
Keduanya sama-sama baru mendapatkan pelepasannya. Nathan dan Sharen melakukannya sekali lagi.
"Capek sayang...",
"Iyah..."
"Tidur, besok aja lagi..",
"Capek Nath...",
"Enak kan tapi..?",
"Iya.., tapi capek..",
"Mau aku kasih tau caranya biar nggak capek..?",
"Apa..?",
"Kamu yang di atas..",
"Ih.., nggak mau..",
"Kenapa..?",
"Aku malu..",
"Aku udah liat semuanya sayang...",
"Leher aku, dada aku, kamu apain..? merah semua..?",
"Dikasih tato alami..., bagus kan..?",
Leher dan dadanya yang putih memperlihatkan jelas bagaimana kissmark yang Nathan berikanuntuknya.
"Aku ngantuk Nath...",
"Iya sayang.., tidur...",
Sahren tidur dengan memeluknya. Keduanya masih dalam keadaan telanj*ang dalam satu selimut. Nathan mengelus rambut istrinya. Dia selalu dibuat jatuh cinta berkali-kaki pada wanita yang saat ini menjadi istrinya.
Sementara itu di dalam kamar lain. Sepasang suami istri sedang bertengkar dia atas ranjang. Ini gara-gara saat tadi hendak menuju ke kamar, tak sengaja mereka berpapasan dengan salah satu teman lama suaminya yang membuat istrinya cemburu.
"Nggak sayang, kan cuma temen lama..",
"Terus kalo temen lama, emang harus cipika cipiki gitu..?",
"Ya kan basa basi aja sayang, nggak lebih..",
"Mas tau kan.., ada istri mas disana..?",
"Iya mas tau..",
"Pokoknya mas salah..",
"Iya mas salah sayang...",
"Udah dapet nomor teleponnya tadi..?",
"Ngapain..? nggak lah..
kan mas emang udah punya nomornya..",
"Oh.., gitu ya mas..",
"Itu cuma temen aja Na.., nggak lebih...",
"Bodo amat...",
"Ayolah Na.., mas pengen.., jangan ngambek..",
__ADS_1
"Udah.., masih ada hari esok sayang...",
Nathan menepuk pelan pipi istrinya. Selepas sholat subuh tadi, Sharen memang kembali tidur. Dia mengaku lelah.
"Sayang, turun dulu yuk.., kita sarapan..",
"Hmmmmm....",
"Jangan desah gitu, nanti aku pengen lagi..",
Sharen membuka matanya perlahan.
"Nath.., itu aku sakit...",
"Apanya..",
"Itu....,
perih Nath..",
"Sakit ya sayang, terus gimana?",
"Sarapan disini aja ya..",
"Daddy udah telepon, kita udah ditunggu..",
"Ya udah, aku coba dulu...",
Sharen turun dari ranjangnya. Dia merintih kesakitan. Ya, miliknya masih perih meskipun saat berhubungan tadi Sharen tidak merasakannya.
"Awwwhhh...",
"Sakit sayang..?",
Nathan akhirnya membopong Sharen ke kamar mandi.
"Aku mau diapa-apain lagi..?",
"Dikompres mau?",
"Apanya?",
"Itunya..",
Nathan mengambil air hangat dan handuk kecil.
"Celananya buka dulu ya..",
"Aku bisa sendiri...",
"Aku bantu sayang..,
ayo buka dulu..., aku kompresin..",
"Jangan Nath..aku malu..",
"Aku udah lihat semuanya sayang..",
Sharen akhirnya menyerah dan membiarkan Nathan membantu mengompresnya. Ingin menunjukkan tanggung jawabnya, karena Nathan sakit karena perbuatannya. Sharen melihat ketulusan di wajah Nathan. Suaminya sama sekali tidak keberatan untuk membantunya, justru Nathan yang menawarkan.
"Makasih Nath..",
"Sama-sama sayang..",
"Aku bantu lagi ya..",
Nathan membopong Sharen keluar dari kamar mandi.
"Gimana?",
"Masih perih, tapi udah enakan nggak kayak tadi..",
__ADS_1
"Bisa ikut sarapan nggak?",
"Iya bisa...",
Mereka turun ke bawah untuk melakukan sarapan bersama. Keluarga yang lain sudah menunggu kedatangannya.
"Pagi kak Sha..",
"Pagi Jaz..",
"Kak Sharen sakit?kok jalannya gitu..", tanya Jaz.
"Enggak...", jawab Sharen dengan sedikit ketus.
Mommy dan Daddy saling bertatapan dan tahu apa yang terjadi dengan putrinya.
"Makasih Nath..",
"Iya sayang..,
mau apalagi..?",
"Udah cukup..",
Nathan membawakan sarapan untuk Sharen. Terbalik memang, seharusnya Nathan yang dilayani. Tapi, apa daya Sharen masih kesulita untuk berjalan.
Sarapan selesai, dan mereka masih berada di tempat masing-masing.
"Jaz.., nanti malem minta ke Mommy sama Daddy makanan yang banyak ya..", celetuk Sharen.
"Makanan? apa Sha..?", tanya Mommy.
"Jaz semalem ke kamarnya Sharen mom, katanya nggak bisa tidur karena kelaperan. Telepon Mommy sama Daddy tapi nggak diangkat. Javas sama Kina juga..",
"Sayang..", peringat Nathan.
"Sharen yang pengantin baru, tapi kalian yang lembut. Pengertian dikit kek..", gerutunya lagi.
"Iya maaf, Daddy sama Mommy ketiduran.."
"Ketiduran apa proses adik buat Sharen?",
Daddy hanya tersenyum.
"Tuh kan bener.., ih ngeselin..",
"Tapi, yang penting kalian nggak gagal kan produksi baby nya..?", kini Javas yang bersuara.
"Ya menurut kamu?",
"Nggak lah, semalam pasti Nathan juga lembur. Tuh, jalan kakak juga kayak gitu.., kayak orang disunat.",
"Ye.., sotoy..
Nath..kita balik ke kamar aja yuk..
Aku ngantuk..", bisiknya
"Iya sayang..
Permisi Dad.., Mom, Vas..dokter Kina
Bye Jaz..",
"Bye kak...",
"Jaz jangan gangguin kakak tidur lagi ya..
tuh gangguin kak Javas sama Kak Kina aja, atau mom sama daddy..",
Sharen dan Nathan masuk kembali ke dalam kamarnya. Mommy dan Daddy melihat keduanya dengan tatapan mengharap.
"Semoga kita cepet dapat cucu ya Mas dari mereka..",
"Aamiin..semoga sayang
atau kamu aja yang punya bayi lagi..?",
"Nggak Dad...
__ADS_1
masa iya adik Javas lebih muda dari anak Javas..", protes Javas.