Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )

Istri Pura - Pura ( Bukan Perawan Tua )
Dia


__ADS_3

Sharen sampai di kantor Prime grup. Orang yang pertama kali dia cari adalah Tama. Namun, sayangnya asistennya itu sedang ada tamu.


" Sini Rin, di ruanganku aja yah...",


Sharen membuka ruangannya dan kaget ketika sudah ada sebuah bucket bunga yang berada di atas meja kerjanya.


" Wah dapet surprise dari pacar ya Sha.., romantis banget sih...",


"Pacar gimana, aku aja jomblo sekarang...", ucapnya.


Sharen meraih bucket bunga itu. Mencari sebuah ucapan yang biasanya diselipkan.


Aku tahu siapa posisiku, tapi apakah aku salah? jika aku selalu ada dan mencintaimu walau hanya di balik layar..?


Sebuah ucapan yang sedikit lebih frontal dari biasanya. Tapi, Sharen bingung. Haruskah senang atau sedih?


"Kenapa? kok mukanya masam gitu...",


" Nggak apa-apa, cuma bingung ., selalu ngasih kejutan manis kayak gini, tapi aku nggak tau harus gimana..",


"Siapa yang ngasih?",


"Yang ngakunya cinta tapi nggak pernah ngungkapin",


" Kalo diungkapin, kamu terima?",


" Nggak,,,",


" Ya udah berarti bener, mending kayak gini aja..",


" Omongan kamu, kayak Tama deh Rin..",


" Iyalah kita kan se geng..",


" Oh iya lupa, kalian kan temenan juga..."


"Kecuali dia ungkapin, terus kamu terima..


kamu tau siapa orangnya??",


"Tau,, kamu juga pasti tau"


" Siapa emangnya?"


" Udah.., nggak usah dibahas..",


" Tama dimana? kok nggak keliatan..",


" Lagi ada tamu kayaknya..


Rin mau minum apa?",


" Apa aja Sha...",


"Oke..",


Selang setengah jam kemudian, Tama masuk ke dalam ruangan Sharen.


" Sha..nyari aku..?"


"Iya...",


"Ada apa?",


"Hai Tam...",


" Halo Rin.. udah lama?",


"Lumayan..,


Hmmm..aku pamit dulu deh, kayaknya kalian juga mau serius ngobrol..",


" Yah..kenapa? kita makan siang disini dulu Rin..",


"Aku udah ditungguin sama distributor Sha, nggak enak..",


" Oke deh kalo gitu, secepatnya aku kerjain hasil pertemuan ini ya..",

__ADS_1


"Oke.., good luck, aku pergi dulu..",


"Hati-hati yah..",


"Aku duluan ya Tam..",


" Iya Rin, hati-hati..",


Dengan santainya, Tama duduk di depan Sharen.


"Kok nggak bilang?", tanya Sharen . Tidak perlu dijelaskan apa maksud pertanyaannya, Sha yakin Tama mengerti apa maksudnya.


"Kenapa kamu nggak bilang kalo mau ke Cafe-nya?",


"Kan aku nggak tau kalo dia pulang, kamu nggak bilang..",


"Nggak jadi kejutan nanti...",


" Udah,, tuh udah dikasih...",


" Ya udah maaf..",


" Dia tau kalo aku udah tau?",


" Dia tanya tapi aku bohong.., aku nggak bilang kalo kamu udah tau..",


"Terus aku harus gimana?",


"Mau terus terang kalo kamu udah tau, biar dia jelasin semua sama kamu, atau kamu maunya kayak gimana?",


"Lebih baik aku nggak tau...",


"Ya udah, berarti kamu pura-pura nggak tau aja. Jalanin seperti biasa, anggep aja kalo kamu nggak tau..",


"Tapi, aku nggak bisa Tam...",


"Kenapa?",


Sharen diam.


"Nggak ada yang salah disini, aku yang salah kenapa nggak terus terang sama kamu dari awal..",


"Btw, kamu tau darimana?",


"Dari laptop kamu...",


Tama menepok jidatnya. Tempo hari, Tama memang meminjamkan laptopnya pada Sharen untuk memantau sistem kerja pada kantor Prime. Cerobohnya, Tama pernah meninggalkan Sharen seorang diri di ruangannya. Alhasil, Sharen mengetahui sesuatu yang selama ini Tama tutupi dari bossnya.


" Aku kira, kamu bakalan marah...",


"Aku marah, tapi nggak ke kamu, tapi ke dia...",


" Ayolah Sha, kalo kamu emang pengen dia terus terang, aku bantu. Tapi, kalo kamu mau pura-pura nggak tau, jangan bersikap kayak gini..",


"Sekarang, aku tanya sama kamu. Kapan dia perjuangin aku? kapan dia berusaha buat ngungkapin ke aku? kapan Tam?",


(baca bab 2 - Secret Admirer, disitu Nathan udah berusaha buat ngungkapin..tapi tanggapan Sharen, ya gitu deh)


Tama menaikkan bahunya.


"Aku sekedar bantu.., aku nggak mau masuk terlalu jauh dalam hubungan kalian. Tapi, selama dia pergi. Aku diminta tolong buat jagain kamu, tiap jam dia selalu nanyain kamu, lagi apa? apa kegiatan kamu hari ini? makan apa? pergi sama siapa? dia selalu tanya..., termasuk nyuruh aku buat nemenin kamu ke club malam, Dia bilang nggak percaya sama Rai atau Vano, se-khawatir itu dia sama kamu Sha..",


Sharen menatap Tama tajam.


"Kamu shock, aku ngerti kamu butuh waktu buat terima ini semua..",


"Kenapa dia kayak gini sama aku?",


"Karena dia sayang sama kamu..",


"Tapi dia udah punya Luna Tam...",


Tama menghirup nafasnya panjang. Ini juga yang menjadi pertanyaan Tama. Kalau memang dia mencintai Sharen, kenapa dia justru memilih perempuan lain untuk menjadi kekasihnya? Kalaupun saat itu Sharen mempunyai kekasih, bukankah seharusnya dia tinggal menunggu Sharen putus dengan Bian? Kenapa justru dia memacari adik Bian? Kenapa?  Tapi, sampai saat ini Tama juga tidak mengetahui alasannya.


"Iya aku tau, mungkin dia ingin menutupi perasaannya selama ini ke kamu..",


"Tapi dia pulang juga karena Luna, karena keluarganya mau ada acara, iya kan?dia pulang bukan karena aku...",

__ADS_1


"Aku nggak tau Sha..",


"Pusing aku Tam..",


"Kamu sakit, aku antar pulang ya?",


"Nggak usah, kamu perhatian sama aku kayak gini, karena disuruh sama dia? atau karena aku bos kamu?",


"Dua-duanya...",


"Kita pacaran aja yuk Tam...",


"Heh.., aku belum gila ya Sha, aku masih waras.. ",


"Yah, ditolak...",


"Kamu tuh kadang-kadang agak-agak ya...",


"Agak gila maksudnya?",


"Perasaan kamu ke dia, gimana..?",


Sharen diam.


"Kamu tau nggak Sha.., dia rela nggak bisa milikin kamu, asalkan kamu bahagia. Kamu tau rasanya jadi dia saat kamu masih pacaran sama Bian? sakit Sha...",


"Dia bilang kayak gitu?",


"Hemmm....",


"Terus kenapa dia pulang? mau bales dendam biar aku juga sakit liat dia sama Luna, gitu?",


"Kenapa mesti sakit? katanya kamu nolak dia? perempuan emang gitu ya? suka bikin bingung..",


"Nggak usah bingung kalo gitu..",


"Dia milih diam-diam kayak gini, karena dia tau kamu bakalan nggak terima kalo dia ungkapin perasaanya sama kamu. Selama ini kamu anggep dia saudara, tapi dia pengen lebih dari itu...",


"Aku sama dia dibesarin dari kecil, aku nggak bisa berhubungan lebih dari pada itu. Seperti aku sama kak Bian yang udah putus, akhirnya jadi kayak orang asing. Aku nggak mau kayak gitu Tam...",


" Kenapa nggak coba memiliki aja Sha, dijaga hubungannya sampe tua, sampe kalian punya anak-anak...",


"Suruh dia jangan ngirim-ngirim bunga, coklat, hadiah lagi.., bilang ke dia jangan ada perasaan sama aku lagi..",


"Heh..mana bisa. Kita nggak bisa ngatur perasaan seseorang.., mana boleh larang-larang. Atau, jangan-jangan kamu yang takut baper? kamu takut ngendaliin perasaan?",


"Dia udah punya Luna..",


"Mungkin sama Luna hanya sekedar komitmen, tapi perasaanya ke kamu..",


"Buat apa perasaan kalo nggak punya komitmen? percuma kan?"


"Kamu tuh, benci tapi cinta juga..


Udah deh susah.., aku jadi perantara aja diantara kalian...",


"Tam.., aku pengen istirahat pulang..",


"Ya udah, aku anterin..",


"Nggak usah..",


"Pokoknya aku anterin, tanggung jawab aku bukan hanya ke mama sama papa kamu aja. Tapi, aku juga yang bakal kena marah sama dia kalo kamu kenapa-napa...


Ayo cepetan, ambil tasnya..",


"Aku beresin ini dulu Tam.."


"Nggak perlu, nanti biar aku yang beresin..",


Sharen mengambil tasnya, tapi bukan hanya itu. Dia juga membawa bunga hadiah pemberian dari secret admirernya.


Katanya stop kasih hadiah tapi dibawa juga, ucap Tama dalam hati.


Dan, sepanjang jalan Sharen memangku bucket dengan sesekali memegang kelopak bunganya. Tama hanya melirik bos sekaligus sahabatnya itu.


Kasian kamu Sha, maju kena, mundur sakit.

__ADS_1


Mau POV Nathan??????


__ADS_2