
Sejujurnya, ini adalah malam ternyaman bagi Sharen setelah kepulangannya dari Aussie. Dia bisa tidur sangat nyenyak dan pulas, dalam dekapan suaminya. Sharen memang masih belum mau banyak berbicara dengan suaminya. Namun, Sharen tidak menolak ketika Nathan terus-terusan memberikan perhatian untuknya. Terlebih lagi, Nathan terlihat sangat menjaganya. Karena bukan hanya Sharen saja yang harus Nathan pastikan aman dan nyaman. Tapi bayi yang ada di dalam kandungannya.
Nathan sendiri, juga tidak memaksa istrinya untuk bersikap normal seperti biasanya. Mereka memang belum sepenuhnya berbaikan. Sharen juga sepertinya belum 100% memaafkannya. Nathan tau itu dan dia tidak mempermasalahkannya. Ini hanya soal waktu saja. Yang paling penting untuknya adalah Sharen berada di dekatnya. Sharen berada dalam jangkauannya.
Nathan bangun dari tidurnya. Dilihatnya Sharen yang nampaknya sangat nyaman dalam pelukannya.
"Cantik banget kamu Sha..",
Nathan melepaskan pelukannya, juga memindahkan tangan istrinya yang berada di pinggangnya. Nathan meletakkan tangan istrinya di atas kasur.
Nathan turun dari ranjang dengan sangat berhati-hati, takut jika Sharen akan terbangun. Hari masih gelap, dan ini memang masih waktu istirahat.
Nathan terbangun tengah malam dan langsung melaksanakan solat malam. Memanjatkan doa dan syukur karena Tuhan telah memberikan anugerah berupa keturunan yang saat ini telah ada di dalam perut istrinya.
Selepas melakukan ibadah paginya, Nathan keluar dari kamar. Nathan ingin mencari udara segar, sekedar berjalan-jalan di sekitaran hotel. Tapi, tak disangka. Dia justru bertemu dengan Tama.
"Tam....",
Tama menoleh.
"Kok kayaknya buru-buru..?", tanyanya.
"Mau ngambil laptopnya Javas..",
"Pagi-pagi gini..?",
"Iya.., mau ngecek kerjaan. Abis ini tugas selesai, gue mau tidur..semalem nggak bisa tidur di Rumah sakit gue...",
"Ikut jagain?",
"Iya.., gini nih nggak enaknya jadi asisten pribadi..",
"Sabar.. , yang penting gajinya..
ntar gue tambahin...",
"Bener ya...",
"Iya...
Tam..gue bentar lagi jadi Papa..",
"Lu udah tau.. kalo Sharen hamil..?",
"Iya.., dia udah ngaku..",
"Yakin anak lu..?",
"Terus anak siapa lagi? anak lu? anak sama selingkuhannya..? gila lu ya, Sharen bukan perempuan kayak gitu..",
"Untunglah kalo lu tau...",
"Pagi, siang, malam waktu di Aussie gue gass terus..., jadi kalo sekarang Sha hamil ya berarti karena kerja keras gue..",
"Iya terus? mau pamer gitu..?",
"Kenapa lu nggak ngasih tau gue..?",
"Lah.., gue siapa emangnya..?",
"Lu sahabat gue Tam...",
"Gue nggak ngasih tau.. karena takut lu bakalan gila kalo tau Sharen hamil, tapi dia juga ilang. Jangankan gue, emak bapak lu aja nggak ngasih tau kan?",
"Mama Papa tau kalo mau punya cucu..??",
"Tau...mereka nggak cerita kan ke lu..?",
"Nggak..",
"Ya udah, mereka aja nggak cerita..apalagi gue..",
"Brengsek lu ya..",
"Dari dulu..
lagian, Sharen bilang katanya dia mau ngomong sendiri sama lu.., syukur deh kalo dia udah cerita..",
"Gue tau sendiri Tam..
dari vitamin yang dia minum...",
"Apapun itu, gue ucapkan selamat deh Nath..semoga lu nggak gila lagi kayak kemarin....",
"Makasih.., doain anak gue sehat ya Tam..",
"Pasti..
doain juga pernikahan gue lancar, inget janji lu. Katanya mau bayarin WO nya..",
"Siap.., kasih aja invoice nya, entar gue transfer..",
"Oke..
berarti lu udah baikan sama Sharen? dia udah maafin?",
"Nggak tau udah di maafin atau belum. Dia udah nggak nolak kalo dipeluk, dicium. Tapi, ya gitu dia diem aja..pelit ngomong..",
__ADS_1
"Ya udah nggak apa-apa..
pelan-pelan...lu ngapain pagi buta kayak gini udah di luar aja..? ",
"Gue mau ke hotel, ngambil koper gue disana..",
"Lu pergi..
udah bilang ke Sharen kan..?",
"Belum.., dia masih tidur..",
"Beg*o lu...,
balik ke kamar sekarang Nath...,
Sharen belum sepenuhnya sembuh..., lu gobl*ok ya...",
"Shitttt, gue lupa Tam...",
"Balik sekarang Nath....!!",
Nathan bergegas masuk kembali ke dalam hotel.
Saat masuk ke dalam kamar, suara jeritan terdengar. Sharen berteriak .., lampu kamar yang semula berada di atas nakas juga sudah berada di lantai. Sharen histeris, dia berteriak sambil memegangi kedua lututnya.
"Kamu pergi lagi.., kamu jahat....
Kamu jahat Nath......",
"Sayang...mas disini..
mas nggak akan kemana-mana..", ucap Nathan yang langsung memeluk istrinya.
"Kamu tega sama aku Nath...,
kamu ninggalin aku lagi...", Sharen menangis dalam dekapan suaminya.
"Nggak sayang..mas disini..
mas nggak pergi..mas diluar tadi ngobrol sama Tama...",
"Hu~hu~~ aku takut kamu pergi lagi Nath....",
"Jangan takut sayang..,
mas disini sama kamu...",
"Jangan pergi lagi Nath..",
"Nggak sayang..
mas nggak akan kemana-mana..",
Nathan mengajak Sharen untuk pindah ke kamar hotel yang dia pesan. Namun, Sharen menolak. Tidak ingin memaksa, karena yang paling penting untuknya adalah kenyamanan Sharen. Lagi-lagi harus merepotkan Tama untuk mengantarkan kopernya ke kamar Sharen.
Sharen sudah mandi, dia terlihat tampak segar. Nathan juga demikian.
"Sha..pengen sesuatu sayang..?",
"Nggak ada....",
"Hari ini mau kemana?
mau jalan-jalan nggak?",
"Pengen rebahan aja..
Nanti sore aja jalannya, nengokin Zee sama Jaz..",
"Oke..,
Sha.., kapan mas bisa liat anak kita..? besok kita periksa ya..?",
Sharen menggeleng.
"Baru tiga hari yang lalu ketemu dokter Nath..nggak baik kalo keseringan di USG..",
"Kontrol lagi, kapan sayang..?",
"Bulan depan...",
"Masih lama ya..?", tanya Nathan dengan nada kecewanya.
"Kamu pengen liat anak kita..?",
"Pengen..
tapi nggak apa-apa sayang.., mas sabar kok..",
Sharen turun dari ranjangnya. Dia mencari tasnya dan mengeluarkan sesuatu dari sana. Kemudian, dia memberikannya pada Nathan.
Nathan mengambil foto USG dari tangan Sharen.
"Ini anak kita Sha..?",
__ADS_1
"Usianya hampir 5 Minggu Nath...",
"Lucu banget...",
"Ih..lucu apaan, orang belum ada bentuknya gitu..",
"Iya ini lucu sayang..",
"Kata Jaz kayak slime..",
"Hmmm bener sih, belum ada bentuknya ya..
Kamu sehat-sehat ya..",Nathan mengusap perut istrinya.
Sharen mengangguk. Dia naik kembali ke atas ranjang, berbaring di samping suaminya.
"Nath..selama kamu pergi, kamu nggak selingkuh kan?",
Nathan kaget dengan pertanyaan Sharen.
"Mas kan pergi umroh sayang..",
"Kamu nggak tertarik sama perempuan lain kan?",
"Mas nggak bisa berpaling dari kamu Sha...",
"Aku lagi hamil, sebentar lagi badanku melar, aku gendut, nggak cantik lagi..",
"Apapun keadaan kamu, mas terima sayang..
kamu tetap cantik.. kamu kenapa tanya kayak gini? kamu curiga? nggak percaya sama mas..?",
"Tadi sebelum bangun, aku mimpi Nath..",
"Mimpi apa sayang..?",
"Aku jalan-jalan, terus ketemu sama peramal. Dia bilang, kalo bakalan ada perempuan yang hadir di pernikahan kita, dan kamu juga sayang sama perempuan itu..",
"Jadi karena itu kamu histeris..?",
"Iya.., karena kamu nggak ada juga..",
"Mas disini sayang..
Mimpi itu bunga tidur sayang..,
kamu juga jangan percaya sama peramal..",
"Kalo kamu pergi lagi.., aku gimana Nath..?",
"Mas nggak akan pergi dari kamu, apalagi ninggalin kamu demi perempuan lain..",
"Aku takut Nath..",
Nathan memeluk istrinya.
"Mungkin perempuan itu adalah anak kita. Kamu kan lagi hamil.., anak kita perempuan Sha..",
"Kamu pengen perempuan atau laki-laki Nath?",
"Perempuan aja..,
Kalo laki-laki aku nggak mau saingan sama anak sendiri..",
"Berarti aku aja yang saingan sama anak aku..?",
"Hmmm mungkin..",
"Kalo ternyata anak kita laki-laki, gimana?",
"Nggak apa-apa, berati kamu cantik sendiri. Yang jelas gantengnya pasti sama kayak Papanya..",
"Kalo disuruh milih, kamu lebih sayang siapa Nath? aku atau anak kita..?",
"Pilihan yang sulit sayang..
tapi kamu itu bahagianya mas, anak kita pelengkap kebahagiaan kita..,
mas sayang sama kamu, sama anak kita juga..",
"Nath.., aku pengen es krim..",ucapnya tiba-tiba.
"Mau sekarang..?", tanya Nathan antusias.
"Iya..", angguk Sharen.
"Oke.., kita beli sepuas kamu..",
Ini adalah permintaan Sharen. Dan Nathan dengan senang hati menuruti ngidam pertama istrinya.
"Mau coklat atau strawberry sayang..?",
"Strawberry aja..", seperti anak kecil, Sharen terlihat sangat senang ketika Nathan memasukkan es krim ke dalam mulutnya.
"Enak..?",
"Enak banget..,
__ADS_1
aku suka..",