
Bacanya jangan diskip, nanti kalian akan tahu sesuatu, kalau...selama ini mas Javas.....
Kinara masuk kembali ke dalam kamar. Meletakkan ponsel Javas di atas nakas. Meyakini potret perempuan itu adalah dirinya, Kinara tidak ingin bertanya pada Javas, tidak pula baper atau kegeeran. Kinara takut nantinya akan kecewa. Bagaimana perasaanya pada Javas setelah resmi menjadi istri pemuda itu? Sejauh ini Kinara menikmatinya, melakukan apapun yang diminta dan meninggalkan hal yang tidak disukai oleh Javas. Contoh besarnya adalah memutus semua komunikasinya dengan Firman. Kinara enggan mendefinisikan perasaannya, takut jika benteng yang selama ini dia bangun akan runtuh.
"Udah..?", tanya Javas yang baru saja menyelesaikan ritual mandinya. Mengenakan kaos dalam dengan rambut setengah basah yang dia keringkan dengan handuk. Kinara melihat jelas, betapa tampannya suaminya kala itu.
"Udah mas.., tuh handphonenya Kina taruh di situ ya mas.
"Iya.., mau kemana?", tanya Javas yang melihat Kinara menuju pintu hendak keluar dari kamar.
"Mau kebawah dulu mas.., nyiapin makan malam..",
Berada berdua di dalam kamar, lama-lama kurang baik untuk kesehatan mata dan hatinya. Dia memilih untuk keluar dari kamar dan pergi ke dapur untuk membantu menyiapkan makan malam untuk Javas.
Maid yang bekerja di rumah mertuanya akhirnya menyerah. Tidak lagi melarang Kinara untuk membantu mereka di dapur. Mereka lelah, setiap hari harus mengomel pada nyonya mudanya.
"Udah ya bik..?"
"Udah tinggal dipanasin aja non..",
"Ya udah sini aja sama kina ya bik..",
Makan malam sudah Kinara siapkan. Gilirannya menjalankan kewajibannya sebagai hamba Tuhan.
Selesai menjalankan ibadahnya di mushola bawah, Kinara kembali naik ke atas, bermaksud memanggil Javas untuk segera makan malam.
"Udah sholat mas?",
"Udah..",
"Mas Javas mau pergi ya?", tanyanya ketika Kinara masuk ke dalam kamar. Javas memang hanya memakai pakaian rumahan, hanya saja tampak rapi karena memakai arloji di tangan.
"Iya Na..",
"Kenapa nggak bilang? Kina udah siapin buat makan malamnya loh mas..",
"Iya maaf.., aku lupa ngasih tau kamu..",
"Ya udah deh.., nggak apa-apa. Kina makan sendiri aja kalo gitu ya..", Kinara berbalik arah hendak keluar, namun Javas langsung mencegahnya.
"Na.., mau kemana?",
"Makan mas..",
"Kamu marah? ",
"Nggak mas.., kina cuma mau ngasih tau Bibik aja kalo diberesin aja makannya..",
"Ya udah, ngasih taunya nanti aja sekalian. Sekarang kamu ganti baju..",
"Ganti baju? Kina diajak?",
"Iya.., kita ke rumahnya Om Revan. Disana ada meeting buat persiapan acara nikahnya Kai..",
"Kina dirumah aja deh..",
"Mom.., Dad.., Kak Sha udah nggak ada. Masa iya aku doang yang kesana? pasti kamu nanti ditanyain deh sama mereka..",
"Ya udah, Kina ganti baju dulu..",
"Oke..",
Bukannya bersiap, Kinara malah masih pada posisinya. Nampaknya, dia sedang menunggu.
"Cepetan siap-siap.., malah bengong..",
"Iya Kina mau ganti baju mas..",
"Ya udah.., cepetan..",
"Mas Javas ngapain masih disini..?",
"Emangnya kenapa kalo disini? ini kan kamar aku juga..",
"Kina mau ganti baju mas..",
"Ya udah ganti aja..",
"Nanti kan mas Javas..bisa...",
"Bisa apa?",
"Hmmmm...nggak..",
"Bisa liat semuanya gitu?", godanya pada Kina..
"Hmmmm....",
Terlambat Na.., tiap hari aku selalu liat tubuh kamu.., bahkan saat tanpa sehelai benangpun, ucapnya dalam hati.
"Mas.., cepetan deh keluar...
Kalo mas Javas ganti baju aja, Kina langsung keluar..",
"Emangnya aku pernah nyuruh kamu kayak gitu..?", tanyanya.
"Nggak..",
"Ya salah sendiri kan berarti?",
"Ya udah, Kina ganti baju di kamar mandi aja..",
"Iya iya..nih aku mau keluar..", ucap Javas tersenyum karena sudah berhasil menggoda istrinya. Sedangkan wajah Kinara terlihat sangat kesal pada Javas.
Javas keluar dari kamarnya, namun lima belas detik kemudian, dia kembali. Membuat Kinara yang hendak melepas bajunya, terkaget-kaget.
"Na...",
"Mas... kaget tau.., apa?", tanyanya ketus. Dia menyilangkan tangannya pada tubuh atasnya dengan keadaan kancing yang sudah terlepas sampai bawah. Untungnya Kinara belum membuka bajunya.
"Bawain handphone.., tuh ada di atas nakas..",
"Iya..",jawabnya singkat.
Javas keluar kamar dengan senyuman mengembang.
Kinara langsung mengunci pintu kamarnya untuk mencegah agar Javas tidak datang dengan tiba-tiba lagi. Dengan begini, dia bisa berganti baju dengan tenang.
"Mas.., beneran nggak mau makan malam dulu?", tanya Kina saat dia turun menghampiri Javas yang sedang berada di ruang tengah.
"Nggak usah, disana juga pasti nanti ada makan malam..",
"Emang ada? kalo nggak?",
"Minta makan lah sama Bunda Fafa..",
"Astagfirulloh..",
"Ya kan bisa jajan Na.., jangan kayak orang susah deh..",
"Iya iya.., nih mas handphonenya..",
"Oh iya..",
__ADS_1
Sebelum pergi, Kinara memberitahu Maid untuk membereskan makan malam mereka yang batal.
"Bik.., tolong diberesin ya makan malamnya. Kina sama Mas Javas mau ke rumah Tante Fafa.."
"Baik non.., hati-hati..",
"Makasih ya bik..",
"Non Kina cantik banget loh..",
"Wih..., makasih..mau dibawain apa kalo pulang?",
"Hehehe nggak usah non.., makasih..",
Javas meminta Kinara untuk mengemudikan mobil miliknya. Namun, ditolak mentah-mentah oleh Kinara.
"Mau nyetirin nggak? sekalian diajarin biar bisa pake mobil matic..",
"Nggak mas..makasih..",
"Oh..,berarti kemana-mana mau dianterin sama aku?",
"Dianterin sama mamang kan bisa..",
"Jangan suka ngerepotin orang..",
"Kan minta tolong mas..",
"Cepetan ayo masuk..",ajak Javas agar Kinara masuk ke pintu kemudi.
"Kina nggak mau ikut kalo mas Javas masih nyuruh Kina nyetir...",
"Iya-iya.., gitu aja ngambek..",
Javas memang hanya menggoda Kinara.Javas bahkan sudah menebak jika istrinya sudah pasti akan menolaknya.
Javas dan Kinara sampai dikediaman Om Revan. Disana sudah ada puluhan panitia yang berasal dari karyawan Prime grup, serta keluarga yang nantinya akan membantu jalannya acara. Tak ketinggalan WO yang menangani pernikahan Kai dan Sea.
"Assalamualaikum..",
"Waalaikumsalam.., akhirnya kalian datang..",
"Telat ya Tante..?",
"Nggak kok Na.., tapi emang sebentar lagi di mulai..",
"Halo kak..", ucap Sea menyapa Kinara.
"Halo Chel..", jawabnya dengan cipika cipiki.
Kinara duduk bergabung dengan Chelsea, Tante Fafa serta Tante Vina. Sedangkan Javas berada di depan menghadap ke arah panitia, dia duduk diseretan kursi pemangku hajat alias yang punya acara diantaranya Om Revan, Kai, Rai serta Javas. Bisa disebut sebagai persaingan adu visual, karena mereka berempat mempunya wajah yang tampan serta mempunyai kemiripan. Sayangnya, minus Rendra dan Vano yang memang berhalangan hadir malam itu.
Mereka dengan seksama mendengarkan pemaparan WO sebagai penggerak acara. Sesekali, Om Revan mengajukan pertanyaan sekiranya penjelasan kurang dimengerti. Inilah hajat pertama dari generasi ke 4 keluarga Perdana. Sebuah moment spesial yang akan diadakan meriah dengan mendatangkan banyak tamu undangan . Mumpung, Oma Widya masih sehat. Itu yang menjadi alasan utamanya.
Acara dilanjutkan dengan istirahat, dimana hadirin dipersilahkan untuk menikmati hidangan yang telah disediakan. Kalo begitu, benar kata Javas. Bunda Fafa sudah menyiapkannya.
"Sea.., Kai nya diambilin makan dulu ya.
Kina juga.., tuh Javasnya dilayani dulu makannya. Baru kalian bisa makan..", ucap Fafa dengan memberi contoh. Fafa juga sedang mengambilkan makan untuk suaminya.
"Iya Bun..",
"Iya Tante..",
Jawab Kinara dan Chelsea dengan kompak. Mereka lalu menyiapkan makan malam untuk pasangannya masing-masing.
"Oma mau makan apa?", tanya Kina setelah dia mengantarkan makan dan minum untuk Javas.
"Oma boleh makan galantine aja Na?",
"Iya..",
Bukannya makan, Kina malah membantu Oma yang ingin mencoba salah satu menu makan malam saat itu.
"Na.., Oma sama kamu dulu ya, aku mau makan..", ucap Nisa.
"Iya.., tinggal aja Nis..",
Kinara yang sedang membantu dan menemani Oma, ternyata tidak sadar jika dia sedang diperhatikan. Mereka adalah Javas, Tante Fafa serta Om Revan.
"Vas.., liat tuh..", ucap Tante Fafa dengan memusatkan perhatiannya pada Kinara.
"Apa bunda?",
"Yang kayak gitu.., jangan disia-siain ya Vas.., baik, cantik, nggak neko-neko, sayang sama keluarga, apa kurangnya? Kenapa dulu nggak Rai aja yang deketin ya..?",
"Kalah start sama Javas Bun.., telat..", jawab Javas.
"Beneran jangan dimainin ya Vas.., belajar menerima kekurangan sama kelebihannya..yang didepan mata aja udah.., nggak usah noleh ke belakang lagi...",
"Iya Bun.. ",
"Vas.., nggak mau dirayain juga nikahnya?", tanya Om Revan.
"Kayaknya nggak dulu om, nunggu ibu negaranya mau.., dia masih malu kayaknya..", ucap Javas.
"Masih nikah bawah tangan Vas..?",
"Nggak.., udah sidang isbat nikah om.., nunggu ketok palu..",
"Syukur kalo gitu.., om kira masih sirih..",
"Iya bentar lagi resmi Om..",
Kehadiran Kinara yang terlihat dekat dengan keluarga Revan, akhirnya memunculkan spekulasi jika benar dia adalah pacar baru dari Javas. Para karyawan berbisik dan bergosip. Namun tidak dengan Lani yang berani untuk menyapa Kinara.
"Selamat malam bu..", sapanya pada Oma Widya.
"Mbak dokter.., kita ketemu lagi ya..",
"Oh iya.., mbak resepsionist.., ikut acara juga ya mbak..",
"Iya dok.., dokter masih kerja ya? kan udah malem dok..",
"Saya kerjanyanya 24 jam nonstop..nggak ada liburnya, hehehe..",
"Mbak Kina.., jadi among tamu kok pasangannya mas Javas.., hayo..ketauan kan? ",
"Emang iya ya?",
"Loh tadi kan udah disebutin, mbak Kina nggak denger? wah..nggak fokus nih..",
"Hehe iya..",
Kinara hanya menyengir kuda, dia tahu tapi pura-pura tidak tahu. Memang tadi saat pembacaan nama panitia, Javas dan Kinara berpasangan menjadi panitia among tamu. Tidak ingin banyak bicara pada Lani, karena takut rahasianya akan terbongkar.
"Kak.., nih rokok..", ucap Rai menawarkan sebatang rokok kepada Javas, namun ditolak oleh kakak sepupunya.
Kenapa? Javas masih marah dengan Rai? jawabannya tidak. Javas menolaknya dengan alasan.
"Nggak Rai.., kak Javas lagi ngurangin rokok..",
"Kenapa?",
__ADS_1
"Nggak sehat..",
"Kata siapa? istri kakak?",
"Iya..",
"Wah.., gitu ya kak kalo punya istri dokter.., Rai jadi pengen deh..",
"Jangan macem-macem sama istri kakak..",
"Eittsss, di dunia ini bukan istri kakak aja yang dokter. Tuh.., yang lagi sama kak Kinara sama Oma juga dokter..",
"Kamu deketin Nisa?",
"Iya.., kali aja nyantol. Jadi Rai bisa kayak kak Javas. Tiap hari ketemu dokter, terus akhirnya nikah..",
"Halah.., kakak sih nggak percaya sama playboy cap panda kayak kamu..",
"Cincau kali ah..",jawab Rai.
Sudah menunjukkan pukul 10.30 malam, akhirnya Kinara dan Javas memutuskan untuk berpamitan pulang.
"Oma.., Kina pamit dulu..",
"Iya..hati-hati. Vas.., jangan ngebut nyetirnya..",
"Iya Oma.., Javas pulang dulu, om.., Bun..",
"Kak Kina.., ini kain seragamnya ya. Maaf nggak jadi dianterin ke rumah Budhe, mumpung ketemu disini, nggak apa-apa kan kak?",
"Iya Chel.., nggak apa-apa kok..",
"Ini terserah kak kina mau dibuat model apa aja.., yang penting kakak nyaman..",
Di tengah perjalanan pulang, Javas merasa lapar meskipun 1 jam yang lalu dia sudah makan malam.
Javas bertanya pada Kinara.
"Na.., mau makan lagi nggak?",
"Kan Kina udah makan mas tadi, mas Javas udah juga kan?",
"Tiba-tiba laper..",
"Tahan dikit, bentar lagi kan sampe rumah..",
"Makan dipinggir jalan , kayaknya enak deh Na..",
"Mas Javas mau? nggak malu?",
"Ngapain mesti malu, mom Dad kadang-kadang juga ngajakin kulineran kayak gitu, makan ditenda.
"Ya udah, minggirin dong mobilnya.., mas Javas mau makan apa?",
"Kayaknya lontong uleg gitu deh Na..",
Javas memarkirkan mobilnya tepat diseberang warung yang akan mereka kunjungi.
"Minumnya mas Javas, apa?",
"Teh hangat aja Na..",
"Mas..teh hangatnya 2..,
terus lontongnya 2 piring, tapi yang satu piringnya, setengah porsi aja..",ucapnya pada pedagang.
"Kenapa Na cuma separo ?",
"Masih kenyang mas..",
Selang 10 menit kemudian, minuman pesanan mereka datang. Namun, Javas justru berubah haluan.
"Mas.., makannya dibungkus aja deh.., teh hangatnya juga..",
"Loh mas.., nggak jadi makan?",tanya Kina.
"Nggak jadi.., kita balik ke mobil sekarang..",
Aku salah apa? batin Kinara.
"Mas..,aku tunggu dimobil aja ya. Tolong kalo udah anterin . Mobilku itu ya..", ucapnya dengan memberikan selembar uang seratus ribuan.
"Kembaliannya buat mas aja..", ucap Javas lagi.
Javas memandu Kinara untuk menyeberang jalan. Dan, mereka akhirnya benar-benar menunggu di dalam mobil.
Kinara tidak berani bertanya. Javas pun diam. Mungkin, Javas kurang suka dengan keramaian di warung yang mereka kunjungi tadi. Atau memang benar, Kinara ada salah?
Javas kembali melajukan kendaraannya setelah pesenannya selesai.
"Kamu tau nggak? kenapa kita nggak jadi makan di tempat?",
"Mas Javas ngantuk?",
"Mata masih belo begini, dibilang ngantuk..",
"Terus kenapa?",
"Liat kan tadi 3 orang laki-laki yang duduknya dipojokkan?",
"Liat.., yang senyum-senyum tadi ya mas..?",
"Nah itu tau..., aku nggak suka dia ngeliatin kamu sambil senyum-senyum nggak jelas kayak tadi. Mana temen-temennya juga ikut-ikutan. Kamu kenal sama mereka?",
"Nggak kenal..",
"Kenapa kamu tadi bales senyum?",
"Ya kan Kina pikir mas yang kenal sama mereka, karyawan kantor atau bengkel barangkali..",
"Nggak.., aku nggak kenal..", ucapnya kesal.
"Lain kali kalo ada yang ngajakin senyum, terus kamu nggak kenal, jangan dibales.., apalagi laki-laki..",
"Iya mas..",
Mereka berdua akhirnya sampai di rumah. Namun, saat hendak turun dari mobil, Javas baru menyadari jika istrinya ternyata tertidur di dalam mobil.
"Pantesan udah nggak ada suaranya. Tidur ternyata..", ucapnya bermonolog.
Tidak tega untuk membangunkan Kinara, Javas akhirnya membopong Kinara masuk ke dalam rumah.
"Berat juga..", gumam Javas.
"Tolong mobilnya ya mang..", bisik Javas.
Inilah pertama kalinya kontak fisik terjadi antara Javas dan Kinara. Javas membawa Kinara masuk ke dalam kamar, dengan dibantu oleh Maid yang membukakan pintu kamar. Dengan sangat hati-hati, Javas membaringkan Kinara di atas tempat tidur.
Javas mengamati wajah Kinara yang terlihat tenang dan teduh.
Cupp....
Javas mendaratkan sebuah kecupan di kening Kinara yang terlelap tidur.
__ADS_1
"Good night, istriku..", ucapnya.