Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )

Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )
Flashback


__ADS_3

Kita nikmati keharmonisan keluarga Aira Rendra sebelum negara api menyerang ya. Asyekk cekidot.


Usianya masih tergolong muda, tapi Aira sudah menyandang sebagai seorang ibu dari dua anak yang lucu. Tidak hanya itu, Aira bahkan rela untuk tidak melanjutkan kuliahnya demi merawat dan mengasuh kedua buah hatinya, Sharen dan Javas.


Kehidupan rumah tangganya bersama Rendra juga berjalan harmonis. Tidak ada pertengkaran atau kesalahpahaman seperti dulu saat awal menikah. Aira yang bertambah dewasa, serta Rendra yang selalu mengayomi dan membimbing istrinya. Menjadi sebuah pilar keharmonisan rumah tangga mereka.


"Mas.., hari ini Aira mau izin ketemu sama temen-temen, boleh nggak?",


"Kemana sayang?",


"Ke Cafe, ada reuni meet up gitu..., rame-rame kok mas ..",


"Temen kuliah?",


"Hmmm..iya..hehe..",


"Kenapa ketawa gitu?",


"Ya enggak, lucu aja. Mereka ngajakin ketemuan, reuni katanya. Aira aja nggak lulus..",


"Kenapa? insecure?",


"Nggak.., kan udah pilihan Aira jadi ibu rumah tangga..",


"Sebentar atau lama? anak-anak gimana?",


"Aira nanti jemput Sha sama Vas sekolah, abis itu langsung ke Cafe.., baby sitternya ikut juga..",


"Oke.., boleh. Mas pulang, kamu udah di rumah ya..",


"Iya sayang.., makasih mas..",


"Sama-sama.., mas berangkat ke kantor dulu ya..", kecupnya pada kening Aira.


"Hati-hati..",


"Assalamualaikum..",


"Waalaikumsalam.."


Kedua anaknya sudah bersekolah. Rendra juga sudah berangkat ke kantor. Suasana rumah yang baru di huni beberapa bulan lalu menjadi sepi. Ya, Aira dan Rendra sudah hidup terpisah dari Mama Widya. Beliau tinggal bersama Revan dan Fafa.


"Halo sayang.., gimana tadi sekolahnya? happy nggak?",


"Happy mom..., hmmm tadi Cha nangis..", adu Javas kepada mommy nya.


"Kenapa? Sha?", tanya Aira kepada anak pertamanya. Sha menunduk.


"Tadi crayon Sharen patah Bu.., terus dia nangis...", jawab Miss yang menjadi wali kelas Sharen.


"Oh gitu? kenapa nangis? masa anak Mom cengeng sih? nggak apa-apa kalo patah, nanti kita beli lagi ya cantik..",


"Vas ikut mom..",


"Iya.., Javas ikut.., sekalian beli juga ya..",


Javas menggeleng.


"Vas nggak mau beli?",


"Vas mau beli mainan..",


"Yah.., mainan terus.., kan udah dibeliin Daddy kemarin..",


"Vas mau lagi..",


"Oke.., nanti minta sama Dad, oke?",


"Oke mom..",


"Mau makan es krim nggak?", tanyanya kepada kedua anaknya yang digandeng disisi kanan dan kiri. Sedangkan kedua baby sitter Sha dan Vas berjalan di belakang.


"Emang boleh mom? kalo Dad tau, nanti marah..", ucap Sharen yang langsung terlihat bersemangat ketika mommy nya menawarkan es krim.


"Boleh kok, tapi nggak boleh banyak. Nanti kalo kalian sakit, Mom yang dimarahin sama Dad..",


"Hmmm.., kalo gitu nggak usah aja mom..",


"Kenapa? Sha nggak pengen?",


"Nanti mom dimarahin sama Dad..",


"Nggak kok sayang, asalkan kalian nurut sama mom. Makan es krimnya dikit aja ya..",


"Asyik......", sorak keduanya.


Aira mengajak dua anaknya untuk bertemu dengan teman lamanya. Aira sudah terbiasa dengan kehadiran Sharen dan Javas . Rasanya, aneh jika bepergian tanpa mengajak keduanya. Aira tidak pernah meninggalkan Sharen dan Javas, kecuali jika Aira pergi menemani Rendra dinas keluar kota. Itupun, jika tidak memungkinkan untuk mengikutsertakan mereka.


"Sha.., Vas.., kalian main sama Nathan dulu ya. Tuh disitu sayang.., mommy mau ketemu sama temen-temen mom.., oke..",

__ADS_1


"Oke mom..", jawab mereka kompak.


"Nggak boleh lompat-lompat atau manjat-manjat, oke..",


"Oke mom.."


"Good.., anak mom emang pinter...",


"Bye mom...",


"Bye sayang..",


Reuni atau lebih tepatnya temu kangen yang dihadiri oleh beberapa teman semasa Aira kuliah dulu. Sudah lama tidak berjumpa. Tentunya, banyak perubahan yang terjadi. Ada yang menjadi , guru, wirausaha, karyawan swasta, ibu rumah tangga seperti Aira dan Farah, serta aparatur sipil Negara seperti Erna. Berasal dari macam-macam profesi, namun mereka satu frekuensi. Mereka memang tidak punya waktu untuk bertemu setiap waktu, namun mereka selalu intens berkomunikasi melalui grup chat. Hanya Farah dan Erna yang biasa Aira sering temui.


"Halo selamat siang, maaf aku telat..", ucap Aira menyapa satu-persatu teman-temannya.


"Nggak apa-apa kita juga baru sampai kok Ra..",


"Jemput Sha sama Javas dulu Ra?", tanya Farah.


"Iya..,tadi mampir ke sekolahnya mereka. Nathan kenapa tadi nggak masuk?",


"Tadi kesiangan bangun, hehehe..",


"Owalah..pantesan tadi nggak ada..",


"Anakmu udah sekolah semua Ra? kembar ya?",tanya salah satu temannya.


"Emang nggak beda jauh usianya.., cuma selisih 1.5tahun aja. Yang cewek anak pertamaku..,udah Paud. Kalo yang cowok masih toodler..",


"Owh..pantesan kayak seumuran ya Ra.., doyan apa rajin Ra?",


"Ya abisnya gimana? enak..",ucap Aira jujur.


"Usianya berapa Far?",


"Jalan 18 Minggu..."


"Eh Far, udah ketauan jenis kelaminnya dong..",


"Udah Ra.., ayo tebak.., anakku yang kedua ini cewek apa cowok..?",


"Kalo dari bentuk perutnya sih cowok..", tebak temannya.


"Iya, cowok lagi ya Far?",


"Wah.., berarti pas dong ya. Nathan nanti dijodohin sama Sharen, Javas sama anakmu yang kedua.., kita besanan Far..",


"Ogah.., masa iya aku besanan sama kamu.., kayak nggak ada orang lain aja.." canda Farah.


"Padahal hidupnya terjamin..", sombong Aira.


"Bodo amat..",


"Ih...", pukul Aira pelan pada pundak Farah.


"Er..,udah ada calonnya belum..?", tanya Farah kepada Erna yang sedari tadi hanya menyimak obrolan teman-temannya.


"Belum.., doakan aja.."


"Nggak usah pemilih lah.., kalo ada yang cocok langsung aja, gasssss..."


"Bukan pemilih, tapi lebih hati-hati aja sih..",


"Dulu aja sama Arif, kamu tiba-tiba putusin..padahal udah cocok banget. Orangnya baik, kerjaannya mapan...",


"Belum jodoh Ra..,kenalin lah sama siapa gitu, temen Rendra kek..",


"Teman mas Rendra ya cuma Aldo, suaminya Farah. Mau kamu?",


"Heh..!!, Aira ngawur aja, suami aku tuh..",


"Iya-iya.., cuma bercanda loh..",


"Kalian mah enak, di rumah jagain anak, suami tajir kebutuhan udah bisa terpenuhi. Kalo aku harus kerja keras dulu..",


"Perempuan akan jadi ratu, di tangan laki-lami yang tepat Er, sabar ya..",tepuk Farah pada bahu sahabatnya.


"Nah iya, yang penting jangan buru-buru ya.., moga dapet yang tepat aja..",nasehat Aira.


"Moga-moga dapetnya kayak suami kalian.., ganteng, mapan, sayang istri.."


"Hahaha iya..asal jangan suami kita aja yang kamu embay Er..", celetuk Farah.


Mata Aira ternodai ketika ada beberapa laki-laki berjas yang lewat didepan tempatnya duduk. Tidak hanya Aira yang terpana, tapi teman-temannya pun demikian. Mata mereka mengikuti arah jalan dari rombongan tersebut. Apalagi, ada satu laki-laki bule muda yang parasnya menyejukkan mata. Namun, bukan dia. Bagi Aira, hanya satu laki-laki yang mencuri perhatiannya. Laki-laki yang kini sedang mengedipkan mata genitnya ketika mengetahui dirinya sedang diperhatikan oleh Aira.


"Kenapa kamu Ra, kok jadi salah tingkah..",


"Hahah nggak..",

__ADS_1


Sore itu Aira mengajak kedua anaknya bermain di halaman rumahnya yang luas. Javas asyik bermain truk mainannya, sedangkan Sharen sedang senang-senangnya menaiki sepeda roda tiga yang baru bisa dia kayuh dengan benar. Kedua baby sitternya sibuk menyuapi anak asuhnya masing-masing.


"Vas.., nggak boleh diisi sama tanah ya, Javas udah ganteng, udah mandi loh..",


"Iya mom..",


"Daddy.....", teriak Sharen ketika mobil yang dikendarai Daddynya masuk ke halaman rumah.


Rendra turun, langsung disambut oleh ratu kecil serta jagoannya.


"Anak Daddy....", Rendra bergantian menciumi putra dan putrinya. Dia menggendong Sharen dan Javas sekaligus.


"Dad..., udah pulang?",


"Iya dong.., kalian wangi banget sih...",


"Kan udah mandi dad...",sahut Aira.


"Mommy udah mandi atau belum?


"Belum...",


"Sha..Vas.., lanjutin makannya ya. Dad sama M mau masuk dulu.., oke..?",


"Oke dad..",


Aira dan Rendra masuk ke dalam rumah meninggalkan putra dan putrinya yang masih asyik bermain.


Setelah melepas jasnya, dengan cepat Rendra menyudutkan istrinya ke tembok. Rendra tak kuasa menahan keinginannya untuk mencumbu Aira.



"Hmmmmm....",


"Miss you, sayang..", ucapnya singkat lalu melanjutkan kegiatannya menikmati bibir istrinya.


Rambut Aira awut-awutan, baju yang dipakainya berantakan karena ulah sang suami, yang entah kenapa tiba-tiba langsung menerjangnya.


"Kenapa tadi di Cafe ngeliatin mas, gitu banget?",


"Gitu banget gimana coba?",


"Terpesona? iya..?",


"Daddy GeEr...",


"Nggak GeEr tapi emang iya kan? buktinya aja ngeliatin terus.


Tatapan kamu, persis waktu pertama kali kita ketemu.., waktu kamu liatin aku dari kaca mobil..",


"Emang iya..?",


"Iya..., coba kamu bilang sama mas, apa yang kamu pikiran tadi?",


"Suami Aira ganteng..", bisiknya pada telinga Rendra.


"Baru tau? kemana aja?",


"Apalagi badannya, kekar.., udah gitu perutnya six pack, karena rajin nge gym..",


"Kamu sih, diajakin mas .., tapi nggak mau..",


"Males dad..",


"Tapi..kamu masih tetep seperti yang dulu, sexy..",


"Gombal...",


"Udah mandi belum..?",


Aira menggeleng.


"Aira kan udah bilang, belum mandi..",


"Mandi bareng yuk..


sekalian maen, mas kangen banget..",


"Boong banget sih, semalem kan udah.., berkali-kali..",


"Mas kangen lagi.., mau ya? bentar aja..",


"Lama juga nggak apa-apa kok.., Aira sanggup..",


"Nakal..", toelnya pada hidung sang istri.


Keduanya masuk ke kamar mandi untuk mandi bersama dan melakukan kegiatan intim berdua.


"Aaaahhhh...mas..., pelan...",

__ADS_1


__ADS_2