
"Tam.., keluar aja yuk...",
"Mo pulang? ayok...",
"Nggak.., berisik disini..",
"Mau pergi kemana?",
"Kemana aja yang penting tenang..",
"Oke..malem ini kemana aja aku anterin...",
"Aku pamit dulu sama Vano atau Rai ya..",
"Aku anterin..",
Sharen dan Tama menghampiri Vano dan Rai yang sedang asyik berjoget di Dance floor. Saking asyiknya menikmati musik yang diputar oleh DJ, Vano dan Rai sampai tidak sadar jika Sharen sudah ada disampingnya.
"Asyik banget Rai..",
"Ayo kak, enak banget musiknya..",
"Rai, Kakak mau pulang..",
"Uang...? buat apa? semuanya udah Rai sama Vano bayar..",
"Mau pulang.., kakak mau balik...",
Rai menggandeng Sharen, menjauh dari dance floor. Mereka kembali ke tempat duduk yang tadi di tempati oleh Sharen.
"Kakak mau pulang?",
"Iya.., berisik disini..",
"Sama Tama..?",
"Iya..kakak kan pergi sama dia..",
"Beneran pulang ya.., jangan belok-belok Kak..",
"Iya nggak..",
"Lu bisa dipercaya kan Tam?",
"Bisa Rai..",
"Oke.., ayo Rai anterin sampe depan kak..",
Rai mengantarkan kakak sepupunya sampai ke parkiran mobil. Meskipun terkenal badung, tapi Rai adalah pemuda yang sangat bertanggung jawab. Sekali diberikan kepercayaan, Rai pasti akan menjaganya. Apalagi, Padkhe Rendra sebelumnya sudah mengultimatum, agar Rai benar-benar menjaga Sharen.
"Hati-hati ya kak...", ucap Rai yang menutup pintu mobil begitu Sharen duduk di kursi penumpang.
"Iya Rai, makasih..
salam buat Vano ya..",
"Iya.., dia lagi asyik tadi.., nanti Rai sampein..",
"Balik dulu ya Rai..",
"Oke.., hati-hati nyetirnya Tam..",
"Siap...",
Rai masih berdiri dari tempatnya sampai mobil yang membawa Sharen hilang dari pandangannya. Rai, segera menghubungi seseorang.
"Ikuti mobilnya Tama, pastiin kak Sharen pulang dengan selamat. Kalo ada yang nggak beres, langsung lapor.."
Rupanya, Rai menghubungi orang yang sudah dikirim Dad Rendra untuk mengawasi putrinya. Malam ini Sharen memang sedikit diberi kebebasan, namun tetap dalam pengawasan.
"Kenapa tiba-tiba pengen keluar dari situ?",
"Berisik, bising, rame aku nggak biasa..",
"Nah kan, orang nggak pernah dugem tapi ikut-ikutan...",
"Buat pengalaman aja..",
"Sekarang mau kemana?",
"Terserah kamu..",
"Tadi, udah makan belum Sha..?",
"Udah.., nggak mau kalo diajakin makan lagi Tam, udah kenyang..",
"Beli makan, tapi yang ringan aja..",
Tama menghentikan mobilnya di sebuah gang, yang sepanjang jalannya menjual berbagai macam makanan, dari berat hingga ringan.
"Ini jalan apa sih Tam..",
"Orang-orang sih nyebutnya Suman..",
"Suman? nama orang?",
"Surga makanan maksudnya..",
__ADS_1
"Oh gitu..",
"Kita jalan aja, nggak apa-apa kan?",
"iya nggak apa-apa..",
"Kamu mau makan apa?",
"Liat-liat dulu deh Tam.."
Gang ini memang selalu ramai oleh orang-orang yang memang ingin menikmati kuliner malam. Selain harganya yang terjangkau, tempat strategis juga menjadi salah satu penyebab jalan ini tidak pernah sepi. Selain itu, ada taman kecil yang bisa digunakan untuk berbincang-bincang.
Sharen menjatuhkan pilihannya pada makanan kesukaan Jaz, sosis bakar.
"Udah itu aja Sha?",
"Hehe iya.., jadi inget Jaz aku..",
"Kapan-kapan diajakin kesini aja..",
"Iya.., aku kok baru tau tempat ini ya Tam..",
"Kamu sih taunya cuma restoran sama cafe mahal aja..",
"Ya nggak gitu, tapi emang baru tau tempat ini..",
"Iya tempatnya dipinggiran memang, tapi selalu rame kayak gini...",
Mereka berdua berjalan ke arah taman. Malam belum begitu larut sehingga membuat Sharen enggan untuk pulang.
Sharen membawa plastik berisi penuh sosis bakar yang sudah di bumbui oleh saos manis, sedangkan Tama membawa dua buah cup minuman kekinian. Matcha, pilihannya dan Taro milik Sharen.
"Enak Sha..?",
"Enak Tam..",
"Mau.., nih ambil. Tapi satu tusuk aja..",
"Nggak deh, kamu aja kurang...",
"Hehe tau aja. Lagi khilaf nih Tam..."
"Jangan kebanyakan makan saos, nanti perut kamu sakit..",
"Iya..bawel.
Tapi, ini jajanannya enak..",
"Hmmmm..."
"Kepo...",
"Hahaha.., iya aku emang kepo..
Sampein maaf ke pacar kamu, kalo aku sering ganggu waktu kalian ya.."
"Apaan sih, nggak.., udah deh santai aja.."
"Nggak apa? nggak punya pacar atau aku nggak pernah ganggu kalian?",
"Mending makan deh, tuh habisin..", ucapnya menyeruput minumannya.
"Tam.., menurut kamu, aku cantik nggak sih..?"
"Cantik.., cuma orang katarak aja yang bilang kamu jelek.."
"Kalo gitu, kamu bisa dong tertarik sama aku..?",
"Bisa aja..",
"Tapi kamu tertarik beneran tertarik nggak?"
"Bisa jadi ...",
"Kok gitu..",
"Kalo setiap ada perempuan cantik terus aku tertarik, kamu tau berapa jumlahnya? nggak keitung..",
"Hmmmm.., berarti aku pasaran gitu ya?"
"Nggak gitu..",
"Terus..?",
"Susah jelasinnya.., yang pasti laki-laki kan pasti punya kriteria..",
"Berarti aku nggak masuk kriteria?"
"Masuk sih, tapi ibarat makanan bergizi.. kamu tuh empat sehat, tapi nggak punya kelima yang bisa menyempurnakan. Bukan berarti kamu nggak sempurna, tapi balik lagi. Setiap laki-laki punya kriteria.."
"Gitu ya Tam..."
"Kamu lagi frustasi soal jodoh? tenang aja.., masih ada aku..",
"Katanya aku bukan perempuan kriteria kamu, gimana sih? membingungkan..", tinjunya pada lengan Tama.
"Biar aku yang menyempurnakan kelimanya.."
__ADS_1
"Heleh.., gombal...",
"Bukan gombal sih, cuma mau nenangin kamu aja...?",
"Tam, menurut kamu secret admirer ku tuh, tertarik nggak sama aku?",
"Tertarik..", ucapnya dengan memandang Sharen yang menghadap lurus ke depan.
"Kenapa kamu bisa bilang gitu..?",
"Dari barang-barang yang dia kirim ke kamu, itu udah bisa dinilai kok.., betapa berharganya kamu buat dia..",
"Kenapa dia nggak mau bilang terus terang..?"
"Mungkin ada hal yang membuat dia nggak bisa jelasin perasaannya ke kamu.."
"Contohnya Tam..?",
"Banyak..",
"Salah satunya..?",
"Siapa sih yang nggak tau Sharen Perdana? cantik, baik, kaya, anaknya orang terpandang. Mungkin aja dia minder..",
"Insecure? Tapi kan aku nggak pernah nilai seseorang dari materinya, tapi ke lebih personality-nya..",
"Mungkin dia tau, tapi tetep membatasi diri aja..",
"Kenapa?",
"Katanya kamu udah tau dia siapa? seharusnya kamu tau..",
"Seharusnya dia kan berjuang...",
"Kalo sudah berjuang tapi diam-diam, gimana?",
"Nggak pernah..",
"Tapi, sebelum berjuang tapi udah kamu patahkan? ya semangatnya ilang lah Sha..",
"Emangnya aku pernah kayak gitu..?",
"Ya inget-inget aja..",
"Nggak tau..,lupa aku..",
"Mungkin juga ada hati yang harus dia jaga, tapi disatu sisi, ada kamu yang nggak bisa dia abaikan, tapi nggak bisa dia miliki. Pilihan paling tepat ya emang jadi pengagum rahasia kamu aja..",
"Kenapa harus sembunyi-sembunyi?",
"Kalau dia terus terang, reaksi kamu gimana?",
"Marah..",
"Ya berarti mending emang sembunyi-sembunyi aja kan?",
Sharen menghela nafas. Dia tarik dalam, lalu dia hembuskan.
"Serba salah..",ucap Sharen.
"Perempuan emang bikin bingung..",
Sharen menatap Tama dengan memicingkan matanya.
"Kenapa? bener kan Sha..?",
"Tapi kan aku dibikin bingung sama laki-laki..",
"Bukan dibikin bingung, cuma dibikin melambung, tapi takut dijatuhin kan?",
"Iya sih....
Dari kecil aku selalu diajarin, jangan rebut punya orang.., dan itu berlaku sampe sekarang..",
"Meskipun kamu sendiri sebenernya pengen memiliki kan?",
"Ya.., tapi bertolak belakang sama prinsip aku..",
"Disitu masalahnya..,
Seharusnya sama-sama berjuang.., saling..., bukan sepihak aja..
Jangan ada yang dibohongin, terutama soal hati..",
"Tau ah bingung..
Tam, pulang yok..gerimis..",
"Iya..ntar masuk angin, aku juga yang repot..",
Keduanya lari-lari kecil menuju mobil Tama yang diparkir di ujung gang. Mobil Tama melaju, menuju rumah Sharen, mengantarkan tuan putri yang batal ikut dugem adik-adik sepupunya.
"Makasih Tam, udah ditemenin hari ini..",
"Iya Sha.., aku balik dulu...",
"Oke.., bye...",
__ADS_1