
Aira masuk ke dalam kamar putrinya. Sharen nampak terlelap tidur. Wajahnya masih terlihat pucat, tapi sudah terlihat segar.
Aira merasa bersalah karena memperkenalkan putrinya pada pemuda yang salah. Aira hanya khawatir kepada Sharen yang sudah dewasa, tapi belum mempunyai pasangan. Maksud Aira baik, siapa tahu putrinya mendapatkan jodoh lewat perjodohan. Tapi, yang ada justru Aira hampir saja menjerumuskan putrinya.
Aira mengelus kening Sharen. Rasanya ingin meminta maaf pada anak sulungnya itu. Air matanya hampir saja jatuh, namun tetap dia tahan.
"Maafin mama ya nak...", ucapnya pelan.
Belaian halus dan bisikkan Aira ternyata berhasil mengusir tidur Sharen. Gadis itu membuka matanya, namun sepertinya masih setengah sadar.
"Mommy.., kenapa minta maaf?", tanya. Sharen dengan matanya yang terlihat masih mengantuk.
"Kamu salah denger..., tidur lagi ya..",
Sharen kembali terlelap. Aira memperbaiki selimut yang menyelimuti tubuh Sharen, lalu keluar dari kamar. Membiarkan Sharen untuk menikmati waktu istirahatnya.
"Mom..., kak Sha kenapa?", tanya Javas yang tidak sengaja melihat mommynya keluar dari kamar Sharen.
"Nggak apa-apa..., mommy cuma ngecek kak Sharen aja..",
"Oh..kirain..",
"Kamu mau ngapain..?",
"Ini tadi naruh perlengkapan mandi nya Zee di kamarnya..",
"Habis itu? mau ngapain? nimang Ze..?",
"Nggak.., dia lagi ne*nen.., bentar lagi juga tidur, kenapa mom...?",
"Kita bicara, bisa..?",
Mommy mengajak Javas ke taman belakang rumah. Keduanya duduk di bangku, dengan tangan Javas yang merangkul mommy.
"Ada apa sih mom..? kayaknya mommy ada sesuatu..?"
Apa mommy tau kalo pacar Nathan, hamil ya?
"Mommy lagi sedih aja Nath..",
"Kenapa sih..?", ucapnya pada lengan mommy.
"Suami ganteng, kaya raya pula. Anak cantik, ganteng, punya mantu cantik, Cucunya juga ganteng. Apa yang kurang mom...?",
"Hampir aja Mommy ngasih putri kesayangan mommy ke kandang harimau...",
"Maksudnya, gimana?",
"Satria bukan laki-laki yang baik buat kakak kamu Vas, dia banyak kasus....",
"Javas udah duga Mom.., nggak beres sama orang itu...",
"Niat mommy baik, tapi kenyataannya nggak sesuai.., Mommy takut Sharen ngiranya, Mommy itu asal-asalan ngenalin dia. Padahal, Mommy udah cari tau dulu, tapi dasarnya aja Satria sama Mamanya yang nggak bener..",
"Untungnya Mommy udah tau kan? ya udah mom.., mulai sekarang lebih hati-hati ya sama orang. Jangan asal percaya gitu aja mom..",
"Mommy sedih, takut kalo Sharen itu kapok sama laki-laki. Mommy bingung, jelasin ke kakak kamu...",
"Sebelum kenal lebih jauh, mending dikasih tau kan Mom..? Mau Javas aja yang jelasin ke kak Sharen..?",
"Nggak perlu, biar Daddy aja Vas..",
"Stop jodoh-jodohin kak Sharen ke siapapun Mom. Biarin kak Sharen pilih atau cari pasangan dia sendiri ya. Kita cukup mendoakan...",
Mommy mengangguk.
"Mommy sedih banget Vas..",
"Ini pelajaran buat kita ya..",
"Vas.., dulu waktu kamu nikah, minta izin ke kak Sharen nggak sih..?",
"Minta izin kok mom.., Javas minta izin nikah duluan ke kak Sharen...",
"Kata orang Jawa, kalo ada adik yang langkahin, nikah duluan dari kakak perempuannya, adiknya itu harus ngasih barang yang kakaknya minta. Kamu udah lakuin itu belum..?",
"Kak Sharen nolak mom...,
kenapa sih mom..?",
"Apa kak Sharen itu belum ikhlas ya kalo kamu nikah duluan?",
"Kok gitu..?",
"Makanya, dia jadi seret jodoh kayak gini Vas..",
"Mommy tuh ngomong apa sih. Jangan percaya sama mitos mom.., kak Sharen belum ada jodoh, ya karena dia sendiri yang kayaknya belum siap. Jangan mikir macem-macem mom. 27 tahun itu belum tua mom..., jangan pasang target nikah ke kak. Sharen. Biar dia sendiri yang nentuin..",
"Mommy cuma khawatir aja Vas..",
"Mending pasang target tuh ke si tuyul.., biar cepatan mau di sunat, iya kan Yul..?", godanya pada sang adik yang mendekat ke arahnya.
"Apa kak?",
"Kamu, kapan mau disunat..?",
"Nanti...",
"Jangan sampe diduluin Ze ya...",
__ADS_1
"Nggak dong..
Jaz mau sunat, nanti kalo udah kelas 3 SD..",
"Lama banget, ini kamu aja masih TK...",
"Ya biarin aja.., yang penting kan sunat..",
"Dasar....",
Kepala Nathan pening. Rasanya ingin pecah. Kepercayaan Om Rendra yang selama ini dibangunnya, perlahan terkikis. Padahal, Nathan tidak melakukan kesalahan yang Om Rendra tuduhkan. Tidak seperti biasa, Om Rendra juga tidak berpikir panjang. Ini memang hanya salah paham.
"Wi..besok siang aku ke Apartement ....",
Tidak membutuhkan waktu lama, Dewi langsung membalas pesan Nathan.
"Saya nggak enak badan. Mas Nathan bisa ke sini nya sekarang, nggak..?",
Nathan memilih untuk tidak membalas pesan perempuan itu. Hubungannya dengan Dewi memang hanya sekedar kesepakatan, tidak lebih.
"Tumben udah pulang..", tanya Mama Farah ketika mengetahui putranya sudah berada di rumah.
"Lagi males kerja..",
"Nggak dicari sama Om Rendra? kan kamu kesayangannya tuh..",
"Kan udah ketemu Ma..
Papa belum pulang..?",
"Belum.., ada meeting katanya..",
"Ehmmm..",
"Mau olahraga..?",
"Iya...",
Di rumahnya memang ada Gym. Yang dalamnya terdapat banyak alat olah raga yang biasa Nathan gunakan.
"Lagi apa..?",
"Lagi gabut nggak ada kerjaan. Kenapa..?",
"Sharen gimana? udah pulang..?",
"Udah..,
Nggak usah sok peduli..",
"Gue khawatir sama dia..",
"Gue nggak pengen denger ceramah. Yang pengen gue denger , cuma kabarnya dia aja..",
"Sharen baik-baik aja, dia udah pulang.., cuma butuh istirahat aja.., apa? ada lagi yang mau lu tanyain..?",
"Nggak..
Gue cuma mau pesen sama. Kalo lu denger sesuatu tentang gue, jangan percaya sebelum gue sendiri yang bilang iya.."
"Maksudnya..?",
"Ya nggak, misalkan ada yang bilang nggak-nggak tentang gue, ya.., jangan asal percaya aja...",
"Selama lu masih sama Dewi, jangan harap gue ada di pihak lu...",
Tama mematikan teleponnya sepihak.
Menambah kecepatan treadmill, Nathan yakin bad feeling-nya kali ini benar, makanya dia berucap seperti itu pada Tama.
Semenjak divonis sakit, baik Mama maupun Papanya memang berkonsentrasi pada penyakit Mine. Hingga mereka terkadang lupa jika ada Nathan yang juga harus diperhatikan. Kini, sepeninggal Yasmine, perhatian kedua orang tuanya berpusat pada Nathan. Seperti ingin menebus kesalahan karena terlalu lama menganak-tirikan Nathan.
"Hari ini kemana aja Nath?",
"Mau meeting sama Om Rendra Ma..",
"Meeting terus, nggak pacaran? kapan ketemu sama Dewi..?",
"Ini juga mau ketemu dia..., tapi mau ke kantor bentar ma..",
"Boleh kerja keras, tapi jangan lupa sama kehidupan pribadi ya Nath..",
"Iya Mama nggak usah khawatir..",
Setelah mengambil berkas yang diperlukan di kantor Prime, Nathan melajukan kendaraannya menuju Apartement yang digunakan sebagai tempat tinggal Dewi sementara.
"Mari mas, masuk...",
"Nggak usah,
Kamu beneran hamil..?",
Dewi mengangguk.
"Kenapa kamu nggak bilang dari awal kalo kamu lagi hamil..?",
"Maaf mas.., saya juga baru tau..",
"Jadi beneran kamu hamil..?",
__ADS_1
"Iya mas..
Mas Nathan tau dari siapa..?",
"Nggak penting.., yang penting saya tau.
Kamu ikut saya sekarang, kita ketemu sama Om Rendra. Kamu jelasin sama beliau..",
"Iya mas...",
Beberapa kali bertemu dengan Nathan, membuat Dewi sudah terbiasa dengan sikap Nathan yang sangat dingin kepadanya, tapi Nathan baik.
Mereka bertemu dengan Om Rendra di sebuah ruangan privat, salah satu restoran mewah langganan. Rupanya, Om Rendra susah datang, membuat Nathan sungkan.
"Maaf ya om, kami terlambat..",
"Nggak apa-apa..., duduk kalian..",
Sebelum masuk ke permasalahan, terlebih dahulu Nathan meminta tanda tangan pada berkas yang dibawanya.
"Wi..kamu tau nggak kenapa Om panggul kamu kesini..?",
"Iya Om, saya tau..",
"Sambil nunggu rumah yang udah om janjikan sama kamu, Om minta kamu tinggal dulu di Apartemennya Nathan.., tapi kamu malah hamil...",
Kata-kata Om Rendra seakan menuduh jika kehamilan Dewi adalah hasil perbuatan Nathan.
"Iya Om..",
"Itu anak Satria kan Wi..?", tanya Nathan mempertegas.
Dewi menggeleng.
"Ini anak mas Nathan...",
Bagaikan petir di siang bolong. Nathan tidak mungkin salah mendengar.
Om Rendra bahkan menatap tajam Nathan. Dan, baru kali ini Nathan mendapatkan tatapan mematikan dari Om Rendra.
"Jangan ngarang kamu. Nyentuh tangan kamu aja, saya nggak pernah..., apalagi ini ngehamilin kamu..?",
"Saya sudah duga, Mas Nathan pasti membantahnya..., saya nggak ada bukti mas, tapi Dewi bisa pastikan kalo ini adalah anak mas Nathan.."
"Ini fitnah Om.., Nathan nggak pernah sedikitpun sentuh Dewi..",
Enggan menanggapi ucapan Nathan, Om Rendra justru bertanya hal lain kepada Dewi.
"Berapa lama usia kandunganmu..?",
"Sudah 5 Minggu om...",
"Tuh kan? ketauan bohongnya. Kita pertama kali bertemu, itu pas tanggal 15 bulan lalu, itu artinya kita baru ketemu 3 hampir 4 Minggu. Gimana bisa usia kandungan kamu 5 Minggu? jangan ngarang kamu wi..",
"Tapi, usai kandungan itu di hitung dari hari pertama haid terakhir mas, bukan dihitung waktu berhubungan. Om Rendra pasti udah paham, iya kan om..?",
"Iya, betul...",
"Om.., tapi itu bukan anak Nathan om..",
"Kamu tetap orang kepercayaan Om di perusahaan Nath, tapi bukan lagi orang yang Om percaya buat jagain Queen..., kamu udah gagal...",
"Om..., ini bukan anak Nathan..",
Sayangnya, sebelum menjelaskan ke Om Rendra, beliau sudah terlebih dahulu keluar dari restoran.
Harapannya untuk menjadi pendamping hidup Sharen harus pupus. Om Rendra sudah tidak mempercayai Sharen untuk dia jaga.
"Wi.., itu anak Satria kan..?",
"Kan saya udah bilang, ini anak mas Nathan..",
"Kapan kita berhubungan? bahkan sampai saat ini, saya masih perjaka.., kamu mau jebak saya ya Wi.."
"Emangnya tadi saya bilang kalo kita ini, pernah berhubungan badan? nggak kan mas? saya kan cuma bilang, ini anak mas Nathan..."
"Maksud kamu apaan sih wi..? kamu mau hancurin saya..? saya mau bantu kamu biar satria mau tanggung jawab..",
"Nggak perlu mas, karena saya udah hancur mas..,
saya hamil, sementara ayah dari anak ini sebentar lagi juga bakalan masuk penjara..., jadi nggak ada gunanya juga Satria tanggung jawab pada saya..",
Dewi tersenyum.
"Tapi, untungnya saya masih punya mas Nathan.., anak ini juga pasti bahagia banget kalo punya Papa kayak Mas .., mas Nathan baik, lembut meskipun dingin sama saya. Nggak kayak Satria yang selalu kasar..",
"Kenapa kamu lakuin ini sih Wi..?",
"Awalnya saya setuju, dengan kesepakan kita, membuka kedok Satria di hadapan mbak Sharen. Rumah mewah, mobil, uang yang akan saya dapatkan rasanya nggak ada apa-apanya dibanding dengan saya yang akan mendapatkan mas Nathan..",
Nathan menggelengkan kepalanya.
"Ini nggak bener Wi.., aku cinta sama Sharen, bukan sama kamu...
saya akan cari bukti, kalo anak dikandungan kamu itu bukan anak saya..",
"Silahkan mas.., bahkan om Rendra pun sepertinya lebih percaya saya dibandingkan sama Mas Nathan..",
Nathan marah, dia bahkan sampai membanting gelas yang berada di atas meja. Membuat Dewi ketakutan hingga menutup telinganya.
__ADS_1
Nathan meninggalkan Dewi di restoran tersebut.