
"Kalo emang nggak bisa dicancel, udah bayar denda aja..",
"Kalo diperkarain, gimana yank?",
"Ya udah, aku yang ngadepin...",
"Iya..
aku turun dulu..
salim...", Sharen mencium tangan Nathan sebelum keduanya berpisah.
Pagi itu Nathan mengantar Sharen ke PH untuk membatalkan kontrak kerja. Sayangnya, Nathan tidak bisa ikut mendampingi karena harus menghadiri pertemuan di Prime grup.
"Hati-hati...",
"Aku jemput 2 jam lagi, ya sayang..",
"Iya yank...",
Nathan mengecup kening Sharen sebelum istrinya keluar mobil.
Sharen menemui leader tim yang menangani proyek pemotretannya bersama Anthony.
"Bisa kan mbak? kalo di cancel..?",
"Kayaknya nggak bisa Sha..
Antusias netizen tuh udah tinggi banget sama kalian. Kita bakalan rugi kalo sampai model ceweknya bukan kamu..",
"Loh, kan aku sanggup bayar mbak..",
"Iya sanggup, tapi gimana kalo nanti dari PH sana yang ganti nuntut balik? Anthony aja udah prepaire loh mau kesini Sha..",
"Ya pokoknya gimana caranya lah mbak, biar aku bisa cancel. Kan masih banyak model lain mbak. Toh, aku juga udah nikah.., yang masih single banyak...",
"Bukan masalah gitu, tapi kan ini buat cover majalah. Bukan masalah status kamu yang udah nikah atau belum. Tapi, background keluarga kamu sama Anthony tuh sama... jadi isi wawancaranya itu seputar karir sama keluarga. Tau kan arahnya kemana? Keluarga kalian kaya raya, tapi kalian masih tetep di dunia entertaint...",
"Mana ada sih kayak gitu.., nggak ada deh mbak..",
"Ada.., kan ada di kontrak kerjanya. Kamu nggak baca..?",
Sharen menggeleng. Dia memang tidak membacanya dengan teliti saat itu. Ya, maklum waktu menandatangani kontrak itu, suasana hatinya sedang galau karena baru saja putus cinta.
"Aku tuh nggak dapat izin dari suami mbak..",
"Ya dirayu dong...",
"Nggak bisa, suami aku tuh posesif mbak..",
"Sha.., kita bisa kok bantu atur posenya. Nggak yang langsung skin to skin. Yang penting hasilnya bagus.."
"Tetep nggak boleh mbak, mau kayak gimanapun..",
"Oke Sha..,
aku bantu kamu ya. Jadi, kamu bisa cancel ini, kalo pihak Anthony setuju. Kalo mereka nggak setuju, ya tetap lanjut..",
Ada secercah harapan bagi Sharen. Dia berdoa semoga kontrak kerja ini bisa dibatalkan.
"Iya mbak.., coba ya.."
"Oke..,aku hubungi dulu pihak sana ya..",
Setelah melewati drama yang sedikit alot, akhirnya Sharen harus menelan kekecewaan. Pihak Anthony tidak setuju jika model perempuan diganti dengan model lain. Katanya, face Sharen lebih terlihat komersial dibandingkan dengan model lain yang menjadi alternatif sebagai pengganti Sharen.
__ADS_1
"Maaf ya, aku nggak bisa bantu.."
"Kan aku bisa bayar denda mbak..",
"Iya Sha, tapi maaf ya aku nggak bisa bantu..",
"Terus gimana mbak?",
"Ya..mau nggak mau tetep kerja besok lusa..",
"Mbak.., gimana sama suamiku..?",
"Aku nggak bisa bantu Sha..",
Nathan sudah menebak, jika kontrak kerja Sharen memang tidak bisa dibatalkan. Raut wajah istrinya terlihat murung. Nathan jadi tidak tega untuk marah atau kesal kepadanya.
"Yank...",
"Iya aku tau, nggak bisa dibatalin kan?",
"Sharen mengangguk lemah..",
"Ya udah, mau gimana lagi. Siap-siap aja nanti kalo foto kalian muncul, pasti ada akun shipper. Udah gitu, ada gosip tentang kita..",
"Yank, jangan gitu..",
"Nggak ada jalan lain kan?",
Nathan tidak marah, tapi sepertinya pasrah saja. Meskipun sebenarnya dia sangat benci jika istrinya berinteraksi dengan laki-laki selain dirinya.
Tiga hari ini, Nathan berubah menjadi sedikit pendiam. Bahkan, mereka tidak pernah sekalipun bercinta. Padahal sebelumnya hampir tiap hari mereka melakukannya. Mau merayu-pun sepertinya bukan waktu yang tepat.
"Yank.., aku kerja dulu...",
"Yank.., jangan kesel lagi, aku nggak bisa diginiin..., kan bukan salah aku sepenuhnya..", ucap Sharen dengan suara menahan tangis.
"Iya tau..
Sana turun, nanti telat...",
"Aku turun dulu ya yank...",
Sharen diantar Nathan ke sebuah studio untuk melakoni pekerjaannya. Berat rasanya kali ini. Meskipun Nathan mengizinkan, tapi Sharen tau suaminya setengah hati.
"Pagi Sha...",
"Pagi mbak..",
"Lemes banget, nggak sarapan..?"
"Gimana nggak lemes mbak, suami ku aja ngambek...",
"Ya udah sih, nanti juga baikkan...",
"Kamu di make up dulu ya...",
"Iya mbak..",
"Oh ya, nanti posenya terserah kalian ya. Ngalir aja...",
"Anthony mana? nggak usah kenalan nih..?",
"Nggak usah, nanti juga akrab sendiri..",
"Aku tinggal dulu ya..",
__ADS_1
Sebenarnya, Sharen sedikit kurang nyaman dengan pakaian yang dikenakannya. Apalagi, tanpa lengan seperti ini. Tapi, lagi-lagi dia harus bersikap profesional. Toh, Sharen dan Anthony bisa mengatur pose mereka nanti.
"Sha.., udah siap kan?",
"Udah mbak..
kok jadi deg-degan..",
"Yuk masuk...,
udah ditungguin...",
Sharen masuk ke dalam studio. Pantas saja hatinya gelisah, ternyata Nathan sudah berada di dalam sana sedang mengobrol dengan salah satu kru.
"Mbak.., kok ada suami aku..? nanti kalo dia cemburu gimana..?",
"Nggak bakalan...",
Sharen sumringah, dia menjalani sesi foto dengan all out. Bahkan pose-posenya terbilang mesra dan cukup berani.
"Oke..., tempelin hidung..., ya kayak gitu tapi jangan sampe ciuman ya...,
oke.. cakep...",
Suara fotografer juga terdengar renyah, karena merasa puas dengan hasil foto yang diambilnya.
Sesi foto selesai. Tim sangat puas dengan hasil gambar. Terlihat mesra, natural dan tanpa dibuat-buat. Terang saja, karena yang melakoni saja statusnya suami istri.
"Sha..makasih kerja samanya..",
"Makasih mbak..",
"Mas Nathan, nanti kalo ada job lagi, aku kabari ya..",
"Boleh, asal sama istri aku mbak, bukan yang lain.."
"Sipp mas..",
Nathan memang penuh dengan kejutan. Sharen tidak habis Fikri , eh fikir maksudnya. Bagaimana bisa tiba-tiba modelnya berganti dari Anthony ke Nathan?
"Yank, kok bisa..?",
"Bisalah, apa yang nggak bisa?",
"Makasih ya mas Nathan ganteng...",
"Nggak ada yang gratis ya..",
"Mau berapa ronde..?",
Nathan tersenyum sipu. Memang ini yang dia inginkan.
"Liat aja, nanti kamu bakalan susah jalan..",
"Ih takut...", ledek Sharen.
"Staycation di hotel ya sayang...",
Sharen mengangguk. Nathan melajukan kendaraannya menuju sebuah hotel tempat mereka akan bercinta.
__ADS_1