
"Mas Javas belum balik ya pak..?", tanya Kinara kepada security yang berjaga.
"Belum non.., tadi mas Javas pake motornya..",
"Kemana? tau nggak?",
"Mas Javas ke bengkel katanya..",
"Oh gitu..,makasih ya pak..",
"Sama-sama non..",
Kinara tidak berani menghubungi Javas, dia takut jika Javas semakin marah kepadanya.
Javas melewatkan makan siangnya, padahal Kinara sudah menyiapkannya.
"Bik.., beresin aja makannya. Mas Javas kayaknya udah makan siang..",
Maid yang disuruh membersihkan meja makan, melihat kesedihan di wajah Kinara. Namun, nyonya mudanya masih bisa tersenyum.
Kinara masuk kembali ke dalam kamar. Mengamati satu persatu foto suaminya bersama Mine. Senyum Javas merekah, terlihat sangat bahagia.
"Seharusnya aku nggak ada ditengah kalian. Maaf....", ucapnya.
Kinara ingat ayah mertuanya yang berpesan agar bersabar menghadapi Javas. Mungkin, ini maksud dari Daddy Rendra. Javas memang orang yang susah ditebak perangainya.
Menjelang petang, Javas baru kembali. Kinara yang berharap kemarahan Javas mereda, dibuat kecewa oleh sikap Javas yang masih acuh kepadanya.
"Mas.., mau mandi? udah kina siapin baju gantinya..", ucapnya.
"Hemmmm..", jawabnya singkat.
Javas sepertinya benar-benar marah kepada istrinya. Saat mereka berdua di ruang makan, tidak sedikitpun suara yang dikeluarkan oleh Javas. Kinara yang sudah ciut nyalinya, tidak ingin mencari gara-gara, dia juga diam sepanjang mereka menikmati makan malam.
Kinara yang sadar dengan sikap Javas, memilih untuk tidur di sofa, di depan TV kamar. Hal ini berhasil membuat Javas mengeluarkan suaranya.
"Kamu ngapain tidur disitu? mau ditonton sama TV..?",
"Nggak apa-apa disini aja mas..",
"Pindah sini Na..",
"Nggak.., Kina disini aja mas..",
"Kalo kamu nggak mau pindah kesini, biar aku yang mindahin kamu..", ancam Javas.
Kina langsung buru-buru bangun, dengan membawa selimut tebalnya, dia naik ke atas ranjang, berbaring di samping Javas.
"Kamu kenapa sih?",
"Nggak apa-apa mas..",
"Ya udah, tidur..",
Kina berbaring membelakangi Javas. Tidak ada obrolan atau pillow talk sebelum mereka tidur. Javas masih sibuk dengan ponselnya, sedangkan Kinara tidur meringkuk dengan memeluk sebuah guling.
Kinara yang sudah bangun, langsung menuju ke dapur untuk menyiapkan sarapan untuk suaminya.
"Non.., biar saya aja..",
"Nggak apa-apa, ini kina mau nyiapin makan buat mas Javas..",
"Ya udah, Bibik yang bantu ya Non..",
Jam masih menunjukkan pukul 7 pagi, namun saat Kinara baru saja menyiapkan sarapan dan meletakkannya di meja makan. Javas sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Javas bersiap untuk pergi.
"Mas.., nggak sarapan..?",
"Nggak..", jawabnya singkat.
Lagi-lagi Kina harus merasakan kekecewaannya. Usahanya menyiapkan makanan untuk Javas ternyata sia-sia.
Kinara duduk, memandangi makanan yang sudah dia siapkan.
"Sabar ya non..",
"Mas Javas marah sama Kina bik..",
"Dibujuk atuh non.., biar mas Javasnya nggak marah lagi..",
"Kina aja bingung, salah kina dimana?",
"Ya mungkin mas Javas memang lagi banyak kerjaan aja non..",
Javas sampai dikantornya. Tama belum terlihat, karena kali ini Javas memang datang lebih awal. Javas memeriksa satu persatu tumpukkan berkas yang ada di atas mejanya.
"Sampe banyak kayak gini yang belum aku tanda tangani", ucapnya.
Memang hanya tinggal membubuhkan tanda tangannya, karena semua pekerjaan sudah diputuskan dan diambil alih oleh Daddynya saat Javas merasakan kegalauannya.
"Pagi bos..", ucap Tama yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangannya.
"Bosnya kamu atau aku Tam? kok baru sampe?",
"Hei bos.., ini masih setengah jam lebih awal dari jam kerja yang seharusnya. Kamu aja yang datangnya kepagian. Mentang-mentang udah ada yang ngurusin.
"Sok tau..",
"Kemeja, celana pasti ini pilihan istri kamu.."
"Iya.., kenapa? iri? bilang..",
"Iya..aku iri, aku bilang..", jawabnya.
"Kamu ngapain kesini? ada yang harus aku tanda tangani?",
"Aku kesini, karena aku kepo..",
"Kepo kenapa?",
"Kenapa tiba-tiba nikahin perempuan yang sama sekali nggak kamu kenal?"
"Aku kenal dia..",
"Kenal sekedar kenal, tapi nggak tau aslinya..",
"Dia perempuan asli..",
Mendapat jawaban yang sepertinya Javas alihkan, Tama akhirnya to the point.
"Dia bukan perempuan yang kamu cinta. Kalo memang nikahin dia karena kasian, kenapa nggak sekalian nikahin janda yang udah punya anak? memelihara anak yatim juga jadi pahala..",
"Busset.., kamu ngeledek atau ceramah?",
"Sambil menyelam minum air..,
terus apa alasannya?",
"Ya nggak tau, waktu itu pikiranku memang aku harus nikahin dia.., nggak tau dapet ide darimana..",
"Astaga bos.., nikah itu bukan perkara sepele, harus siap lahir batin..",
"Iya aku tau.., dijalanin aja..",
"Mine gimana?",
"Dia udah bahagia.., tanpa aku..",
"Kamu nikah karena balas dendam? pengen move on jalur tol?",
"Nggak Tam, emang nggak ada alasan kenapa aku harus nikahin Kinara. Semuanya terjadi gitu aja..",
"Kalo tiba-tiba, Mine kembali.., apa yang kamu lakuin?"
"Aku nggak mau memikirkan hal yang mustahil. Yang pasti-pasti aja..",
"Hmmm gitu...,tapi, istrimu juga nggak kalah cantiknya sama Mine..",
"Banyak yang bilang gitu...,
__ADS_1
Tapi aku nggak suka kalo mereka dibandingin..",
"Kenapa? masih cinta sama Mine?",
Javas diam.
"Dengan kamu diam, berarti memang kamu masih berharap sama Mine. Tapi, dengan kamu membatalkan kepergian ke Aussie, itu juga udah jadi jawaban kalo kamu sebenernya menjaga perasaan istri kamu..",
"S-o-k tau..!!",
"Bener kan? udah bilang aja iya.
Nggak usah gengsi Vas, dokter itu udah jadi istri sah kamu juga. Mau gimanapun kalian ini suami istri..",
"Iya pak ustadz..",
"Dibilangin, malah ngeledek..",
Dress midi bewarna pastel membalut tubuhnya pagi itu. Rambut gelombangnya dia biarkan terurai. Dengan menggunakan flat shoes ditunjang oleh tas mahal hadiah pernikahan dari Tante Fafa, Kinara terlihat seperti gadis tempo dulu, tapi dalam versi kekinian yang mahal. Kinara terlihat sangat anggun.
"Kina pergi dulu ya bik..",
"Hati-hati non..",
Dengan diantar oleh driver, Kinara pergi ke Prime grup, kantor tempat Javas bekerja. Kinara memang baru pertama kali menginjakkan kakinya disini.
"Selamat pagi mbak.., ada yang bisa saya bantu?",
"Pagi mbak.., saya bisa titip sarapan buat mas Javas..?",
"Bisa mbak buat pak Javas ya.., maaf ini dari siapa?",
"Dari Kinara mbak..",
"Lengkapnya?",
"Dokter Kinara..",
"Dokter? Pak Javas sakit?", tanyanya lagi.
"Mas Javas sehat.., saya ini ehmmm....dokter Gizinya..",bohong Kina.
"Oh gitu.., baik mbak.., saya terima ya. Akan langsung saya sampaikan ke pak Javas..",
"Baik mbak..terima kasih..",
Kedatangan Kinara menimbulkan pertanyaan dari Karyawan yang melihatnya. Kinara mengendarai mobil dengan diantar oleh sopir yang biasa melayani Javas.
"Dia siapanya pak Javas ya?",
"Nggak tau..", ucap security yang berjaga di depan pintu resepsionist.
Resepsionist itu langsung memberitahukan jika ada titipan dari Dokter Kinara kepada Javas. Sayangnya, dia malah mendapatkan Omelan.
"Kinara? orangnya masih di bawah?", tanya Javas.
"Dokter Kinara sudah pergi 5 menit yang lalu pak..",
"Kenapa tadi kamu nggak ngasih tau ke saya?",
"Maaf pak..dokter Kinara bilang kalo hanya ingin menitipkan sarapan..",
"Tadi Kinara bilang gimana?",
"Dokter Kinara bilang kalo dia dokter Gizi nya pak Javas, mau titip sarapan. Udah gitu aja pak..",
"Dokter Gizi?",
"Iya pak.., emangnya bohong ya pak?",
"Iya bohong..",
"Terus gimana pak? apakah saya salah?",
"Nggak..,
ya udah kalo gitu suruh antar sarapannya ke atas..",
...Kina ke kantornya mas Javas ya, mau nganter sarapan....
Sebelum pergi tadi, sebenarnya Kinara sudah mencoba meminta izin kepada Javas, meskipun hanya lewat pesan. Namun, sayangnya tidak ada tanggapan dari Javas karena pesan dari Kinara belum dibuka. Kinara mencoba meminta izin kembali.
...Mas.., kina langsung pergi ke rumah Tante Fafa . Mau nengokin Oma sekalian main disana....
Akhirnya, Kinara sampai di rumah Tante Fafa. Dia langsung disambut oleh Nisa dan Oma yang kebetulan ada di halaman rumah. Oma sedang berjemur dibawah terik matahari.
"Assalamualaikum, pagi Oma..",
"Waalaikumsalam.., pagi..,cucu oma.., kamu sendirian?",
"Sama sopir Oma.., mas Javas udah mulai kerja..",
"Kalian bahagia kan?",
"Bahagia Oma..",
"Alhamdulillah.., Oma seneng dengernya..",
"Kita masuk dulu yuk Oma..", ucap Nisa.
"Biar aku aja nis yang dorong Oma..",
Kinara mendorong kursi roda milik Oma. Kehadiran dokter Kinara membuat Tante Fafa terkejut tidak menyangka.
"Wah.., ada pengantin baru...",sendirian Na?",
"Iya Tante, sama sopir..",
"Oh.., Javas pasti udah kerja ya..",
"Iya Tante..",
"Kamu cantik banget sih..",
"Iya karena tas mahal dari Tante..", candanya menunjukkan tas kado dari Tante Fafa yang saat ini dia pakai.
"Kamu bisa aja..tapi kamu memang cantik..",
"Makasih Tante..",
"Na.., udah sarapan belum? sarapan yuk..",
"Terima kasih, Kina udah sarapan Tante..",
"Oh ya udah.., kirain Tante belum..
Kamu yang sabar ngadepin Javas ya..? keponakan Tante memang agak susah orangnya..",
"Tante orang kedua yang ngomong gitu setelah dad..",
"Iya.., Tante udah hafal sifatnya. Keras, tapi orangnya nggak tegaan..",
"Semoga ya Tan, Kina ingat nasehat Tante..",
Jadi Tan.., selain karena pengen kesini maen, nengokin Oma, tapi Kina juga mau ngajak Nisa keluar boleh nggak tan? bentar aja.. pengen ngobrol..",
"Kemana?",
"Cafe Tan..",
"Ngobrol? kenapa harus di cafe ? tuh dihalaman belakang aja.., Tante juga nggak bakal nguping kok..",
"Boleh Tan?",
"Boleh..",
Kinara dan Nisa diberikan waktu untuk mengobrol berdua. Saat berada di rumah kakek, mereka tidak sempat untuk berbincang karena sibuk dengan kegiatannya masing-masing.
"Kok bisa sih Na?",
__ADS_1
"Semuanya terjadi begitu cepat. Kalo aku tolak mas Javas, berarti aku harus siap jadi istri kedua..",
"Kamu beneran bahagia sama mas Javas..?",
"Daripada jadi istri kedua? mending jadi istri mas Javas kan?",
" Mas Javas kan ketus banget sama kamu..kalian ada perjanjian pernikahan? atau nikahnya cuma pura-pura aja..",
"Nikahnya beneran..",
"Tapi...?",
"Aku jadi istri pura-pura..",
"Maksudnya gimana?",
"Meskipun aku ini sah istrinya mas Javas, tapi aku tau diri. Aku membatasi diri untuk nggak terlalu jauh masuk ke dalam kehidupan mas Javas. Aku tau di hatinya masih ada mbak Mine, pacarnya. Pernikahan ku sama mas Javas terjadi hanya karena sebuah rasa kasihan, bukan kasih sayang..",
"Ya Allah Na, sampe kapan mau kayak gini?",
"Aku juga nggak tau Nis.., kapanpun mas Javas pengen pisah, mengakhiri pernikahan ini, aku siap...udah tau endingnya seperti apa, tinggal menunggu waktu aja..",
"Tapi, mas Javas udah nggak ketus nggak galak lagi kan sama kamu?",
"Nggak.., dia baik kok..",
"Apa nggak ada pikiran buat menjadi suami istri sesungguhnya Na? kamu nggak baper? liat dia setiap hari, ganteng loh Na suami kamu.., nggak ada rasa sedikitpun gitu..?",
" Perhatian kecil yang aku lakuin buat dia semata karena rasa terima kasih ku karena dia udah mau nolong aku Nis..Aku membentengi diri.., nggak mau kecewa nantinya..",
"Kalo seandainya mas Javas beneran jatuh cinta sama kamu? gimana?",
Kinara menggeleng dan tersenyum.
"Nggak mungkin Nis..",
"Nothing is impossible Na..",
Kinara memainkan jarinya memutar pada gelas yang berada di depannya. Nisa tau, sahabatnya itu sebenarnya sedih karena harus menjalani pernikahan seperti ini. Namun, harus terlihat bahagia didepan semua orang, terutama keluarga.
"Bang Firman, gimana?",
Kinara membuka ponselnya, lalu membukakan chat yang berasal dari kekasihnya.
"Gilak..., spam chat dan nggak ada satupun yang kamu balas?",
"Iya...",
"Nggak usah dibalas Na.., gimanapun juga sekarang kamu jadi istri orang. Mau gimana pun suami kamu, itu tetap imam kamu..",
"Iya aku tau..",
"Salah sendiri bang Firman nggak langsung nikahin kamu waktu itu..",
"Seenggaknya dia udah punya niatan nis.., walaupun akhirnya gagal...",
"Iya juga sih Na..",
Kinara betah berada di rumah Tante Fafa. Hingga menjelang makan siang, tidak ada tanda-tanda dirinya untuk pamit. Tante Fafa tentu tidak keberatan, justru dia sangat senang karena Kinara berkunjung ke rumahnya.
Namun tanpa disangka, Javas tiba-tiba muncul ketika Kinara tengah asyik membantu Tante Fafa dan Oma yang sedang membuat kue.
"Siang Oma..",
"Loh.., gantengnya Oma.., mau jemput Kinara ya?",
"Iya Oma..
Buat apa Bun?", tanyanya pada Fafa.
"Ini buat kue mas.., mau cobain nggak? istri kamu loh tadi yang bikin adonannya..",
"Javas mau pamit Bun..",
"Yah.., nggak mau makan siang disini aja..?",
"Nggak..makasih Bun..",
Na.., ayo pamit sama bunda sama Oma..",
Kinara pamit kepada Fafa, Oma serta tidak ketinggalan pada sahabatnya. Entah untuk apa Javas menjemputnya. Padahal, Kinara sudah diantar oleh driver. Tidak ingin bertanya, karena takut salah bicara lagi. Kinara memilih diam.
"Betah banget dirumahnya bunda..",
"Iya mas..", jawabnya singkat.
"Kamu nganter sarapan, kenapa nggak sekalian sama makan siangnya?",
"Mas Javas kan udah biasa makan di kantor..",
"Kenapa nggak inisiatif tanya?",
"Chat kina aja nggak dibaca, gimana tanya nya..",
"Aku sibuk tadi..",
"Oh..",
"Sejak kapan kamu jadi dokter gizi aku?",
"Hah..? Kina bingung mau jawab apa tadi.., resepsionistnya tanya, mas Javas sakit apa? waktu kina bilang kalo kina ini dokter.., ya udah Kina bilang kalo dokter Gizinya mas Javas..",
"Aku mau ngomong, tapi kayaknya kamu juga nggak ngerti maksud aku..",
"Mas Javas mau ngomong apa?",
"Nggak jadi..
Kita makan siang diluar..",
Tidak ada bantahan dari Kina, dia menurut. Sepertinya, kiriman sandwichnya ampuh untuk melunakkan hati Javas.
"Mau makan apa?",
"Terserah mas..",
"Nggak ada namanya makan terserah..",
"Kina ngikut aja mas..",
Javas membelokkan mobilnya ke sebuah Cafe yang tidak jauh dari bengkelnya.
Tidak langsung pulang ke rumah setelah makan siang, Javas justru mengajak Kinara untuk pergi ke bengkel miliknya.
"Ini ruanganku, kamu tunggu disini aja. Aku nggak lama.., paling cuma sejam-an aja..",
Kinara mengangguk. Melihat-melihat ruangan Javas yang tidak banyak dipenuhi oleh barang. Ruangannya juga sangat bersih meskipun ini hanyalah ruang kerja di sebuah bengkel.
Javas menepati janjinya, dia kembali ke ruang kerjanya ketika sudah sejam meninggalkan Kinara.
"Kita pulang sekarang..",
Kehadiran Kinara tentu saja mendapatkan perhatian dari montir yang bekerja disana. Perempuan yang diajak bosnya ternyata adalah orang yang berbeda. Namun, hanya bisa dibatin dalam hati. Hanya memandang dengan menggelengkan kepala.
Javas dan Kinara akhirnya tiba di rumah. Keduanya, langsung menuju ke dalam kamar.
Kali ini, Kinara terkejut dengan keadaan kamar Javas yang berbeda. Sudah tidak ada foto Javas dan Mine yang terpampang disana. Semuanya terganti oleh foto keluarga dan foto masa kecil Javas. Satu yang menjadi perhatian Kinara adalah potret dirinya. Sebuah foto yang awalnya dia simpan di kamarnya saat masih menjadi dokter pribadi untuk Aira. Kini, sudah berpindah tempat di kamar Javas.
Tidak ingin bertanya, karena takut Javas akan marah lagi kepadanya. Kinara memilih untuk mengunci mulutnya. Eh tapi, justru Javas yang bersuara.
"Nggak usah kaget, aku nyuruh maid buat beresin.."
Kinara hanya memandang ke arah Javas tanpa menimpali ucapan suaminya. Kinara takut salah menanggapi.
"Karena bukan dia yang tinggal di sini tapi kamu..", ucapnya lagi.
Kinara sedikit tidak menyangka dengan ucapan Javas. Jika salah mengartikan justru akan membuat Kinara terbawa perasaan. Tidak ingin larut, Kinara lantas mengakhiri dan mengalihkan topik pembicaraan Javas.
"Mas Javas pengen langsung mandi kan tadi? Kinara siapin baju gantinya..",
__ADS_1
Kinara menuju walk in closet, dengan membatin dalam hatinya.
"Kamu bener Nis, lama-lama aku bisa baper..",