnya..?",


"Aku cuma mau kamu bersikap seperti biasa ke aku, udah itu aja..",


"Tapi, aku nggak bisa..",


"Aku ada salah ya sama kamu? aku minta maaf..",


"Oke..",


"Berarti kita bisa kayak dulu lagi kan..?",


Dave hanya diam, dia memandang wajah Sharen. Memperhatikan netra coklat gadis itu, sebelum akhirnya dia bersuara kembali.


"Sia-sia aku kesini jauh-jauh, tapi akhirnya aku ketemu kamu lagi. Salah satu alasan terbesarku untuk meninggalkan Indonesia..",


"Aku..?",


"Segala cara udah aku lakukan, tapi nampaknya tidak sesuai apa yang aku harapkan. Saat satu-satunya orang yang sangat percaya sama aku pun, meragukan kejujuran ku. Disitu, aku sadar kalau usahaku sia-sia. Dan, aku memutuskan perjuanganku sampai disitu saja.


Tolong, bantu aku mencapai tujuanku disini, untuk melupakan kamu..., aku ingin membuka lembaran dan kehidupan baru disini...",

__ADS_1


Dave tidak membiarkan Sharen menjelaskan apapun kepadanya. Dia langsung pergi, lagi-lagi meninggalkan Sharen yang membeku ketika mendengar ucapannya.


"Ternyata, aku sejahat itu...",gumam Sharen.


__ADS_2