
"Kak.., mana sandwichnya? Jaz mau bawa ke sekolah..",
"Nih.., kak Kina bikinin tiga..",
"Asyik.., makasih kakak cantik..",
"Nanti kalo kak Kina sakit lagi, awas aja Jaz..", ucap Javas.
"Jaz yang ngerawat. Kak Javas pasti iri karena nggak dibikinin bekal..", balas Jaz.
Javas diam. Jika nanti terus bersuara bukan tidak mungkin Jaz akan semakin membully-nya. Daddy juga pasti akan turun tangan, apalagi sekarang ada kak Sharen yang sudah pasti akan di pihak Jaz.
"Jaz pergi sekolah dulu ya Dad, mom, kak Sha.., kak Dok..",
"Kak Javas kok nggak disebut Jaz..?",tanya Sharen.
"Nggak usah..",
Mendengar namanya tidak disebut, Javas terlihat sangat kesal. Adiknya memang serese itu.
"Ayo sekalian Dad juga mau ke kantor.., Jaz mau bareng Dad atau pake mobil sendiri?",
"Bareng aja dad.., boleh? nanti Jaz katanya mau dijemput sama mom, iya kan mommy..?",
"Iya sayang..",
"Ayo..,
Kak Sha mau bareng nggak?",
"Nggak dad, pake mobil sendiri. Bareng ke depan aja, Sha mau ke butik dulu..",
"Ayo let's go.." ucap Jaz yang langsung turun dari duduknya dengan dibantu oleh Susternya.
"Eh Jaz lupa.." ucapnya.
"Kak Dok..sini Jaz bisikkin..", ucapnya kembali.
Kinara langsung memasang kupingnya, sejajar dengan tinggi badan Jaz.
"Apa..?",
Cup...
Jaz mencium pipi kakak iparnya. Javas yang melihatnya langsung membelalakkan matanya.
"Makasih kak dok.., hari ini Jaz udah dibikinin bekal..",
"Sama-sama ganteng.., belajar yang rajin ya..",ucapnya dengan membalas mencium pipi adik iparnya.
"Jaz pergi dulu.., kalo kak Javas nakal, kak dok tenang aja. Jaz yang bakalan bales, oke..",
Kinara tersenyum.
"Heh tuyul, awas ya ngeledek terus..",
Jaz berlari karena takut jika Javas akan membalasnya dan balik menjahilinya.
Javas yang memang selalu telat, masih asyik menikmati sarapan paginya. Hanya, dia dan Kinara yang saat ini masih tersisa di ruang makan.
__ADS_1
"Jaz dibikinin bekal..",
"Iya mas.., dia nagih..",
"Oh.., enak ya ada yang perhatiin..",
Kinara hanya tersenyum, dia masih menikmati sarapannya. Tidak peduli, Javas sudah bermuka cuka, alias asam.
"Aku berangkat sekarang..",
"Lho sarapannya nggak dihabisin?",
"Udah nggak selera..",
Kinara bangun dari duduknya. Bukannya mengikuti Javas yang hendak bekerja. Kinara malah kembali ke dapur.
Javas bertambah kesal. Bukannya lebih mementingkan suami, istrinya justru lebih perhatian kepada adik iparnya.
"Mas...!!!!", teriak Kinara.
"Apalagi..?", tanyanya berbalik badan.
"Nih..bekalnya..", Kinara mengangkat tas berisi kotak makan. Dia memberikan kepada Javas.
"Isinya sandwich, sama kayak yang dibawa Jaz..",
Javas kira Kinara melupakannya, ternyata istrinya itu sudah membuatkan bekal untuknya.
"Makasih..",
"Hati-hati ya..", pesannya dengan menyodorkan tangannya.
Kali ini, Javas dibuat tidak menyangka dengan sikap Kinara yang tak seperti biasa. Sebuah kemajuan dengan mengambil inisiatif terlebih dahulu.
Kinara mencium punggung tangan Javas.
"Aku pergi dulu..",
"Iya mas hati-hati..",
"Kasih kabar kalo kamu mau ke rumah sakit..",
"Iya mas..,
Bekalnya jangan lupa dimakan..",
"Iya.., nanti dihabisin...",
Tidak mencium kening sebelum berpisah dengan istrinya. Javas hanya membelai rambut kepala Kinara serta mengusap pipi kemerahan istrinya.
Kinara masuk kembali ke dalam rumah setelah mobil yang dikendarai suaminya hilang dari pandangannya.
"Na.., kamu hari ini ke rumah sakit?",
"Iya mom..,ada apa?",
"Nggak.., cuma tanya aja.
Kapan free Na..?",
__ADS_1
"Lusa mom.., ada apa?",
"Oke kalo gitu lusa aja, kita belanja. Cari kado buat nikahannya Kai..",
"Iya mom..,
Kinara ngasih kado apa?",
"Nggak usah, nanti gabungan aja sama mom sama kak Sha..",
"Gitu ya mom? tapi waktu Na sama Mas Javas nikah kemarin, dikasih kado juga sama Sea..",
"Nggak apa-apa, jadi satu aja..",
"Iya mom.., kalo gitu Na siap-siap dulu ya..",
"Iya.., mommy juga mau ke sekolah jemput adik kamu..",
Hari sudah menjelang petang. Kinara yang mendengar Adzan magrib berkumandang, bergegas bersiap untuk menjalankan ibadah sholat magribnya. Mengambil mukena dan sajadah lalu buru-buru untuk berjamaah di mushola bawah bersama pekerja di rumahnya.
"Na.., mau kemana?",
"Sholat mas..",
"Kenapa solat di mushola bawah?",
"Biar bisa ikut jamaah..",
"Kamu pernah liat mom sama Dad sholat dibawah? ", tanya Javas.
Kinara menggeleng.
"Kenapa? kamu tau alasannya?"
"Mom sama Dad kan udah jamaahan sendiri..",
"Itu tau..,
Emangnya kalo kamu jamaahan disini aja, nggak bisa?",
" Maksudnya sholat jamaah sama mas Javas?",
"Iya.., kamu pikir aku nggak bisa jadi imam?",
"Mas Javas kan nggak pernah ngajakin Kina..",
Kini, Javas yang diam.
"Mas Javas ngajakin Kina?", tanyanya.
Javas hanya mengangguk.
"Kina wudhu dulu kalo gitu..",
Javas memimpin istrinya menunaikan ibadah sholat magribnya. Melantunkan surat pendek dengan fasih, dan tegas. Ini pertama kalinya Javas menjadi imam dan Kina menjadi makmumnya.
Javas membalikkan badannya ketika sholat telah selesai mereka kerjakan. Kina menyambut tangan Javas dengan menciumnya.
Perlahan, hubungan mereka memang semakin dekat. Namun, keduanya masih ragu. Masing-masing takut untuk mengungkapkan isi hatinya, keinginan dan harapan tentang pernikahan yang mereka jalani. Meskipun dari sikap yang mereka tunjukkan, sebenarnya ada sebuah rasa yang mulai tumbuh.
__ADS_1