Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )

Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )
Moment


__ADS_3

...Yang kangen sama Jaz jangan di skip ya. Ini bab bisa menjawab pertanyaan kalian selama ini. ...


Mendapatkan lampu hijau dari Dad dan Mommynya akhirnya Javas membulatkan tekad untuk pergi ke Aussie. Javas dibantu oleh Tama untuk mempersiapkan tiket , hotel dan keperluan lainnya.


"Kamu punya visa emangnya?",


"Nggak boss..",


"Kenapa minta ikut? aneh..",


"Hehehehe..",


"Ya udah, minta tolong siapin semuanya ya Tam.., aku masih di rumah kakek..",


"Oke.., nanti aku kirim kode bookingnya..",


"Makasih..",


"Sama-sama bos..",


Jika Dad dan mommy nya memberikan izin, tidak dengan adiknya yang justru melarang keras kakaknya . Jaz bahkan sampai menangis ketika mendengar kakaknya akan pergi. Padahal, Javas akan pergi 2 hari lagi itupun tidak dalam waktu yang lama. Hanya seminggu berada disana.


"Nggak boleh.., kak Javas nggak boleh pergi.., nanti Jaz nggak ada temennya..",


"Loh kan ada sus Sri.., ada dad sama mom.., ada kakek..., tuh ada ibu-ibu juga yang sering kamu tongkrongin..",


"Jaz ikut...",


"Nanti lain kali aja ya kita liburan sama-sama..",


"Nggak mau....uuuuuu.., Jaz pengen ikut..",


"Iya-iya sini.... tuyul.., kak Javas bilangin deh..",


Javas merayu adiknya agar tidak merajuk. Bukan hanya sekedar menangis, Jaz bahkan mogok makan. Benar-benar tidak mengizinkan kakaknya untuk pergi.


"Ayo makan ya.., kenapa sih? kak Javas perginya juga nggak lama kok..",


Jaz hanya menggelengkan kepalanya. Mulutnya dia kunci rapat-rapat.


Segala cara sudah Aira coba untuk membujuk putra bungsunya tapi tidak berhasil.


"Tadi mommy liat kamu tuh bercanda sama ibuk-ibuk loh.., kalo sama mommy kok cemberut...",


"Malez..",


"Kak Javas kan perginya cuma sebentar. Moma Sha juga bentar lagi pulang. Ayo makan dulu ya?",


"Nggak mau..",


"Kamu tuh ya.., kalo kak Javas ada aja, kalian berantem. Kalo mau pergi, kamunya mewek..",


"Pokoknya nggak boleh pergi..., huaaaaaaaaaaaaa", Jaz menangis, mengamuk dengan melempar mainannya.


"Cup cup...utu utu gantengnya mommy...",


"Nggak laper.., udah kenyang..", ucapnya sesenggukkan.


"Kamu dikasih apa sama mereka? hmmm? sampe mogok makan kayak gini..,


"Dikasih jajan..",jawab Jaz


"Jajan apa?",


"Itu loh Bu tadi ada abang-abang kue putu yang lewat. Jaz dikasih sama ibu-ibu..",jawab sus Sri.


"Habis berapa sus?",


"Sepuluh Bu..",


"Pantesan..",


Aira memang tidak melarang putranya untuk bergaul dengan tetangga dikampungnya. Jaz yang memang sehari-harinya dikurung dalam rumah mewah terlihat senang bisa berinteraksi dengan warga. Apalagi, ibu-ibu disana sangat gemas dengan Jaz yang ganteng, gemoy dan putih. Alhasil, setiap pagi atau sore sudah menjadi rutinitas Jaz untuk menyapa"penggemarnya".


"Ampuun deh.., mommy pusing kalo udah kayak gini..", ucapnya yang akhirnya menyerah. Aira memberikan piring yang berisi lauk Jaz kepada Sus Sri.


"Nih sus, tolong Jaz dibujuk biar mau makan ya..",


"Baik Bu..",


Aira keluar dari kamar Jaz. Mengeluh kepada suaminya dengan kelakuan sang putra.


"Ngamuk mas..",


"Kenapa sih?",


"Itu loh dia ngambek karena kakaknya mau pergi, nggak mau makan. Udah kenyang katanya tadi abis makan kue putu 10..", ucap Aira tersenyum mengingat kelakuan sang putra.


"Jangan dibiasain makan jajanan kayak gitu..",


"Nggak apa-apa.., itu jajan tradisional, enak kok. Makanya anak kamu suka.., Javas mana?",


"Ke pom bensin..",


"Mana? mobilnya ada tuh..",


"Pake mobilnya Ayah...",


"Tadi Jaz nangis, waktu Aira bilang Javas mau pergi. Apa.. dia punya firasat buruk ya mas?",


"Firasat apa? jangan ngaco ah..",


"Iya sih mudah-mudahan nggak ada apa-apa. Mungkin karena dia lagi akrab sama kakaknya jadi gitu deh..",


Jaz akhirnya tertidur setelah menjalankan aksi mogoknya. Aira mencopot botol susu yang sedang dikenyot oleh sang putra.


"Jaz mau makan sus?",


"Nggak mau Bu.., maunya cuma minum susu..",


"Ya udah..


Sus.., ibu sama bapak mau pergi ke makamnya nenek.., Jaz biarin aja tidur. Kalo dia belum bangun jangan dibangunin. Nanti mandi sorenya sebangunnya dia aja..",


"Iya bu..",


"Mas Javas sama kakek juga ikut..,mamang juga nyopirin. Jadi di rumah nggak ada orang.. kalo Jaz nanti tiba-tiba bangun terus rewel minta nyusul, sus hubungi saya ya..",


"Baik Bu..",


"Ibu pergi dulu ya..",


"Iya Bu


hati-hati..",


Aira dan keluarganya sudah selesai ziarah ke makam ibunya. Hanya satu jam meninggalkan Jaz. Namun, saat perjalanan pulang, tiba-tiba sus Sri meneleponnya dan berkata jika Jaz hilang.


"Sus.., sus..",ucap Aira dengan nada tinggi, dia panik karena Jaz tidak ada dirumah.


"Bu.., maafin saya Bu.., tadi saya tinggal Jaz mandi sebentar. Setelah selesai, saya balik tapi Jaz nggak ada..",


"Udah dicari kemana aja?",


"Udah dicari ke semua ruangan..tapi nggak ada Bu..",


"Mas..gimana ini mas..",


"Tenang sayang..kita cari dulu..",


"Mana disini nggak ada Cctv mas..",


"Mommy tenang.., mom duduk dulu. okey.., biar Javas yang cari..",


"Coba cari dalam mobil Vas..",


"Nggak ada dad.., mobilnya Javas kunci, termasuk mobilnya kakek..",


Javas memeriksa satu persatu disudut rumah kakeknya. Tidak ada tanda-tanda kerusakan. Ini berarti Jaz pergi dengan kemauannya sendiri. Namun, sebelum mencari di luar rumah. Javas menyisir satu persatu ruangan di rumah kakeknya yang cukup besar.


"Astaga... kamu ya emang bener-bener tuyul.


Ckckckckckck..", ucap Javas yang akhirnya menemukan adiknya.


"Mommy...nih mom...anak tuyul disini...", teriak Javas yang menemukan adiknya di kolong tempat tidur kamarnya. Memang sus Sri belum memeriksa kamar yang ditempati oleh Javas.


Orang tua, kakek dan kakaknya panik, Jaz justru sedang enak menikmati nasi serta nugget kesukaannya. Dia kelaparan.


"Alhamdullillah ya Allah..", ucap Aira yang terharu melihat putranya.


" Gregetan kan mom? pengen nabok.., tapi kalo ilang juga kita yang repot..",


"Sini Nak..kamu ngapain sih disitu?",


"Jaz laper..",


"Makannya kalo disuruh makan itu makan. Nurut sama mommy ya..",


Jaz keluar dari kolong tempat tidur. Javas langsung mengomel.


"Tuh kan, jadi kotor kolongnya..",


"Iya maaf Kak..",


"Lain kali nggak boleh gitu ya. Kamu bikin panik semua orang..", ucap Rendra yang langsung menggendong putra bungsunya.


"Iya Dad, maaf..",


"Udah kenyang atau pengen makan lagi..?",tanya Rendra yang memangku putranya.


"Pengen minum susu..",


"Ya udah, mom bikinin tapi jangan ngambek lagi. Abis ini Jaz mandi ya biar ganteng..",


"Iya mom..",


Pagi ini, Javas bertolak dari rumah kakeknya. Rencananya besok malam, dia akan pergi ke Aussie. Mommy dan Daddynya memang dilarang Javas untuk mengantar ke bandara. Javas membiarkan Mom dan dad nya untuk menikmati waktu berliburnya di rumah kakek. Oh ya satu lagi, kepergian Javas yang memang tidak direstui oleh Jaz, membuat Javas sedikit bertanya-tanya. Apa yang akan terjadi kepadanya?


"Loh ini si tuyul kok udah rapi, mau kemana mom? ikut Javas pulang? terus nanti di rumah sama siapa?",


"Nggak.., dia mau main..",


"Oh.., pake sepatu segala..",


"Iya kan mainnya ke rumah dokter Kinara..",


"Ngapain? maen sama minta makan siang maksudnya..",


"Hehehe.., kamu itu bisa aja.


Ya dia kangen.., dokter Kinara kan abis ini rencananya langsung ke rumah om Revan. Jadi udah nggak tinggal sama kita..",


"Barang-barangnya kan masih di rumah kita mom..",


"Iya.. gampang nanti bisa dianter sama mamang..",


"Lho.. gitu ya..", jawab Javas yang raut wajahnya langsung berubah menjadi thdgskryudzzzzzz alias tidak jelas.


"Mom mau minta tolong ya sama kamu..",


"Apa mom..?",


"Anterin Jaz ke rumahnya dokter Kina ya.., dari semalem mommy coba hubungi, tapi nggak bisa..",

__ADS_1


"Kan ada mamang mom..",


"Mamang kan nggak tau rumahnya. Kamu duluan, nanti mamang ikutin dari belakang, ya..?",


"Oke-oke..",


Pamit kepada kedua orang tuanya serta kakek tercinta. Javas pulang dan lanjut terbang ke Aussie untuk bertemu dengan cintanya.


"Doain ya mom..",


"Pasti sayang.., apapun yang terjadi. Ini udah takdir kamu.., sabar ya..",


"Iya mom..


Makasih udah ngasih izin Javas dad..",


"Oke son.., selamat berjuang..",


"Javas pergi dulu ya kek..",


"Hati-hati.., sampe disana langsung hubungi mom sama dad ya cu.",


Javas menyalakan mesin mobilnya.


"Hei tuyul.., kamu mau semobil sama kakak?",


"Iya dong.., sus Sri biar sama mamang aja..",


Javas membantu memasangkan seat belt Jaz. Kali ini mereka berdua akur. Apalagi Jaz yang sedari tadi bersikap manis, tidak rese seperti biasanya.


"Bye mom..bye dad..bye kakek..",


"Bye sayang..,


nanti kalo makan udah mom bawain bekal ya..nggak boleh ngerepotin. Oleh-olehnya jangan lupa dikasihin buat dokter Kina..",


"Oke mommy..",


Jaz duduk disamping Javas. Jika diperhatikan dengan seksama, semakin lama akan nampak jika Jaz sangat mirip dengan Javas. Tidak kalah tampannya. Jangan diragukan lagi, ketiga putra putri Aira dan Rendra memang bibit unggul.


"Kak.., mau ketemu sama kak Mimin ya..",


"Iya.., kenapa?",


"Titip salam.., Jaz kangen..",


"Ceileh.. kamu pikir kamu aja yang kangen.. kakak juga kangen tau..",


"Menurut kak Javas.., kak Mimin sama kak dok cantikan siapa?",


"Hah.., apa?",


Tuyul..pertanyaan macam apa ini.


"Siapa kak?",


"Semua perempuan itu cantik..",


"Kalo gitu kak Javas sama kak dok aja, Jaz sama kak Mimin..",


"Enak aja..mana bisa kayak gitu.."


"Ya udah, kakak sama kak Mimin, jaz sama kak dok aja.., kak dok juga cantik kok..",


"Iya iya.., terserah kamu ah..",


"Kenapa nggak boleh ya kalo Jaz sama kak dok?"


"Nggak boleh..",


"Kenapa? kakak kan udah sama kak Mimin..",


"Kamu masih kecil..",


"Ya udah, buat kakak aja kalo gitu..",


Javas ini heran dengan adiknya yang belum genap berusia lima tahun. Tapi obrolannya itu seperti orang dewasa, pemikirannya juga sama. Jaz memang terlihat cerdas untuk anak seusianya.


Berkendara selama tiga puluh menit, akhirnya mereka sampai di rumah dokter Kinara. Javas memarkirkan mobilnya di depan rumah kost milik nenek. Herannya, anak kost berkumpul di teras rumah dengan memusatkan perhatiannya pada rumah Kinara yang terlihat rame, tidak seperti biasa yang terlihat sepi.


"Jaz disini dulu ya..",ucapnya membiarkan sang adik tetap berada di kursinya.


Javas turun dari mobil, namun langsung disapa oleh anak kost.


"Mas yang kemarin-kemarin sempet ke rumahnya mbak Kina kan?",


"Iya dek.., itu ada apa? nenek sakit?",


"Bukan mas.., itu ada bapaknya mbak Kina...",


"Ada apa?",


"Coba mas periksa dulu.., biar Jaz saya yang jaga..",


"Sebentar, saya turunin dulu adik saya..",


Anak kost itu sudah kenal dengan Jaz. Itulah mengapa akhirnya Javas mempercayakan adiknya. Lagipula, sudah ada sus Sri dan mamang yang sedang memutar balik mobilnya.


"Jaz disini dulu.., sama kakak nanti ada sus Sri..",


"Oke kak..",


Javas yang penasaran akhirnya menyebarang. Rumah Kinara ramai, ada beberapa warga sekitar juga yang tampak memenuhi teras rumah Kinara.


"Lho ini siapa lagi..?", celetuk warga.


"Permisi..pak..buk..", ucap Javas sopan karena dia melewati beberapa warga yang umurnya lebih tua darinya.


Javas masuk langsung disambut oleh suara Tante Tia yang berbicara lantang dengan suaranya yang bergetar.


"Iya mas minta maaf...",


"Maaf? coba mbok dipikir dulu. Sampeyan ini udah ngasih apa sama anake sampeyan? ruko punya almarhum mbak Sita udah dikasih ke sampeyan. Masih kurang? sekarang datang-datang bawa calon suami buat dinikahkan sama Kina.., sampeyan pikir anake sampeyan Iki opo? pokoke aku nggak terima..!!!, wis aku ora peduli. Sampeyan punya hutang ratusan juta, milyaran rupiah pun itu bukan urusane Kina..",


"Kina aja setuju, sampeyan kok seng repot..",ucapnya yang masih bersikap santai.


"Pokoke aku ngga terima. Suatu hari nanti Kina, bisa nikah pake wali hakim . Wis..nggak usah cari-cari sampeyan lagi..",


"Kamu itu tau ilmu agama opo ora? selagi ada bapak kandungnya, berarti nggak boleh wali hakim..Kalo Kinara nggak mau nikah hari ini, jangan harap aku mau jadi wali nikahnya..",


"Ilmu agama ilmu agama opo.., wong sampeyan aja Yo ora paham. 500 juta itu bukan uang yang sedikit, tapi banyak.., kalo mau bayar hutang, bayaren kae pake gelang seng dipake bojomu..., wong mbok Yo Karo duwe akal sithik tho mas..",


"Kamu nggak usah bawa-bawa aku Yo, Tia..",ucap wanita yang sepertinya istri dari Bapak Kina.


"Ora peduli aku mbak. Iki lho seng arep sampeyan nikahke sama Kina Iki aku yakin mesti udah punya istri, kok kalian tega?",


"Nduk..cah ayu..",ucapnya masuk ke dalam menuju kamar Kinara.


Orang yang akan dinikahkan dengan Kinara adalah laki-laki berumur 40 tahunan yang tentu saja sudah beristri. Bapak Kinara mempunyai hutang, dan sebagai penebusnya dia menggunakan Kinara untuk dijadikan istri kedua.


Tidak lama kemudian, datanglah Firman kekasih Kinara yang memang secara langsung dihubungi oleh Tante Tia. Yang mengabarkan Kina akan dinikahkan oleh bapaknya sebagai penebus hutang.


"Saya yang akan nikah sama Kinara, Tante..", ucap Firman.


Tante Tia kaget, beliau tidak yakin Firman akan sanggup memenuhi syarat dari bapak Kinara.


"Kamu punya uang 500 juta?",tanya Bapak Kinara yang sudah menggandeng putrinya yang sudah dirias khas pengantin.


Bapak Kinara memang sudah mempersiapkan dengan baik, termasuk membawa seorang perias untuk mendandani putrinya.


"Punya Om..",


Wajah Kinara tidak nampak cantik meskipun sudah dimakeup. Sedari tadi dia mengeluarkan air matanya karena dipaksa menikah oleh bapaknya.


"Ini uang 500 juta om.., saya bawa sebagai syarat untuk menikahi Kinara. Tapi, saya juga minta satu syarat. Tolong tunggu 30 menit lagi, karena keluarga saya akan datang kesini untuk menyaksikan pernikahan saya dengan Kina.


"Oke..,serahkan dulu uangnya..",


Firman memberikan satu buah tas yang berisi uang yang berjumlah 500 juta.


Javas diam membisu. Dia hanya menjadi penonton seperti warga yang lainnya. Tapi, satu yang membuat hatinya trenyuh, ketika melihat nenek yang duduk berlinang air mata tanpa berkata atau menunjukkan perlawanan seperti apa yang dilakukan oleh Tante Tia.


"Gimana tho ini nduk.., nasibmu kok kayak gini..",


"Wis mbak tia, di diikhlaskan ae.., mungkin Iki takdirnya Kinara. Untung pacare gelem nikahi..",ucap tetangganya.


Javas akhirnya memberanikan diri untuk mendekati nenek. Sekedar mengusap tangan serta pundaknya.


"Tapi orang tuamu kan nggak pernah setuju sama Kina, Man..", ucap Tante Tia.


"Kita tunggu mamah sama papah Tante, mereka menuju kesini..",


"Kenapa buang-buang waktu mas? orang tua pasti akan mendoakan selama pilihan anaknya adalah perempuan baik-baik..",ucap Javas. Karena jika Javas yang ada diposisi Firman, dia akan langsung menikahi Kinara tanpa berpikir panjang.


"Saya tetap tunggu, semoga papa mama saya berubah pikiran..",


Setelah menunggu selama 30 menit, akhirnya kedua orang tua Firman datang. Kemarahan tidak bisa disembunyikan dari raut wajah kedua orang tua Firman. Terlebih, dari wajah Mama Firman yang terlihat sangat murka.


"Kamu mau nikahi Kina? ",


"Iya mah.., minta doa restunya ya mah..",


"Demi Allah, mamah nggak akan akui kamu sebagai anak mamah kalo kamu berani nikahi Kinara.."


Kinara menangis terisak ketika mendengarkan ucapan Mama Firman yang dari awal sudah Kinara duga. Orang tua Firman memang tidak pernah menyukai Kinara.


"Kamu berasal dari keluarga terpandang, seribu Kinara pun bisa kamu dapatkan Man.., 500 juta itu banyak, tapi kamu cuma dapat gadis kayak Kinara, orang tuanya aja nggak jelas..",


"Mah..,


"Mbak.., sampeyan itu kalo bicara yang bener. Cuma gadis kayak Kinara? keponakan saya ini dokter. Catet mbak.., dokter!!! Kinara pinter!!!!!",


"Tapi bapaknya nggak jelas..",


"Cukup mah cukup .., Firman tetep nikahi Kinara..",


"Mamah nggak sudi Man..nggak sudi..",


Mama Firman tergolek lemas, pingsan.


"Kamu tega liat mamah kayak gini Man..? kamu mau liat mamah mati? iya?", ucap Papa Firman.


"Tante.., saya minta waktunya, minta waktu nya sayang.., Abang pasti balik lagi..",


Papa Firman merebut kembali tas yang diberikan putranya. Sedangkan Firman langsung membopong ibunya keluar.


"Bawa ke rumah Tante aja..", ucap Tante Tia.


Bapak Kinara tidak ingin menunggu terlalu lama. Jika pernikahan tidak segera dilaksanakan, dia akan benar-benar dijebloskan ke penjara. Tenggang waktu yang diberikan oleh rentenir sudah melampaui batas. Sebuah perjanjian di atas materai juga memberatkan posisi Bapak Kinara. Di surat perjanjian itu tertulis, jika tidak mampu melunasi hutang, maka Kinara adalah penebusnya.


Ijab qobul segera di laksanakan. Tapi, bukan Firman yang menjadi mempelainya. Melainkan rentenir yang dihutangi oleh Bapak Kinara.


Kinara tidak mampu melawan. Baktinya sebagai seorang anak mungkin memang hanya bisa dia lakukan seperti saat ini. Sebuah pengorbanan besar yang sangat mempengaruhi masa depannya.


Air mata Kinara mengalir deras. Sebentar lagi dia akan menyandang seorang istri. Istri kedua dari laki-laki yang belum pernah dia temui sebelumnya.


"Tunggu...!!!", ucap Javas.


"Saya yang akan menikahi Kinara..", ucapnya lagi.


"Mas Javas..", ucap Tante Tia.


"Nggak mas..nggak..", ucap Kinara.

__ADS_1


"Kamu? mau nikahi anak saya? nanti PHP lagi.., nggak..saya mau yang pasti-pasti saja..ayo pak penghulu kita mulai saja acaranya..",


"Om butuh 500 juta kan? saya kasih satu milyar, gimana?",


Bapak Kinara melepaskan jabatan tangannya pada mempelai pria. Sepertinya dia tertarik dengan penawaran yang diberikan oleh Javas.


"Satu milyar? bercanda kan? itu nggak sedikit..",


"Saya nggak punya cash, tapi saya bisa transfer.., sekarang juga.., nomor rekening om berapa?",


Bapak Kinara menyebutkan nomor rekeningnya.


"Saya akan transfer dan nikahi Kinara tapi saya mau minta surat perjanjian itu..",


"Kamu mau nipu bapak?",


"Kalo bapak nggak percaya, oke. Javas kirim 100 juta dulu..",


Javas berhasil melakukan transaksi transfer.


"Nih.., udah kan pak?",


"Oke..udah masuk.


Dimana mas suratnya?", tanya Bapak Kinara kepada rentenir itu.


"Ada di rumah, nggak dibawa..",


"Rumahnya jauh?",tanya Javas.


"Tiga puluh menit dari sini..",


"Suruh ambil anak buahmu mas..", ucap Bapak Kinara.


"Oke.., sambil nunggu surat perjanjiannya saya telepon orang tua saya dulu.., permisi..",


Javas keluar dari rumah Kinara yang penuh oleh warga sekitar yang ikut menyaksikan drama keluarga bak sinetron. Javas menghubungi Daddynya.


"Halo Dad..",


"Son.., ada apa?",


"Mommy ada Dad?",


"Ada.., oke Javas video call aja ya..",


Mode telepon kini sudah berubah menjadi panggilan video.


"Halo sayang..,kamu dimana?",


"Di rumah Kinara..",


"Kok rame? Jaz dimana?",


"Jaz ada..lagi maen..


Mom..dad.., Javas minta restunya ya..",


"Restu apa? kan mom sama Dad udah izinin kamu ke Aussie..",


"Javas mau nikahi Kinara..",


"Nikah? kamu digrebek sama warga? kamu bercanda kan Vas..?",


"Javas nggak bisa cerita sekarang, tapi Javas mau minta restu..",


"Tunggu Dad sama Mom son.., kita kesana sekarang juga.., oke..",


"Nggak ada waktu lagi dad..",


"Bentar aja son.., ini dad sama mom langsung kesana. Kamu share loc..",


"Iya Dad..",


Jika Rendra menyikapi dengan tenang, lain halnya dengan Aira yang wajahnya sudah gelisah. Dia shock karena tiba-tiba putranya hendak menikahi seorang gadis. Sebenarnya ada apa?



"Serius kak..",


"Kamu mau nikah sama siapa emangnya?",


"Kinara..",


"Dokter Kinara?",


"Iya kak..",


"Kenapa? kamu apain dia?"


"Ceritanya nanti aja Queen....ini urgent..",


"Vas..,ya Allah.. ada apa sih?",


"Kakak.. restuin nggak? rela kan?",


"Kalo ini memang keputusan kamu, kakak rela..",


"Makasih Queen.., nanti Javas cerita.


Setelah meminta restu kepada kedua orang tua serta kakaknya. Kini, giliran Javas menghampiri adiknya yang sedang asyik bermain.


"Jaz.., main apa?",


"Nih sama kakak cantik. Jaz udah boleh kesana kak? itu kok rame sih..",


"Belum.., nunggu mom sama dad ya.?",


"Mom sama Dad, mau kesini?",


"Iya..",


"Ngapain? ikut maen Jaz ya?",


"Kak Javas mau nikah, boleh ya?",


"Nikah..? jadi pengantin?",


"Iya.., boleh ya?",


"Nikahnya sama siapa?",


"Sama kak dok..",


"Wah.., boleh-boleh kak.., nanti Jaz tonton..",


"Ini bukan pertunjukkan Jaz..", ucapnya mengelus rambut sang adik.


"Jaz nungguin mom sama dad disini ya?",


"Iya.., kakak tunggu disana ya..",


Javas masuk kembali kedalam rumah. Melihat wajah Kinara yang terlihat pasrah serta nenek yang belum menghentikan air matanya. Sedangkan Tante Tia sudah pucat pasi. Tidak segarang saat adu mulut dengan bapak dan ibu tiri Kinara.


"Mom sama Dad mau kesini, kita tunggu sebentar pak..",


"Jangan coba-coba permainkan saya. Waktu bapak nggak banyak..",


"Lima belas menit lagi, dad sama mom sampai..",


"Kamu sebenarnya anak siapa?",


"Bapak nggak perlu tau saya anak siapa. Yang penting orang tua saya kaya..", ucapnya melirik Kinara yang duduk dengan menunduk. Entah apa yang dirasakan oleh gadis itu saat ini.


Sebuah panggilan telepon Javas dapatkan, dari Daddy.


"Halo Dad..",


"Dad sama mom udah sampai, langsung masuk son?",


"Javas keluar sebentar..",


"Kamu mau kemana?",


"Bentar pak, ini dad sama mom udah sampe...",


Bersamaan dengan itu, anak buah rentenir datang membawa surat perjanjian itu.


"Mom.., Dad..",


"Son.., ada apa sebenernya?",


"Javas mau nikahi Kinara..",


"Ada apa sih Vas?",


Javas menjelaskan duduk permasalahan kepada kedua orang tuanya. Dari awal sampai akhir. Jika hanya masalah uang, tentu Javas tidak perlu menikahi Kinara.


"Berapa uangnya Son?",


"Satu milyar dad..",


"Mas mau pinjemin uang kan? jadi anak kita nggak perlu nikahin Kinara..",


"Iya sayang, mas pinjemin..",


"Tuh.., denger kan Vas?",


"Ini bukan masalah uang mom.., kalo cuma segitu Javas ada. Mommy selalu bilang, hargai perempuan, dan sekarang Javas melakukannya mom. Kinara baru aja dapat penolakan dari ibu pacarnya, dia ditolak mentah-mentah dihadapan semua orang. Gimana perasaannya mom? hancur..",


"Harus pake cara kayak gini Vas?"


"Kinara udah nggak punya harga diri, diperlakukan nggak adil sama bapaknya, nggak dihargai sama keluarga pacarnya. Tadi calon suaminya rentenir, ganti lagi pacarnya. Ganti lagi rentenir..,coba bayangin..",


"Lakukan apa yang kamu inginkan Son.., Dad dukung. Kita ke dalam sekarang..",


"Mas..",


"Kita bicarain ini nanti, sayang..",


"Nggak dad.., Javas harus dapat restunya mommy..sebelum Javas masuk ke dalam sana..,


Mom..",


Air mata Aira mengalir. Tidak pernah dia bayangkan akan melepas putra kesayangannya untuk menikah, dengan cara seperti ini.


"Mom...",


Aira mengangguk.


"Makasih mom..",


Kinara mendongakkan kepalanya, melihat Aira, Rendra dan Javas yang masuk kembali ke dalam rumah.


Javas duduk disamping Kinara, bersiap untuk melaksanakan Ijab Qobul.


"Mas jangan lakuin ini mas..",


"Lebih baik nikah sama aku daripada kamu menjadi istri kedua..",


Javas akhirnya resmi menjadi suami Kinara. Dengan lancar, satu kali helaan nafas.


"Saya terima nikah dan kawinnya Kinara Laksmita Baskoro binti Yuda Baskoro dengan mas kawin berupa uang senilai satu milyar rupiah, dibayar tunai..",

__ADS_1


Sah......!!!


__ADS_2