
Javas yang lama diam akhirnya kembali bersuara.
"Bukan soal sayang nggak sayang, kalo dibilang sayang, pasti Javas sayang sama Mine, gimanapun juga kita udah sama-sama dari kecil, tapi sekarang bukan itu masalahnya om, Tante. Ada Kina sekarang, dia istri Javas..",
"Tante nggak minta kamu nikahin Mine, tapi tolong Vas.., kamu temuin dia. Mine butuh dukungan.., udah gitu aja..",
"Kenapa kalian nutupin kalo sebenarnya Javas ini sudah nikah?",
"Tante sama Om nggak bisa buat dia semakin terpuruk...",
"Javas bakal bantu, tapi Mine juga harus tau siapa Kina sebenarnya..", ucapnya.
Javas lalu keluar dari ruangan Daddynya. Tidak ada yang berani mencegahnya, termasuk kedua orang tuanya.
"Far, kenapa kalian nggak bilang terus terang aja dari awal? kenapa harus nyembunyiin dari kami..?",
"Ini semua atas permintaan Mine Ra.., aku sama Aldo juga nggak bisa berbuat apa-apa..,
Aku egois memang, tapi kamu juga seorang ibu. Pasti kamu tau perasaanku sekarang...",
"Iya ngerti Far, tapi kamu juga seorang perempuan, kita sebagai seorang istri. Kamu juga pasti tau gimana perasaan Kina kalo tiba-tiba suaminya dekat lagi sama mantannya. Sakit kan?",
"Tolong bantu aku Ra.., pertemukan aku sama Kina..biar aku yang ngomong sama dia..",
Aira menggeleng.
"Maaf Far, aku nggak bisa.., biarkan Javas yang memutuskan. Mereka berdua sudah berumah tangga, dan nggak seharusnya aku ikut campur...",
__ADS_1
Sikap Aira memang masih netral, dia tidak melarang Farah tapi juga tidak bisa membantu. Dia menyerahkan sepenuhnya pada putranya.
"Mine di rumah sakit mana? boleh aku jenguk dia?",
"Boleh Ra..di Rumah Sakit Medistra..",
Sementara itu, Javas yang kalut langsung keluar dari kantornya. Masih tidak habis pikir dengan permintaan kedua orang tua Mine. Tapi, Javas juga shock ketika mendengarkan alasan sebenarnya tentang Mine yang tiba-tiba meninggalkan dia.
Javas meninggalkan kantornya dengan mengendari mobil BM*W miliknya. Tujuannya adalah ke rumah sakit.
Javas merenung di mobilnya.
Tok..tok..tok..
Seseorang mengetuk pintu mobil miliknya. Seorang perempuan cantik, lengkap dengan jas putihnya masuk ke dalam.
"Pinjem ponsel...", ucap Javas kepada Kina.
Kina yang tidak tahu maksud Javas langsung memberikan ponsel miliknya.
"Password..?",
"Tanggal pernikahan kita..",
Meskipun tidak ada yang Kina sembunyikan, tapi dia tetap saja was-was saat suaminya itu membuka ponsel miliknya. Apalagi, wajah Javas terlihat kusut.
"Kamu tau kan? dari awal nikah mas udah perjuangin kamu..? ada penolakan tapi mas tetep nikahin kamu Na..",
__ADS_1
"Iya mas.., Kina tau..",
"Jangan sia-sia in perjuangan mas Na..",
"Kina nggak pernah macem-macem mas..",
"Mas tau..",
"Jadi maksud mas, apa? ada apa mas?",
"Nggak ada apa-apa..",
"Kina bikin salah mas..?",
Javas menggeleng.
"Mas bikin salah sama Kina? mas selingkuh?", tanyanya. Sebenarnya ada perasaan takut ketika bertanya. Tapi, sebagai seorang istri, Kina juga mempunyai kekhawatiran sendiri.
Javas justru menggenggam tangan Kina.
"Kita memang belum lama mengenal. Mungkin, kamu juga belum percaya sama mas sepenuhnya. Tapi, kamu istri mas.., perempuan satu-satunya yang berhak menyandang nyonya Javas Perdana. Mas cinta sama kamu..",
Kina tersenyum tipis.
"Makasih mas..",
Sebenarnya ada perasaan mengganjal dalam diri Kina. Tiba-tiba Javas yang menjemputnya, tiba-tiba pula Javas mengutarakan isi hatinya seperti ini. Pasti ada sesuatu, tapi entah apa.
__ADS_1
Javas memeriksa ponsel Kina bukan tanpa sebab. Dia hanya ingin memastikan jika baik Tante Farah atau Om Aldo tidak menghubungi istrinya dan meminta izin langsung kepadanya. Javas belum siap bercerita kepada Kina tentang Mine, mantan kekasihnya. Belum ingin bercerita tentang kedua orang tua Mine yang memintanya untuk mendampingi Mine selama gadis itu sakit. Javas belum siap.