
Masih belum bisa membuka akses komunikasi dengan Mine, membuat Javas frustasi. Tidak fokus pada pekerjaannya, tidak hanya di Prime, tapi juga di Bengkel miliknya. Setiap hari pergi bekerja, tapi tidak ada satupun pekerjaan yang dia selesaikan. Hanya duduk dengan menatap layar komputer, membuka ribuan fotonya bersama Yasmine saat mereka bersama membuatnya semakin rindu dengan kekasihnya.
"Kak.., itu Javas kerjaannya tiap hari kayak gitu.., belasan berkas yang aku ajukan nggak ada satupun yang dia tanda tangani..", adu Vina kepada Rendra.
"Sementara, semua kerjaan Javas biar kakak aja yang pegang Vin.., biarin aja kayak gitu yang penting dia masih pulang kerumah...",
"Masalah sama pacarnya, belum selesai?",
"Namanya juga anak muda Vin..",
"Tapi kasian.., kak Rendra apa nggak bisa bantu?",
"Nggak bisa.., kakak bukan dewa yang bisa melakukan apa saja..",
"Ada yang bisa Vina bantu kak? kasian Javas.., tuh badannya kayak kurusan ya..",
"Nggak usah Vin.., paling sebentar lagi Javas juga ke Aussie nyusul pacarnya..",
"Vina nggak tega liat Javas ngelamun aja..",
Rendra bukannya "buta", dengan keadaan putranya. Tapi, apa yang harus dia perbuat? Ini diluar kendalinya.
"Assalamualaikum..",ucapnya lembut lalu masuk ke ruangan suaminya dengan membawa bekal untuk makan siang.
"Waalaikumsalam.., sayang..",
"Kak Aira.. duduk kak..",
"Aira ganggu?",
"Nggak sayang..",
"Vina permisi keluar dulu..",
"Vin..sini aja.., kita ngobrol dulu..",
"Iya kak..,
Jaz mana?",
"Baru aja pulang sekolah, dia dirumah..
Vin.., kamu tau kan masalah Javas?",
"Iya kak.., tau..",
"Coba kamu bilang sama kakak kamu itu, biar bisa ikut bantu putranya..", ucap Aira sarkas.
Sebagai seorang istri tentu saja feeling Aira kuat. Aira tahu jika suaminya menyembunyikan rahasia. Entah itu apa. Sampai saat ini pun Aira belum mengetahuinya. Mengeluarkan rayuan maut, bujukan halus serta gertakan sambal ternyata tidak meruntuhkan pendirian Rendra yang tetap menutupi sesuatu.
"Emangnya apa kak?", tanya Vina kepada Rendra.
"Apanya?", Rendra bertanya.
"Tuh kan Vin..kalo mas Rendra kakak tanya juga jawabannya gitu. Pura-pura nggak tau.., padahal kakak tau, mas Rendra bohong..",
"Nggak sayang.., emang nggak ada apa-apa kok..",
"Gitu tuh Vin jawabannya.., kakak sampe capek tanya nya..",
"Mungkin kak Rendra ada pertimbangan lain kak...",
"Pertimbangan apa? liat Javas keponakanmu? udah kayak mayat hidup Vin.., di rumah diem, di sini juga sama aja kan? masih Alhamdulillah loh masih selamat sampe sekarang..",
"Astagfirulloh sayang, kamu ini ngomongnya jangan gitu..",
"Biar mas tuh sadar..",
"Udah-udah kak.., jangan berantem disini ah. Aku jadi nggak enak... kak Aira yang sabar, kak Rendra juga jangan kayak gini.., pikirin Javas kak..",
"Iya-iya Vin..
Mas laper sayang.., kita makan sekarang ya..",
"Untung Aira cinta..",
Aira cemberut, namun masih melayani suaminya. Membuka bekalnya dan menyiapkan untuk Rendra.
"Cantik banget istri mas..",
__ADS_1
"Jangan gombal di depan Vina.., tahan sampe nanti kalian sampe rumah..geli dengernya..",
"Aira coba ke ruangan Javas dulu mas, biar ikut makan disini ya..",
"Nggak perlu..",
"Kenapa? jahat banget..",
"Javas udah keluar.., mungkin lagi cari makan..",
Entah darimana Rendra mengetahuinya. Aira yang tidak percaya langsung memeriksa ke ruangan Javas. Dan, benar Javas sudah tidak ada di ruangannya.
Sebuah pagi yang biasa menjadi waktu paling sibuk bagi Maid di kediaman Rendra-Aira. Mereka sudah mulai menyiapkan sarapan bagi anggota keluarga. Hanya menyiapkan makanan ringan sederhana, tapi hidangan yang mereka sajikan harus tepat waktu.
"Mbak Kina, kok repot-repot di dapur, udah ya..biar saya aja..",
"Nggak apa-apa bik.., saya bantu ya..",
"Nggak usah mbak, nanti kalo ada Bu Aira nanti saya yang ditegur.."
"Nanti biar saya yang ngomong ke ibuk.., saya yang pengen bantu. Sebentar lagi saya udah nggak disini loh bik..",
"Kenapa mbak dok?",
"Bu Aira sudah nggak memerlukan pengawasan lagi..,Bu Aira udah benar-benar sehat..",
"Alhamdulillah mbak...,tapi kenapa mbak Kina nggak disini aja?",
"Terus harus ngawasin siapa? bibik? sehat walafiat gini kok..",
"Kalo Bibik pengen ketemu gimana?",
"Ke rumah sakit..",
"Mbak doain saya sakit?Astagfirulloh..",
"Ya nggak gitu..kalo ke kosan kan Bibik juga nggak tau kosan saya ada dimana..",
"Iya mbak, hehehe..",
"Udah yuk lanjutin? mau bikin apa ini? susu?",
Sus Sri tiba-tiba muncul dengan tergopoh. Wajahnya terlihat panik.
"Hei sus.. ada apa?",
"Mbak.., aku kesiangan gara-gara tadi malem Jaz tidurnya kemaleman..., aku belum nyiapin bekal, belum mandiin dia juga..",
"Mau bikinin bekal apa?",
"Tadi malem minta sandwich..",
"Ya udah, aku aja yang bikin. Mbak Sri mandiin Jaz aja..",
"Beneran mbak?"
"Iya cepetan sana, udah jam segini loh.., kalo telat nanti gimana?",
"Ya Allah, makasih banget loh mbak.., saya ke atas dulu ya mbak, bangunin sama mandiin dia..",
Masih tetap menunjukkan sisi lemah Javas yang kehilangan semangat hidup karena Yasmine kekasihnya. Hari-harinya dilalui dengan gelap. Tidak ada tanda-tanda dirinya mendapatkan jalan untuk menghubungi Yasmine.
"Sayang.., sarapan dulu..",
"Vas mau langsung pergi aja mom..",
"Kemana hari ini? bengkel atau Prime?",
"Mau ke bengkel..",
"Son.., nggak sarapan dulu..?",tanya Rendra kali ini.
Javas yang memang sedang kesal kepada Daddynya, hanya menggelengkan kepalanya.
"Javas berangkat dulu mom..,dad..",
Jaz memang belum tau apa yang terjadi, namun raut muka kesedihan Javas tidak bisa disembunyikan. Jaz tau kakaknya sedang menghadapi persoalan. Dengan sedikit kesulitan, Jaz turun dari kursinya.
"Mau kemana?", tanya mommynya.
__ADS_1
Jaz tidak menjawab, dia malah berjalan menyusul kakaknya.
"Kak Vas..", ucapnya memanggil setengah berteriak.
Javas membalikkan badannya ketika tau adiknya mengucap namanya.
"Hey tuyul.., ada apa?",
"Nih buat kakak.., dimakan ya..",
Jaz menyodorkan sebuah kotak makan miliknya yang berisi bekal.
"Ini apa?",
"Buat kak Javas.., makan ya kak..",
"Ini bekal kamu kan? terus nanti Jaz makan apa?",
"Jaz gampang, nanti biar dibikinin lagi sama sus.., nih buat kakak aja..",
"Gitu ya.., makasih ya tuyul..",
"Hati-hati kak..
kapan-kapan kita naik mobil merah lagi ya..",
"Oh ini sogokkan?",
"Nggak..
Jaz kangen kak Vas.., Jaz pengen jalan-jalan..",
"Iya.., nanti ya Vas..
Kakak pergi dulu. Jaz sekolah yang pinter ya..",
"Oke.., bye...",
Sebuah interaksi antara Javas dan Jaz yang membuat Aira terharu. Walaupun menurut cerita, Javas sempat tidak menerima kehadiran Jaz, dan Jaz yang selalu takut dengan Javas. Namun, sekarang Aira bisa melihat jika kedua kakak adik itu ternyata sangat menyayangi satu sama lain. Darah memang kental, Jaz seolah bisa merasakan kesedihan Javas meskipun dia tidak tahu apa yang terjadi.
"Sus.., Jaz bekalnya itu aja..", tunjuknya pada nasi goreng yang terhidang di meja.
"Sus ambil kotakannya dulu ya..",
Aira hampir saja menitikkan air mata. Meratapi nasib putranya juga terharu dengan Javas dan Jaz. Kedua putranya yang selalu menjadi pelindungnya.
Javas sengaja pulang lebih awal. Selain memang tidak semangat bekerja. Dia juga ingin memberikan hadiah kecil bagi adiknya yang sudah rela membagi bekal makannya. Sebuah penyelamat bagi Javas yang dari semalam tidak memasukkan sesuatu ke perutnya.
"Jaz.., kakak pulang..",
"Kok udah pulang kak?",
"Iya..,
Nih..buat kamu..",
"Isinya apa kak?",tanyanya dengan membuka paper bag yang diberikan Javas untuknya.
"Mobil hotwhells buat kamu..",
"Makasih kak.., kak Javas baik banget..,
Jaz sayang banget..",ucapnya dengan memberikan satu buah kecupan di pipi kakaknya
"Kalo gini aja bilang sayang...
Makasih ya bekalnya, tadi kakak udah makan.., enak banget..",
"Sama-sama.., besok mau dibagi bekal lagi?",
"Boleh..",
"Dikasih hadiah lagi nggak?",
"Dasar tuyul..",
"Hehehe..
Oke kak.., besok Jaz bagi bekalnya lagi..",ucapnya gitang
__ADS_1
"Kakak ke kamar dulu ya..",
Hanya Jaz yang bisa membuat Javas banyak mengeluarkan banyak kata. Aira yang biasanya paling bisa untuk membujuk Javas pun sepertinya belum mampu berbicara banyak kepada putranya. Javas menyembunyikan kesedihannya dalam diam.