
Perjalanannya terasa berbeda . Sharen yang lebih suka untuk menyetir, kali ini harus diantar oleh mamang. Sebenarnya tidak masalah jika dia mengendarai mobil sendiri, namun Sharen tidak ingin membuat mommynya khawatir.
"Pagi mbak..",sapa salah satu karyawannya.
"Pagi...",
Bekerja di butik dan di Prime grup tentu saja sangat jelas perbedaanya. Jika di Prime dia berkutat dengan angka, grafik, laporan, dan segala sesuatu yang membuat otaknya harus berpikir kerasa. Di butik, Sharen hanya perlu menuangkan kreatifitasnya untuk menghasilkan design bagus, unik dan kekinian.
"Sha.., nggak ngantor..?" tanya Tama yang tiba-tiba meneleponnya.
"Nggak..",
"Masih sakit..?",
"Nggak sih, cuma kayak males aja Tam..",
Begitulah Tama, dia memang kerap kali menanyakan posisi atau keadaan Sharen. Entah bentuk perhatiannya sebagai asisten, atau karena tuntutan dari Nathan.
"Semua file yang harusnya kamu tanda tangani udah aku siapin, aku taruh di meja, Javas juga udah aku ingetin kalo hari ini dia ada pertemuan sama klien di luar, dia pergi sama Rai nanti..",
"To the point aja, kamu mau apa?",
"Hehehe tau aja...",
"Apa?",
"Aku mau izin Sha.., boleh?",
"Izin? ada acara keluarga?",
"Nggak.. acara sama temen-temen, boleh nggak?",
"Oke.., boleh..",
"Asik.., makasih Bu bos..
"Aku dapat sesuatu nggak, pagi ini..?", tanyanya.
"Nggak...",
"Oh ya udah...",
"Semalem kan udah Sha...",
"Hah..? oh.....iya..", jawabnya dengan melihat gelang yang saat ini dia pakai.
"Ya udah kalo gitu.., aku lanjut kerja satu jam, abis itu aku izin keluar, kalo sempet nanti balik kantor, kalo nggak ya aku langsung pulang...",
"Oke Tam...",
Sharen mensilent notifikasi ponselnya, sengaja tidak ingin ada yang menganggunya. Toh, keluarganya juga sudah tau jika saat ini Sharen berada di butik. Jika ada hal yang penting, juga mereka akan menghubungi lewat telepon butik.
Sharen melanjutkan kegiatan menggambarnya. Menuangkan idenya untuk menghasilkan karya yang seringkali mendapatkan banyak peminat dari kalangan anak muda.
Tiba-tiba pandangannya tertuju pada gelang yang dia pakai. Sharen meletakkan stylus pennya. Memegang liontin huruf B pada gelang pemberian Nathan.
"B untuk Belvanya.., bukan Bella...", ucapnya.
Sharen menghela nafasnya panjang, lalu meletakkan kepala dia atas meja kerjanya. Sharen lelah. Ditengah kehidupan keluarganya yang sudah normal, dan kembali bahagia setelah kesembuhan mommy juga pernikahan adiiknya Javas yang terlihat bahagia. Sepertinya hanya dia yang mempunyai masalah percintaan yang kurang beruntung.
"Permisi mbak...",
Sharen mengangkat kepalanya.
"Oh..maaf mbak maaf..,
Mbak Sharen lagi tidur ya..",
"Hmmm..nggak..",
"Ini tadi laporan yang mbak Sharen minta..",
"Iya makasih, taruh disitu aja..",
"Baik mbak, saya permisi dulu..",
Sebuah mobil mercy bewarna silver berhenti di depan butik. Seorang pemuda tampan keluar dengan melepas kacamata hitam yang dipakainya. Untuk apa seorang laki-laki muda itu masuk ke dalam butik khusus untuk perempuan.
"Siang mas.., ada yang bisa saya bantu? mau cari pakaian untuk pacar atau istrinya mas..?",
"Sharen ada disini kan mbak?",
"Oh..pacarnya mbak Sharen?"
Nathan meresponnya hanya dengan tersenyum.
"Mbak Sharen ada di dalam ruangannya, mau saya panggilkan?"
"Nggak usah.., bisa dianterin ke dalam aja mbak?",
"Maaf mas, selain karyawan dilarang masuk, ini sudah peraturannya..",
"Mbak..baru ya kerja disini..?",
__ADS_1
"Iya mas..",
Seorang karyawan menghampiri Nathan dan juga karyawan baru itu.
"Mas Nathan..., mau ketemu mbak Sharen?", tanyanya.
"Iya mbak.., bisa?",
"Bisa mas.., silahkan masuk saja..",
"Oke mbak..makasih..",
Dua orang karyawan itu lantas berbisik ketika Nathan masuk, menuju ke ruangan Sharen.
"Itu tadi namanya mas Nathan, dia itu deket sama mbak Sharen.., inget-inget wajahnya ya. Jangan sampe salah lagi.."
"Kalo ini sih gampang diinget mbak, wajahnya ganteng banget, kayak pemain sinetron..",
"Husst..,jangan macem-macem..."
Nathan mengetuk ruangan Sharen. Tanpa persetujuan, dia langsung masuk ke dalam ruang kerja.
"Mbak.., maaf ya belum aku buka sama sekali.
kalo udah aku periksa, nanti aku kembaliin lagi...", ucapnya. Sharen memang kembali menidurkan kepalanya di atas meja, sehingga tidak tahu jika yang masuk ke dalam ruangannya adalah Nathan.
"Capek banget ya Sha.." ucap Nathan.
"Iya Nath...", ucap Sha spontan. Namun, dengan spontan pula Sharen menegakkan kepalanya.
"Capek..?", ucap Nathan lagi. Dia lantas duduk di kursi yang berhadapan dengan Sharen.
"Nath..."
"Kaget ya tiba-tiba aku bisa disini?",
"Iya.., aku pikir karyawan butik.."
"Capek ya Sha..?"
"Dikit.."
Nath.., kok tau aku ada disini..?"
"Kamu udah sembuh? udah sehat Sha?",
"Udah mending Nath..",
"Aku tau dari Tama..Aku telepon kamu berkali-kali tapi nggak direspon..",
"Kita lunch bareng yuk..?",
"Lunch..? kan masih jam 10 pagi..",
"Mau ya..?"
"Aku banyak kerjaan disini.."
"Ayolah Sha.., udah lama kita nggak lunch..",
"Nanti ya Nath.., kan jam makan siang masih lama..",
"Kita makan di Atria..",
"Hah? Atria? jauh banget Nath..",
"Cuma sejam dari sini, mau kan?",
"Hmmmmmm....",
"Mau ya.., Sha..",
"Iya-iya..",
Atria adalah tempat makan populer yang letaknya di dataran tinggi. Tempat ini sangat populer di kota mereka. Biasanya dipakai untuk tempat kumpul keluarga. Tapi, justru seringkali ramai oleh kalangan anak muda yang menjadikannya sebagai tempat tongkrongan.
"Mbak.., aku balik duluan ya mbak..",
"Iya mbak Sharen, mari...",
"Mari mbak..",
"Iya mas Nathan..",
Sharen dan Nathan berjalan keluar dengan berdampingan. Lagi-lagi membuat karyawan butik berbisik.
"Mbak mas Nathan itu temen, saudara atau pacarnya mbak Sharen?",
"Katanya sih temen rasa saudara, tapi kayaknya lebih tepat temen rasa pacar ya..",
"Iya cocok banget tuh..",
Nathan membukakan pintu untuk Sharen.
__ADS_1
"Makasih Nath..",
Nathan melajukan kendaraanya untuk menuju tempat yang Nathan sebutkan tadi.
"Kenapa tiba-tiba ngajakin ke Atria Nath?",
"Ya kan udah lama juga aku nggak mobil-mobilan sama kamu.."
"Mobil-mobilan gimana?",
"Ya jalan-jalan sama kamu.., kalo dulu kan tiap hari kita sama-sama. Kerja bareng, hang out bareng, tapi kamu sekarang udah ada partner baru..."
"Kamu mau jadi asisten aku lagi..?"
Maunya jadi yang lain Sha.., bukan sekedar asisten.
Nathan menggeleng.
"Aku udah punya coffe shop di Aussie, disini juga udah punya cafe. Mau usaha sendiri aja Sha..",
"Kenapa? nggak enak ya kerja sama aku..?",
"Kamu, mau aku jadi asisten kamu lagi?",
"Ya nggak gitu, kalo kamu mau kerja lagi di Prime, aku bisa bilang ke Javas atau ke Daddy..",
"Nggak usah, aku emang mau usaha sendiri aja Sha..",
"Gitu ya..",
Baru saja sepuluh menit perjalanan, tiba-tiba ponsel Nathan berbunyi. Namun, Nathan hanya melihatnya, justru meletakkan ponselnya di cup holder di samping kirinya.
" Kasian Nath, siapa tau penting.."
" Nggak ada Sha..",
" Kenapa Nath? atau jangan-jangan Luna nggak tau ya kalo kamu pergi sama aku?",
" Aku tadi cuma bilang kalo aku pergi..",
" Tuh kan?"
" Udah nggak apa-apa, nanti aku jelasin sama dia..",
"Ya udah.."
Aku kira Nathan orangnya romantis, tapi nama Luna cuma di simpan gitu aja. Terus, nomorku dikasih nama apa?
Tiba-tiba terbesit dalam pikiran Sharen. Sesuatu yang sebenarnya sepele, tapi membuat dirinya sangat penasaran.
"Nath...",
"Iya say......, Sha..", ucap Nathan yang hampir saja keceplosan. Untung mulutnya masih bisa diajak kompromi.
"Nath.., aku mau minum.., haus banget..",
"Mau minum? bentar ya.., kalo ada minimarket di depan, kita mampir..", ucapnya.
Sharen mengangguk mengiyakan.
Nathan membelokkan mobilnya ke sebuah minimarket.
"Mau ikut turun?",
"Nggak.., aku disini aja ya Nath..",
"Iya nggak apa-apa..
Mau dibeliin minuman aja?",
"Iya.., minum aja Nath..",
Sharen berdoa di dalam hatinya, semoga Nathan meninggalkan ponselnya dalam mobil. Dan, ternyata doanya manjur.
Nathan keluar dari mobilnya hendak membelikan minuman untuk Sharen.
Sharen langsung melancarkan aksinya. Sharen lantas menelepon Nathan yang ditinggal di dalam mobil.
Setelah tersambung, Sharen memeriksa ponsel Nathan. Dan ternyata nomor ponsel miliknya disimpan dengan nama " Special one ❤️".
Sharen membekap mulutnya, tidak menyangka. Benarkah se-istimewa itu dirinya untuk Nathan? Tapi, bagaimana dengan Luna? Nathan anggap apa dia selama ini?
Sharen buru-buru meletakkan ponsel Nathan ke tempat dan posisi semula, setelah melihat Nathan keluar dari minimarket.
"Nih Sha...",
"Makasih...,
Kok banyak Nath..?",
"Nggak banyak, itu ada air putih sama minuman ion. Aku nggak beli kopi kesukaan kamu, karena kamu lagi nggak sehat, jadi mending banyakin air putih..",
__ADS_1
"Iya Nath, makasih..",
Sepanjang perjalanan, tidak banyak percakapan yang mereka lakukan. Sesekali, Sharen melihat Nathan yang berkonsentrasi mengemudi. Kalau boleh diulang, lebih baik Sharen tidak membuka percakapan Nathan dan Tama melalui WhatsApp yang membuatnya tahu rahasia yang Nathan simpan selama ini. Ini berat, membuat bingung serta membuat galau seorang Queen Sharen Belvanya Perdana. Lalu, bagaimana perasaanya kepada Nathan?Jawaban untuk saat ini adalah tidak bisa dia definisikan.